
✨Sahabat✨
Hari berikutnya, Nanda dan Idris memutuskan untuk pergi dari hotel sekedar mencari udara segar. Mereka berdua pergi ke mall terdekat. Nanda dan Idris diantar oleh pegawai hotel yang bertugas. Tak butuh waktu lama, keduanya sampai di hotel.
Mereka berdua segera masuk dengan Ainin yang berada di kereta dorong. Aneka baju tertata rapi disana. Mungkin sama seperti di Indonesia. Hanya saja penataannya sedikit berbeda.
"Kita cari mainan buat Ainin, yuk mas..." ajak Nanda yang langsung diangguki oleh Idris.
Idris mendorong kereta dengan sesekali menatap sang anak yang tengah sibuk dengan dot di mulutnya. Mereka masuk ke bagian toko yang menjual segala macam keperluan bayi dan juga menyediakan mainan di dalamnya.
"Mas, baju ini cocok ngga buat Ainin?" tanya Nanda sembari memperlihatkan baju panjang dengan gambar gajah di depannya.
"Cocok... Tambah cantik dia kalau pakai itu..." jawab Idris yang membuat Nanda tersenyum.
Nanda membeli baju, sepatu, dan juga mainan untuk Ainin. Setelah itu mereka berdua masuk ke dalam toko boneka. Ada banyak macam boneka yang berjejer rapi di sana. Tepat saat itu, Nanda berhenti di depan boneka yang super besar. Boneka itu berwarna coklat. Bahkan, besar boneka tersebut melebihi besar tubuh Nanda.
"Kamu mau itu?" tanya Idris yang membuat Nanda menoleh.
"Kalau boleh sama kamu..." jawab Nanda.
"Jelas boleh donk..." balas Idris yang membuat Nanda bersorak didalam hatinya.
Setelah membayar beberapa boneka, mereka berdua pergi ke restoran. Boneka Teddy bear yang besar itu duduk di sebelah Nanda layaknya sepasang kekasih. Nanda dan Idris memesan makanan khas Belanda yang mereka sukai.
"Mas, aku ke toilet dulu ya..." ucap Nanda lalu bangkit meninggalkan Idris dan Ainin.
Nanda pergi menuju toilet yang tak terlalu jauh dari tempat duduk mereka. Selesai pergi ke toilet, Nanda kembali ke tempat duduknya. Tepat saat Nanda keluar dari toilet ia berpapasan dengan dua orang perempuan. Kedua perempuan itu pun terkejut ketika melihat Nanda.
"Kalian?" ucap Nanda terkejut.
"Kamu Nanda kan?" tanya salah satu dari kedua wanita tengah berada di depan Nanda.
"Iya..." jawab Nanda sembari mengangguk.
Seketika kedua wanita itu memeluknya Nanda dengan erat.
"Akhirnya kita bertemu juga... Aku kangen sama kamu Nda..." ucap keduanya lalu melepas pelukan
mereka.
Kedua wanita itu adalah sahabat Nanda sejak kecil. Mereka bernama Nara dan Nadya. Mereka berdua tengah menempuh S2 di Belanda. Setelah beberapa tahun berpisah, akhirnya mereka bertemu tanpa sengaja di mall.
__ADS_1
"Yuk ikut gabung..." ajak Nanda sembari mengajak kedua sahabatnya untuk duduk di meja yang sama bersama Idris dan Ainin.
Kedua sahabat Nanda terkejut ketika melihat Idris yang tengah sibuk bermain dengan Ainin. Nara dan Nadya duduk berhadapan dengan Nanda dan Idris.
"Mas, kenalin mereka sahabat aku... Nara dan Nadya..." ucap Nanda pada Idris.
"Idris..." ucap Idris sembari mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
"Nara..." ucap Nara dengan anggukan kepala.
"Nadya..." ucap Nadya dengan anggukan kepala juga.
"Ayo kalian pesan..." ucap Nanda dengan senyumannya.
Sebenarnya Nara dan Nadya terkesima dengan penampilan baru dari Nanda. Dulu Nanda teka pernah memakai hijab dan sekarang semuanya sudah berubah. Kecantikan Nanda pun membuat kedua sahabatnya kagum.
"Nda, dia siapa?" tanya Nara ketika melihat ada bayi di kereta dorong.
"Oh ini anakku... Namanya Ainin..." jawab Nanda yang membuat kedua sahabatnya terkejut.
"Beneran?" tanya Nadya.
Mereka semua makan bersama setelah pelayan restoran datang. Makanan beraneka ragam khas Belanda ada di meja besar. Setelah selesai, Idris segera membayarnya.
