
✨Pulang✨
Hari ini adalah hari terakhir di Bali. Dimana Nanda dan Idris akan pulang ke Semarang setelah tiga minggu menyelesaikan pengawasan kontrak. Santi dan Alex pun sudah bersiap di hotel yang berbeda. Mereka kompak akan bertemu di bandara pada jam yang sama.
Sedangkan Nanda dan Idris telah selesai dengan mandi paginya. Pemberangkatan kali ini pada jam dua siang. Jadi masih ada waktu senggang sebelum pulang. Seperti yang Idris tawarkan kemarin, Nanda ingin berjalan-jalan ke pulau Dewata kembali.
"Akhirnya aku bisa ke sini lagi..." ucap Nanda senang ketika mobil sampai di tempat tujuan.
"Yuk turun..." ajak Idris.
Pak Hendi turun setelah mematikan mesin mobil. Lalu Nanda dan Idris mengikuti petunjuk dari pak Hendi. Menyusuri pesisir pantai yang ramai orang disana. Tak hanya anak muda saja, banyak pula orang dewasa dan para turis yang sedang berkunjung.
"Kapan-kapan kita kesini lagi yah, mas?" bujuk Nanda.
"Insya Allah... Aku nggak bisa janji..." ucap Idris yang dibalas anggukan oleh Nanda.
"Iya deh... Semoga aja kita bisa kesini lagi..." ucap Nanda dengan tangan yang terus mengait ditangan Idris.
"Amin..." balas Idris.
Pak Hendi yang sudah sangat hapal, menunjukkan tempat-tempat yang sangat indah pada bos barunya itu. Tentu saja membuat Nanda dan Idris sangat senang. Tak lupa Nanda mengabadikan setiap momen tersebut untuk dijadikan kenangan-kenangan.
Hingga jam menunjukkan pukul 11 siang, keduanya memutuskan untuk kembali ke hotel. Pak Hendi hanya menurut semua yang diperintahkan oleh bos barunya. Karena itu adalah sebuah kewajiban bagi seorang kepercayaan seperti pak Hendi.
"Silahkan dipilih oleh-olehnya tuan dan nyonya..." ucap pak Hendi ketika sampai di tempat yang biasa disebut pusat oleh-oleh.
"Terima kasih pak Hendi... Mari kita masuk bersama..." ucap Idris dengan ramah.
Ketiga orang itu masuk ke dalam toko yang lumayan besar. Ada banyak macam oleh-oleh di dalamnya. Nanda dan Idris memilih oleh-oleh yang cukup banyak. Tentu saja. Sedangkan pak Hendi hanya memilih beberapa oleh-oleh untuk keluarga kecilnya yang ada di rumah.
"Yuk kita bayar..." ajak Nanda setelah dirasa cukup.
"Yuk..." balas Idris.
Kemudian semua belanjaan di bayar oleh Idris menggunakan kartu ATM. Tak butuh waktu lama, semua admistrasi telah selesai. Mereka kembali ke dalam mobil yang terparkir tak jauh dari toko.
"Terima kasih telah menemani kami pak Hendi..." ucap Idris ketika mobil mulai melaju.
"Sama-sama pak..." balas pak Hendi.
Sampailah mereka di depan lobi hotel. Kemudian Nanda dan Idris masuk ke dalam hotel seperti biasa. Semua barang-barang sudah siap di pojok kamar. Hanya tinggal menunggu waktu pemberangkatan saja.
"Sebelum kita pulang... Kita sholat berjamaah dulu yuk..." ajak Idris ketika sampai di dalam kamar.
"Ayuk... Aku juga pengen bilang gitu... Malah udah keduluan kamu..." ucap Nanda.
"Udah takdir aku duluan yang bilang..." ucap Idris.
"Iya iya..." balas Nanda.
Sholat dhuhur berjamaah telah dilaksanakan dengan khusyuk oleh keduanya. Jam menunjukkan pukul pukul satu siang, pertanda Nanda dan Idris harus pergi ke bandara. Lebih baik menunggu daripada tertinggal.
"Yuk turun ke bawah... Pasti pak Hendi udah nungguin kita..." ucap Idris sambil menarik dua koper besar ditangannya.
__ADS_1
"Oke..." balas Nanda.
