
✨ Kesetiaan ✨
Selesai menyuapi Nanda kemudian Idris beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke dapur yang terletak dilantai 1. Malam kian larut ditambah dengan pancaran bulan purnama yang terang membuat suasana terasa tenang dan juga damai.
Rumah yang mewah dan megah terasa begitu sunyi walau jam baru menunjukkan pukul 22.00. Setibanya di dapur Idris langsung menuju wastafel untuk mencuci piring dan juga gelas yang tadi digunakan oleh Nanda. Dirasa sudah bersih piring dan gelas tersebut dibilas dan ditaruh di dalam lemari seperti semula.
Kaki Idris kembali melangkah menaiki tangga menuju lantai 2 dimana kamarnya berada. Dibukanya pintu kamar dengan perlahan. Lalu Idris pun memasuki kamar dan tak lupa menguncinya juga. Terlihat wanita yang masih terbalut hijab sudah terbaring diatas kasur dengan tubuh yang sedikit dimiringkan.
"Selamat malam... Semoga mimpi indah..." ucap Idris ketika sudah berada didekat Nanda. Ditariknya selimut berwarna putih hingga menutupi tubuh ramping Nanda.
Seperti biasa Idris akan bersih-bersih terlebih dahulu sebelum tidur. Wudhu dan berdoa tak pernah Idris lewatkan walau tubuh sudah terasa begitu lelah.
Keesokan harinya Idris terbangun di jam 03.00 pagi. Melaksanakan sholat tahajud dan ditambah dengan membaca Al-Qur'an. Hingga adzan shubuh pun mulai berkumandang.
Allahuakbar... Allahuakbar...
Didekatinya wanita yang masih terlelap dalam mimpi indahnya itu. Dengan seksama Idris memandangi wajah cantik istrinya dan duduk ditepi ranjang.
"Nda..." panggil Idris dengan perlahan sambil menyentuh lengan istrinya dengan pelan.
Namun tak ada jawaban dari wanita yang tengah meringkuk dalam balutan selimut tebal itu. Ditempelnya tangan Idris di dahi Nanda. Begitu terkejut nya Idris ketika mendapati suhu tubuh Nanda yang berubah menjadi panas. Padahal sebelum tidur tidak sepanas ini.
"Astaghfirullah hal'adzim... Nanda kamu demam..." ucap Idris yang langsung panik dan khawatir.
Lantas Idris teringat dengan perkataan Rama tadi malam. Mungkin karena tidak makan seharian tubuh Nanda akan berubah menjadi lemas dan juga menjadi panas seperti saat ini.
Dengan baju jubah yang masih melekat ditubuhnya Idris segera turun ke lantai 1 menuju dapur. Alangkah beruntungnya ketika Idris sampai di dapur ada seorang pelayan yang tengah memotong sayuran disana.
"Permisi..." ucap Idris pelan agar tidak membuat pelayan tersebut terkejut dengan kedatangan nya.
Pelayan tersebut segera membalikkan badannya. Dan ternyata yang memanggilnya adalah tuan muda.
"Maaf jika saya mengganggu... Bisa tolong bantu saya?" ucap Idris yang membuat pelayan tersebut menganggukkan kepalanya.
"Iya tuan..." ucap pelayan tersebut sambil menatap ke arah lantai.
"Tolong buatkan air hangat untuk mengompres... Dan jangan lupa kain untuk mengompresnya juga... Setelah itu antarkan ke kamar saya..." perintah Idris yang lagi-lagi diangguki oleh si pelayan.
__ADS_1
"Baik tuan..." balas si pelayan.
Hati Idris merasa sedikit lega setelah memerintahkan pelayan untuk membuatkan air hangat yang saat ini ia perlukan. Mendengar iqomah Idris segera kembali ke kamar untuk melaksanakan sholat shubuh yang tentunya tanpa Nanda yang menjadi makmum.
Tok...tok...tok...
"Masuk..." ucap Idris setelah selesai berdoa.
Pintu pun mulai terbuka. Dengan hati-hati si pelayan masuk dengan nampan yang berisi baskom dan kain kompres ditangannya.
"Ini air hangat dan juga kain untuk mengompresnya tuan..." memberikan sebaskom air hangat dan tak lupa kain untuk kompres pada Idris.
"Terima kasih... Sekarang kamu boleh keluar..." ucap Idris menerima baskom tersebut.
"Saya permisi tuan..." balas si pelayan yang segera berlalu dari kamar tuan dan nyonya nya itu.
