Istriku Seorang CEO

Istriku Seorang CEO
Episode 45


__ADS_3

✨Kembali✨


Hari ini adalah jadwal kontrol Nanda setelah kemarin ia dirawat beberapa hari dirumah sakit. Tujuan kontrol ini untuk memeriksa perkembangan kesehatan Nanda. Ditambah dengan kabar buruk kematian bu Rini pastinya membuat kondisi Nanda sedikit menurun.


"Kalau kamu sudah siap tinggal kabari aku saja yah..." ucap Idris sebelum Nanda turun dari mobil.


"Iya... Kamu juga jangan lupa..." balas Nanda lalu mencium tangan Idris. Idris pun membalas dengan mencium kening istrinya selama beberapa saat.


"Aku masuk dulu yah... Assalamualaikum..." ucap Nanda keluar dari mobil.


"Waalaikum salam..." balas Idris dengan menampilkan senyum yang selalu membuat Nanda luluh.


Pintu tertutup ketika Nanda keluar dari mobil. Setelah itu mobil mulai berjalan keluar dari lobi. Lambaian tangan Idris dapatkan dari pantulan kaca sepion mobil. Terlihat dipantulan Nanda yang tengah berdiri dengan tangan kanan melambai.


Perlahan mobil mulai masuk ke arah jalan raya. Melaju dengan kecepatan sedang. Melewati beberapa lampu merah hingga akhirnya sampai ditempat tujuan.


"Pagi pak Zafran..." sambut para karyawan ketika Idris memasuki kantor.


"Pagi..." balas Idris dengan anggukan kepala dan juga senyuman dibibirnya.


Para karyawan bersorak ria ketika melihat senyum manis dari bos nya itu. Banyak karyawan di perusahaan R Group terpesona dengan ketampanan Idris.


Diperusahaan biasanya Idris dipanggil dengan nama depannya yaitu Zafran. Walaupun Idris adalah pemimpin baru yang tentunya masih banyak belajar, tetapi tak membuat pak Anton kecewa. Justru perkembangan perusahaan yang cukup baik didapatkan akhir-akhir ini.


"Permisi... Pak Zafran jadwal meeting hari ini jam 10 dengan klien dari Bali..." ucap Hendi orang kepercayaan pak Anton. Sebenarnya umur Hendi dan Idris tak terlalu jauh. Justru Hendilah yang lebih tua dari Idris. Tapi untuk menghormati atasannya jadi Hendi memanggil Idris dengan sebutan pak. Dan sebaliknya Idris pun memanggil Hendi dengan sebutan pak juga.


"Baik pak Hendi... Terima kasih sudah mengingatkan... Oh iya? Bagaimana dengan administrasi keuangan perusahaan? Apakah ada kemajuan?" tanya Idris menatap orang didepannya dengan tangan kiri memegang tablet berukuran sedang.


"Alhamdulillah pak... Sudah ada perkembangan... Hutang R Group pada F grup sudah setengah terlunasi... Sungguh perkembangan yang cukup diacungi jempol..." jawab Hendi setelah mengecek data keuangan perusahaan ditabletnya.


Jam sepuluh siang Idris menghadiri meeting untuk menandatangani kontrak. Kontrak itu berisi pembangunan di daerah Bali. Setelah kedua perusahaan mendapatkan keuntungan dan sepakat. Idris menandatangani kontrak tersebut. Dan dilanjutkan pula dengan penandatangan klien yang akan bekerjasama.


"Terima kasih sudah mau bekerja sama dengan R Group pak..." ucap Idris menjabat tangan laki-laki tua dengan perut yang membuncit.


"Sama-sama pak... Saya juga senang bisa melakukan kerjasama ini dengan perusahaan R Group..." balas laki-laki tersebut.


Meeting kali ini berakhir pada jam 12. Tepat saat itu istirahat untuk melaksanakan sholat jumat. Seluruh karyawan laki-laki berjamaah di masjid belakang perusahaan yang berdiri cukup megah.

__ADS_1


[Mas aku sudah siap... Apa kamu bisa jemput aku sekarang?] pesan dari Nanda sampai diponsel Idris yang berada didalam jas hitamnya.


Dret...


Mendengar suara ponsel yang bergetar akibat notifikasi masuk lantas tangan Idris merogoh saku jasnya. Mengambil ponselnya lalu memencet aplikasi hijau. Dan ternyata pesan dari istrinya. Dengan cepat tangan Idris mengetik untuk membalas pesan itu.


[Oke aku akan kesana sekarang...].


"Pak Hendi tolong kosongkan jadwal setelah sholat Jumat yah..." ucap Idris setelah selesai acara meeting tadi.


