
✨Sadar✨
Nanda menghela napas pelan. Bibi membantu Serli duduk di bangku yang tersedia di kantor polisi. Nanda memegang tangan Serli dengan erat. Ia tau bagaimana perasaan Serli saat ini. Tetapi apakah Serli tidak tau jika dua bulan yang lalu ia juga nyaris kehilangan orang yang sangat ia cintai?.
"Serli... Dengarkan aku baik-baik... Aku pun sekarang sedang hamil... Apa kamu tau apa yang terjadi dua bulan yang lalu? Aku hampir kehilangan suamiku untuk selamanya... Tetapi Allah maha baik... Dia masih memberikan kesempatan untuk kami bersama... Membesarkan anak yang sedang aku kandung ini... Aku tidak tau apa jadinya jika kecelakaan itu merenggut nyawa suamiku... Jadi ku mohon tolong mengertilah... Semua ini sudah menjadi alur kehidupan yang harus kamu lalui..." ucap Nanda dengan lembut.
Serli mendengarkan setiap untaian kata-kata yang keluar dari mantan pacar suaminya. Begitu menyejukkan dan mendamaikan. Tatapan yang begitu mendalam seakan mengisyaratkan bagaimana rasa yang ia rasakan dua bulan yang lalu.
"Maaf nyonya... Aku merasa takut saja... Mungkin ini sudah menjadi jalan terbaik yang harus aku lalui bersama anakku ini..." balas Serli menunduk. Ia mengusap perutnya dengan lembut. Berusaha memberikan ketenangan pada anak yang sedang ia kandung.
"Terima kasih atas pengertiannya Serli..." ucap Nanda lalu memeluk Serli dengan erat.
"Sama-sama nyonya..." balas Serli yang ikut membalas pelukan hangat dari Nanda.
Bibi yang melihat hal itu menjadi terharu. Tak kuasa menahan laju air matanya. Hati Serli begitu baik kepada Rio. Semua beban harus Serli tanggung akibat kesalahan dari Rio.
"Sebaiknya kamu segera pulang ke rumah..." saran Nanda sembari melepas pelukannya.
"Iya nyonya..." balas Serli.
Nanda dan Bibi membantu Serli berdiri. Terukir senyum hangat dari bibir Serli untuk Nanda. Tak lupa pula Serli tersenyum ke arah Idris. Ia juga merasakan apa yang Nanda rasakan dulu ketika memandang Idris. Takut kehilangan. Jelas.
"Mari aku antar..." ucap Nanda lalu menuntun Serli bersama Bibi hingga ke depan kantor polisi.
Bodyguard yang menemani Rio, segera masuk ke dalam mobil. Sebelum pulang Rio mengatakan sesuatu yang hanya bodyguardnya yang tahu.
"Jaga Serli dan anakku dengan baik... Jangan pernah kalian lengah sedikitpun... Tentang masalah ini biar aku yang menanggung semuanya... Sekarang pergilah! Jangan temui aku, sebelum aku memerintahkan..." ucap Rio sembari mengusap wajahnya.
"Baik tuan... Akan saya laksanakan semua perintah mu... Saya permisi tuan..." ucap bodyguard lalu pergi dari sel tahanan tempat Rio ditahan.
Serli sudah masuk bersama Bibi dan ketua bodyguard ke dalam mobil berwarna hitam milik Rio. Sedangkan Nanda dan Idris kembali masuk ke dalam kantor polisi guna bertemu dengan ketua kepolisian. Setelah itu keduanya pulang ke kediaman dengan perasaan lega.
"Alhamdulillah yah mas, pelakunya udah ketemu..." ucap Nanda sambil memandang lurus jalan raya.
"Alhamdulillah... Tapi aku masih ngga percaya mantan pacar kamu yang jadi pelakunya..." balas Idris fokus menyetir.
"Aku juga ngga percaya mas... Tapi itu kenyataan..." ucap Nanda.
__ADS_1
"Iya..." balas Idris.
Sepanjang perjalanan Nanda tertidur pulas. Mobil mulai memasuki halaman yang luas. Lalu masuk ke dalam garasi bersama mobil mewah lainnya. Nanda terbangun ketika Idris menyentuh lengannya dengan lembut.
"Udah sampai?" tanya Nanda sembari mengucek matanya.
"Udah... Yuk turun..." jawab Idris melepas sabuk pengaman.
Nanda turun menyusul sang suami. Keduanya melangkahkan kaki bersama memasuki kediaman yang sepi. Seluruh keluarga sudah tau tentang pelaku kecelakaan setelah Nanda menceritakannya kemarin malam.
Kamar yang luas dengan berbagai perlengkapan yang lengkap membuat siapapun yang melihatnya merasa nyaman. Begitu juga dengan Nanda dan Idris ketika masuk ke dalam kamar. Keduanya merebahkan tubuh bersama di ranjang yang membuat siapapun ingin terus melekat diatasnya. Tiba-tiba perut Nanda berbunyi pertanda lapar.
"Kamu lapar?" tanya Idris.
"Iya hehe..." jawab Nanda dengan senyum manis.
"Kalau kamu lapar itu bilang..." ucap Idris bangkit dari ranjang.
