Istriku Seorang CEO

Istriku Seorang CEO
Episode 77


__ADS_3

✨Ada harapan✨


Seperti yang dikatakan Idris, hari ini mereka berdua akan pergi ke alamat yang bu Maryam berikan. Tentu semua itu dengan ijin dari Omah dan ayah Rama juga. Walau bagaimanapun Nanda wajib tau siapa ayah kandungnya, bukan?.


"Hati-hati dijalan nak..." ucap Omah.


"Iya Omah..." balas Nanda.


Nanda dan Idris mencium tangan Omah, ayah Rama dan bu Maryam dan akhirnya keluar dari kediaman. Keduanya masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan. Idris memakai sabuk pengaman terlebih dahulu lalu menyalakan mesin mobil. Perlahan mobil mulai bergerak menjauhi kediaman yang begitu mewah dan megah dari kejauhan.


"Sekitar berapa jam, mas?" tanya Nanda menatap sang suami yang fokus menyetir.


"Setengah jam..." jawab Idris mengira-ngira.


"Semoga aja ayah belum pindah..." gumam Nanda.


Kaca mobil terbuka sedikit agar udara bisa masuk. Terasa begitu sejuk. Banyak mobil lalu lalang di jalan raya tetapi untungnya tak terjadi kemacetan. Idris fokus menyetir menuju alamat yang seperti di kertas menggunakan google map.


"Ternyata dia tidur..." batin Idris ketika melihat sang tertidur pulas.


Perjalanan yang lumayan lama, membuat perut Idris terasa lapar. Tepat ketika adzan dhuhur, mobil mewah itu masuk ke area parkiran masjid. Beruntungnya, ada rumah makan yang berada tak jauh dari masjid.


"Kita udah sampai, mas?" tanya Nanda ketika ia terbangun.


"Kita mampir sholat dulu lalu makan siang..." jawab Idris sambil melepas sabuk pengaman yang melilit tubuhnya dan tubuh Nanda.


"Iya deh... Aku juga lapar..." ucap Nanda lalu membuka pintu dan keluar menyusul Idris.


Nanda dan Idris memasuki masjid dan berpisah. Setelah selesai sholat berjamaah, Idris mengajak Nanda untuk makan siang terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan. Nanda hanya mengikuti kemana suaminya pergi. Pada dasarnya, Nanda juga merasa lapar. Akhir-akhir ini Nanda menjadi lebih sering makan dari biasanya. Membuat tubuhnya lebih berisi.


"Aku nambah dong mas..." ucap Nanda yang membuat Idris bertanya-tanya.


"Kamu yakin?" tanya Idris memastikan.


"Yakin... Ngga tau kenapa aku pengen banget makan..." jawab Nanda sembari mengelus perutnya.


"Apa karena anak kita?" tanya Idris.


"Mungkin saja..." jawab Nanda.


Dengan semangat, Idris langsung memesan kembali apa yang tadi Nanda makan. Benar saja. Setelah pesanan kedua itu datang, Nanda memakannya dengan lahap. Idris tersenyum ketika melihat istrinya makan.


Kemudian, setelah makan siang, keduanya melanjutkan perjalanan. Sepuluh menit berlalu, akhirnya mereka sampai di rumah bertingkat dua dengan cat berwarna hijau. Terlihat rumah itu begitu sepi dan sunyi. Lebih sepi dari Kediaman Firma.


"Coba kita tanya ke satpam yang jaga aja mas..." saran Nanda ketika mereka turun.

__ADS_1


"Ya udah kita coba tanya dulu..." balas Idris.


Idris melangkah terlebih dahulu dan diikuti Nanda dibelakangnya. Satpam yang melihat ada tamu mendekat segera membuka pintu gerbang. Idris menjabat tangan satpam tersebut sembari mengucapkan salam.


"Apa bapak tau alamat rumah ini?" tanya Idris sambil memberikan kertas kecil putih yang diberikan oleh bu Maryam.


"Kalau ini si saya tau banget, nak..." jawab pak satpam.


"Dimana pak?" tanya Nanda mendekat.


"Ya disini... Itu rumahnya..." jawab pak satpam menunjuk rumah yang berada di dalam gerbang.


"Alhamdulillah... Akhirnya ketemu juga..." ucap Idris tersenyum ke arah Nanda.


"Alhamdulillah..." balas Nanda yang merasa senang juga.


"Memangnya ada apa yah? Nyonya sedang sakit didalam..." tanya pak satpam.


"Kami ingin bertemu dengan pak Harto, pak... Apakah ada?" jawab Idris sekaligus bertanya.


"Pak Harto? Suami nyonya?" tanya pak satpam balik.


"Iya pak... Betul..." jawab Idris.


