Istriku Seorang CEO

Istriku Seorang CEO
Episode 73


__ADS_3

✨ Hukuman✨


Tiga hari setelah kejadian dimana Nanda dan Idris bertemu dengan Serli di mall, pihak kepolisian segera menyelidiki kasus kecelakaan dua bulan yang lalu. Pihak kepolisian menyuruh beberapa polisi untuk mengintai dan mencari petunjuk yang bersangkutan dengan pelaku.


Nanda sudah meminta ijin terhadap suaminya agar melaporkan ke pihak kepolisian. Tentunya laporan Nanda diterima dengan baik dan langsung diproses. Sedangkan Serli masih mengurung diri dikamar. Kunci kamar selalu dibawa oleh Rio kemanapun. Maka dari itu hanya satu pembantu yang dipercayakan Rio yang memegang kunci cadangan kamar Serli.


Dua anggota kepolisian berhasil menemukan alamat rumah baru Rio. Didepan rumah banyak bodyguard yang menjadi rumah Rio. Dengan mantap dua polisi itu masuk melalui gerbang yang sedikit terbuka.


"Selamat siang, kami dari pihak kepolisian ingin bertemu dengan saudara Rio Febrian, apakah ada?" tanya salah seorang polisi.


"Tidak ada pak, tuan Rio sedang pergi keluar..." jawab bodyguard 1 yang merupakan ketua dari para bodyguard.


"Apakah kami boleh bertemu dengan istrinya?" tanya polisi satunya lagi.


Ketua bodyguard tampak berpikir. Tanpa ijin Rio, Serli tak boleh keluar kamar barang semenit pun. Kamar Rio dan Serli pun terpisah. Sebuah kesalahan yang membuat Serli berada didalam keadaan yang sangat memprihatikan. Semua akibat dari perbuatan Rio yang berimbas pada Serli.


"Sebentar, saya akan bertanya dulu..." ucap ketua bodyguard kemudian masuk ke dalam rumah.


Rio yang sedang berada di suatu tempat mendapat telepon dari bodyguardnya. Dengan segera ia mengangkat telepon agar sambungan itu terhubung.


"Maaf tuan, ada dua polisi yang ingin bertemu dengan anda, tetapi saya mengatakan jika anda sedang pergi keluar, lalu polisi itu ingin bertemu dengan Serli apakah boleh?" ucap bodyguard dengan jelas.


"Polisi?" tanya Rio.


"Ya tuan, saya juga tidak tau apa-apa..." ucap bodyguard memberitahu.


"Baiklah tunggu aku pulang... Jangan ada yang bertemu dengan Serli..." perintah Rio.


"Baik tuan..." balas bodyguard.


Setelah menelpon tuannya, bodyguard kembali ke teras. Lalu ia mengatakan seperti apa yang diperintahkan oleh tuannya. Tak berapa lama sebuah mobil berwarna hitam masuk ke dalam rumah.


"Apakah anda yang bernama saudara Rio Febrian?" tanya polisi ketika Rio sudah berada dihadapan polisi.


"Benar. Saya sendiri..." jawab Rio.


"Mari ikut kami ke kantor polisi..." ucap polisi satu yang jelas membuat Rio terkejut.


"Kenapa saya harus ke kantor polisi?" tanya Rio yang tak terima.


"Kami akan memberitahu setelah anda berada dikantor polisi..." jawab polisi 2.


"Saya tidak bersalah!" ucap Rio.


"Maka dari itu pak, mari ikut kami ke kantor polisi dan bapak akan menjelaskan semuanya disana..." ucap polisi 1 sambil memegang borgol.


"Tidak! Aku tidak bersalah dan tidak akan pernah ke kantor polisi!" ucap Rio dengan penuh amarah.


"Sebaiknya bapak ikut kami... Dan nanti bapak akan tau kenapa kami membawa anda ke kantor polisi..." ucap polisi 2.


Ketua bodyguard berada di belakang Rio. Siap siaga jika tuannya terjadi apa-apa. Setelah berpikir panjang, akhirnya Rio menyetujui dengan syarat ia akan pergi bersama bodyguardnya. Tak bersama mobil polisi.


"Baiklah kalau begitu... Mari..." ucap polisi tersebut lalu berjalan menuju mobil yang terparkir tepat didepan gerbang.


Sedangkan Bibi yang ditugasi memegang kunci kamar, segera masuk ke dalam setelah pintu terbuka. Terlihat Serli yang tengah tertidur pulas. Tetapi terlihat juga matanya sembab akibat tangis. Bibi menghampiri Serli dan membangunkannya dengan lembut.


