
✨Teringat✨
Sesampainya di rumah, Nanda segera turun dan disusul oleh bu Maryam. Idris segera mematikan mesin mobil setelah mobil terparkir di garasi bersama mobil mewah lainnya. Lalu mereka masuk bersama ke dalam rumah.
"Nak, tumben kamu pulang jam segini?" tanya Omah yang terkejut ketika melihat cucunya pulang. Padahal jam baru menunjukkan pukul setengah sembilan siang.
"Hehe iya Omah..." jawab Nanda dengan kekehan kecil.
"Kamu bawa siapa nak?" tanya Omah lagi sambil bangkit dari sofa.
"Ini Bu Maryam Omah..." jawab Idris ketika mereka sampai diruang tamu. Omah hanya membalas dengan anggukan kepala lalu duduk kembali disofa.
Nanda mempersilahkan bu Maryam untuk duduk disofa. Idris pun ikut duduk disamping istrinya. Tak berapa lama, ayah Rama datang dari lantai dua. Langkahnya terhenti ketika melihat seorang wanita yang sedang duduk disamping Nanda.
"Ayah!" panggil Nanda membuat ayah Rama tersadar dari lamunannya.
"Iya nak, tumben kamu pulang jam segini? Apa kamu izin tidak masuk ke kantor?" tanya ayah Rama sembari duduk disamping Omah.
"Iya ayah... Nanda izin tidak masuk ke kantor... Cuman hari ini saja..." jawab Nanda.
"Lalu yang disamping mu itu siapa?" tanya ayah Rama penasaran.
"Dia adalah bu Maryam Yah..." jawab Nanda sembari tersenyum ke arah bu Maryam yang sedari tadi menundukkan pandangannya.
"Dan ibu... Dia adalah ayah Rama..." lanjut Nanda.
Bu Maryam hanya tersenyum simpul. Ketika pandangan mereka bertemu, ada sekilas memori yang teringat begitu saja. Sepertinya ayah Rama pernah melihat wanita yang ada didepannya saat ini. Tapi tidak tau dimana dan kapan. Pikir ayah Rama.
"Tunggu dulu!" ucap ayah Rama yang membuat semua orang terkejut.
"Ada apa ayah?" tanya Nanda.
"Sepertinya ayah pernah melihat bu Maryam tapi tidak tau dimana..." jawab ayah Rama sambil mengingat-ingat.
"Mungkin saja ayah salah orang..." balas Nanda.
Bu Maryam pun berpikir sama. Ketika ia melihat pria yang ada didepannya saat ini teringat kejadian 22 tahun yang lalu. Walau tak begitu jelas akan memori tersebut, tapi bu Maryam merasa yakin jika itu adalah orang yang memungut bayinya di tempat sampah dulu.
"Ah iya! Mungkin saja..." ucap ayah Rama yang sebenarnya masih penasaran.
"Omah... Ayah... Kami minta izin agar bu Maryam tinggal beberapa waktu dirumah ini. Apa Omah dan ayah mengizinkan?" ucap Idris meminta persetujuan.
Ayah Rama dan Omah saling bertukar pandang. Detik berikutnya ayah Rama dan Omah mengangguk. Walau merasa sedikit ragu. Karena ada orang baru didalam kediaman Firma.
"Terima kasih ayah... Omah... Karena telah mengizinkan bu Maryam tinggal di rumah ini..." ucap Idris yang merasa senang.
Kemudian Omah menyuruh pelayan untuk membereskan kamar yang kosong. Setengah jam berlalu, akhirnya kamar yang diminta pun siap untuk ditempati.
__ADS_1
"Mari bu... Ikut saya..." ucap Nanda mengajak.
Bu Maryam bangkit dari sofa mengikuti Nanda. Rasa syukur dan bahagia hinggap di dada bu Maryam. Ia merasa bersyukur karena diterima untuk tinggal walau hanya beberapa waktu. Dan bahagia ketika mempunyai keluarga baru setelah sekian lama hidup sendiri.
Dimalam harinya...
Nanda dan Idris bersiap untuk turun ke lantai satu setelah sholat berjamaah. Lalu mereka berdua keluar kamar dan berjalan menuruni tangga hingga akhirnya sampai di meja makan. Semua anggota keluarga telah berkumpul dimeja makan, tetapi Nanda merasa ada yang kurang. Ya. Bu Maryam tidak ikut makan malam.
"Malam semuanya..." sapa Nanda ketika sampai dimeja makan.
"Malam..." balas seluruh anggota keluarga dengan senyum yang terukir manis dibibir masing-masing.
"Dimana bu Maryam, Omah?" tanya Nanda.
"Mungkin ada dikamar nak..." jawab Omah.
Mendengar hal itu, Nanda tak jadi duduk. Lalu yang Nanda lakukan adalah mengajak bu Maryam agar ikut makan malam bersama. Entah kenapa jika tak ada bu Maryam terasa ada yang kurang bagi Nanda. Hal itu yang membuat dirinya tak bisa jauh dari bu Maryam.
Tok...tok...tok...
"Silahkan masuk..." ucap seseorang dari dalam kamar.
