Istriku Seorang CEO

Istriku Seorang CEO
Episode 37


__ADS_3

✨ Penyelidikan part 1✨


Di dalam bangsal terbaring wanita dengan baju pasien dan juga krudung yang ikut melengkapinya juga. Ditambah dengan selang infus yang masih setia menancap ditangan kirinya.


Hari ini adalah hari penyelidikan pertama setelah kejadian hilangnya Rama. Berita itu sudah tersebar luas ke seluruh penjuru kota. Tak ada yang tau dimana keberadaan Rama kecuali Gilang dan para bodyguardnya yang menyandra Rama disebuah gudang ditengah hutan.


Tok...tok...tok...


Reflek Idris yang tengah berkutat didepan laptop untuk mengurus pekerjaannya menoleh ke arah pintu.


"Masuk!" ucap Idris yang lalu fokus kembali kepada pekerjaannya.


Masuklah wanita tua dengan tas ditangan kirinya dengan seorang pria berbaju hitam dibelakangnya mirip dengan gaya Alex. Lantas Idris berdiri. Dia tak tahu siapa wanita itu.


"Assalamualaikum..." ucap Idris pertama.


Wanita tua itu menoleh ke arah Idris yang sedang berjalan ke arahnya. Sama-sama dalam mode bingung Idris mencium tangan wanita tua itu.


"Kamu siapa?" tanya wanita tua itu ketika Idris selesai mencium tangannya.


"Saya Idris... Suami Nanda..." jawab Idris sedikit menganggukkan kepalanya.


Nampak wanita tua itu berpikir sebentar sebelum membalas perkataan Idris.


"Omah..." ucap Nanda membuat Idris langsung menoleh dan melihat ke arah ranjang.


Wanita cantik itu ternyata sudah bangun akibat pembicaraannya. Lantas wanita tua itu langsung menuju ranjang dan mambantu Nanda untuk duduk. Lalu memeluknya dengan erat. Nanda pun membalas pelukan itu dengan sama-sama erat.


"Dia Idris omah... Suami Nanda..." ucap Nanda menjelaskan kepada omahnya setelah pelukan itu usai.


"Oh maaf yah... Omah sering lupa..." balas Omah sembari tersenyum ke arah Idris.


"Tidak apa-apa omah..." balas Idris dengan sopan dan juga senyuman.


Omah mengusap wajah cantik Nanda dengan lembut seraya tersenyum. Melihat sang cucu yang telah tumbuh besar menjadi gadis yang cantik dan ditambah juga dengan hijab yang melekat dikepalanya. Baru kali ini didalam keluarga Firma ada yang berhijab. Dan itu adalah Nanda cucunya. Omah tidak tahu bahwa Nanda sudah tau jika dia bukan anak kandung Rama.


"Omah kesini karena mendengar berita tentang ayahmu yang menghilang..." ucap Omah dengan kepala tertunduk. Matanya mulai berkaca-kaca ketika teringat dengan anak semata wayangnya itu.


"Hari ini adalah hari pertama penyelidikan Omah... Mohon doanya agar ayah cepat ditemukan..." ucap Nanda dengan lembut.


"Pasti... Omah selalu mendoakan yang terbaik untuk keluarga kita..." balas Omah.

__ADS_1


Nanda melihat ke arah Idris yang tengah berdiri tak jauh dari dirinya dan juga Omah.


"Lanjutin aja kerjanya... Ngga papa kok..." ucap Nanda pada Idris. Karena iya tau betapa banyaknya pekerjaan seorang CEO.


"Baiklah... Omah Idris duduk dulu..." balas Idris pada Nanda sekaligus ijin kepada Omah.


"Iya silahkan..." balas Omah.


Idris kembali duduk untuk menyelesaikan pekerjaannya didepan laptop. Nanda dan Omah berbincang tentang minggu-minggu terakhir yang telah ia lewati.


Disitu Omah merasa bersalah ketika mendengar bahwa Nanda sudah tau semuanya. Kenyataan bahwa dia bukanlah anak kandung dari Rama.


"Selama ini Nanda selalu ingin dihormati dan dipuji Omah... Dan sekarang itu sudah tidak pantas untuk Nanda..." ucap Nanda yang berkaca-kaca.


"Kamu tidak boleh bicara seperti itu... Maafkan Omah juga tak pernah memberitahu siapa kamu sebenarnya..." ucap Omah.


"Tapi Nanda bersyukur bisa ada di keluarga seperti ini... Walau mamah nggak mau menerima..." balas Nanda lagi.


"Omah sudah tau jika Rini lebih memilih Naya yang statusnya adalah anak kandungnya... Jangan bersedih yah... Ayahmu akan selalu ada disamping mu..." ucap Omah menguatkan cucunya itu.


"Iya Omah... Tapi sekarang ayah tidak ada sisiku... Entah bagaimana keadaannya sekarang..." ucap Nanda dengan air mata yang perlahan mengalir.


"Kamu tenang saja... Ayah mu pasti baik-baik saja..." kembali Omah memeluk sang cucu dan mengusap punggungnya dengan pelan.


Alex yang pada malam itu sempat menemui Rama sebelum pulang dari kantor. Ikut serta dalam membantu penyelidikan bersama polisi. Ada yang aneh dengan kasus ini. Tentu saja. Kasus ini jarang sekali ada. Dan hal itu butuh ketelitian dan juga keseriusan dalam penyelidikan.


