
✨Ikhlas✨
Nanda dan Idris pulang ke rumah dengan segera. Rasanya Nanda begitu lelah apalagi ia habis pingsan. Pusing dan lemas itu yang Nanda rasakan. Tetapi rasa itu ia tutupi karena tidak ingin melihat Idris bertambah khawatir.
Idris fokus menyetir mobil agar cepat sampai. Beberapa kali melewati lampu merah, akhirnya Nanda dan Idris sampai di kediaman Firma. Pak satpam segera membuka gerbang karena Idris membunyikan klakson mobil. Setelah itu mobil memasuki halaman menuju garasi. Mobil mewah terpampang jelas dari kejauhan.
"Alhamdulillah udah sampai..." ucap Idris sambil mematikan mesin mobil.
"Alhamdulillah..." balas Nanda.
"Kamu masih kuat buat jalan?" tanya Idris sembari melepas sabuk pengaman dirinya dan juga Nanda.
"Insya Allah kuat kok..." jawab Nanda disertai senyuman.
"Ya udah... Yuk turun..." ajak Idris lalu turun dari mobil.
Nanda yang merasa lemas berusaha untuk menggerakkan kakinya untuk berjalan. Tetapi belum sampai di pintu utama, Nanda terjatuh.
"Astaghfirullah!" ucap Idris terkejut.
"Kamu ngga papa?" tanya Idris memastikan.
"Ngga papa... Aku cuma lemes aja..." jawab Nanda.
Mendengar hal tersebut, Idris segera mengangkat tubuh Nanda. Lalu berjalan menaiki tangga hingga akhirnya sampai di kamar yang terletak di lantai dua. Omah dan bu Maryam yang tadi melihat Nanda dibawa oleh Idris, menjadi khawatir. Karena wajah Nanda terlihat begitu pucat. Tak seperti awal mereka berdua berangkat.
"Makasih mas... Maaf jadi ngerepotin kamu..." ucap Nanda setelah ia berbaring di atas kasur.
"Ngga papa... Lain kali kamu harus jujur sama aku... Aku khawatir banget sama kamu..." balas Idris.
Tok...tok...tok...
Terdengar suara ketukan pintu cukup keras membuat Idris menoleh. Lalu ia bangkit dan membuka pintu. Ternyata Omah dan bu Maryam yang tadi mengetuk pintu kamarnya.
"Apa Omah boleh masuk?" tanya Omah meminta ijin.
"Silahkan Omah... Bunda..." jawab Idris membuka pintu lebar-lebar.
Omah dan bu Maryam segera masuk ke dalam kamar yang terlihat begitu rapi dan bersih. Disana Nanda tengah memijit kepalanya yang sedari tadi terasa pusing. Dengan langkah yang cepat, Omah menghampiri cucunya.
"Kamu sakit, nak?" tanya Omah membelai wajah cantik Nanda.
__ADS_1
"Aku cuman pusing aja Omah..." jawab Nanda disertai senyuman agar Omah dan bu Maryam tak khawatir.
"Kamu pucat sekali... Apa yang terjadi, sayang?" giliran bu Maryam yang bertanya.
Mendengar pertanyaan itu, membuat Nanda langsung terdiam. Senyum yang tadi ia perlihatkan perlahan memudar. Nanda menunduk menahan air mata yang siap mengalir di pipinya. Ia teringat akan cerita dari pak satpam dan penjaga makam.
"Sayang... Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya bu Maryam lagi.
Air mata yang tadi Nanda tahan, sekarang mengalir deras di pipinya. Ia tak kuat untuk menceritakan apa yang terjadi. Isak tangis pun terdengar di telinga Omah dan bu Maryam.
"Sayang... Apa ayah mu bertindak kasar dengan kamu?" tanya bu Maryam lagi.
Nanda hanya membalas dengan gelengan kepala. Melihat hal tersebut, bu Maryam segera memeluk anak semata wayangnya itu.
"Ayah... Sudah meninggal bunda..." ucap Nanda di telinga bu Maryam dengan bibir bergetar.
Air mata bu Maryam pun lolos seketika. Ia tak menyangka jika mantan suaminya sudah meninggal.
"Inalillahi wa innailaihi Raji'un..." ucap Omah ketika mendengar kabar duka.
Idris masuk ke dalam kamar setelah membawakan sepiring makanan di atas nampan. Ia menjadi semakin khawatir ketika melihat istrinya sedang menangis di dalam pelukan bunda. Idris meletakkan nampan tersebut di atas meja yang berada di dekat sofa.
"Kamu harus ikhlas, sayang..." ucap bu Maryam mengelus punggung Nanda dengan lembut.
Pandangan Nanda terpaku ketika melihat sang suami yang tengah menatapnya. Tatapan itu mengartikan sebuah kekhawatiran yang amat sangat.