Pintu terbuka. Terlihat dua orang penjaga ada di depan pintu kamar. Ya. Mereka adalah petugas yang ditugaskan untuk membawa barang-barang milik Nanda dan Idris. Dengan segera Idris memberikan dua koper besar itu pada petugas.
Benar dugaan Idris. Ketika ia sampai bersama Nanda di lantai satu, disana pak Hendi sudah siap di depan lobi. Senyumnya langsung mengembang menyambut Idris datang. Nanda dan Idris membalas senyuman tersebut tanpa ada paksaan.
Seperti biasa pak Hendi yang akan mengantar keduanya. Dan sekarang pak Hendi akan mengantar Nanda dan Idris ke bandara setelah barang-barang siap di dalam bagasi mobil.
"Ngga terasa pak Idris... Baru aja kemarin sampai sekarang udah mau pulang..." ucap pak Hendi sambil menyetir.
"Hehe iya pak... Saya juga merasa begitu..." balas Idris.
"Hati-hati dijalan yah pak..." ucap pak Hendi.
"Iya pak... Doakan kami semoga selamat sampai tujuan..." balas Idris.
"Amin...".
Tak terasa akhirnya mereka sampai di bandara. Terlihat di sana ada Santi dan Alex yang tengah menunggu di kursi tunggu. Keduanya beranjak menyambut Nanda dan Idris. Sedangkan pak Hendi berjalan di belakang bosnya.
"Kalian sudah siap?" tanya Nanda.
"Sudah nyonya..." jawab Santi dan Alex kompak.
"Bagus kalau begitu tinggal menunggu pemberangkatan..." ucap Nanda.
Semuanya duduk di kursi tunggu. Pada pukul dua sing tepat terdengar pengumuman pemberangkatan. Semuanya langsung bangkit dari kursi menuju pesawat yang sudah siap untuk mengudara. Barang-barang sudah masuk ke dalam bagasi pesawat dengan rapi bersama barang penumpang lainnya.
"Terima kasih banyak untuk semuanya pak Hendi... Sampai bertemu kembali di Semarang..." ucap Idris sambil menjabat tangan pak Hendi.
Satu persatu masuk ke dalam pesawat. Tinggal pak Hendi yang ada di luar pesawat. Ya. Pak Hendi akan pulang besok pagi setelah semua selesai.
"Assalamualaikum..." ucap Idris.
"Waalaikum salam..." balas pak Hendi.
Pak Hendi berjalan menjauh dari pesawat. Detik berikutnya pesawat mulai bergerak lambat lalu semakin cepat dan akhirnya mengudara. Tak hentinya pak Hendi memandang pesawat yang semakin menghilang tertutup awan putih di langit.
Sedangkan Idris dan Nanda duduk sambil melihat ke arah luar jendela. Banyak burung beterbangan di atas. Dalam hati Nanda merasa sedih karena tak tau kapan ia akan kembali berkunjung ke Bali. Tetapi di balik kesedihannya itu ada sebuah kebahagiaan. Kebahagiaan karena akan bertemu dengan keluarga tercintanya.
Lain lagi dengan Santi yang duduk di samping Alex. Alex merasa acuh ketika dekat dengan Santi. Ia sudah berjanji dengan dirinya sendiri. Tak akan ada wanita lain dihatinya kecuali Naya.
Santi yang sudah menyimpan perasaan selama dua tahun bingung harus berkata apa. Jika ia ungkapkan tentu saja akan merendahkan harga dirinya. Tetapi jika ia terus memendam sendiri rasa itu akan terasa sangat sulit.
"Alex..." panggil Santi.
"Ada apa?" tanya Alex to the point.
"Apa kamu sudah memilih seorang kekasih?" tanya Santi hati-hati.
"Kenapa kamu seperti itu?" tanya Alex sambil menatap Santi dengan tajam.
"Tidak apa-apa... Aku cuma ingin tanya saja..." jawab Santi salah tingkah.
__ADS_1
"Kalau aku jawab iya, memang kenapa?" tanya Alex yang membuat Santi terkejut.
"Jadi selama ini kamu sudah mempunyai seorang kekasih?" tanya Santi mencengkram bajunya erat.
"Tak selama ini... Baru beberapa bulan... Tetapi perasaan ku tumbuh sudah lama... Dan akhirnya kami dipertemukan..." jawab Alex jujur.