Seketika Serli terbangun dari tidurnya. Tampak sedikit senyum terlihat dibibir Serli setelah melihat siapa yang datang. Bibi dengan sigap membantu Serli duduk dan bersandar ditepian ranjang. Perut yang semakin membesar membuat Serli sulit untuk duduk seperti biasa.


"Ayo makan, nak..." ucap Bibi dengan penuh perhatian.

__ADS_1


"Apa tuan sudah pulang, bi?" tanya Serli menerima suapan yang Bibi berikan.


"Sudah. Tapi tadi ada polisi yang datang dan menyuruh tuan untuk ikut ke kantor polisi nak..." jawab Bibi yang mendengar kericuhan didepan rumah.


"Polisi?" tanya Serli.


"Iya dua orang polisi tadi..." jawab Bibi.


Serli langsung teringat dengan kejadian tiga hari yang lalu. Dimana ia mengatakan jika suaminya yang merencanakan kecelakaan dua bulan yang lalu. Apa mungkin Nanda dan Idris melaporkan hal tersebut pada polisi?. Pikir Serli.


"Bibi aku ingin ikut ke kantor polisi..." ucap Serli yang membuat Bibi terdiam.


"Nak... Tuan pasti tidak akan mengijinkan..." ucap Bibi yang ikut khawatir.


"Bibi ku mohon... Ini sangat penting..." ucap Serli sambil menangkupkan kedua tangannya didepan dada.


"Sebentar yah, biar bibi bicara terlebih dahulu dengan bodyguard tuan..." ucap Bibi lalu beranjak dari ranjang.


Setelah menunggu sekitar 15 menit akhirnya Bibi kembali ke kamar. Bibi kembali duduk ditepi ranjang. Lalu wajahnya tersenyum menatap wanita yang lebih muda darinya.


"Bodyguard bilang kamu boleh ikut ke kantor polisi..." beritahu Bibi.


"Syukurlah bi... Terima kasih atas bantuannya... Aku akan segera bersiap..." ucap Serli dengan senyum yang ikut mengembang. Bahkan Bibi yang paling dekat dengan Serli pun jarang sekali melihat senyum semanis dan sebahagia itu bibir Serli.


"Sama-sama... Ayo bibi bantu..." ucap Bibi dengan penuh perhatian.


Nanda dan Idris sudah berada di kantor polisi ketika salah seorang polisi memintanya untuk datang. Tak berapa lama dua orang polisi yang ditugaskan masuk ke dalam kantor dan diikuti Rio berserta bodyguardnya dibelakang.


"Silahkan duduk!" ucap ketua polisi.


Tanpa banyak bicara Rio langsung duduk. Tatapannya setajam elang. Dulu ia memang mencintai Nanda tetapi sekarang semua sudah berubah. Rio menjadi dendam terhadap Nanda dan Idris. Mengingat kejadian dua hari yang lalu karena ia harus menahan malu didepan semua orang.


"Benar saya sendiri..." jawab Rio.


"Apakah anda tau soal kecelakaan beruntun dua bulan yang lalu?" tanya ketua polisi.


"Tau..." jawab Rio dengan cuek.


"Menurut laporan, anda terlibat dalam kasus kecelakaan beruntun ini... Atau bisa disebut rencana pembunuhan..." jelas ketua polisi yang didampingi dengan seorang polisi disampingnya. Yang bertugas mencatat semua yang diungkapkan oleh pelaku.


"Maaf pak. Tidak ada bukti bahwa saya yang melakukan hal tersebut..." sanggah Rio.


"Sebaiknya kamu mengaku, Rio?" ucap Nanda yang sudah tak tahan.


"Untuk apa aku mengaku jika aku tak bersalah?" tanya Rio yang membuat Nanda terdiam.


"Apa perlu kami panggil saksi atas kejahatan tentang rencana pembunuhan ini?" tanya ketua polisi.


"Silahkan..." jawab Rio.


Rio tak tau jika Serli mendengar semua yang ia rencana dua bulan yang lalu.


"Tuan..." panggil seseorang yang sudah sangat Rio kenal.


Semua orang menoleh ke sumber suara. Terlihat wanita dengan rambut terurai menutupi sebagian wajah cantiknya. Kaki mungil yang sekarang berubah menjadi sedikit membesar melangkah dengan perlahan. Ada Bibi yang menjaga di belakang wanita itu.


