Istriku Seorang CEO

Istriku Seorang CEO
Episode 91


__ADS_3

✨Sakinah, Mawadah dan Warahmah✨


Tepat hari ini adalah tanggal dimana sahabatnya melangsungkan pernikahan. Nanda dan Idris bersiap untuk pergi kesana bersama. Mereka juga membawa Ainin, karena Nanda tak tega jika bayinya harus dititipkan ke orang lain. Selagi dia masih bisa menjaga, Nanda pasti akan mengusahakan akan selalu berada di sisi bayinya.


"Kamu udah siap?" tanya Idris ketika ia masuk ke dalam kamar.


"Udah mas... Tinggal Ainin..." jawab Nanda sembari bangkit dari kursi lalu berjalan menghampiri Ainin yang tengah tertidur.


"Bibi udah siapin sarapan itu... Kamu tinggal turun aja..." ucap Idris pada Nanda yang tengah sibuk mengganti pakaian Ainin.


"Iya nanti aja... Bareng sama kamu... Kamu juga belum sarapan kan?" balas Nanda sekaligus bertanya.


"Belum..." jawab Idris.


Idris masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badannya. Sedangkan Nanda sudah menyiapkan segala perlengkapan untuk Idris. Tak butuh waktu lama, Idris keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai handuk. Ia segera memakai pakaian yang telah Nanda siapkan.


Setelah semuanya siap, Nanda dan Idris turun untuk sarapan. Semua orang berkumpul seperti biasa. Nanda tak pernah lagi membeda-bedakan. Mak Ijah dan Bi Anik pun ia suruh untuk ikut sarapan bersama.


"Omah, Nanda pamit yah... Mau kondangan ke rumah temennya mas Idris..." ucap Nanda sembari mencium tangan Omah.


"Iya... Hati-hati dijalan..." balas Omah.


Idris pun mencium tangan Omah lalu keluar bersama. Mereka menaiki mobil berwarna putih milik Idris. Keduanya masuk ke dalam karena hari sudah hampir siang.


Tiba-tiba Ainin menangis ketika mereka masuk ke dalam mobil. Membuat Nanda terkejut dan bingung. Sebagai ibu untuk pertama kalinya membuat Nanda banyak belajar.


"Sayang... Jangan nangis donk... Kamu mau minum susu yah?" ucap Nanda sembari menurunkan resleting bajunya.


Seketika tangis Ainin mereda. Mobil pun mulai berjalan membelah jalan raya. Ikut berjejer rapi dengan berbagai jenis mobil lainnya.

__ADS_1


Idris mengemudikan mobilnya menuju alamat yang tertera di undangan. Ternyata itu adalah alamat kediaman Lutfi. Pada pukul sembilan pagi, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Disana sudah terparkir banyak mobil mewah. Membuat suasana terlihat semakin ramai.


"Lucu banget anak ayah..." ucap Idris ketika melihat Ainin tengah tertidur setelah Nanda memberikan ASI nya.


"Katanya si Ainin mirip kamu mas..." ucap Nanda.


"Oh ya? Tapi dia cantik kaya bundanya kok..." balas Idris membuat Nanda tersipu.


"Mas tolong fotoin Ainin donk..." ucap Nanda setelah Idris melepas sabuk pengaman.


"Oke..." balas Idris dengan senang hati.


Idris segera mengambil ponselnya dan memotret wajah Ainin yang tengah tertidur. Setelah itu Nanda dan Idris turun dari mobil. Mereka berdua segera masuk ke dalam kediaman bersama para tamu undangan lainnya.



Nanda berjalan sambil mengelus-elus Ainin. Takut jika Ainin akan terbangun karena suasana mulai berisik. Idris langsung membawa Nanda menuju pelaminan dimana sahabatnya tengah duduk bersanding disana.


"Amin... Itu anak kamu?" balas Iskan. Tanya Iskan ketika melihat wanita berada yang berada disamping Idris.


"Iya..." jawab Idris.


"Mirip kamu yah... Tapi juga cantik kaya ibunya..." puji Iskan ketika ia melihat Ainin yang tengah tertidur.


"Kamu bisa aja... Banyak yang bilang begitu..." balas Idris sembari menepuk pundak Iskan.


"Kita duduk dulu yuk disana... Sekalian ngobrol... Kita kan udah lama ngga ketemu... Kangen masa-masa bareng di pesantren..." ucap Iskan sembari menunduk meja kosong.


"Boleh..." balas Idris.

__ADS_1


Nanda hanya menunduk dan memberikan senyum kepada pengantinnya. Dan Hayfa juga hanya memberikan senyuman hangat pada laki-laki yang dulu pernah membuatnya jatuh cinta. Mereka berempat duduk di meja yang ditunjuk oleh Iskan.


"Bagaimana ceritanya kalian bisa bertemu?" tanya Idris penasaran.


"Ceritanya panjang..." jawab Iskan.


"Namanya juga cerita... Pastinya panjang..." balas Nanda yang membuat semua orang tersenyum.


Mereka berbincang-bincang hingga pukul setengah sepuluh. Iskan mengajak Nanda dan Idris untuk makan terlebih dahulu sebelum pulang. Mereka hanya menuruti apa kemauan si pengantin.


"Makasih yah... Aku doakan yang terbaik buat kalian berdua..." ucap Idris sembari melirik Hayfa.


"Amin..." balas Iskan dan Hayfa bersamaan.


Sebenarnya Hayfa merasa sakit ketika melihat Nanda. Tetapi ia sadar, bahwa sekarang ia juga sudah memiliki seorang suami. Rasa yang dulu pernah ada berusaha Hayfa hilangkan. Dan akhirnya Hayfa berhasil membuka hatinya untuk seseorang seperti Iskan. Yang tak lain adalah sahabat dari laki-laki yang dulu pernah ia sukai.


Jalan cinta seseorang itu berbeda-beda. Seperti halnya Idris dan Hayfa. Mereka tak ditakdirkan untuk bersama. Tetapi Allah SWT maha berkuasa. Ia menjadikan setiap manusia memiliki kebahagiaan tersendiri. Semua itu juga membuat Idris tak menyangka. Sahabatnya sendiri bisa menikah dengan wanita yang dulu pernah memendam rasa terhadapnya. Karena semua itu adalah jalan takdir dari sang Ilahi.


✨Gaesss👋✨


Alhamdulillah yah bisa bertemu lagi di sini. Jangan bosan-bosan donk yah. Tambah seru ngga?. Jangan lupa donk like dan Vote sebanyak-banyaknya yah. Biar Author tambah semangat nih buat nulisnya. Jangan lupa juga baca karya Author yang berjudul.


Pluto's Eight Companions.


Dan.


Garis Cinta.


Semoga terhibur.

__ADS_1


✨Sampai ketemu di episode selanjutnya 👋✨


__ADS_2