Kemudian Nanda membuka pintu dengan perlahan. Didalam kamar bu Maryam sedang duduk termenung. Tidak tau apa yang sedang ia renungi sekarang. Hanya saja ia ingin sendiri sekarang.
"Ibu... Mari makan malam bersama..." ajak Nanda.
"Tidak nak... Ibu masih kenyang..." balas bu Maryam berbohong.
"Baiklah... Ayo..." balas bu Maryam yang membuat senyum Nanda mengembang.
Nanda dan bu Maryam pun keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang makan. Seketika semua memandang ke arah Nanda dan bu Maryam. Lebih tepatnya terhadap bu Maryam.
Kemudian Nanda mempersilahkan bu Maryam untuk duduk disebelahnya. Pandangan Naya dan Alex pun tak lepas dari bu Maryam. Membuat bu Maryam merasa tak nyaman ketika ia duduk bersama dimeja makan.
"Ibu ini siapa kak?" akhirnya pertanyaan itu lolos dari bibir Naya.
"Namanya bu Maryam... Dia akan tinggal bersama kita untuk beberapa waktu..." jawab Nanda dengan memperlihatkan senyuman yang khas.
"Tinggal?" tanya Naya lagi.
"Iya..." jawab Nanda.
Ketika Naya ingin bertanya kembali, tangan Alex terulur untuk mencegahnya. Karena saat ini tak tepat jika Naya terus bertanya tentang wanita yang duduk disamping Nanda. Bisa jadi membuat semua orang terganggu dengan makan malamnya. Itu yang Alex pikirkan.
Lalu acara makan malam pun terlihat lebih hening dari biasanya. Bu Maryam makan dengan sangat pelan. Rasa syukur terus ia ucapkan selalu ketika mendapatkan nikmat yang selama ini tidak ia rasakan.
Didalam kamar...
__ADS_1
Nanda duduk sambil menyisir rambut hitamnya didepan cermin yang lumayan besar. Kemudian Idris menghampiri Nanda dan mengecup puncak kepala istrinya. Membuat senyum Nanda mengembang.
"Aku nggak nyangka yah... Bu Maryam bisa tinggal sama kita..." ucap Idris melihat pantulan wajah cantik Nanda dari cermin.
"Alhamdulillah Omah sama ayah mengizinkan..." balas Nanda.
"Kamu senang sekarang?" tanya Idris.
"Ada senang dan ada sedihnya juga..." jawab Nanda.
"Kenapa?" tanya Idris.
"Aku senang bu Maryam boleh tinggal sama kita... Dan aku juga sedih belum bisa memastikan jika bu Maryam adalah bunda..." jawab Nanda menunduk.
Idris tersenyum mendengar penuturan dari istrinya. Tangan Idris terulur untuk memeluk tubuh ramping Nanda yang sedang duduk. Membuat Nanda merasa geli.
"Tenang aja... Kamu nggak usah khawatir... Sebentar lagi kamu bakal tau siapa bu Maryam..." ucap Idris memberikan ketenangan.
"Tapi kapan mas..." ucap Nanda.
"Yang terpenting kamu berdoa dulu... Entah waktunya kapan... Kamu bakal tau juga nantinya... Yang sabar yah..." ucap Idris dengan penuh kelembutan.
"Insya Allah aku bakal sabar menunggu..." balas Nanda.
"Bagus kalau begitu... Istriku memang pintar..." ucap Idris yang membuat Nanda tertawa.
"Suami ku juga pintar..." ucap Nanda sambil memegang pipi Idris.
"Jelas donk..." balas Idris dan mencium pipi Nanda.
Disisi lain bu Maryam tengah berjalan menuju dapur. Tetapi langkahnya terhenti ketika ada tangan yang mencekalnya dari belakang. Membuat tubuh bu Maryam berbalik dan bertatapan dengan seseorang disana.
"Maaf sebelumnya... Saya hanya ingin memastikan... Bahwa saya benar-benar pernah melihat anda..." ucap ayah Rama sambil melepas cekalannya.
"Mungkin anda salah orang..." ucap bu Maryam yang teringat kejadian dimasa lalu.
"Saya tidak mungkin salah orang... Walau hanya sekilas tapi saya paham wajah itu..." ucap ayah Rama yang tak mau kalah.
"Saya permisi ke kamar..." ucap bu Maryam yang tidak ingin membahas mengenai masa lalu.
"Tunggu dulu!" cegah ayah Rama.
"Wajahnya mirip sekali dengan anda... Bu Maryam..." ucap ayah Rama yang membuat langkah kaki bu Maryam terhenti.
Badannya bergetar mendengar hal tersebut. Kakinya pun terasa begitu berat untuk digerakkan. Air matanya pun mengalir tak terhenti dipipi putih bu Maryam. Memori tentang kejadian 22 tahun yang lalu teringat kembali.
✨Malam semuanya 👋✨
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak donk... Like dan Vote... Biar Author lebih semangat lagi buat update... Dan jangan lupa donk buat kalian yang udah setia... Makasih banyak yah... Sampai jumpa di episode selanjutnya... Babay👋🤗
✨Semoga terhibur 😊✨