Hati Santi hancur mendengar penuturan dari Alex. Ternyata dugaannya selama ini salah. Alex sudah mempunyai seorang kekasih. Sungguh sangat menyakitkan bagi Santi saat ini. Keduanya terdiam cukup lama. Hanyut dalam pikiran masing-masing.
Berbeda dengan Nanda dan Idris yang sudah terlelap ke dalam mimpi. Tak terasa empat jam telah dilalui dengan lancar di atas udara. Tepat ketika pesawat lending, suara adzan mulai terdengar membuat Nanda dan Idris sadar dari tidurnya.
"Alhamdulillah kita sudah sampai..." ucap Idris mengusap tangannya ke wajah.
"Iya mas... Pasti ayah sama bunda udah nunggu kita..." balas Nanda.
Semua penumpang turun dari pesawat. Nanda dan Idris turun terlebih dahulu lalu disusul oleh Santi dan Alex. Seluruh keluarga Firma tengah menunggu di kursi tunggu. Kedatangan Nanda dan Idris disambut meriah oleh seluruh keluarga.
"Alhamdulillah kalian sudah sampai..." ucap Omah senang.
"Alhamdulillah..." balas seluruh keluarga sembari bangkit.
Nanda langsung memeluk bunda yaitu bu Maryam. Sedangkan Idris mencium tangan mertuanya yaitu ayah Rama. Lain lagi dengan Naya yang langsung memeluk kekasihnya. Alex yang mendapat pelukan tersebut tentu ikut membalasnya.
"Sayang aku rindu..." ucap Naya.
"Aku juga..." balas Alex.
Tentu saja Santi mendengar dan melihat adegan yang membuat hatinya teriris. Air matanya pun mulai menggenang di pelupuk mata. Tetapi sekuat tenaga Santi tahan.
"Ayo kita pulang..." ajak ayah Rama.
Dua mobil telah terparkir di parkiran bandara. Santi yang diajak untuk ikut dengan keluarga Firma tentu menolak. Hatinya tak akan kuat melihat kemesraan Alex dan Naya. Maka dari itu ia lebih memilih untuk memesan taksi online saja.
"Tidak nyonya... Saya pulang dengan taksi saja..." ucap Santi.
"Tapi ini sudah Maghrib Santi..." ucap Nanda yang tidak tega.
"Tak apa nyonya... Saya akan pulang dengan taksi online saja..." ucap Santi.
"Baiklah kalau begitu... Hati-hati dijalan... Biar saya saja yang pesan yah..." ucap Nanda yang diangguki oleh Santi.
Sebelum pulang ke kediaman, Idris meminta untuk melaksanakan sholat jama'ah Maghrib terlebih dahulu sebelum waktunya habis. Tentu saja keluarga Firma menuruti permintaan Idris. Bagaimanapun kewajiban terhadap Yang Maha Kuasa adalah paling utama.
Perjalanan hari ini terasa begitu melelahkan bagi Nanda dan Idris. Sesampainya di kediaman, keduanya langsung masuk ke dalam kamar mandi bersama. Tentu saja untuk mandi bersama untuk menghemat waktu. Karena keduanya ingin langsung tidur setelah sholat isya berjamaah nanti.
"Aku lelah banget mas..." ucap Nanda yang tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Aku juga... Sebaiknya kita tidur..." saran Idris.
"Iya udah yuk... Aku juga udah ngantuk..." balas Nanda.
Selesai dengan sholat isya berjamaah keduanya langsung tertidur. Seluruh keluarga pun memaklumi hal tersebut. Kenapa Nanda dan Idris tidak turun untuk makan malam. Makanan yang terhitung banyak masih tertata rapi di atas meja makan. Takutnya ketika di malam hari Nanda dan Idris akan bangun karena merasa lapar. Maka dari itu Omah berinisiatif agar makanan yang ada di atas meja tetap utuh di sana.
✨Hallo semuanya 👋✨
__ADS_1
Kita ketemu lagi nih. Alhamdulillah. Jangan lupa tinggalkan kenangan. Like dan Vote. Biar Author tambah semangat lagi nulisnya. Sampai ketemu di episode selanjutnya yah. Dan jangan lupa donk. Masuk group Author supaya kalian yang kepo bisa tanya-tanya disana yah. Makasih semuanya.
✨ Babay🤗 👋✨