Terlihat raut wajah sedih dari pak satpam ketika mendengar jawaban dari Nanda dan Idris. Idris pun bertanya-tanya didalam hatinya.


"Saya anaknya pak..." jawab Nanda dengan cepat.


"Setau saya pak Harto cuman punya anak dua tetapi laki-laki semua..." ucap pak satpam mengingat.


"Saya beneran anaknya pak..." ucap Nanda kembali.


"Jadi, dimana pak Harto sekarang pak? Beritahu kami... Istri saya ingin bertemu dengan beliau..." tanya Idris yang takut jika Nanda akan kenangis.


"Pak Harto..." belum sempat pak satpam itu menjawab terdengar teriakan dari dalam rumah.


Pak satpam, Nanda dan Idris pun menoleh ke arah rumah tersebut. Pintu terbuka dan keluarlah pembantu dengan pakaian daster. Pembantu itu berlari mendekati pak satpam yang berdiri di gerbang.


"Ada apa bi?" tanya pak satpam khawatir.


"Nyonya, pak.! Dia kejang-kejang! Ayo cepat masuk pak!" jawab pembantu tersebut.


Dengan segera pak satpam masuk ke dalam rumah. Pembantu yang tadi pun menyuruh Nanda dan Idris untuk ikut masuk ke dalam. Pak satpam langsung masuk dan melihat majikannya tengah kejang-kejang diatas ranjang.


"Astaghfirullah nyonya!" ucap pak satpam.

__ADS_1


"Panggil ambulance! Cepat!" ucap pak satpam.


Pembantu yang biasa dipanggil bibi itu segera menelpon pihak rumah sakit. Tak berapa lama sirine ambulan terdengar. Para petugas medis langsung masuk ke dalam rumah. Mereka bergegas masuk ke dalam kamar.


"Sebaiknya kita bawa ke rumah sakit..." beritahu petugas 1.


"Ayo..." balas petugas 2.


Tubuh itu segera diangkat dan dibawa keluar dari rumah. Lalu di bawa masuk ke dalam mobil ambulance bersama Bibi. Terlihat wajah panik dari pak satpam. Nanda dan Idris pun hanya bisa mendoakan agar cepat sembuh. Tak bisa berbuat lebih.


"Maaf pak, tadi itu siapa yah?" tanya Idris setelah keadaan mulai tenang.


"Dia istri dari pak Harto..." jawab pak satpam.


Tentu saja Nanda dan Idris terkejut. Berarti wanita tua yang tadi kejang-kejang adalah sahabat bu Maryam.


"Jadi, dimana pak Harto sekarang pak?" tanya Nanda.


"Dia sudah meninggal..." jawab pak satpam menunduk.


"Inalillahi wa innailaihi Raji'un..." ucap Nanda dan Idris bersamaan.


Tubuh Nanda terasa lemas seketika. Mendengar kabar bahwa ayah kandungnya telah tiada adalah hal yang tak pernah Nanda bayangkan sebelumnya. Pak satpam menyuruh Nanda dan Idris untuk duduk di sofa agar bisa lebih leluasa.


Air mata Nanda mulai mengalir membasahi pipinya. Walau bagaimanapun, pak Harto tetap ayah kandung Nanda. Nanda merasa sedih. Ia tidak bisa lagi melihat wajah ayah kandung yang selalu ia rindukan.


"Ayah mas..." ucap Nanda disela tangisnya.


Pak satpam yang melihat Nanda menangis ikut terharu. Sebenarnya, pak satpam tidak tega jika harus mengatakan semua tentang pak Harto pada perempuan yang tengah menangis dihadapannya saat ini. Tetapi jika itu yang Nanda dan Idris mau, maka pak satpam bersedia untuk bercerita tentang almarhum pak Harto.


"Majikan bapak, namanya siapa?" tanya Idris setelah menenangkan Nanda.


"Bu Laras..." jawab pak satpam.


"Apakah bapak bisa bercerita sedikit tentang kehidupan almarhum pak Harto dan bu Laras pada kami?" tanya Idris.


"Saya bisa menceritakan semuanya... Tetapi apakah kalian berdua akan kuat ketika mendengar kisah mereka?" jawab pak satpam memastikan.


"Bagaimana sayang? Kamu kuat?" tanya Idris sembari menghapus air mata istrinya.


"Iya mas... Aku bakal kuat..." jawab Nanda dengan anggukan kepala.


✨Gaes👋✨


Kembali lagi nih. Jangan lupa tinggal kenangan yah. Like dan Vote sebanyak-banyaknya bisa Author tambah semangat buat nulisnya. Sampai ketemu di episode selanjutnya.

__ADS_1


✨Semoga terhibur 🤗👋✨


__ADS_2