Istriku Seorang CEO

Istriku Seorang CEO
Episode 83


__ADS_3

✨Pindah Rumah✨


Sebulan sudah berlalu setelah pertemuan dengan pak presiden. Hari ini Nanda meminta pendapat kepada suaminya tentang keinginannya pindah rumah. Bukan maksud apa-apa. Melainkan hanya ingin lebih mandiri saja. Itu yang Nanda pikirkan.


"Mas..." panggil Nanda.


"Kenapa?" tanya Idris yang sedang bersantai di balkon.


"Aku pengen pindah rumah..." jawab Nanda sembari duduk di samping sang suami.


"Kami yakin? Dengan umur kehamilan kamu yang udah memasuki 8 bulan?" tanya Idris menatap sang istri.


"Iya... Aku yakin kok... Aku cuman pengen mandiri aja..." jawab Nanda.


"Sayang, aku takutnya kamu bakal bosan nanti di rumah yang baru... Apalagi kandungan kamu udah masuk 8 bulan..." ucap Idris.


"Kalau kita jadi, biar Mak Ijah ikut sana kita... Biar aku punya temen gitu..." balas Nanda berusaha meyakinkan.


"Iya udah... Nanti kita bilang sama ayah dan Omah... Gimana baiknya..." ucap Idris mengalah.


"Oke deh..." balas Nanda.


Setelah itu Nanda masuk untuk ke kamar. Lalu ia keluar menuju dapur untuk memasak apa yang sedang ia inginkan. Karena akhir-akhir ini Nanda sering memasak untuk dirinya sendiri.


"Eh nyonya... Sini biar Mak Ijah bantu..." ucap Mak Ijah mendekati Nanda yang tengah memotong sayuran.


"Ngga usah Mak... Nanda pengen bikin sendiri..." ucap Nanda dengan senyum yang membuat siapapun meleleh.


"Ya udah nyonya... Kalau ada perlu apa-apa tinggal paling Mak yah..." ucap Mak Ijah kemudian berlalu dari dapur.


Nanda mulai menyalakan kompor agar minyak goreng menjadi panas. Setelah minyak panas, Nanda mulai memasak sesuai keinginannya. Dari hari ke hari, Nanda terus berlatih untuk memasak. Terkadang Idris ikut memakan apa yang Nanda masak.


"Mak Ijah! Sini sebentar!" panggil Nanda.


"Iya ada apa nyonya?" tanya Mak Ijah dengan cepat.


"Coba Mak Ijah cicipi donk... Masih kurang apa gitu?" perintah Nanda.

__ADS_1


Mak Ijah pun mencicipi makanan yang Nanda buat. Rasa makanan itu begitu enak di lidah Mak Ijah. Mungkin karena Nanda sering berlatih memasak. Menjadikan makanannya semakin bertambah enak.


"Enak banget, nyonya... Pasti tuan Idris suka..." ucap Mak Ijah dengan mengacungkan jempolnya pada Nanda.


"Terima kasih Mak..." balas Nanda.


Setelah matang, Nanda mengangkatnya dan menaruhnya ke wadah yang sudah ia siapkan. Bay harum pun menyerbak di rumah. Membuat seisi rumah berkumpul dan mencari asal bau yang begitu harum itu.


"Kamu masak apa? Baunya semerbak banget..." ucap Idris dengan tangan yang melingkar di perut buncit Nanda.


"Ini masak sayur jamur..." jawab Nanda.


"Kamu udah pintar masak yah?" tanya Idris mengusap perut Nanda dengan lembut membuat Mak Ijah tersenyum.


"Alhamdulillah... Ini juga berkat bantuan Mak Ijah..." balas Nanda.


"Anak ayah..." ucap Idris.


"Malu tau mas sama Mak Ijah..." bisik Nanda yang pasti di dengar oleh Idris.


Lalu Nanda berbalik. Menatap laki-laki yang membuatnya jatuh cinta. Tangan Nanda dengan jailnya mencubit hidung mancung Idris.


"Kamu nakal yah?" ucap Idris yang tidak terima.


"Salah siap coba... Aku lagi sibuk masak kamu ganggu..." balas Nanda.


"Aku kan cuma pengen ketemu sama anak aku..." ucap Idris sembari duduk untuk melihat kegiatan apa lagi yang akan Nanda lakukan.


"Anak kita..." ralat Nabda.


"Iya iya..." balas Idris.


Tak lama kemudian, seluruh keluarga sudah berkumpul di meja makan. Untung saja Nanda memasak lumayan banyak jadi seluruh keluarga bisa menikmati masakannya. Tentu saja masakan itu dipuji karena enaknya.


Seharian Nanda dan Idris menghabiskan waktu bersama di taman belakang rumah. Disana ada ayunan yang berbentuk seperti bola. Walau sedikit kesulitan tetapi Nanda tetap duduk di depan suaminya dan menikmati setiap ayunan.


Hari pun berganti menjadi malam. Seperti biasa seluruh keluarga Firma berkumpul di ruang tamu. Nanda dan Idris pun ada disana. Lengkap.

__ADS_1


"Ayah, Nanda pengen pindah rumah... Apakah boleh?" tanya Nanda memulai percakapan.


"Kenapa harus pindah... Apalagi kamu sedang hamil..." jawab ayah Rama.


"Nanda cuma pengen lebih mandiri aja... Kalau semisal boleh, biar Mak Ijah ikut Nanda buat bantu-bantu..." ucap Nanda.


"Kalau begitu Omah ikut sama kamu... Omah ngga tega kalau kamu cuma berdua di rumah nanti..." usul Omah yang membuat Nanda tersenyum.


"Ya sudah... Asalkan rumah kalian tak jauh dari kediaman... Ayah mengizinkan..." ucap ayah Rama pasrah.


"Terima kasih ayah..." ucap Nanda yang bahagia karena diperbolehkan pindah rumah.


"Sama-sama..." balas ayah Rama.


Semua orang kembali ke kamarnya masing-masing. Nanda dan Idris pun langsung menuju ke kamarnya karena sudah mengantuk.


"Oh ya mas, aku pengen rumahnya ngga begitu besar yah... Yang biasa aja..." ucap Nanda ketika mereka sudah siap di atas ranjang.


"Oke... Besok aku bakal survei tempatnya dulu... Semoga kamu suka..." ucap Idris.


"Aku pasti suka apa yang kamu suka..." ucap Nanda lalu mengecup pipi suaminya.


"Dasar nakal..." ucap Idris mencubit hidung mancung Nanda.


✨Hallo👋✨


Alhamdulillah bisa up cepat hari ini. Segitu dulu yah. Jangan lupa like dan Vote sebanyak-banyaknya. Biar Author tambah semangat lagi deh buat nulisnya. Gimana? Masih seru?. Pokoknya cukup setia aja deh. Sampai bertemu di episode selanjutnya.


Jangan lupa baca.


Pluto's Eight Companions.



Salam sayang dari Author.


✨Semoga terhibur 👋✨

__ADS_1


__ADS_2