Istriku Seorang CEO

Istriku Seorang CEO
Episode 28


__ADS_3

✨Perhatian✨


"Terima kasih informasinya... Perketat perusahaan dan kediaman... Jangan sampai lengah sedikit pun..." ucap Nanda yang merasa takut setelah mendengar kabar dari orang kepercayaan nya yang sekarang berada diluar negeri.


Tubuh Nanda seakan terasa lemas seketika. Membayangkan betapa kejamnya suami baru Rini yang tega melakukan semua ini. Apa yang membuatnya melakukannya? Entah!. Perkataan itu terus terngiang ditelinga Nanda hingga membuat kepalanya terasa pening.


15.00


🧕 : Tolong jemput aku sekarang... Ku mohon...


Pesan pun terkirim dengan cepat. Nanda merasa dirinya benar-benar tidak berdaya setelah mendengar kabar tersebut. Tak berapa lama Idris pun menjawab pesan darinya.


👳 : Baiklah aku akan kesana sekarang... Kamu tunggulah disitu...


Merasa sedikit lega karena Idris akan segera menjemputnya. Nanda pun bangkit dari kursi kebesaran nya dan berjalan ke arah kaca jendela yang menampilkan indahnya kota. Banyak gedung-gedung yang menjulang tinggi, taman-taman dan juga mobil yang bergerak dijalan raya dengan tertib.


Dipandanginya kota tersebut agar pikiran Nanda tenang. Berusaha sebaik mungkin agar tak diketahui bahwa ia sedang mempunyai banyak beban. Karena bosan Nanda berjalan ke arah sofa lalu duduk dengan menyilangkan kedua kakinya.


30 menit kemudian...


👳 : Aku sudah sampai... Turunlah...


Nanda yang mendapat kan pesan dari Idris segera bangkit dari sofa. Mengambil tasnya dan keluar dari ruangan lebih cepat dari biasanya. Tak butuh waktu lama untuk Nanda sampai dilobi karena ia menggunakan lift khusus.


"Terima kasih telah datang tepat waktu..." ucap Nanda ketika ia masuk ke dalam mobil.


"Sama-sama... Kebetulan aku tidak ada pekerjaan anda yang menumpuk... Jadi bisa datang tepat waktu..." balas Idris lalu menjalankan mobil keluar dari perusahaan Firma Group.


Di dalam mobil tampak sangat hening dan sunyi. Hanyut dalam pikiran masing-masing hingga Idris memberanikan diri untuk mengawali pembicaraan ketika mobil berhenti di lampu merah.


"Apa kamu sedang banyak pikiran?" tanya Idris melihat Nanda yang sedikit pucat tidak sepeti waktu mereka berangkat tadi pagi.


"Tidak ada... Aku hanya lelah..." jawab Nanda berbohong padahal rasa takut masih hingga didalam dirinya ketika teringat dengan perkataan orang kepercayaan itu.


"Jika ada apa-apa kamu boleh cerita pada ku... Aku siap mendengarkan... Jangan pendam itu sendiri... Kamu sudah punya suami Nda... Insya Allah aku siap menjadi sandaran mu ketika kamu banyak pikiran dan beban..." ucap Idris dengan lembut yang membuat Nanda merasa tenang seketika.


"Terima kasih Idris... Maaf aku hanya lelah saja..." balas Nanda dengan senyum terpaksa.


"Baiklah kalau begitu..." ucap Idris kembali menjalankan mobil ketika lampu sudah berganti menjadi hijau.


Sebenarnya Nanda ingin sekali menceritakan semua beban pikirannya tapi rasa takut nya lah yang membuat Nanda tidak bisa berkata apa-apa pada siapapun.


Dipandanginya wajah Idris yang kemarin telah sah menjadi suaminya. Semuanya berubah ketika ia mengenal Idris lebih dalam. Sikap Idris yang begitu sabar dengan sikap dirinya yang cuek. Dan sekarang Idris menjadi perhatian ketika melihat dirinya sedang banyak beban dan pikiran.

__ADS_1


"Kita makan dulu yah... Kamu pasti lapar kan?" ucap Idris sambil membelokkan setir mobil memasuki sebuah restoran dengan desain yang cukup sederhana.


"Iya... Tadi siang aku tak sempat makan... Aku sibuk..." jawab Nanda menganggukkan kepalanya tanda iya karena tadi siang Nanda tak sempat istirahat hingga membuatnya merasa sangat lemas.


"Kamu boleh menjadi sibuk tapi jangan lupa makan juga... Tubuh kamu juga butuh energi Nda... Jangan sampai kamu sakit... Pasti ayah akan khawatir..." ucap Idris mematikan mobilnya sambil menatap Nanda dengan lekat.


"Iya aku tau itu... Terima kasih sudah mengingatkan..." balas Nanda yang ikut memandang Idris sekilas.


