
✨Hadiah Abah✨
Hari dengan cepat berganti menjadi sore. Awan terlihat mulai berubah warna menjadi gelap keungu-unguan. Ditambah dengan para burung yang berterbangan sambil berkicau untuk kembali ke sarang masing-masing.
Hari ini Idris akan pergi ke pesantren terlebih dahulu sebelum menjemput sang istri. Waktu menunjukkan pukul tiga sore. Masih ada waktu dua jam sebelum menjemput Nanda di F Group.
"Sore pak Zafran..." ucap beberapa karyawan ketika Idris keluar dari lift.
"Sore juga..." balas Idris sambil berlalu menuju parkiran mobil.
Idris memasuki mobil dan tak lupa memasang sabuk pengaman. Lalu menyalakan mesin mobil. Setelah beberapa saat gas pun diinjak. Tukang parkir membantu mobil mewah itu keluar dari deretan mobil yang ada diparkiran.
"Selamat sore pak Zafran..." ucap tukang parkir yang sudah lama bekerja di R Group.
"Sore juga pak... Ini uangnya..." balas Idris sambil memberikan uang berwarna biru.
"Terima kasih pak Zafran... Semoga mendapat ganti yang lebih sama Allah..." ucap tukang parkir sambil tersenyum senang menerima rezeki.
"Sama-sama pak... Saya duluan yah..." ucap Idris yang kemudian diangguki oleh si tukang parkir.
Mobil mulai bergerak meninggalkan perusahaan R Group. Tinggal para karyawan dan juga staf yang masih bekerja hingga pukul lima sore.
Jalanan yang dilalui ke pesantren lumayan jauh. Ditempuh dengan mobil membutuhkan waktu sekitar 25 menitan. Ditambah juga jalanan yang mulai ramai. Untungnya tidak sampai macet.
Akhirnya 25 menit sudah Idris lajukan mobil dijalan raya yang beraspal. Memasuki gerbang bertuliskan pondok pesantren "Al-Kahfi". Penjaga gerbang yang aslinya adalah sahabat Idris pun tak mengenali mobil yang baru saja memasuki area pesantren.
"Idris?" panggil penjaga gerbang.
"Iskan?" panggil Idris juga.
"Masya Allah... Kamu keluar pondok sudah pakai jas begini yah... Mantap banget..." ucap Iskan yang terkagum-kagum dengan sahabatnya.
"Alhamdulillah... Gimana kabar?" tanya Idris sambil berjabat tangan dengan sahabat lamanya itu.
"Alhamdulillah sehat wal 'afiat..." jawab Iskan membalas jabatan tangan Idris.
"Abah ada di ndalem?" tanya Idris sambil melihat rumah yang tak begitu besar di depan pesantren.
"Ada... Beberapa hari yang lalu Abah gerah (sakit)... Jadi di ndalem terus..." jawab Iskan memberitahu.
"Owalah iya udah aku ke ndalem dulu yah..." ucap Idris yang diangguki oleh sahabatnya.
"Iya iya..." balas Iskan dengan senyum yang terus mengembang.
__ADS_1
Idris melangkahkan kakinya menuju ndalem. Ingatan tentang Ning Rekha kembali masuk kedalam pikiran nya. Ada rasa bersalah jika mengingat itu semua. Tapi pikiran itu segera ia tepis, mengingat Nanda yang sekarang adalah istri sahnya.
"Assalamualaikum..." ucap Idris sambil mengetuk pintu ndalem sebanyak tiga kali.
Tak berapa lama pintu bercat coklat tua itu terbuka. Menampilkan wajah cantik seorang wanita yang dulu pernah menyimpan rasa padanya. Wanita itu keluar sambil membuka pintu ndalem lebar-lebar.
"Waalaikum salam... Ini mas Idris?" balas wanita itu dan dilanjut dengan pertanyaan.
"Hehe iya ning..." jawab Idris sedikit canggung.
"Owalah silahkan masuk dulu mas..." ucap ning Rekha mempersilahkan.
Setelah dipersilahkan Idris masuk ke dalam ndalem. Lalu duduk disofa sembari menunggu Abah kyai datang.
"Cari Abah kan?" tanya ning Rekha memastikan.
"Iya ning..." jawab Idris menganggukkan kepalanya.
Ning Rekha berlalu meninggalkan Idris di ruang tamu yang tak seluas kediaman Firma. Sepuluh menit kemudian Abah Kyai muncul dengan tongkat sebagai alat bantu berjalan. Dan disusul Ning Rekha dibelakangnya.
Idris berpindah tempat duduk untuk menghormati gurunya itu. Lalu mencium tangan kanan Abah sebanyak tiga kali. Sunnah.
"Assalamualaikum Abah..." ucap Idris setelah mencium tangan Abah.
"Waalaikum salam... Kamu udah berubah yah... Semenjak keluar dari pesantren..." balas Abah yang melihat Idris memakai jas seperti orang kantoran.
