Istriku Seorang CEO

Istriku Seorang CEO
Episode 80


__ADS_3

✨Ngidam✨


Hari demi hari Nanda dan Idris lewati bersama. Hari pun berganti dengan bulan. Saat ini usia kandungan Nanda berumur tujuh bulan. Keduanya sudah tak sabar untuk menanti anak pertama mereka. Idris menyarankan agar tidak USG. Karena ia ingin itu menjadi kejutan.


Hari ini, Nanda merasa sedikit aneh. Ia begitu menginginkan sesuatu tapi entah apa itu. Karena bosan, Nanda duduk di sofa dan menyalakan TV disana. Berita siang hari muncul. Ada bapak presiden di berita itu. Entah kenapa rasanya Nanda ingin sekali menemui pak presiden. Semua itu datang secara tiba-tiba.


"Kamu lagi nonton apa?" tanya Omah yang datang dari arah dapur membawa bolu coklat diatas piring.


"Eh Omah, Ini nonton berita... Nanda bosan..." jawab Nanda.


"Tumben kamu nonton berita?" tanya Omah sembari duduk di sebelah cucunya.


"Hehe ngga tau Omah... Tiba-tiba Nanda jadi suka nonton berita... Apalagi ada pak presiden..." jawab Nanda.


"Memang kenapa kalau pak presiden ada tv?" tanya Omah.


"Ngga tau Omah... Tiba-tiba Nanda pengen ketemu sama pak presiden..." jawab Nanda yang tak masuk akal.


Dalam hatinya Omah bertanya-tanya. Ada apa dengan cucunya?. Apakah ia sedang ngidam?. Sungguh semua itu diluar pemikiran Omah.


"Omah, kalau aku bilang ke mas Idris aku ngidam pengen ketemu pak presiden gimana?" tanya Nanda mengelus perutnya yang membuncit.


"Nak... Apa kamu yakin? Kalau bertemu pak presiden itu sulit... Kamu tau sendiri kan?" jawab Omah agar Nanda bisa memahami.


"Iya Omah... Nanda tau itu... Tapi Nanda pengen banget bertemu pak presiden terus nanti kita makan bakso bersama gitu..." balas Nanda.


Aneh?. Jelas. Tak berapa lama Naya datang dari kamarnya dan duduk di sebelah Nanda.


"Lagi ngobrolin apa nih, kak?" tanya Naya sembari memakan bolu coklat buatan Omah.


"Ini dek, Kakak ngga tau kenapa pengen banget bertemu sama pak presiden..." jawab Nanda membuat Naya tersedak.


Dengan segera Naya meminum jus yang ada diatas meja. Setelah berhenti, Naya menatap sang kakak. Ia juga merasa heran kenapa kakaknya ini meminta sesuatu yang sedikit mustahil untuk dikabulkan.


"Kakak beneran ngidam pengen ketemu sama pak presiden?" tanya Naya.


Nanda menganggukkan kepalanya tanda iya. Tentu saja Omah dan Naya menjadi semakin bingung. Baru pertama kali ini Omah menemukan orang hamil, yang ngidamnya begitu aneh ketika didengar.


"Mungkin bayi kakak besok bakal jadi orang besar di negara ini..." ucap Naya yang diaminkan oleh Omah dan Nanda.


Sore harinya, Idris pulang pukul lima sore. Tepat seperti biasa. Ia membawa makanan kesukaan Nanda yaitu martabak kacang coklat.Tentu sangat nikmat apalagi di sore hari yang dingin seperti ini.


Hujan deras mengguyur kota Semarang di sore harinya. Maka dari itu Idris berinisiatif membeli martabak untuk dimakan bersama dengan Nanda. Karena Idris tau Nanda pasti akan sangat menyukainya.


"Assalamualaikum sayang..." ucap Idris ketika ia masuk ke dalam kamar.


"Waalaikum salam..." balas Nanda sambil menutup buku yang sedang ia baca.


"Kamu lagi ngapain?" tanya Idris menutup pintu kamar.

__ADS_1


"Ini baca buku seputar kehamilan..." jawab Nanda.


Idris pun duduk di sofa setelah meletakkan tas kerjanya. Nanda bangkit dari ranjang dan ikut duduk di samping suaminya. Idris memejamkan mata untuk beberapa saat, agar rasa lelah yang hinggap sedikit menghilang.


"Kamu bawa apa, mas?" tanya Nanda ketika melihat kresek berwarna putih diatas meja.


"Kesukaan kamu..." jawab Idris.


"Aku buka, ya?" tanya Nanda meminta ijin.


"Iya..." balas Idris.


Nanda pun dengan semangat membuka kantong kresek yang ada di atas meja. Mata Nanda langsung berbinar melihat isi dari kresek tersebut. Makanan kesukaan Nanda.


"Kamu tau banget aku lagi pengen martabak..." ucap Nanda membuka kotak makanan.


"Iya donk... Aku selalu tau apa yang kamu mau..." balas Idris.


Nanda pun mengambil sepotong martabak dan menyuapkannya ke mulut Idris. Idris tersenyum lalu membuka mulutnya dan memakan martabak tersebut. Ini yang selalu Idris mau. Selau bersama dan menikmati setiap keadaan.


"Mas, kayanya aku ngidam deh..." ucap Nanda sembari melahap martabak hangat itu.


"Kamu ngidam apa?" tanya Idris.


"Aku pengen makan bakso sama pak presiden..." jawab Nanda yang jelas membuat Idris terkejut.


Apa Idris tidak salah dengar?. Makan bakso sama pak presiden?. Mantap. Ngidam teraneh yang pernah Idris dengar.


"Yakin... Ngga tau kenapa aku pengen banget makan bakso sama pak presiden..." jawab Nanda.