Dalam hatinya Nanda merasa senang dengan perhatian Idris padanya. Rio yang statusnya menjadi kekasihnya pun jarang sekali seperti Idris. Sifat yang sabar dan perhatian. Apalagi yang akan Idris tunjukkan pada Nanda setelah ini?.


"Mari kita turun... Jangan banyak melamun... Itu tidak baik... Ayo..." ucap Idris mengingatkan Nanda lalu membuka pintu mobil dengan perlahan.


Nanda segera membuka pintu mobilnya menyusul Idris yang sudah keluar sejak tadi. Mereka pun memasuki restoran tersebut dengan berdampingan. Orang yang berada didalam pun merasa kagum ketika Nanda dan Idris berjalan ke sebuah meja dipinggiran kolam kecil.


Tak berapa lama pelayan restoran menghampiri mereka berdua. Lalu 2 buku yang berisi daftar menu.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Idris setelah mereka duduk.


"Aku paket ayam bakar dan jus mangga..." jawab Nanda menutup buku menu.


"Baiklah... Kami pesan ayam bakar 2, lalu jus mangga 1 dan jus alpukat 1..." ucap Idris yang ikut menutup buku menu.


"Sudah pak?" tanya pelayan tersebut yang bersiap mencatat pesanan dari Idris lagi


Pelayan tersebut mengambil 2 buku menu lalu pergi meninggalkan Idris dan Nanda. Setelah pelayan itu pergi suasana menjadi hening kembali.


20 menit kemudian...


Pesanan pun datang membuat perut Nanda meronta-ronta minta segera diisi. Idris hanya tersenyum memandang wajah cantik Nanda ketika mulai memakan makanannya.


Sebenarnya Idris masih sedikit kenyang, tapi ia merasa kasihan ketika wajah Nanda yang sedikit pucat tadi. Maka dari itu ia menyempatkan untuk mampir direstoran yang tidak terlalu mewah.


"Cantik..." ucap Idris lirih yang membuat Nanda berhenti mengunyah.


"Apa kamu mengatakan sesuatu tadi?" tanya Nanda.


"Tidak..." jawab Idris yang pura-pura tidak tau.


Setelah makan mereka melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Tepat ketika mereka masuk ke dalam rumah adzan pun mulai terdengar.


"Mari kita sholat berjamaah..." ucap Idris.


"Iya ayo..." balas Nanda tanpa ada penolakan.

__ADS_1


Dikamar mereka segera mandi dan melaksanakan kewajiban nya pada Sang Maha Pemberi Kehidupan. Rasanya ini seperti mimpi bagi Nanda. Bagaimana tidak?. Pasalnya ketika Nanda sholat berjamaah bersama Idris hatinya terasa tenang dan juga damai.


"Assalamualaikum warahmatullah..." ucap Idris sambil menoleh ke kanan lalu berganti ke kiri.


Selesai sholat berjamaah Nanda dan Idris turun ke lantai 1. Mereka berdua mendapati Rama dan Naya yang sedang tertawa bahagia di ruang tamu. Tawa yang jarang sekali Nanda lihat dari Rama setelah kepergian Naya beberapa tahun yang lalu.


"Sore ayah... Naya..." ucap Nanda sambil duduk di sofa bersama dengan Idris.


"Sore juga kak..." balas Naya mengakhiri tawanya.


"Tumben kamu pulang cepat?" tanya Rama memandang ke anak sulungnya.


"Iya ayah... Dikantor tidak terlalu banyak pekerjaan jadi aku pulang cepat..." jawab Nanda yang lagi-lagi berbohong demi menutupi beban pikirannya.


"Bagaimana dengan mu menantu?" tanya Rama bergantian pada Idris.


"Alhamdulillah ayah... Aku hanya mengisi beberapa meeting jadi pulang lebih cepat dari biasanya..." jawab Idris dengan senyuman yang menyertainya.


"Kalian berdua sangat cocok kak... Iya kan ayah?" ucap Naya.


"Tentu saja..." jawab Rama sambil mengelus rambut hitam lurus Naya.


✨Salam Author ✨


Pasti kalian semua menunggu kelanjutan cerita Idris dan Nanda yah?. Oke. Terima kasih buat kalian yang mau bersabar menunggu kelanjutan kisah Idris dan Nanda. Jangan lupa like and vote yah🤗. Buat Author lebih semangat lagi. Oh iya author juga punya karya selain Istriku Seorang CEO lho.


Anggia dan Ancaman


My Lord


Kerinduan


Perjuangan Kaisar Langit



Hantu ganteng itu pacarku



Jangan lupa baca yah. Ngga kalah seru lho dan menarik dari Istriku Seorang CEO. Terima kasih. Tunggu kelanjutannya yah✨


✨Salam Author ✨

__ADS_1


__ADS_2