
✨You✨
Dihari itu semua orang merasakan kesedihan yang amat mendalam. Tak ada yang tau jika seseorang akan berbuat baik dan buruk kapan pun. Itu semua kehendak pencipta.
"Maafkan aku... Dan terima kasih atas 17 tahunnya... Aku mencintaimu... I Love You..." ucap Rini dengan bibir bergetar menahan sakit lalu menghembuskan napas terakhirnya didepan Rama.
Semua orang menangis menyaksikan hal tersebut. Dipeluknya tubuh tak bernyawa itu dengan erat.
"Tidak!!! Kamu harus bangun... Aku juga mencintaimu sayang... Aku sudah memaafkan mu... Ayo bangun..." ucap Rama dengan memeluk Rini semakin erat dengan air mata yang ikut menetes membasahi pipinya yang lebam.
Gilang sudah diamankan oleh polisi. Pihak rumah sakit memeriksa keadaan Gilang dan ternyata dia mengalami gangguan jiwa. Dan juga dia adalah seorang psychopat.
Idris memeluk Nanda dengan erat. Alex pun sama ia memeluk Naya untuk memberikan kekuatan. Takdir tak ada yang tau termasuk kematian yang selalu menghadang didepan kita. Omah memegang pundak Rama untuk memberikan kekuatan padanya. Melihat hal tersebut tentu membuat hatinya sakit.
Ia mengira jika Rini tidak mencintai anaknya tetapi semua terungkap sekarang. Iblis yang bernama Gilang sudah menghasut menantunya ini untuk meninggalkan anaknya.
Tak berapa lama ambulance datang dan membawa jenazah Rini bersama dengan Rama yang penuh luka didalam satu mobil. Rama diperiksa seluruh tubuhnya karena babak belur dan juga banyak sekali luka sedangkan jenazah Rini diurus oleh pihak rumah sakit.
Berita meninggalnya mantan istri pemilik perusahaan Firma Group tersebar luas. Banyak sekali pelayat didepan kediaman Firma. Jenazah Rini disholatkan di masjid yang tak jauh dari kediaman.
Lalu janazah diantar ke tempat peristirahatan terakhirnya. Disitu Rama memeluk nisan Rini dan mengecupnya pula. Rasa cinta itu masih ada hingga sekarang. Tak akan pernah pudar sama sekali.
"Aku mencintaimu..." ucap Rama untuk yang terakhir kalinya sebelum meninggalkan area pemakaman.
Semua pelayat mulai meninggalkan pemakaman karena langit sudah hampir gelap. Nanda, Naya, Omah, Rama, Alex dan Idris duduk bersama di ruang tamu. Begitu hening. Tak ada yang memulai pembicaraan. Terlihat di wajah masing-masing menggambarkan kesedihan yang amat mendalam.
"Ayah ayo aku antarkan ke kamar..." ucap Naya yang tak tega melihat Rama terus melamun.
Rama bangkit dengan bantuan Naya dan Alex lalu berjalan menuju kamar disusul dengan Omah dibelakangnya. Genggaman tangan Nanda terhadap Idris sekarang lebih erat. Mata mereka saling bertemu.
"Ayo kita ke kamar..." ucap Idris dengan lembut.
Nanda mengangguk. Tanpa aba-aba Idris menggendong Nanda hingga sampai dikamarnya. Idris membaringkan Nanda dengan perlahan diatas kasur.
"Tidurlah... Kamu tidak boleh kelelahan..." ucap Idris lalu mencium kening Nanda.
Kemudian Idris berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya yang terasa sangat lengket. Dan meninggalkan Nanda diatas kasur dengan selimut yang menutupi nya hingga leher.
Di kasur yang empuk Nanda kembali menitikkan air matanya. Sekarang ia menyadari betapa pentingnya orang yang selalu ada disampingnya saat ini. Disaat sedih, susah maupun bahagia orang itu selalu ada. Tak pernah ia mengeluh sedikit pun walau pada hakikatnya merasa lelah.
Suara gemricik air terdengar ditelinga Nanda. Lima belas menit sudah Idris menghabiskan waktunya dikamar mandi. Mungkin saja untuk menghilangkan rasa lelahnya. Karena biasanya Idris mandi hanya membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit saja.
__ADS_1
"Kamu ngga tidur?" tanya Idris keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah.
Nanda menggeleng. Sekarang dia duduk diatas kasur sambil menatap suaminya yang sedang menyisir rambutnya yang basah. Lalu melaksanakan sholat maghrib.
Tok...tok...tok...
