
✨Cemburu✨
Pagi harinya Idris bersiap untuk menghadiri pertemuan yang akan dilaksanakan pada jam sembilan pagi. Sedangkan Nanda masih bergelung dibalik selimut putih setelah sholat shubuh berjamaah tadi pagi.
"Nda..." panggil Idris ketika tak menemukan dasinya dilemari.
Tak ada jawaban. Hening. Kemudian Idris mendekati Nanda yang tertidur lelap. Idris memahami itu. Mungkin saja Nanda kelelahan akibat kegiatan malam mereka.
"Nda... Kamu taruh dasi aku dimana?" tanya Idris dengan pelan ditelinga Nanda.
"Di lemari..." jawab Nanda dengan mata masih tertutup.
"Aku udah cari tapi nggak ketemu... Tolong dong kamu cariin..." ucap Idris.
"Aku masih ngantuk mas..." ucap Nanda.
"Sayang... Ayolah... Kamu mau ikut nggak ini?" bujuk Idris dengan lembut.
"Kemana?" tanya Nanda sambil mengucek matanya.
"Ke Cafe hotel..." jawab Idris.
"Ngapain?" tanya Nanda sambil duduk dan bersandar.
"Pertemuan sebelum kontrak berjalan..." jawab Idris.
Nanda berpikir sebentar. Kemudian Nanda mengangguk. Tanpa aba-aba Nanda mencium pipi Idris. Membuat Idris sedikit terkejut dengan kelakuan yang jarang sekali Nanda tunjukkan.
"Aku mandi dulu yah..." ucap Nanda dengan senyum manis dibibirnya.
"Iya udah sana... Jangan lama-lama..." ucap Idris mengalah.
Kemudian Nanda bangkit dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Sekitar 10 menitan akhirnya Nanda keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit ditubuhnya. Idris yang melihat hal tersebut langsung teringat dengan kejadian tadi malam.
"Ini dasi kamu... Sini aku pakaikan..." ucap Nanda yang paling tau dimana semua barang-barang Idris berada.
"Kamu pakai baju dulu... Nanti masuk angin..." nasihat Idris.
"Udah kamu kesini aja..." ucap Nanda.
Didepan cermin terlihat tubuh Idris yang begitu dekat dengan Nanda. Nanda fokus memakaikan dasi ke kerah Idris. Mata Idris tak bisa tak berkedip melihat Nanda yang hanya menggunakan handuk ditubuhnya.
"Udah selesai..." ucap Nanda ketika ia selesai memakaikan dasi dikerah baju Idris.
"Makasih sayang..." ucap Idris yang membuat Nanda tersenyum senang.
"Sama-sama... Aku pakai baju dulu yah... Kamu tunggu disofa... Aku nggak bakal lama kok..." ucap Nanda lalu mengambil pakaiannya dan pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
Seperti yang dikatakan Nanda, pintu kamar mandi terbuka dengan cepat. Tak butuh waktu lama Nanda telah siap dengan baju yang menutupi seluruh tubuhnya. Terlihat begitu cantik dimata Idris. Apabila sekarang Nanda tidak memakai hijab. Rambut hitam yang panjang terurai jelas. Membuat pesona Nanda terpancar dengan sendirinya.
"Kamu cantik..." puji Idris.
"Coba ulangi lagi mas..." ucap Nanda yang sebenarnya mendengar perkataan Idris tadi. Ia hanya ingin memastikan jika pendengarannya tidak salah.
"Dimata aku kamu cantik banget..." ucap Idris yang sukses membuat Nanda menunduk malu.
Kemudian Idris memeluk Nanda dan mengecup puncak kepala istrinya selama beberapa kali. Nanda hanya mampu menenggelamkan wajahnya yang merona didada bidang suaminya yang tertutup kemeja putih.
"Dan cantik yang kamu punya hanya boleh buat aku aja... Nggak boleh buat orang lain..." ucap Idris mengusap punggung Nanda dengan lembut.
"Aku cinta sama kamu mas... Aku janji bakal setia sama kamu... Sampai kapanpun itu..." ucap Nanda dengan senyum yang terus merekah.