"Tapi kamu tau kan, namanya ketemu sama pak presiden itu sulit..." beritahu Idris.


"Iya aku tau... Tapi mau bagaimana lagi?" balas Nanda.


Idris dibuat bingung seketika. Kalau tidak dituruti pasti akan berakibat pada anaknya. Kata orang jaman dulu. Ia tidak mau itu terjadi. Apapun Idris akan lakukan demi calon anaknya dan sang istri.


"Kamu mau kan berjuang buat aku sama anak kita mas?" tanya Nanda dengan penuh harap.


"Insya Allah aku bakal berjuang..." jawab Idris pasrah.


"Makasih mas..." ucap Nanda dengan senyum yang manis.


Ia bahagia keinginannya sebentar lagi tercapai. Memang semasa Nanda hamil baru kali ini ia menginginkan sesuatu. Atau biasa disebut ngidam.


"Sama-sama..." jawab Idris.


Martabak hangat pun habis dengan cepat. Setelah itu Idris masuk ke dalam kamar mandi untuk segera membersihkan badannya yang terasa lengket. Sedangkan Nanda memilih untuk menunggu suaminya sambil membaca buku seputar kehamilan.


Hari terlewati seperti biasanya. Pukul delapan malam, semua orang sudah berkumpul di meja makan. Diatasnya sudah tersaji berbagai macam aneka makanan. Semua orang menikmati makanan yang dibuat oleh pembantu rumah dengan lahap.

__ADS_1


Setelah itu semua orang berkumpul di ruang tamu yang indah dan mewah. Semua orang duduk dengan pasangannya masing-masing. Kecuali Omah. Ia lebih memilih duduk di sofa yang hanya muat untuk satu orang.


"Yah, kak Nanda ngidam..." ucap Nanda kepada ayah Rama.


"Kamu ngidam apa, nak?" tanya ayah Rama sambil melihat sang anak.


"Aku ngidam pengen makan bakso sama pak presiden, yah..." jawab Nanda yang tentu membuat ayah Rama, bu Maryam dan Alex terkejut.


"Kamu yakin, nak?" tanya ayah Rama.


"Yakin yah... Ngga tau kenapa aku pengen banget makan bakso sama pak presiden..." jawab Nanda.


Ayah Rama dan bu Maryam bertatapan. Mereka berdua juga bingung harus bagaimana. Untung saja ayah Rama langsung teringat kalau dulu ia punya teman yang sekarang menjadi pejabat tinggi negara.


"Tapi itu sulit kakak ipar..." ucap Alex.


"Aku tau... Tapi mau bagaimana lagi?" tanya Nanda.


"Ayah punya ide..." ucap ayah Rama memberitahu.


Semua orang mendengar cerita dari ayah Rama tentang temannya itu. Ada harapan agar keinginan Nanda bisa terpenuhi. Apalagi keluarga Firma sudah terkenal di seluruh kota, bukan?.


"Alhamdulillah... Mungkin itu salah satu jalan supaya keinginan Nanda bisa terpenuhi, ayah..." ucap Idris yang tak henti-hentinya bersyukur.


"Iya kamu betul... Semoga saja teman ayah itu bisa membantu..." balas ayah Rama.


Semua orang pun mengangguk paham. Saling mendukung satu sama lain tentu sangat dibutuhkan sekarang. Ayah Rama memerintahkan agar Idris dan Alex mencari informasi lewat perusahaan tentang pak presiden. Sedangkan ayah Rama, ia akan berusaha menghubungi temannya itu. Ataupun kalau bisa bertemu langsung.


Mengingat keduanya sama-sama sibuk tentu hanya bisa saling menghubungi saja. Pikir ayah Rama. Tentu tak ada yang mustahil jika kita berusaha, bukan?.


"Ya sudah... Ini sudah jam sepuluh malam... Sebaiknya kita semua tidur... Kita akan melanjutkan ini besok..." ucap ayah Rama dengan bijak.


"Baik, ayah..." balas Alex.


Mereka semua bangkit dan kembali ke kamar masing-masing. Nanda dan Idris pun naik ke lantai dua tempat kamarnya berada. Keduanya bersih-bersih terlebih dahulu sebelum tidur. Setelah semuanya selesai, Nanda dan Idris merebahkan tubuhnya di atas ranjang bersama.


"Makasih untuk hari ini yah, mas..." ucap Nanda memeluk sang suami.


"Sama-sama..." balas Idris sembari mengusap lembut rambut hitam milik Nanda.


"Aku tau, kamu bakal berjuang sekuat tenaga demi aku sama calon anak kita... Kamu memang yang terbaik mas... Semoga Allah selalu memberikan perlindungan kepada kita semua... Supaya kita bisa selalu bersama sampai ajal tiba..." ucap Nanda yang membuat Idris luluh.


"Amin... Aku cuman berdoa supaya kita bisa selalu menjalani hari-hari seperti biasa... Selalu ada canda tawa, senyum manis... Tapi kita tak tau apa yang Allah rencanakan, bukan?" balas Idris lalu mencium puncak kepala Nanda.


"Selamat malam mas... Jangan lupa berdoa dan semoga kita bertemu di alam mimpi... Assalamualaikum..." ucap Nanda sembari tersenyum dan diakhiri kecupan di bibir suaminya.


"Waalaikum salam... Jangan lupa berdoa dan semoga kita masih bisa bersama sampai ajal tiba.. Selamat malam sayangku..." balas Idris lalu mencium kening Nanda.


✨Halo👋✨

__ADS_1


Alhamdulillah bisa up hari ini. Jangan lupa like and vote yah. Biar Author tambah semangat lagi buat nulisnya. Dan jangan lupa baca karya yang satunya donk. Bantu yah.


✨Sampai ketemu di episode selanjutnya 👋✨


__ADS_2