"Jadi sebelum kejadian itu anda sempat menemui pak Rama?" tanya Dana (ketua polisi) dengan serius.


"Iya itu benar... Tuan Rama mengatakan bahwa dia akan pulang telat... Pada waktu itu jam sudah menunjukkan pukul 11 malam..." jawab Alex menjelaskan semuanya tentang ia yang menemui Rama dikantor.


"Apa pak Rama sering lembur hingga jam 12 malam?" tanya Dana setelah polisi disampingnya selesai menulis.


"Tidak... Sekarang perusahaan Firma Group sudah dipegang oleh anak perempuannya... Dikarenakan sakit maka tuan Rama yang menggantikannya untuk sementara..." jawab Alex dengan jujur.


"Oke baik... Jadi anda adalah orang kepercayaan pak Rama?" tanya Dana kembali.


"Iya..." jawab Alex.


Tak lupa juga Alex sudah memerintahkan beberapa bawahannya untuk ikut menyelidiki kasus ini secara diam-diam. Dan hal itu sudah disetujui oleh Nanda agar proses pencarian Rama cepat selesai.


Mobil Rama sudah dibawa ke kantor polisi untuk diselidiki. Beberapa polisi ditugaskan untuk menyelidiki mobil Rama. Dan beberapa polisi lain pun ditugaskan agar ke tempat kejadian perkara untuk menggali informasi oleh warga sekitar.

__ADS_1


Para warga pun menuturkan jika tengah malam itu mendengar kericuhan tapi mereka tak berani keluar. Tentunya sangat berbahaya. Dan tak lama dari itu semua kembali hening seperti biasa. Warga mengira jika itu kebiasaan para remaja yang sering berkeliaran dijalan raya. Tapi tak disangka keesokan harinya mereka mendapati mobil yang terparkir dijalan dengan pintu terbuka dan juga kaca sedikit pecah.


Dan disisi lain seorang wanita tak sengaja menguping pembicaraan ketika ia ingin pergi ke dapur untuk sarapan. Didekatkan telinganya ke pintu kamar dengan cat berwarna coklat.


"Mas tau soal Rama yang hilang?" tanya Rini didalam kamar pada Gilang yang tengah bersiap untuk bekerja.


"Kalau tau kamu mau apa?" tanya Gilang balik.


"Ja-jadi itu semua kamu yang..." ucap Rini menebak tapi kalimatnya terputus oleh ucapan Gilang.


"Iya..." balas Gilang dengan cepat.


Naya yang sedang menguping terkejut dan menutup mulutnya tak percaya dengan pendengaran tadi. Jadi semua ini adalah ulah Gilang. Ayah barunya?.


Tak sengaja pintu yang tak terkunci terbuka akibat dorongan dari Naya. Membuat Rini dan Gilang menoleh ke arah pintu. Naya menelan air ludahnya dengan kasar karena takut jika ibunya tau.


Rini dan Gilang saling tatap. Kemudian Rini dengan cepat menghampiri Naya yang mematung didepan pintu kamar.


"Kamu lagi ngapain disini sayang?" tanya Rini sambil memegang lengan anaknya.


"A-aku cuma mau pamit sama ibu..." jawab Naya terbata.


"Kamu ke dapur aja Rin... Biar aku yang ngomong sama Naya..." perintah Gilang yang tak dapat dibantah oleh Rini sambil berjalan ke arah pintu.


"Tapi..." ucap Rini yang langsung mendapat tatapan tajam dari Gilang.


"Jangan lupa tutup pintunya..." ucap Gilang sebelum Rini keluar.


Sifat Gilang sudah mulai terlihat sekarang. Tak seperti awal sebelum mereka menikah. Biasanya Gilang akan memerintah nya dengan lembut. Tapi sekarang Gilang memerintah nya dengan dingin ditambah dengan tatapan tajam pula.


Rini segera berlalu dari kamar meninggalkan anaknya dan juga sang suami. Pintu tertutup ketika Rini keluar dari kamar. Kaki Naya bergetar ketika jarak antara dirinya dan Gilang mulai dekat.


"Kamu sekarang boleh jujur... Apa kamu dengar apa yang aku katakan tadi?" tanya Gilang to the point.


"Ti-tidak..." jawab Naya dengan gelengan kepala.


"Apa kamu ingin seperti ayahmu? Aku hampir menodaimu tapi itu aku urungkan... Dan sekarang kamu ingin aku nodai agar kamu bungkam?" tanya Gilang sekaligus mengancam.


"Om Gilang jangan pernah macam-macam... Dan tolong jangan sakiti ayah..." jawab Naya dengan penuh keberanian yang ada.


"Oke... Kalau itu yang kamu mau... Dan sekarang kamu harus bungkam tentang hal ini... Jika tidak aku akan melukai ayahmu itu dan juga kakak sampah mu..." ancam Gilang kembali.

__ADS_1


Mendengar hal itu membuat Naya merinding. Ucapan Gilang tak pernah main-main. Gilang tersenyum licik. Mengancam dan mengancam. Itu adalah kelemahan manusia. Membuat Gilang ingin sekali tertawa disana.


✨Yuhu kita ketemu lagi nih... Jangan bosan-bosan yah... Dan jangan lupa like, koment dan vote juga yah... Biar tangan Author lebih semangat lagi ketiknya... Hahaha... Sampai jumpa kembali di episode selanjutnya... Dahhhh.👋


__ADS_2