"Aku juga..." balas Idris.
Setelah itu Nanda bersiap. Kemudian keduanya keluar kamar bersama dengan tangan saling bergandengan. Lift terbuka lebar. Langsung saja keduanya masuk ke dalam lift dan memencet tombol 1.
"Selamat pagi..." ucap petugas ketika pintu lift terbuka.
"Pagi..." balas Nanda dan Idris bersama.
Tak jauh dari pintu masuk, pak Hendi sudah duduk sambil memainkan ponselnya disana. Dengan segera Nanda dan Idris menghampiri. Pak Hendi segera memasukkan ponselnya ke dalam saku jas.
"Selamat pagi pak Idris... Mari kita ke cafe hotel... Sebentar lagi klien akan datang..." ucap pak Hendi sambil berjabat tangan dengan Idris.
"Pagi pak Hendi... Mari... Kita berbincang disana sambil menunggu mereka datang..." ucap Idris.
"Baru kali ini perusahaan mengadakan pertemuan di cafe, pak Idris..." beritahu pak Hendi ketika mereka duduk di bangku cafe.
"Memang dari taun sebelumnya dimana, pak?" tanya Nanda.
"Selalu di Restoran... Tapi kali ini klien meminta suasana yang berbeda jadi saya memilih hotel yang sudah ada cafe nya... Dan cafe ini pun sudah terkenal... Jadi kita tak perlu repot-repot harus keluar dari hotel... Seperti itu..." jelas pak Hendi yang diangguki oleh Nanda dan Idris.
Pak Hendi sudah tau jika wanita yang disamping Idris adalah seorang CEO. Karena dulu tak sengaja pak Hendi bertemu dengan Nanda di sebuah pertemuan perusahaan yang cukup besar. Bahkan waktu pak Anton meminjam uang pada perusahaan Firma Group, pak Hendi lah yang mengurusi berbagai macam keperluan yang diperlukan untuk melakukan pinjaman. Sudah dipastikan pak Hendi mengenal wanita yang sekarang sedang berbincang dengan bos barunya. Begitu terkenalnya kah seorang Nanda?.
"Itu dia, mereka telah datang pak..." ucap pak Hendi bangkit ketika melihat beberapa petinggi perusahaan masuk ke dalam cafe.
"Selamat datang... Silahkan duduk..." ucap Idris yang ikut bangkit.
"Terima kasih..." ucap seorang wanita dengan pakaian yang cukup seksi.
Semua orang duduk berjejer dengan rapi. Setelah dirasa siap, Idris memulai acara pertemuan tersebut. Semua orang memperhatikan dengan seksama setiap kata yang terlontar dari mulut Idris. Tak terkecuali wanita seksi tadi. Tak berkedip sama sekali ketika melihat Idris.
"Perkenalkan saya Ameera Adriana... Saya perwakilan dari perusahaan Argo... Sebelumnya saya ingin meminta maaf karena bos tidak bisa menghadiri pertemuan kali ini... Dikarenakan ada acara di luar negeri... Saya selaku perwakilan memohon maaf sebesar-besarnya..." ucap wanita seksi yang sering dipanggil dengan nama Ameera.
"Terima kasih atas sambutannya Nona Ameera..." ucap Idris dengan anggukan kepala.
__ADS_1
Ameera hanya tersenyum manis. Pandangannya tak lepas dari Idris sekali pun. Sebenarnya Nanda menyadari jika wanita seksi bernama Ameera itu terpesona dengan ketampanan suaminya. Sedari awal datang, Nanda melihat Ameera terus saja memandangi wajah suaminya. Membuat Nanda ingin sekali membawa Idris pergi dari cafe. Tapi ia tidak bisa egois, semua karena perusahaan. Jadi Nanda harus memahami hal itu.
"Baiklah kita sepakat akan memulai kontrak kerja besok hari... Pembukaan akan dilaksanakan di perusahaan Argo... Dan terima kasih sebesar-besarnya atas kedatangan kalian semua kemari..." ucap Idris yang diangguki oleh semua orang tentunya.