"Baik pak..." balas Hendi.


Idris mengendarai mobil Nanda dengan kecepatan sedang. Sesampainya disana ternyata Nanda sudah menunggu didepan lobi.


Bodyguard membukakan pintu mobil. Lalu Nanda masuk kedalam dan duduk dikursi paling depan. Tentunya disamping sang suami.


"Sudah siap?" tanya Idris ketika pintu tertutup.


"Sebentar..." jawab Nanda sambil memakai sabuk pengaman.


Idris menancap gas menuju rumah sakit tempat dimana Nanda kemarin dirawat. Disepanjang perjalanan Nanda tertidur. Mungkin saja karena kelelahan mengurus pekerjaan yang semakin hari semakin menumpuk.


"Nda... Ayo kita turun..." ucap Idris dengan pelan sambil memegang tangan Nanda.


Perlahan mata dengan bulu mata lentik itu terbuka. Mengerjap-erjap beberapa saat. Lalu beralih menatap laki-laki yang sekarang sedang memandanginya.


"Eh udah sampai?" tanya Nanda melihat kesekeliling.


"Iya... Tadi kamu tidur..." jawab Idris membuka sabuk pengaman miliknya dan juga Nanda.


"Yuk turun..." ajak Idris.


"Yuk..." balas Nanda lalu membuka pintu mobil bersamaan dengan pintu Idris.


Dengan segera keduanya menuju ruangan dokter Via. Karena sebelum pergi ke rumah sakit Idris sudah memberitahu kedatangannya pada dokter Via. Jadi mereka tak perlu menunggu lagi.


"Bagaimana kabarnya Nona? Apakah ada keluhan?" tanya dokter Via dengan ramah seperti biasa setelah selesai memeriksa pasiennya.

__ADS_1


"Alhamdulillah baik... Tapi akhir-akhir ini saya rasa lebih sering merasa capek dok... Padahal pekerjaan tak begitu berat..." keluh Nanda.


"Bisa jadi itu faktor pikiran Nona... Terlalu banyak pikiran juga tak bagus untuk kesehatan tubuh..." beritahu dokter Via.


"Oh jadi begitu..." ucap Nanda berusaha memahami.


"Ini obatnya silahkan tebus di resepsionis..." ucap dokter Via sembari memberikan kertas putih dengan coretan tinta diatasnya.


"Baik dok terima kasih... Kami pamit... Assalamualaikum..." ucap Idris mengambil kertas tersebut dan beranjak dari tempat duduknya disusul oleh Nanda.


"Sama-sama... Waalaikum salam..." balas dokter Via.


Nanda dan Idris keluar dari ruangan dokter Via untuk bergantian dengan pasien yang lainnya.


"Aku ke toilet dulu yah..." ucap Nanda yang diangguki oleh Idris.


"Jangan lama-lama... Aku juga mau tebus obat dulu... Nanti kamu tunggu disini aja yah..." balas Idris sebelum keduanya berpisah.


Nanda pergi menuju toilet karena sudah tak tahan lagi. Beberapa menit berlalu Nanda keluar dari toilet. Tak disangka ketika Nanda akan berbelok ia menabrak dada bidang seseorang.


"Maaf... Saya benar-benar tak melihat..." ucap Nanda panik.


"Nanda?" ucap laki-laki tersebut.


"Kamu?" ucap Nanda yang ikut terkejut.


"Iya ini aku sayang... Aku kembali lagi... Maaf telah menghilang tanpa kabar yah..." ucap laki-laki itu yang langsung memeluk Nanda dengan erat.


"Oh..." ucap Nanda terkejut karena tiba-tiba ia dipeluk.


"Kamu kenapa kesini sayang? Kamu sakit?" tanya laki-laki tersebut sambil mengusap kepala Nanda.


"A-aku..." ucap Nanda terbata.


Tak sengaja mata Nanda bertemu dengan sosok yang selalu ada disisinya. Tubuh lelaki itu berdiri tak jauh dari tempat Nanda berada. Sorot mata itu menunjukkan kekecewaan yang mendalam. Tak dapat dipungkiri betapa sakitnya yang ia rasakan saat ini. Ya. Nanda tahu itu.


✨Gaessss... Kita ketemu lagi nih... Jangan lupa Like, Koment dan Vote yah... Yang setia donk... Bantu Vote donk biar karya Author bisa masuk rengking yah... Terima kasih deh buat kalian semua yang udah setia dan mau bantu kasih like dan Vote... Oke deh kita bakal ketemu lagi di episode selanjutnya.... Ngga sabar yah? Pokoknya tunggu aja deh... Babay😊... See you👋👋✨

__ADS_1


__ADS_2