
✨ Menganggap ✨
Idris menghapus air mata Nanda menggunakan ibu jarinya dengan lembut. Baru pertama kali ini Idris begitu dekat dengan seorang wanita. Mungkin karena sekarang Nanda adalah istrinya jadi Idris lebih terbuka.
"Terima kasih..." ucap Nanda dengan kepala tertunduk malu setelah Idris mengusap air matanya.
"Apa kamu ingat pertama kali kita bertemu?" tanya Idris yang membuat Nanda mendongak dan tatapan keduanya pun bertemu.
"Kenapa?" tanya Nanda lirih.
"Kamu terlihat begitu dingin dan cuek... Tapi semuanya perlahan berubah... Kamu terlihat lebih cerewet..." jawab Idris sedikit meledek.
"Apa kamu bilang? Aku dingin dan cuek? Dan sekarang terlihat lebih cerewet?" tanya Nanda dengan raut wajah kesal.
"Iya... Itu benar bukan?" jawab Idris.
"Mungkin... Aku lebih suka diam dan bersikap acuh... Tapi aku juga merasa akhir-akhir ini lebih banyak bicara dari biasanya... Itu bukan cerewet..." balas Nanda kembali menunduk diakhir kalimat.
"Oh ya? Kenapa harus seperti itu? Lalu apa kalau bukan cerewet?" tanya Idris bergantian.
"Tidak tahu..." jawab Nanda mengangkat kedua pundaknya dengan cepat.
Seketika pintu bangsal terbuka. Membuat Nanda dan Idris melihat ke arah pintu. Ternyata Anton dan Irma yang datang. Mereka berdiri diambang pintu dan mengucapkan :
"Assalamualaikum..." ucap Anton dan Irma bersamaan.
"Waalaikum salam..." balas Nanda dan Idris kompak.
Idris bangkit dari duduknya dan menghampiri Anton dan Nanda. Diciumnya tangan kanan kedua orangtuanya secara bergantian. Itulah adab terhadap orang tua yang tak pernah Idris lewatkan dan tinggalkan.
"Apa kabarmu nak?" tanya Irma sambil membelai wajah Idris dengan lembut.
"Alhamdulillah mah Idris sehat..." jawab Idris disertai dengan senyuman.
"Bagaimana dengan keadaan nyonya Nanda?" tanya Irma sambil menghampiri Nanda dan duduk disampingnya.
"Jangan panggil aku nyonya... Aku menantu mamah... Dan lebih tepatnya mamah yang lebih tua dari Nanda... Mamah mertua Nanda..." jawab Nanda yang membuat Irma sedikit membuka mulutnya. Irma tak percaya jika Nanda menganggapnya sebagai mertua. Padahal pernikahan Nanda dengan Idris hanya sebatas pelunas hutang. Apa Irma sedang bermimpi?. Tidak. Hari ini adalah kenyataan yang membuat Irma merasa terharu.
"Nak... Ta-tapi?" ucap Irma terbata dengan mata yang sudah menggenang.
"Tidak apa-apa mah... Panggil saja Nanda..." sela Nanda membuat Irma meneteskan air matanya.
Irma segera menghapus air matanya dan berbalik memandang putra kesayangannya itu. Idris hanya membalas dengan anggukan dan senyuman. Pasalnya Idris juga sedikit terkejut dengan penuturan Nanda tadi.
__ADS_1
"Mamah..." panggil Nanda yang membuat Irma kembali memandang nya.
"Iya nak. Ada apa?" tanya Irma gugup.
"Tidak apa-apa... Nanda cuman senang kalian datang kesini..." jawab Nanda yang membuat Irma tersenyum.
"Semoga lekas sembuh yah nak..." ucap Irma sambil memegang tangan Nanda.
"Iya mah terima kasih..." balas Nanda yang ikut memegang tangan Irma.
Saling menguatkan dan memberikan semangat adalah satu kesatuan. Disitu kita belajar bahwa hidup penuh banyak makna yang jarang sekali kita ketahui. Di setiap musibah pasti akan ada hikmahnya.
Begitu pula dengan Idris yang pertama menganggap itu semua adalah ujian. Menikah tapi tak saling mencintai. Mulai dari itu Idris belajar jika cinta akan datang seiring berjalannya waktu. Dan hal itu sudah mulai terbukti sekarang. Karena usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil.
Sore harinya Anton dan Irma pamit pulang karena takut Fika akan mencari mereka. Maka dari itu Anton memutuskan untuk segera pulang kerumah sebelum hari bertambah gelap.