Nanda melepas pelukannya dari bu Maryam. Ia mengangguk akan perkataan yang tadi diucapkan oleh Omah dan bundanya. Ya. Nanda harus bisa mengikhlaskan sang ayah. Memaafkan segala dosa yang pernah ia perbuat akan dirinya dan bundanya.
"Insya Allah, Nanda bakal ikhlas Omah... Bunda..." ucap Nanda dengan mata sendu.
"Semoga ayah kamu diterima disisi Allah yah, sayang..." ucap bu Maryam.
"Amin..." ucap Omah dan Nanda bersama.
Setelah itu Omah dan bu Maryam memutuskan untuk keluar dari kamar Nanda. Karena Nanda butuh istirahat yang cukup setelah seharian bepergian. Apalagi tenaganya terus terkuras karena menangis.
"Bunda titip Nanda yah, nak... Tolong jaga dia... Bunda dan Omah pergi dulu..." ucap bu Maryam kepada menantunya.
"Iya bunda... Idris bakal menjaga Nanda dengan sebaik mungkin..." balas Idris.
Omah dan bu Maryam keluar dari kamar bersamaan. Pintu kembali tertutup. Menyisakan sepasang suami istri didalamnya. Idris dengan cekatan membawa nampan yang tadi berisi sepiring makanan. Kemudian ia duduk ditepian ranjang.
__ADS_1
"Kamu harus makan... Jangan nangis terus... Ikhlaskan apa yang sudah Allah ambil dari kamu... Karena itu adalah jalan terbaik yang Allah kasih, sayang..." ucap Idris dengan begitu lembut.
"Iya mas... Aku bakal mencoba untuk mengikhlaskan kepergian ayah..." balas Nanda.
Idris pun menyuapi Nanda hingga makanan habis. Terakhir Nanda meminum jus jambu sebagai penutup makan. Idris menyarankan agar Nanda tidur sebentar. Untuk mengurangi rasa lelah dan pusing.
"Ya udah, setelah itu kamu tidur aja..." ucap Idris.
"Iya mas... Makasih untuk hari ini..." ucap Nanda dengan patuhnya.
"Sama-sama..." balas Idris.
Beberapa menit kemudian Nanda tertidur. Sedangkan Idris keluar dari kamar menuju dapur untuk mencuci peralatan makan yang tadi digunakan. Idris adalah orang yang mandiri. Walau berada di tengah-tengah keluarga yang dibilang sempurna, tetapi Idris tetap dengan kepribadiannya.
Malam harinya...
Nanda duduk di balkon sembari menatap langit. Ia begitu rindu dengan ayah yang dulu tega ingin menjual dirinya. Nanda akan selalu mendoakan yang terbaik untuk ayahnya yang sudah ada di alam lain.
Idris menghampiri istrinya dan duduk disebelahnya. Ia harus menemani masa-masa tersulit istrinya. Menerima kepergian sang ayah yang selama ini dirindukan, pasti sangat sulit bukan?. Idris mengajarkan pada Nanda agar ia tidak dendam dengan ayahnya. Masa lalu tetap masa lalu. Sekarang yang harus ia pikir adalah masa depan. Bukan masa lalu yang akan terus membuat hati kita sakit.
"Aku tau, kamu pasti sulit buat menerima semuanya kan?" tanya Idris.
"Kamu benar mas... Masa-masa tersulit didalam kehidupan kita adalah kehilangan orang yang paling kita cintai... Apalagi dia adalah orang tua kita..." jawab Nanda.
"Semua Allah yang mengatur... Kita hanya bisa menikmati setiap alur yang ada... Nikmati, syukuri dan jalani... Itu yang harus kita lakukan... Kita tak salah untuk berusaha mengikhlaskan kepergian seseorang... Justru itu yang diharapkan..." ucap Idris.
"Aku cuma ngga nyangka aja... Ayah bisa meninggal dengan cara seperti itu... Aku sedih mas..." ucap Nanda dengan jujur.
"Takdir Allah memang tak ada yang tau... Kita hanya bisa menerima dan berusaha sebaik mungkin..." ucap Idris lagi.
Nanda membalikkan tubuhnya untuk menghadap sang suami. Idris pun sama. Mata keduanya saling bertemu seakan membentuk garis. Mata dengan kornea berwarna hitam itu yang ingin berhenti untuk saling pangan.
"Ikhlaskan..." ucap Idris.
Nanda langsung memeluk tubuh Idris. Ia baru menyadari akan satu hal. Belajar ikhlas dari apa yang terjadi. Semua pasti ada hikmahnya. Baik sekarang maupun di kemudian hari nanti.
✨Gaesss👋✨
Alhamdulillah bisa up hari ini. Selamat membaca. Semoga terhibur. Jangan lupa like dan Vote sebanyak-banyaknya. Biar Author tambah semangat donk nulisnya.
Buat kalian semua, Author punya karya baru lho. Jangan lupa baca yah. Ramaikan.
__ADS_1
✨Sampai jumpa👋✨