"Apa anda kenal dengan wanita ini?" tanya ketua polisi.


"Dia istri ku..." jawab Rio tanpa henti memandang wanita yang sedang mengandung anaknya.

__ADS_1


"Dia adalah saksi atas rencana pembunuhan yang dilakukan oleh anda saudara Rio..." ucap polisi yang membuat mata Rio terbelalak.


"Sekarang kamu tidak dapat berbohong Rio..." ucap Nanda.


Serli menunduk takut melihat mata yang selalu menusuk ke relung hatinya. Begitu tajam dan menakutkan. Amarah Rio meledak seketika. Meja dengan lapis kaca hampir pecah akibat pukulan dari Rio.


Brak.


"Saudara Rio!" ucap ketua polisi terkejut dan langsung bangkit dari kursi.


Darah mengalir begitu saja di sela-sela jari tangan Rio. Serli menutup mulutnya tak percaya. Ia tidak pernah berpikir jika Rio akan semarah ini. Tangan yang sudah berlumuran darah melayang hendak menyentuh pipi putih Serli. Tetapi layangan tangan Rio terhenti oleh pihak kepolisian.


"Dasar wanita tak berguna!" ucap Rio dengan kasar.


"Tu-tuan... Maaf..." ucap Serli dengan tubuh bergetar.


"Sudah Serli... Kamu tidak usah takut..." ucap Nanda memeluk Serli.


"Mulai hari ini anda kami tahan karena dugaan rencana pembunuhan..." ucap ketua polisi dengan tegas.


"Sebelum hasil sidang keluar anda harus ditahan dikantor polisi terlebih dahulu..." lanjut ketua polisi.


Tangan Rio sudah diborgol oleh dua orang polisi dibelakangnya. Tatapan mata Rio tak lepas dari wanita yang sedang dipeluk dengan erat oleh mantan pacarnya. Dua polisi itu membawa Rio ke sel tahanan. Belum sempat Rio masuk, langkahnya tertahan oleh suara seseorang.


"Tuan!" panggil Serli dan menghampiri Rio.


"Pergi dari hadapan ku..." perintah Rio yang tak mau memandang.


"Tidak tuan..." ucap Serli.


"Pergi!!!" teriak Rio yang membuat Serli terkejut.


"Jangan pernah kamu temui aku lagi!" ucap Rio yang membuat Serli terdiam seketika.


Rio pun masuk ke dalam sel tahanan. Tangan yang tadi berlumuran darah sudah diobati oleh polisi yang ditugaskan. Tubuh Serli terasa lemas mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Rio.


"Nak... Mari kita pulang..." ucap Bibi yang merasa kasihan.


"Tidak bi... Aku tidak akan pulang sebelum tuan belum keluar dari penjara..." ucap Serli.


Nanda dan Idris menghampiri Serli. Mata hitam itu basah karena air mata. Sungguh Nanda tak tega melihat keadaan Serli saat ini.


"Sabar... Dia pantas mendapat hukuman..." ucap Nanda.


Serli berbalik dan menatap wanita cantik dengan balutan hijab dikepalanya.


"Kenapa nyonya tega melaporkan semuanya ke pihak kepolisian?" tanya Serli.


"Itu sudah menjadi akibat dari kesalahan Rio, Serli..." jawab Nanda.


"Apa nyonya tega saya melahirkan tanpa seorang suami disamping saya nanti? Saya mengatakan semuanya pada anda nyonya, tetapi saya tak pernah berpikir jika anda akan melaporkan semuanya ke pihak kepolisian... Tujuan saya mengatakan semua itu hanya agar kalian berdua tau saja..." ucap Serli dengan air mata yang ikut mengalir.


Nanda merasa kasihan dengan keadaan Serli. Bukannya ia tega, tetapi Nanda merasa marah dan benci terhadap mantan pacarnya itu. Bagaimana bisa ia merencanakan pembunuhan terhadap suaminya?. Pikir Nanda.


✨Hay gaes👋✨


Alhamdulillah bisa ketemu lagi hari ini. Jangan bosan-bosan buat menunggu kelanjutan ceritanya yah. Masih banyak episode yang akan kalian baca setiap harinya. Jangan lupa Like dan Vote sebanyak-banyaknya agar Author tambah semangat nulisnya. Makasih buat kalian yang selalu mendukung karya Author ini. Masuk group jangan lupa donk tentunya.


✨Sampai bertemu di selanjutnya. Babay👋🤗✨

__ADS_1


__ADS_2