Idris membuka pintu kamar setelah selesai berdzikir. Seorang pelayan membawakan dua piring makan dan juga 2 gelas air putih diatas nampan. Pelayan itu mengatakan jika itu adalah perintah dari Omah. Lalu Idris menerima nampan tersebut dan menutup pintu kamar.
"Siapa?" tanya Nanda ketika tubuh suaminya berbalik.
"Pelayan..." jawab Idris lalu meletakkan nampan itu diatas meja sofa.
Idris menghampiri Nanda dan menggendong nya. Nanda sedikit terkejut dengan perlakuan Idris padanya. Lalu ia duduk disofa yang dijadikan tempat tidur oleh Idris. Idris duduk disamping Nanda.
Nanda memeluk Idris dengan erat. Wajahnya ia benamkan di dada bidang Idris yang tertutup oleh baju jubah. Pelukan itu semakin erat pertanda tak mau kehilangan. Idris membalas pelukan Nanda dan mengecup puncak kepala sang istri.
"Nda..." panggil Idris.
"Hmm..." balasan dari Nanda.
"Bolehkah kita jalani cinta ini tanpa sebarang syarat yang menyekat?" tanya Idris yang membuat tangis Nanda kembali terdengar.
Nanda melepas pelukan itu lalu menatap mata Idris. Terpancar keseriusan yang mendalam disana. Tak pernah ia temukan mata itu. Teduh. Sangat meneduhkan.
"Dia, seseorang yang bersyukur memilikiku...
Dia, seseorang yang sabarnya lebih luas dari egoku... Dia, seseorang yang hadirnya membuatku tenang... Surgaku ada dalam ridhonya dan Ridho-ridhoNya..." lanjut Nanda dan terhenti selama beberapa saat.
"Dan dia adalah Suamiku..." lanjut Nanda yang langsung memeluk Idris sembari menangis disana.
"Maaf..." ucap Nanda kembali.
"Tak perlu meminta maaf... Pun sudah aku maafkan..." balas Idris dengan lembut. Didalam hatinya tak pernah ada rasa dendam sama sekali pada wanita yang membuatnya jatuh cinta.
Inilah waktu yang paling Idris nantikan. Tak tau kapan cinta itu muncul. Sungguh hebat sang pencipta. Yang menciptakan dua insan dan membuat mereka bertemu dan saling mencintai.
"Aku mencintaimu..." ucap Idris sambil mencium puncak kepala istrinya selama beberapa saat.
"Aku juga..." balas Nanda.
Perlahan pelukan itu terlepas. Nanda mendongak memandang wajah tampan suaminya. Senyum yang selalu membuatnya tenang dan damai itu terukir indah disana.
__ADS_1
"Jangan menangis lagi... Ayo kita makan..." ucap Idris yang lalu mengambil sepiring nasi.
Menyendoknya lalu menyodorkan nya tepat dibibir merah Nanda. Mulut itu perlahan terbuka untuk menerima suapan kasih sayang.
"Terima kasih..." ucap Nanda sambil mengunyah dengan perlahan.
"Sama-sama..." balas Idris.
Tangan Nanda terulur untuk mengambil satu piring yang masih utuh. Idris terus memandangi gerak tangan putih Nanda. Satu suapan ia terima dengan senang hati.
"Terima kasih..." satu ucapan Idris untuk istrinya. Baru pertama kali Nanda bersikap seperti itu.
"Sama-sama mas..." balas Nanda dengan senyum yang terukir.
"Mas?" tanya Idris penasaran.
"Kamu lebih tua dari ku Idris... Aku istrimu... Jadi sudah seharusnya aku memanggil mu dengan kata "mas"..." jawab Nanda yang membuat hati Idris senang dan bahagia.
"Terima kasih dek..." balas Idris yang membuat keduanya tertawa lebar.
Dimalam itu Allah SWT begitu bijaksana. Membuat dua orang saling mencintai. Saling menghargai satu sama lain. Dan pada akhir perjuangan pasti ada suatu kenikmatan yang tak akan dapat kita bayangkan seberapa nikmatnya pemberian itu.
You...
Thank you...
Telah mengajarkan ku arti kesabaran...
Arti menghargai sebuah rasa yang terpendam...
Dan arti dari sebuah panjangnya perjuangan...
My Husband...
Thank you...
By : Nanda Firmadani.
✨Hallo gaes👋✨
Jangan lupa bersyukur yah... Jumat berkah loh... Terima kasih yang udah setia nungguin... Jangan lupa Like, Koment dan Vote yah... Biar Author lebih semangat lagi nulisnya... Dan biar Ranking juga donk Vote nya... Makasih deh buat kalian semua... Sampai ketemu di episode selanjutnya yah...
__ADS_1
✨ See you👋✨