Istriku Seorang CEO

Istriku Seorang CEO
Episode 72


__ADS_3

✨Merasa kasihan ✨


Nanda dan Idris memandang wanita yang sedang hamil di hadapannya dengan tatapan bertanya-tanya. Mereka berdua tidak pernah tau siapa wanita tersebut. Perlahan wanita itu melangkah mendekati Nanda dan Idris.


"Maaf sebelumnya, telah membuat kalian berdua terkejut..." ucap si wanita menunduk. Terlihat rasa bersalah diwajahnya.


"Tak apa... Mari kita duduk terlebih dahulu disana..." ajak Nanda yang mulai kelelahan jika harus terus berdiri.


Nanda duduk di bangku yang tersedia di mall. Idris duduk di sebelah istrinya itu. Wanita tadi masih menunduk seraya mengelus perutnya yang membesar. Dengan lembut Nanda memulai percakapan.


"Sebenarnya ada apa yah, kamu memanggil kami?" tanya Nanda.


"Perkenalkan nama saya Serli... Maaf sebelumnya sejak kalian masuk ke mall, saya mengikuti kalian berdua... Tujuan saya memanggil kalian karena ada yang harus saya beritahu..." jawab si wanita yang bernama Serli.


"Beritahu saja... Siapa tau itu penting untuk kami..." ucap Idris yang penasaran.


"Saya istri dari tuan Rio... Dan sekarang saya sedang mengandung anaknya... Dua bulan yang lalu saya mendengar tuan Idris mengalami kecelakaan yang menyebabkan dia koma... Saya sedih mendengar hal tersebut... Tapi saya tak bisa berbuat apa-apa ketika mendengar bahwa pelakunya belum ditemukan hingga saat ini..." cerita Serli sambil menunduk.


"Ja-jadi kamu istri Rio?" tanya Nanda menutup mulutnya tak percaya.


"Benar... Sebenarnya saya pembantu dirumah tuan Rio... Tetapi... Tuan Rio menghamili saya... Dan pada akhirnya saya mengandung anaknya dan terpaksa harus menikah dengan tuan Rio..." jawab Serli dengan air mata yang mengalir deras dipipinya. Ingatan tentang masa lalu yang begitu menyedihkan terlintas seketika dipikiran Serli.


"Jadi kecelakaan itu adalah rencana Rio?" tanya Nanda memastikan.


"Iya nyonya... Saya mendengar tuan Rio memerintahkan seseorang waktu itu... Tak sengaja saya juga mendengar nama Nanda dan Idris... Maka dari itu saya berusaha mencari keberadaan kalian..." jawab Serli menghapus air matanya.


Nanda benar-benar tak percaya dengan apa yang terjadi. Kecelakaan yang berusaha Nanda dan Idris tutup justru sekarang terbuka kembali. Apalagi setelah mendengar penuturan dari Serli membuat Nanda lebih tak percaya lagi.


"Lalu dimana Rio sekarang?" tanya Idris bergantian.


"Saya tidak tau tuan... Setiap hari tuan Rio selalu pergi ke suatu tempat... Tapi saya tidak tau dimana tempat itu..." jawab Serli.


"Mas, bagaimana ini? Apa kita harus melaporkan ini ke polisi?" tanya Nanda memandang wajah suaminya.


"Tentu... Tetapi kita juga harus mencari bukti yang lebih logis juga..." jawab Idris.


Semua kembali hening. Para pengunjung mall berlalu-lalang melewati ketiga orang yang tengah terdiam dikursi tunggu. Beberapa saat kemudian, terdengar suara yang membuat ketiganya menoleh.


"Serli!!!" panggil orang itu.

__ADS_1


Tubuh Serli bergetar hebat. Melihat orang yang selama ini ia takuti ada tak jauh dari dirinya berada. Sama halnya dengan Nanda yang ikut terkejut melihat siapa orang yang baru saja berteriak.


"Tu-tuan..." ucap Serli kaku.


"Pulang!" ucap laki-laki tersebut yang tak lain adalah Rio.


Sebelumnya Rio dikabari oleh bodyguardnya bahwa istrinya kabur dari rumah. Mendengar hal tersebut tentu membuat Rio marah. Bagaimana bisa para bodyguardnya itu lengah dalam menjaga wanita yang sedang hamil tua seperti istrinya itu?. Pikir Rio.


"Lepas!" ucap Nanda mencekal tangan Rio yang mencengkram pergelangan tangan Serli dengan kuat.


"Tu-tuan... Sakit..." ucap Serli dengan air mata mengalir. Rasa sakit menjalar ditubuhnya ketika cengkraman tangan Rio semakin kuat.


"Ayo pulang!" ucap Rio dengan tatapan setajam elang.


Plak.


Satu tamparan mendarat di pipi Rio. Amarah Nanda memuncak ketika melihat sang mantan yang ada dihadapannya saat ini. Ingatan tentang kecelakaan dua bulan yang lalu membuat amarah yang lama terpendam sekarang terpancar jelas.