"Terima kasih banyak ya Nda... Jadi ngerepotin..." ucap Nara.
"Ngga papa kok... Aku seneng bisa ketemu sama kalian disini..." balas Nanda.
Mereka berbincang-bincang selama dua puluh menit. Nara dan Nadya melirik ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan mereka. Ternyata sudah pukul sepuluh siang.
"Nda, kami pamit ya. Kalau mau berkunjung tinggal telpon aja. Oke?. Oh ya, makasih buat semuanya. Jadi ngga enak ini. Baru aja kita ketemu." ucap Nadya yang diangguki oleh Nara.
"Iya hati-hati dijalan... Kapan-kapan aku main ke apartemen kalian..." balas Nanda.
Mereka bertiga berpelukan. Nara dan Nadya sempat mencium Ainin yang berada di kereta dorong. Mereka bertiga juga berjabat tangan lalu pergi.
"Nanda kelihatan beda ya. Dia udah pakai hijab tambah cantik aja. Aku jadi iri deh. Apalagi si Idris. Ya ampun tampan banget." puji Nara pada Nadya ketika mereka berdua keluar dari mall.
Nanda kembali duduk di samping Idris. Setelah itu mereka kembali berjalan-jalan mengelilingi mall. Tepat pukul sebelas siang, keduanya pulang ke hotel. Barang belanjaan tampak memenuhi mobil.
"Akhirnya kita bisa jalan-jalan kaya tadi mas..." ucap Nanda ketika mobil mulai berjalan.
__ADS_1
"Alhamdulillah... Akhirnya kamu bisa senang... Jangan lupa tersenyum ya..." balas Idris.
"Iya donk... Aku juga sangat bahagia bisa ketemu sahabat lamaku mas..." ucap Nanda.
"Alhamdulillah... Kebahagiaan demi kebahagiaan kami dapat sekarang..." balas Idris.
Mereka berdua tampak menikmati liburan tahun baru. Mereka menghabiskan waktu selama satu Minggu di negara kincir angin ini. Hingga tak terasa jika buah hati mereka semakin bertambah besar.
"Mas ingin kuliah disini apa boleh?" tanya Nanda ketika mereka sudah berada di hotel.
"Kuliah?" ucap Idris.
"Iya mas... Aku pengen banget melanjutkan pendidikan ku seperti sahabat-sahabat ku... Tetapi jika kamu keberatan dengan permintaan ku maka aku akan mengikuti semua saranmu..." balas Nanda sembari duduk di ujung ranjang.
"Sayang... Aku pasti akan mengijinkan mu melanjutkan pendidikan disini... Tetapi bagaimana dengan perusahaan? Kita sama-sama pemimpin perusahaan, bukan? Dan kita juga sudah memiliki Ainin?" ucap Idris lalu duduk disamping Nanda.
Nanda termenung mendengar penuturan dari suaminya. Ia juga memikirkan tentang perusahaan dan juga Ainin. Tetapi tekadnya ingin melanjutkan pendidikan sangat kuat. Dari dulu, Nanda selalu menginginkan jika dirinya melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.
"Tapi itu adalah cita-cita ku mas... Aku sudah bertekad untuk melanjutkan pendidikan ku ke perguruan tinggi..." lirih Nanda.
"Tatap aku, sekarang..." ucap Idris.
Nanda menatap mata suaminya yang selalu membuatnya damai.
"Mari kita lanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi... Untuk perusahaan aku akan serahkan pada ayah dan papah... Tetapi kita juga akan membantu dari jauh... Bagaimana?" ucap Idris dengan kesungguhan.
"Mas yakin? Sungguh?" tanya Nanda dengan mata berbinar.
"Aku yakin sayang... Mari kita bicarakan dengan papah dan ayah... Semoga mereka mengizinkan..." jawab Idris dengan senyum tulusnya.
Nanda seketika memeluk Idris dengan erat. Air mata kebahagiaan tumpah begitu saja. Ia merasa bahagia saat ini. Akhirnya cita-cita yang dulu Nanda impikan terwujud.
"Terima kasih mas..." ucap Nanda.
"Sama-sama sayang..." balas Idris lalu mengecup puncak kepala Nanda.
✨Hallo semuanya👋✨
Ngga berasa nih udah di penghujung cerita. Gimana nih? Masih mau lanjut?. Seru nggak?. Jangan lupa like and vote yah. Biar Author tambah semangat.
✨Semoga terhibur👋✨
__ADS_1