Istriku Seorang CEO

Istriku Seorang CEO
Episode 81


__ADS_3

✨Terima kasih ✨


Pagi itu Idris sudah siap dengan baju kantornya, dasi pun sudah melekat menyempurnakan pakaiannya. Nanda sedang menyisir rambut panjangnya di depan cermin sambil tersenyum menatap sang suami. Idris pun tersenyum untuk membalas senyum istrinya.


Setelah dirasa siap, Idris meraih jas hitamnya dan tas kerjanya yang terletak di sofa. Tak lupa Nanda mencium tangan Idris. Seperti biasa Idris pun membalas dengan mencium kening Nanda.


"Aku berangkat dulu yah... Jaga diri kamu baik-baik... Jangan nakal di dalam yah sayang... Kasian bunda kamu..." ucap Idris sambil mengusap perut Nanda yang semakin membesar setiap harinya. Tak lupa Idris pun mendaratkan ciuman untuk calon anaknya.


"Hati-hati dijalan..." ucap Nanda.


"Iya... Assalamualaikum..." ucap Idris lalu pergi melangkah keluar dari kamar.


"Waalaikum salam..." balas Nanda.


Setelah itu Nanda duduk di balkon menikmati susu hangat yang tadi Idris buat. Susu khusus ibu hamil. Terkadang Nanda merasa sangat bahagia bisa mendapat perhatian dari seluruh keluarga. Tetapi ia juga sedih. Keluarga aslinya tidak dapat bersatu kembali.


"Andai mamah sama ayah masih hidup... Aku pasti bakal lebih bahagia disini..." ucap Nanda sambil mengelus perutnya.


Bu Rini pun termasuk orang yang penting dalam hidup Nanda. Ia merawat selama 17 tahun lamanya. Dan untuk Pak Harto dia pun orang penting bagi Nanda. Tanpa pak Harto mungkin Nanda tidak akan ada di dunia ini.


Sedangkan Idris sudah sampai di Perusahaan RESA Group. Ia masuk ke dalam ruangannya. Tak berapa lama pak Hendi ikut masuk pula ke dalam ruangan milik Idris.


"Selamat pagi pak Idris... Ada yang bisa saya bantu?" tanya pak Hendi dengan sopan.


"Pagi juga pak Hendi... Saya ingin anda mencari tau tentang pak presiden... Atau anda punya teman yang bekerja bersama dengan presiden?" balas Idris yang langsung pada intinya.


"Pak presiden? Sepertinya pak presiden pun sudah tau tentang perusahaan ini... Seingat saya pak presiden dulu pernah berkunjung kemari pak Idris..." balas pak Hendi.


"Oh ya? Untuk urusan apa?" tanya Idris.


"Tidak tau pak... Mungkin pak Anton lebih tau tentang semua itu..." jawab pak Hendi.


"Baiklah kalau begitu.. Terima kasih atas informasinya pak Hendi..." ucap Idris yang sudah mendapat sedikit informasi.

__ADS_1


"Sama-sama pak... Saya pamit..." ucap pak Hendi lalu keluar dari ruangan bosnya.


Setelah mendapat informasi, Idris segera menelpon ayahnya bahwa ia akan datang ke rumah. Mungkin untuk saat ini, ayahnya tak begitu sibuk seperti dulu. Maka dari itu Idris berniat menemui ayahnya sekaligus bertemu bu Irma. Karena sudah lama Idris tak berkunjung ke rumahnya.


Sedangkan ayah Rama dan Alex tengah berkumpul di suatu ruangan yang khusus untuk rapat. Di sana ada beberapa petinggi dan bawahan lainnya yang diperintahkan oleh ayah Rama untuk berkumpul.


"Oke, kita mulai rapat hari ini... Kalian semua ditugaskan untuk mencari informasi tentang pak presiden... Baik itu jam kerjanya atau bawahan yang bekerja dengan beliau... Karena ada yang harus petinggi selesaikan dengan pak presiden..." ucap Alex yang didengarkan dengan baik oleh anggota rapat yang berjumlah sekitar 10 orang. Karena dapat kali ini bersifat tertutup.


"Dalam sebulan ini kalian harus berusaha mencari informasi sebanyak-banyaknya... Apa ada yang ditanyakan?" lanjut Alex sambil melihat anggotanya.


"Baiklah jika tidak ada yang ditanyakan... Saya tutup rapat kali ini...Sekian dan terima kasih..." ucap Alex mengakhiri rapat siang itu.


