Istriku Seorang CEO

Istriku Seorang CEO
Episode 89


__ADS_3

✨Penamaan✨


Seminggu telah berlalu, Nanda dinyatakan sembuh total. Bayi mungil itu terus tumbuh seiring dengan berjalannya waktu. Setiap hari Nanda selalu memberikan ASI nya pada bayinya agar ia terbiasa. Karena si bayi tak mau menggunakan susu formula.


"Sini biar ayah gendong kamu... Kasian bunda capek..." ucap Idris sambil menggendong buah hatinya setelah Nanda selesai memberikan ASI.


Perlahan bayi itu tertidur ketika Idris menggendongnya. Hari ini mereka akan pulang ke rumah setelah pemeriksaan terakhir. Tepat pukul sembilan pagi, dokter Nila masuk ke dalam bangsal.


Ia memeriksa keadaan Nanda terlebih dahulu lalu baru si bayi yang tengah tertidur. Setelah dinyatakan sehat, Idris segera membayar seluruh administrasi rumah sakit.


"Yuk kita pulang..." ajak Idris setelah semuanya selesai.


"Ayuk..." balas Nanda dengan semangat.


Seminggu dirumah sakit, kedua keluarga besar itu selalu bergantian untuk menjenguk si bayi. Mereka begitu bahagia dan senang atas kelahirannya. Bu Irma yang sekarang sudah menjadi nenek dan pak Anton yang juga sudah menjadi kakek juga turut berbahagia atas kelahiran cucu mereka.


"Oh ya mas, nanti acaranya dilaksanakan dirumah ayah?" tanya Nanda sembari mengelus-elus bayinya.


"Iya..." jawab Idris.


"Kamu tau ngga mas? Aku bahagia banget sekarang... Akhirnya aku udah jadi seorang ibu..." ucap Nanda sembari mencium bayinya.


"Alhamdulillah... Aku juga bahagia karena sekarang aku udah jadi seorang ayah..." balas Idris dengan senyuman yang begitu tulus.


Mobil mulai berjalan membelah jalan raya kota. Sekitar satu jam Nanda sampai di kediaman Firma. Kedatangan Nanda dan Idris disambut meriah oleh seluruh keluarga. Termasuk ada keluarga dari Idris yang ikut berkumpul untuk acara nanti malam.


"Ya Allah cucuku tambah cantik..." ucap bu Irma ketika Nanda dan Idris masuk. Bu Irma dengan antusias mencium cucunya.


Si bayi segera ditidurkan di ranjang kecil di lantai dua. Sedangkan Nanda dan Idris berkumpul di ruang tamu bersama keluarganya. Mereka telah sepakat untuk acara nanti malam.

__ADS_1


"Apa kamu sudah menyiapkan namanya, nak?" tanya pak Anton pada putranya.


"Sudah pah..." jawab Idris.


Ruang tamu kini dirias begitu meriah. Seluruh keluarga kini sibuk dengan urusannya masing-masing. Nanda memilih untuk tidur sebentar karena si bayi juga masih tertidur pulas.


Malam harinya tambak begitu meriah dilantai dasar. Banyak tamu undangan yang sudah hadir disana. Nanda dan Idris bersiap dengan baju couple. Sedangkan si bayi juga sudah siap dengan baju barunya.


"Kamu sudah siap?" tanya Idris melirik ke arah istrinya yang tengah duduk didepan kaca cermin.


"Sudah... Yuk..." jawab Nanda antusias sambil bangkit dan menghampiri Idris.


Mereka bertiga turun dengan si bayi yang Idris gendong. Bayi itu tampak tenang di pelukan ayahnya. Nanda pun tersenyum memandang wajah mungil dari buah hatinya yang tengah tertidur lelap.


"Wahhh itu cucu keluarga Firma..." ucap salah satu tamu undangan ketika melihat Nanda dan Idris turun.


"Setelah melahirkan nyonya Nanda tambah cantik saja..." puji tamu undangan yang lainnya.


"Assalamualaikum wr. wb. Terima kasih untuk semuanya... Dihari ini saya akan mengumumkan nama dari si bayi... Saya menamainya dengan nama Ainin Githa Syahla Salsabila... Kalian semua bisa memanggilnya dengan nama Ainin atau Ai... Terima kasih untuk waktu dan tempatnya... Mohon maaf bila ada kekurangan dan salah... Wassalamu'alaikum wr. wb." ucap Idris dengan tegas lalu kembali ke tempat.


Acara terakhir adalah pemotongan rambut si bayi. Disana ada pak kyai, pak presiden, dan juga tamu undangan lainnya. Pemotongan rambut berjalan dengan lancar. Setelah acara selesai, mereka semua makan-makan terlebih dahulu sebelum pulang. Semuanya menikmati hidangan dengan khidmat.


"Dek Ai... Sini paman gendong..." ucap Alex sambil menggendong Ainin dengan hati-hati.



Alex juga mendambakan bayi seperti yang ada digendongnya sekarang. Mungil dan cantik. Tetapi ia tidak memaksakannya pada Naya. Karena ia tau Naya masih harus menempuh S1 nya.


Idris dan Nanda menghampiri meja pak presiden yang tengah berbincang bersama pak kyai sekeluarga. Tak lupa pula Idris dan Nanda mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya pada gurunya dan juga pak presiden yang telah datang.

__ADS_1


Pukul sepuluh malam, acara telah selesai. Para tamu undangan sudah pulang termasuk pak presiden. Keluarga Firma sudah menyediakan hotel untuk para petinggi negara dan perusahaan. Mereka akan tinggal satu malam dan pulang ke rumah masing-masing keesokan harinya.


"Kamu belum tidur?" tanya Idris ketika ia melihat Nanda tengah duduk bersama Ainin di gendongannya.


"Belum mas... Ainin belum tidur..." jawab Nanda lalu mencium kening Ainin untuk beberapa saat.


Ainin menikmati setiap ASI yang keluar dari ****** bundanya. Sesekali ia menatap ke atas. Memandang wajah cantik bundanya. Tetapi Ainin tak menangis. Ia anak yang pintar.


"Sini biar aku yang gendong kalau kamu capek..." ucap Idris mendekati istrinya dan anaknya yang berada di atas ranjang.


"Ngga usah... Mas tidur aja... Biar Ainin sama aku aja... Sebentar lagi dia bakal tidur kok..." ucap Nanda.


"Aku tunggu Ainin tidur... Baru kita tidur bareng..." ucap Idris sembari bangkit dan berjalan ke arah kamar mandi.


Nanda hanya mengangguk. Ia menunduk untuk menatap wajah Ainin yang katanya mirip dengan dirinya. Tetapi lebih mirip dengan Idris.


Benar saja, ketika Idris keluar dari kamar mandi, Ainin sudah tertidur. Nanda dengan hati-hati memindahkan Ainin ke ranjang bayi yang berada di dekat ranjang tidurnya.


"Jaga Ainin dulu yah mas... Takut dia bangun lagi..." ucap Nanda pada Idris.


"Iya... Kamu tenang aja..." balas Idris dengan anggukan kepala.



Bonus foto dek Ainin buat kalian. Karena corona jadi dek Ainin pake penutup yah gaes. Hehehehe.


✨Hallo gaes👋✨


Gimana nih? Tambah asik ngga ada dek Ai di cerita ini? Semoga kalian suka dan terhibur. Jangan lupa like and vote sebanyak-banyaknya yah. Biar Author tambah semangat bikin ceritanya.

__ADS_1


✨Sampai ketemu di episode selanjutnya 👋✨


__ADS_2