"Tadi ngga sempet bilang... Aku tidur..." ucap Nanda yang ikut menyusul sang suami.
Langsung saja keduanya menuruni anak tangga dan langsung menuju ruang makan. Disana terlihat sangat sunyi dan sepi. Tudung saji dibuka oleh Idris ketika ia sudah duduk disalah satu kursi.
"Ya udah kalau begitu kita makan diluar aja..." ajak Nanda.
Sore itu Nanda dan Idris pergi ke rumah makan yang dibilang cukup tradisional. Nanda terkesan kagum ketika memasuki rumah makan tersebut. Para pengunjung duduk di tikar yang telah tersedia. Ada meja di setiap tikar yang ada.
"Bagus juga yah mas rumah makannya..." ucap Nanda sambil duduk di tikar.
"Ini rumah makan kesukaan aku waktu kecil..." ucap Idris.
"Lah kalau sekarang?" tanya Nanda.
"Aku jarang kesini... Kamu tau juga kan, kalau jalan ke rumah makan ini ngga searah dengan kantor..." jawab Idris.
"Oh iya, aku lupa..." ucap Nanda.
Keduanya memesan makanan. Lima belas menit kemudian datanglah pesanan yang ditunggu-tunggu. Gurame bakar besar tersaji dihadapan Nanda dan Idris. Ada sayur yang ikut menemani pula. Dan tak lupa pula ada buah-buahan sebagai penutup makanan. Walau sederhana tetapi Nanda menyukai apa yang disukai suaminya.
__ADS_1
"Gimana?" tanya Idris ketika ia berhasil menyuapkan nasi dan gurame bakar ke dalam mulut istrinya.
"Enak banget... Aku suka..." jawab Nanda sembari mengunyah. Menikmati setiap rasa yang ia dapat dari gurame bakar dan juga sayur sebagai pelengkap.
"Alhamdulillah deh... Aku takut kamu ngga suka..." ucap Idris menerima suapan dari Nanda secara bergantian.
"Aku bakal suka apa yang kamu suka mas..." balas Nanda dengan senyum yang menyertainya.
Keduanya menghabiskan waktu bersama hingga jam menunjukkan pukul setengah enam sore. Makanan enak pun telah habis dilahap oleh Nanda dan Idris. Rasa syukur pun Idris ucapkan ketika selesai makan.
"Alhamdulillah..." ucap Idris.
"Alhamdulillah..." balas Nanda.
Setelah itu keduanya berjalan menuju kasir. Idris membayar semua yang ia dan Nanda pesan menggunakan kartu ATM. Tangan Nanda tak pernah lepas dari genggaman Idris. Hingga keduanya masuk ke dalam mobil pun masih saja bergandengan tangan.
Malam harinya...
Nanda dan Idris duduk di balkon kamar. Memandang langit yang penuh dengan bintang. Gemerlap cahaya bintang menambah keharmonisan rumah tangga yang sedang Nanda dan Idris jalani.
Tangan Idris mengusap lembut perut yang mulai membuncit itu. Ia begitu nyaman melakukan hal tersebut. Entah kenapa, setiap akan tidur pasti Idris akan selalu mengusap perut Nanda hingga istrinya itu tertidur pulas sambil memeluknya.
"Entah bagaimana kedepannya... Aku berdoa semoga kita selalu tetap bersama mas..." ucap Nanda tersenyum menikmati setiap usapan yang suaminya berikan.
"Amin... Kita ngga akan pernah tau rahasia Tuhan... Cukup kita nikmati dan jalani setiap alur yang ada..." balas Idris.
Keduanya saling menatap satu sama lain. Lalu Nanda memeluk tubuh yang selalu membuat dirinya candu. Idris pun membelai wajah cantik istrinya dan mendaratkan ciuman dipuncak kepalanya juga.
Ditempa lain, Serli memandang langit-langit kamar. Ia masih memikirkan setiap untaian kata yang Nanda ucapkan. Ada rasa kesepian tidak ada orang yang selalu Serli takuti sekarang. Entah sampai kapan rasa itu hadir, Serli pun tak tau. Ia hanya bisa mendoakan dan menikmati setiap keadaan yang ada.
"Sehat-sehat terus yah sayang... Ibu sama ayah sayang kamu..." ucap Serli lalu tidur.
"Memang mudah untuk menyerah, memang wajar untuk berkeluh kesah. Tetapi, Allah menyuruh kita untuk tetap melangkah dan tidak berputus asa."
By : Nanda Firmadani.
✨Hai semuanya👋✨
__ADS_1
Alhamdulillah nih Author bisa up hari ini. Untuk kelanjutan ceritanya masih Author rahasiakan terlebih dahulu yah. Yang terpenting kalian setia untuk menunggu. Insyallah Author bakal up setiap harinya jika ada kesempatan waktu. Jangan lupa tinggal kenangan donk. Like dan Vote sebanyak-banyaknya. Biar Author ini terus semangat buat berkarya. Tambah seru ngga?. Author tunggu jawaban kalian di kolom komentar. Semoga terhibur. Terima kasih.
✨Dahhh👋✨