Selepas acara pertemuan itu, Ameera mengulurkan tangannya kepada Idris. Uluran tersebut hanya dibalas dengan tangkupan tangan oleh Idris. Sebagai seorang suami, Idris tak akan melukai perasaan istrinya. Nona Ameera tersenyum kikuk sembari menarik tangannya kembali.
"Maaf..." ucap Idris.
"Ah, tidak apa-apa... Senang bisa bertemu dengan mu Tuan Zafran..." ucap Ameera.
Suasana mulai memanas bagi Nanda. Rasanya ingin sekali menyuruh wanita seksi itu agar segera pergi. Tetapi ia tidak akan melakukan hal tersebut karena masih banyak orang di cafe.
"Mas... Ayo ikut aku sebentar..." ucap Nanda berbisik.
"Saya pergi sebentar Nona Ameera..." ucap Idris lalu bangkit dan ikut pergi mengikuti kemana langkah Nanda.
Ternyata Nanda membawa Idris ke lobi hotel. Wajah Nanda terlihat berbeda tak seperti awal masuk ke cafe. Idris pun bertanya-tanya didalam hatinya. Ada dengan istrinya saat ini?.
"Kamu kenapa?" tanya Idris saat melihat Nanda diam.
"Aku nggak suka kamu deket-deket sama wanita tadi..." jawab Nanda menunduk.
"Astaghfirullah Nda... Aku juga tau itu... Buat apa aku deket sama Nona Ameera? Kan udah ada kamu... Sayang..." ucap Idris dengan kekehan.
"Iya tapikan kalian bakal bareng selama tiga minggu ini... Takutnya kamu suka sama dia..." ucap Nanda.
"Dengerin yah... Aku nggak bakal berpaling sama istri aku sendiri... Ingat itu... Nggak bakal... Kamu tenang aja..." ucap Idris lalu memeluk Nanda.
Perasaan Nanda mulai tenang ketika mendengar penuturan dari suaminya. Begitu menyejukkan dan mendamaikan. Nanda membalas pelukan itu dengan erat. Tak ingin kehilangan.
"Iya udah yuk... Ke cafe lagi..." ajak Idris.
Nanda mengangguk. Tangan Idris menggenggam tangan Nanda lalu kembali melangkah menuju cafe Pey. Disana semua orang tengah berbincang. Ameera yang semula sedang berbincang dengan pak Hendi menoleh ketika Idris datang.
"Baiklah saya pamit... Terima kasih karena telah melakukan kerja sama dengan perusahaan Argo..." ucap Ameera.
"Sama-sama... Saya juga berterimakasih karena mau melakukan kerja sama juga dengan perusahaan RESA Group..." balas Idris.
Lalu Ameera keluar dari cafe sambil mencuri-curi pandang kepada Idris. Membuat Nanda semakin geram. Genggamannya pun semakin kuat ditangan Idris. Sedangkan Idris yang mengetahui hal itu hanya tersenyum. Lalu mengelus tangan Nanda dan mengecupnya.
"Udah biarin aja... Nggak usah dipikirin..." ucap Idris. dengan lembut.
Setelah acara pertemuan tersebut, Nanda dan Idris kembali ke kamar. Sedangkan pak Hendi membayar semua pesanan yang tadi ia pesan untuk pertemuan. Tentu saja dengan uang perusahaan.
Pak Hendi sudah dipercaya memegang uang perusahaan selama 10 tahun. Jasanya begitu banyak untuk RESA Group. Pernah suatu ketika ada perusahaan yang meminta agar pak Hendi bergabung. Tetapi pak Hendi menolak, walau gaji yang diberikan oleh perusahaan lebih besar dari RESA Group.
✨Hallo gaes👋✨
__ADS_1
Ketemu lagi nih. Maaf yah baru up. Banyak tugas. Gimana sampai sini?. Sabar yah. Yang setia aja. Banyak kisah yang masih tersembunyi. Jangan lupa donk tinggalkan jejak. Like dan Vote. Biar Author lebih semangat lagi. Oh iya. Episode ini mungkin ada sedikit halu yah dari author. Ingat. Novel ini nggak seluruhnya nyata. Okey?. Sampai ketemu di episode selanjutnya.
✨Dahhh👋✨