"Kami pamit yah... Semoga lekas sembuh..." ucap Irma yang berdiri disamping Anton.
"Amin... Hati-hati pah... mah..." ucap Idris mendahului Nanda.
"Amin... Terima kasih pah... mah..." ucap Nanda sebelum Anton dan Irma pergi.
"Ya sudah kami pergi dulu... Assalamualaikum..." ucap Anton sambil berbalik.
"Wassalamu'alaikum..." balas Idris dan Nanda kompak.
Suasana menjadi sedikit canggung hingga akhirnya Nanda kembali membuka suara. Dengan helaan napas pelan Nanda menegakkan tubuhnya dan menatap laki-laki yang sedang duduk disofa dengan laptop yang menyala didepannya.
"Apa kamu tidak percaya dengan apa yang ku katakan tadi?" tanya Nanda dengan suara yang lumayan keras agar Idris dapat mendengarnya.
Mendengar suara Nanda lantas Idris menoleh.
"Itu seperti sebuah mimpi..." jawab Idris.
"Aku tidak pantas dipanggil nyonya... Mereka semua begitu menghormati ku tapi yang sebenarnya aku hanyalah anak angkat..." ucap Nanda dengan suara lirih diakhir kalimat.
"Kamu sekarang adalah nyonya RESA..." ucap Idris dari sofa.
"Maksud mu?" tanya Nanda tak mengerti.
"Kamu adalah istriku dan aku pemimpin RESA group bukan?" ucap Idris mengingat dirinya sekarang sudah menjadi pemimpin diperusahaan RESA Group menggantikan Anton.
"Bukannya kita saingan?" tanya Nanda lagi.
__ADS_1
"Dua perusahaan besar itu sebaiknya menjadi saingan ketika bisnis saja... Diluar itu kita bukan lagi saingan..." balas Idris memberitahu.
"Hmm..." balas Nanda dengan dehaman.
Langit berubah menjadi lebih gelap dan menampilkan warna jingga disana. Untungnya Alex sudah membawakan baju permintaan dari Idris. Satu koper besar berisi baju Idris dan juga Nanda didalamnya.
Rama yang sudah diberitahu kalau Nanda sudah sadar segera datang ke rumah sakit satu jam yang lalu. Karena ada kepentingan mendadak Rama pun pergi dari rumah sakit setelah berpamitan dengan anak dan juga menantunya.
Allahuakbar... Allahuakbar...
"Alhamdulillah..." ucap Idris lalu membaca doa sebelum berbuka puasa.
"Selamat berbuka puasa..." ucap Nanda ketika Idris meminum air putih.
"Terima kasih... Ayo kamu juga harus makan..." ucap Idris sambil membawa nampan yang tadi diberikan oleh suster.
"Kamu yang harus makan..." ucap Nanda memandang ke arah Idris.
"Aku sudah berbuka... Kamu yang harus makan terlebih dahulu... Ayo..." ucap Idris memberikan satu suapan didepan bibir Nanda.
Jantung Nanda kembali berdetak lebih cepat dari biasanya. Begitu pedulinya Idris terhadap dirinya. Apakah Nanda mulai mencintai Idris?.
"Giliran kamu yang makan..." ucap Nanda sambil mengunyah nasi yang sudah masuk kedalam mulutnya.
"Habiskan ini dulu... Baru aku akan makan..." ucap Idris lagi-lagi menolak.
Selesai menyuapi Nanda kemudian Idris mengambil air wudhu dan melaksanakan kewajiban pada Yang Maha Kuasa.
Nanda meneteskan air matanya melihat laki-laki yang sedang bersujud di samping sofa. Tenang dan damai. Itu yang Nanda rasakan saat ini. Melihat wajah tampan Idris dengan penuh kelembutan dan kasih sayang yang selalu terpancar disana.
"Hey jangan melamun..." ucap Idris membuat Nanda tersadar.
"Ah iya..." balas Nanda gugup.
"Kamu sudah sholat?" tanya Idris.
"Belum... Aku tidak tahu acaranya..." jawab Nanda malu.
"Ayo aku bantu..." ucap Idris dengan semangat.
"Ayo..." balas Nanda yang ikut bersemangat.
✨Salam Author✨
__ADS_1
Hallo semuanya... Kita bertemu kembali... Maaf banget buat kalian semua kalau up nya lama... Dan terima kasih buat yang udah setia nungguin kelanjutannya... Jangan lupa Like koment dan Vote yh... Buat Author lebih semangat lagi....Sampai bertemu di episode selanjutnya...👋
✨See you🤗✨