Semua anggota rapat keluar dari ruangan menuju ruangannya masing-masing. Mereka langsung berusaha mencari informasi yang diperintahkan oleh Alex termasuk juga dengan Santi.


"Alex, ada yang ingin aku tanyakan..." ucap Santi ketika keluar dari ruang rapat.


"Silahkan Santi..." ucap Alex.


"Sebenarnya ada apa? Kenapa tuan Rama secara tiba-tiba menyuruh kita untuk mencari informasi tentang pak presiden? Bukannya itu bersifat tertutup?" tanya Santi to the point.


"Ngidam? Terdengar aneh..." ucap Santi.


"Iya kamu benar... Ada yang ditanyakan lagi?" balas Alex.


"Tidak ada... Terima kasih..." ucap Santi lalu pergi meninggalkan pria yang dulu sempat ia cintai.


Alex kembali ke ruangannya. Sedangkan ayah Rama berada di ruangan milik Nanda. Ayah Rama segera menelpon temannya yang ia yakini masih bekerja dengan pak presiden. Benar saja, dugaan ayah Rama. Ternyata temannya justru sekarang menjadi asisten pak presiden. Sungguh beruntung.


"Hallo kawan... Apa kabar? Senang bisa mendengar suatu mu itu... Oh ya, ada yang ingin tanyakan..." ucap ayah Rama setelah telpon tersambung.


"Hallo juga kawan... Alhamdulillah kabarku baik... Aku juga senang akhirnya kita bisa berbincang seperti dulu... oh ya? silahkan bertanya..." balas teman ayah Rama yang bernama pak Andre.


"Apa kamu masih bekerja dengan pak presiden?" tanya ayah Rama to the point.

__ADS_1


"Alhamdulillah justru sekarang aku semakin dekat dengan beliau... Memangnya ada apa?" jawab pak Andre.


"Alhamdulillah... Syukurlah... Aku ingin meminta bantuan mu kawan... Apa kamu mau membantuku?" ucap ayah Rama.


"Tentu saja..." balas pak Andre.


"Jadi begini... Anak perempuan ku sedang hamil... Dia sedang ngidam sekarang... Dia ingin bertemu dengan pak presiden dan makan bakso bersamanya... Apa kamu bisa membantu anakku bertemu dengan beliau?" cerita ayah Rama.


"Untuk itu aku akan usahakan yah... Aku tidak janji... Mengingat kegiatan pak presiden begitu banyak... Tapi aku akan berusaha meluangkan waktu pak presiden untuk anakmu... Kamu tunggu saja kabar selanjutnya dari ku..." balas pak Andre dari seberang.


"Terima kasih kawan... Aku tunggu kabar selanjutnya dari mu..." ucap ayah Rama diakhir percakapannya dengan teman SMK nya dulu.


Setelah itu ayah Rama bernapas lega. Semoga kabar yang ditunggu adalah kabar baik. Itu yang ayah Rama harapkan.


Sore harinya Idris pulang dari rumahnya yang dulu. Ia sudah bertanya banyak tentang pak presiden pada pak Anton. Dulu pak presiden berkunjung karena ingin melaksanakan kerja sama. Kata pak Anton.


Idris segera pulang ke kediaman dengan bernapas lega. Walau sedikit tetapi baginya itu termasuk penting. Ia pasti akan berusaha sebaik mungkin untuk sang istri dan anaknya.


Nanda yang berada di ruang tamu, menyambut laki-laki yang ia cintai. Mencium tangannya dan mengambil tas kerjanya. Itu sudah Nanda lakukan sekitar beberapa bulan yang lalu.


"Alhamdulillah aku dapat sedikit informasi tentang pak presiden..." ucap Idris.


"Alhamdulillah... Terima kasih yah mas..." ucap Nanda dengan senyum yang menyertainya.


"Mungkin ayah akan mendapat informasi lebih banyak lagi nanti..." ucap Idris.


"Semoga saja..." balas Nanda.


Setelah itu Idris membersihkan badannya agar lebih fresh. Nanda pun dengan setia menunggu sang suami yang tengah mandi. Karena bagi Nanda sebuah kesetiaan itu sangat penting bagi orang yang sudah berumah tangga. Setia terhadap hubungan tentunya.


✨Gaes👋✨


Alhamdulillah bisa up. Jangan lupa like and vote yah. Bantu karya Author ini. Oh ya, karya yang diatas itu cuman haluan Author aja yah. Jangan dipikir.

__ADS_1


✨Sampai bertemu di episode selanjutnya. Semoga terhibur😊✨


__ADS_2