"Bagaimana dengan pernikahan mu Idris?" tanya Abah.
"Alhamdulillah banyak perkembangan Abah... Terima kasih atas semua doa-doanya..." jawab Idris tak lupa dengan senyuman yang selalu menyertai.
"Alhamdulillah kalau begitu... Oh iya Abah punya hadiah buat kamu... Ndu tolong ambilkan yah... Di rak kitab..." perintah Abah yang kemudian diangguki oleh Ning Rekha.
Mendapat perintah seperti itu dengan segera Ning Rekha mengambil hadiah yang dimaksud Abah. Lalu memberikannya pada Abah.
"Terima kasih yah ndu..." ucap Abah menerima hadiah yang sudah beliau persiapkan untuk abdinya.
"Sama-sama Abah..." balas Ning Rekha dengan tambahan anggukan kepala.
"Ini hadiah buat kamu... Jangan lupa dipraktekkan yah..." ucap Abah menyodorkan hadiahnya pada Idris.
"Terima kasih Abah... Insya Allah Idris praktekkan nanti dirumah..." balas Idris menerima hadiah dari Abah dengan malu-malu.Karena Idris tau apa isi hadiah dari Abah.
Setelah berbincang cukup lama, Idris menengok jam tangannya yang menunjukkan pukul setengah lima. Pertanda dia harus menjemput Nanda tepat waktu.
__ADS_1
"Maaf Abah... Idris pamit... Terima kasih hadiahnya... Semoga Abah diberikan kesehatan selalu..." ucap Idris mengakhiri perbincangan nya dengan Abah Kyai.
"Amin... Iya nda papa... Udah sore... Takutnya istri mu mencari kan? Hahaha... Sering-sering mampir kesini yah..." balas Abah dengan menganggukan kepalanya beberapa kali.
"Ini Idris ada oleh-oleh juga buat Abah... Mohon diterima Abah..." memberikan kresek besar yang sudah ia persiapkan kemarin.
"Terima kasih... Ini ndu..." Abah menerima pemberian itu lalu menyerahkannya pada anaknya.
Setelah berpamitan dan tak lupa mencium tangan Abah, Idris keluar dari ndalem setelah Abah masuk ke dalam kamar. Lalu Idris beranjak dari tempatnya dan melangkahkan kakinya keluar dari ndalem.
Idris tak tahu jika Ning Rekha mengamatinya dari dalam ndalem. Perlahan air mata itu mengalir tanpa disadari.
Sahabatnya yaitu Iskan sedang menyapu diparkiran seperti biasa. Tak lupa Idris memberikan oleh-oleh untuk sahabatnya itu. Karena kesempatan bertemu sangatlah kecil. Mengingat sekarang keduanya sama-sama sibuk.
"Hati-hati dijalan yah... Makasih oleh-olehnya... Sering-sering mampir..." ucap Iskan.
"Iya iya... Aku duluan yah... Assalamualaikum..." balas Idris lalu masuk ke dalam mobil.
"Waalaikum salam..." balas Iskan dengan senyum bahagia.
Mobil mulai bergerak meninggalkan pesantren menuju F Group. Karena hari sudah semakin sore alhasil jalanan dipadati oleh para pengendara. Idris kembali menengok jam tangannya. Dan sekarang menunjukkan pukul lima sore.
Nanda yang sedari tadi menunggu kedatangan suaminya akhirnya berjalan menuju lobi. Tepat saat Nanda tiba mobil kesayangan nya itu datang.
"Maaf yah telat..." ucap Idris ketika Nanda masuk ke dalam mobil.
"Iya ngga papa..." balas Nanda sambil memasang sabuk pengaman.
"Eh ini apa?" tanya Nanda menunjuk ke arah kresek hadiah pemberian dari Abah.
"Itu hadiah dari Abah..." jawab Idris sambil menginjak gas mobil.
"Hadiah apa?" tanya Nanda sembari mengambil dan mengeluarkan isi hadiah.
"Kitab Fathul Idzar..." jawab Idris yang langsung paham ketika melihat isi hadiah dari Abah.
"Kitab?" tanya Nanda tak paham.
"Iya... Kitab Fathul Idzar itu artinya Rahasia Kenikmatan Pernikahan... Dan isinya bisa aku jelaskan kalau kita udah sampai dirumah aja yah?" jawab Idris sambil fokus mengendarai.
"Iya deh... Aku juga penasaran sama isi kitabnya..." balas Nanda.
✨Hallo gaes👋✨
__ADS_1
Selamat hari libur... Jangan bosan-bosan nunggu kelanjutan kisah ini... Yang ngga sabar yah harus setia... Hahaha... Author tau kok kalian menantikan apa... Sebentar lagi... Pokoknya kalian semua yang setia yah... Jangan lupa buat Author lebih semangat lagi... Like, Koment dan Vote donk tentunya... Oke deh sampai ketemu di episode selanjutnya...
✨Dahhh👋👋✨