Suhu tubuh yang begitu panas dan juga tubuh yang sedikit menggigil membuat Idris semakin khawatir. Untung saja dulu waktu dipesantren Idris sering merawat santri yang sakit. Dan sekarang Idris harus mengurus istrinya yang sedang sakit untuk yang pertama kalinya.
Dengan perlahan Idris memasukan kain kompres kedalam baskom yang berisi air hangat. Setelah basah Idris mengangkat kain tersebut lalu diperas. Dengan hati-hati kain tersebut diletakkan di dahi Nanda yang masih memejamkan matanya.
06.00
"Idris..." ucap Nanda lirih.
Mendengar suara Nanda lantas Idris menoleh dan melihat ke arah kasur. Ternyata benar. Nanda memanggilnya. Kemudian Idris mendekati wanita itu setelah selesai menyetrika pakaian kerjanya.
"Kamu memanggil ku?" tanya Idris setelah jarak nya dengan Nanda cukup dekat.
Tak ada jawaban dari bibir pucat istrinya itu hanya anggukan saja yang ia dapatkan sebagai balasan.
"Ada apa?" tanya Idris kembali sambil duduk ditepi ranjang.
Nanda berusaha duduk setelah Idris mengambil kain kompres di dahinya. Ia hirup udara segara di pagi hari sebelum mengatakan sesuatu. Ditatapnya lelaki yang saat ini membuat hatinya luluh.
"Tolong beritahu Alex agar dia menggantikan ku beberapa hari diperusahaan..." jawab Nanda dengan suara seraknya.
"Baiklah akan aku sampaikan... Apa kamu sudah baikan?" jawab Idris sekaligus bertanya pada Nanda.
__ADS_1
"Aku tidak tau apa yang aku rasakan sekarang..." jawab Nanda yang frustasi.
"Ya sudah tidurlah kembali aku akan turun ke bawah... Apa kamu ingin sesuatu?" ucap Idris kembali dengan senyuman yang selalu menyertainya.
"Aku ingin susu hangat... Tapi apa kamu bisa membuatnya?" jawab Nanda untuk pertama kalinya dengan wajah pucatnya.
"Tentu saja... Tunggulah disini..." jawab Idris kemudian bangkit dan berjalan keluar dari kamar meninggalkan Nanda yang duduk bersandar di atas kasur.
Dituruninya satu persatu tangga hingga sampai dilantai satu. Tepat saat itu juga Idris melihat laki-laki berbaju serba hitam keluar dari kamarnya.
"Alex!" panggil Idris ketika pintu kamar Alex tertutup.
"Iya tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Alex tetap dengan menundukkan kepalanya.
"Nanda meminta mu untuk menggantikan nya beberapa hari diperusahaan... Dia sedang sakit..." jawab Idris menyampaikan pesan dari Nanda.
"Baik tuan..." balas Alex singkat, padat dan jelas.
Setelah itu Idris kembali ke dapur untuk membuatkan susu hangat permintaan dari Nanda. Sudah beberapa pelayan yang mengajukan bantuan pada Idris tapi ia tetap menolaknya.
"Tidak perlu... Biar saya saja..." ucap Idris yang tak bisa dibantah oleh para pelayan.
"Tuan tidak perlu repot-repot membuat nya... Biar kami saja..." ucap pelayan yang takut jika ketahuan Rama tidak bekerja dengan baik maka mereka akan dipecat.
"Sudah lah... Lanjutkan saja tugas kalian..." ucap Idris sambil mematikan kompor.
Semua pelayan saling tatap tak percaya jika tuannya itu orang yang sangat mandiri. Terlihat ketika beberapa pelayan ingin membantu tapi selalu ia tolak.
Satu gelas susu hangat buatan Idris sudah siap. Ditaruhnya gelas tersebut diatas nampan kecil agar lebih mudah membawanya ke kamar.
"Nanda susu hangatnya sudah datang..." ucap Idris ketika ia masuk ke dalam kamar.
Hening. Tak ada jawaban dari penghuni kamar. Idris kembali dikejutkan ketika melihat istrinya terkulai lemas didepan pintu kamar mandi. Idris segera berjalan ke arah dimana Nanda berada. Susu hangat tersebut ia taruh terlebih dahulu diatas meja kecil didepan sofa.
"Nanda..." ucap Idris panik sambil menepuk-nepuk pipi putih Nanda.
✨Salam Author 💙✨
__ADS_1
Hallo semuanya... Jangan bosan-bosan yah nungguin kelanjutan kisah Idris dan Nanda... Terima kasih yang udah setia membaca cerita ini... Jangan lupa like, vote dan koment yah... Buat Author lebih semangat lagi... Semoga kalian terhibur...🤗
✨See you 👋✨