
✨ Kabar Duka✨
Sebulan telah berlalu dengan cepat. Pagi itu Nanda dan Idris tengah duduk di taman belakang rumah bersama dengan Ainin. Mereka berjemur bersama di bawah sinar matahari yang tak terlalu terik.
"Anak ayah tambah cantik, iya?" ucap Idris pada Ainin.
"Iya ayah..." balas Nanda dengan suara seperti anak kecil.
Terdengar tawa dari Ainin. Seakan ia tau tentang percakapan kedua orang tuanya. Nanda dan Idris terus mengubur buah hati mereka yang sudah mulai besar.
Setelah dirasa cukup, mereka masuk ke dalam rumah. Lalu mandi dan sarapan pagi seperti biasa. Tetapi pagi itu, Omah tak terlihat. Membuat Nanda bertanya-tanya sekaligus khawatir.
"Bi, Omah ada dimana? Tumben ngga ikut sarapan?" tanya Nanda pada Bi Anik.
"Tadi nyonya tua cuma bilang sama saya kalau beliau ngga sarapan pagi. Katanya dingin nyonya..." jawab Bi Anik.
"Dingin? Tumben Omah kedinginan?" gumam Nanda yang didengar oleh Idris.
"Mungkin karena tadi malam hujan..." ucap Idris agar istrinya tenang.
"Nanti tolong bawa sarapan ke kamar Omah yah, bi..." perintah Nanda setelah ia selesai sarapan.
"Baik nyonya..." balas Bi Anik dengan anggukan kepala.
Nanda dan Idris kembali ke kamar. Tak lama setelah itu Mak Ijah mengetuk pintu kamar. Dengan segera Nanda membukanya. Ternyata Ainin tidur.
"Dek Ainin tidur nyonya..." ucap Mak Ijah sembari menyerahkan Ainin pada Nanda.
"Makasih yah mak... Sekarang mak boleh sarapan..." ucap Nanda dengan senyum lembut.
__ADS_1
"Iya nyonya... Saya permisi..." ucap Mak Ijah lalu pergi meninggalkan Nanda dan Ainin.
Nanda menaruh Ainin di ranjang kecil. Perasaan Nanda tiba-tiba menjadi tak enak. Entah kenapa itu, Nanda pun tak tau. Ia hanya bisa memendamnya sendiri. Walau sebenarnya Idris sudah tau jika sekarang Nanda merasa tak enak.
Di kamar Omah, Bi Anik datang dengan nampan yang diatasnya ada piring makan dan segelas air putih. Bi Anik berjalan mendekati Omah yang tengah tertidur.
"Nyonya... Ini sarapannya..." ucap Bi Anik dengan memegang tangan Omah.
Bi Anik terkejut ketika memegang tangan Omah yang terasa begitu dingin. Ia mengecek nadi yang berada ditangan Omah. Seketika Bi Anik terduduk lemas ketika mengetahui bahwa denyut nadi tersebut telah hilang.
"Nyonya... Nyonya..." ucap Bi Anik panik.
"Tolong!!!" teriak Bi Anik yang terdengar oleh Mak Ijah yang tengah sarapan.
"Ada apa, bi?" tanya Mak Ijah menghampiri Bi Anik yang menangis.
Mak Ijah bergantian mengecek denyut nadi Omah. Benar kata Bi Anik, Omah telah tiada. Dengan segera Mak Ijah berlari ke lantai dua dimana Nanda dan Idris berada.
"Nyonya! Buka pintunya nyonya!" ucap Mak Ijah dengan napas yang tidak teratur.
Nanda yang mendengar pintu diketuk segera bangkit dan membukakan pintu. Ia melihat Mak Ijah yang tengah berdiri dengan air mata mengalir. Membuat Nanda bertanya didalam hatinya.
"Ada apa mak?" tanya Nanda.
"Nyonya tua... Ayo kita ke lantai dasar nyonya..." jawab Mak Ijah.
"Sebenarnya ada apa?" tanya Nanda pada Mak Ijah lagi.
"Nyonya tua telah tiada..." jawab Mak Ijah yang membuat Nanda terkejut.
__ADS_1
"Apa?" lirih Nanda.
Nanda segera berlari menuruni tangga. Ia bergegas masuk ke dalam kamar Omahnya. Lalu mengecek denyut nadi dan napas Omah. Seketika Nanda terkulai di lantai. Benar saja, Omah telah pergi untuk selamanya.
"Omah..." lirih Nanda.
Idris segera keluar kamar dan menyusul istrinya. Idris melihat Nanda tengah terisak disamping ranjang. Ia segera mendekat dan memeluk Nanda dengan erat.
"Inalillahi wa innailaihi Raji'un..." ucap Idris ketika ia tau bahwa Omah telah berpulang.
Seketika Nanda pingsan ditempat. Keluarga Firma telah diberi tau oleh Mak Ijah beberapa menit setelah Nanda pingsan. Ayah Rama yang mengetahui semua itu segera pergi ke rumah Nanda.
Tangis pun terdengar dimana-mana. Meninggalnya Omah membuat keluarga Firma menjadi sangat sedih. Dalam riwayat, Omah tak memiliki penyakit yang serius. Tetapi kali ini, Omah meninggal tanpa ada yang mengetahuinya.
"Ibu..." lirih ayah Rama di samping Omah yang terbujur kaku.
"Sabar mas..." ucap bu Maryam dengan mengelus ayah Rama.
Nanda sadar setelah sepuluh menit yang lalu. Rumah baru Nanda sudah ramai oleh orang-orang. Mereka menggunakan pakaian serba putih. Karena setiap orang yang meninggal di daerah tersebut diwajibkan menggunakan pakaian putih ketika bertaziah.
"Semoga Omah tenang disana..." ucap Nanda sembari mengecup pipi wanita yang sangat Nanda cintai.
Sosok Omah membuat Nanda ingin terus menangis. Ia adalah wanita yang penyayang, baik hati dan tak pernah pandang bulu. Mungkin itu semua yang ingin Allah tunjukkan pada kita semua. Bahwa tak semua orang meninggal karena sebuah penyakit. Bisa saja hari ini pun kita dapat berpulang ke Rahmatullah.
**✨Gaes👋✨
Alhamdulillah bisa up nih. Yang sabar yah kalian. Jangan mewek. Tapi kalau kalian mewek juga ngga papa si. Berarti kalian hebat. Jangan lupa like and vote yah. Makasih buat kalian yang udah setia membaca sampai episode ini. Semoga terhibur.
✨Sampai bertemu di episode selanjutnya 👋✨**
__ADS_1