"Tuan..." ucap Serli.


"Apa kamu setega itu terhadap istrimu yang sedang hamil?" tanya Nanda.


Mereka menjadi bahan tontonan di mall yang besar. Rio memegang pipinya yang terasa sangat panas. Malu pun ia harus tanggung sekarang. Dengan cepat Rio menarik pergelangan tangan Serli dan menyeretnya pergi dari mall.


"Tuan... Lepaskan..." lirih Serli sembari berjalan mengimbangi langkah laki-laki yang sekarang berstatus menjadi suaminya.


Nanda terduduk ketika Rio dan Serli pergi begitu saja. Semua pengunjung yang menonton adegan itu langsung bubar begitu saja. Nanda menangkup wajahnya dengan air mata yang mengalir.


"Sayang, sebaiknya kita pulang..." ajak Idris khawatir.


"Iya..." balas Nanda.


Keduanya berjalan menuju parkiran mobil. Lalu masuk dan duduk berdampingan di kursi terdepan. Sedangkan Serli menangis menahan sakit di pergelangan tangannya akibat cengkraman Rio yang begitu kuat.


Sesampainya dirumah, Rio langsung menyeret istrinya itu dengan kasar. Para pembantu hanya bisa melihat dari kejauhan tak berani membela karena takut akan dipecat. Tangis Serli sudah tak mampu ia bendung lagi.


"Sudah aku bilang! Jangan pernah keluar dari rumah!" ucap Rio dengan nada yang tinggi membuat Serli ketakutan.


"Dasar wanita tak berguna!" ucap Rio tanpa sadar.

__ADS_1


Serli sangat terluka dengan perkataan yang baru saja Rio ucapkan. Sangat menusuk. Seharusnya Rio tak pernah mengungkapkan kata-kata seperti tadi. Walau bagaimanapun Serli adalah istrinya juga. Apalagi sekarang Serli sedang hamil tua. Pasti akan sangat mempengaruhi kesehatan ibunya dan juga si bayi.


"Mulai sekarang, kamu ngga boleh keluar dari kamar tanpa seijin aku! Ngerti!" ucap Rio lalu keluar kamar.


Brak.


Suara pintu terdengar begitu keras ditelinga Serli. Tiba-tiba kepala Serli merasa begitu pusing. Tak disangka penglihatan Serli pun mulai gelap dan akhirnya tumbang ke ranjang yang tanpa sepengetahuan siapapun.


"Mas, aku khawatir sama keadaan Serli..." ucap Nanda karena terus merasa gelisah.


"Udah... Kamu berdoa aja... Semoga Serli ngga kenapa-kenapa..." balas Idris.


Akhirnya keduanya sampai di kediaman Firma pukul setengah empat sore. Belanjaan pun dibawa oleh para pelayan yang diperintahkan oleh Nanda. Keduanya masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke kamar yang terletak di lantai dua.


Pikiran Nanda terus melayang ke sosok perempuan yang tadi ia temui. Mengingat perlakuan yang mantan pacarnya berikan sungguh membuat Nanda tak habis pikir.


"Mas...Aku benar-benar khawatir sama keadaan Serli..." ucap Nanda.


"Mau bagaimana lagi? Kita cuma bisa mendoakan sayang..." balas Idris.


"Aku ngga nyangka... Bisa setega itu Rio sama Serli... Padahal Serli kan sedang mengandung anaknya mas..." gerutu Nanda yang gak terima.


"Jangan terlalu dipikirin... Ngga baik sama kandungan kamu juga..." nasihat Idris.


Yang tak pernah membuat Nanda bosan berada didekat suaminya adalah ia selalu di nasihati dalam keadaan apapun. Contohnya seperti sekarang, amarah Nanda sedang memuncak tetapi suaminya selalu tetap memberikan nasihat. Begitu menyejukkan dan menenangkan bagi Nanda.


"Iya iya... Makasih yah mas udah temenin aku jalan-jalan hari ini..." ucap Nanda setelah amarahnya mereda.


"Sama-sama... Yang penting kamu sama debay bahagia pasti aku pun ikut bahagia, sayang..." balas Idris.


"Aku akan selalu bahagia kalau didekat kamu, mas..." ucap Nanda.


"Aku juga..." balas Idris.


✨Hallo semuanya 👋😊✨


Alhamdulillah hari ini bisa up lagi. Semoga kalian terhibur. Jangan lupa like dan Vote yang sebanyak-banyaknya yah. Biar Author tambah semangat buat nulisnya. Jangan khawatir deh episode masih banyak. Selalu setia menunggu aja yah. Masuk ke group Author juga donk bisa tambah ramai. Sampai bertemu di episode selanjutnya.


✨Dahhh👋🤗✨

__ADS_1


__ADS_2