
✨ Pindah rumah✨
Idris pun melakukan survei ke beberapa tempat. Ada beberapa rumah yang membuat Idris tertarik. Semua itu Idris kumpulkan terlebih dahulu dan meminta pendapat sang istri.
"Menurut ku ini bagus deh mas... Ngga terlalu besar juga..." ucap Nanda menunjuk ke laptop yang berisi gambar bangunan rumah.
"Iya juga si... Beneran itu aja?" tanya Idris memastikan.
"Iya..." jawab Nanda.
Keesokan harinya, Idris membeli rumah yang sudah ia sepakati dengan Nanda. Rumah tersebut tak terlalu besar. Terlihat nyaman untuk bersantai. Terlihat begitu asri juga.
Nanda dan Idris pun berpamitan untuk pindah rumah. Sebelum itu, Idris sudah melakukan syukuran dan tahlilan bersama agar rumah yang mereka tempati nanti bisa terlihat lebih nyaman untuk dipakai.
"Alhamdulillah akhirnya kita bisa pindah mas..." ucap Nanda ketika mereka sampai di sebuah rumah bercat putih.
"Alhamdulillah juga... Yuk masuk..." ajak Idris.
Mereka pun masuk ke dalam. Termasuk Omah yang ikut berpindah sementara karena tak ingin jauh dari cucunya. Mak Ijah dan Bi Anik pun ikut pindah untuk membantu mengurus keperluan Nanda nantinya.
Nanda merasa begitu bahagia sekarang. Apalagi semua keinginannya dituruti oleh sang suami. Cinta Nanda pun semakin bertambah terhadap Idris. Begitupun sebaliknya, Idris tambah menyayangi Nanda dengan usia kehamilan yang mendekati sembilan bulan.
"Ini kamar untuk kita... Kamu suka kan?" tanya Idris ketika ia membuka pintu kamar di lantai dua.
"Suka banget mas... Disini aku bisa lebih tenang..." jawab Nanda.
__ADS_1
Ia pun masuk ke dalam kamar dan menatap langit-langit kamarnya. Ini yang ingin Nanda rasakan. Suasana yang baru. Tak lagi merasa jenuh seperti yang ia sedang berada di kediaman Firma.
Barang-barang mulai diletakkan dan ditaruh sesuai tempatnya oleh Mak Ijah dan Bi Anik. Sedangkan Omah membereskan kamarnya yang berada di lantai satu. Kamar yang berukuran lebih kecil tetapi mampu membuat Omah merasa betah untuk tinggal disana. Hawanya pun terasa sangat sejuk dan asri.
"Aku beruntung memiliki cucu seperti Nanda dan Idris... Mereka adalah pasangan yang cocok..." gumam Omah sembari duduk di ranjang barunya.
Walaupun Omah terbiasa dengan segala hal yang mewah, entah kenapa dengan keadaan yang sedikit berbeda justru membuatnya lebih nyaman. Mak Ijah dan Bi Anik tidur sekamar dengan kasur yang berbeda. Mak Ijah tidur diatas sedangkan Bi Anik tidur di kasur bawah.
Seminggu telah berlalu. Nanda merasa sangat nyaman dengan rumah yang baru saja ia tinggali. Setiap pagi Nanda pasti akan berolahraga kecil di taman belakang bersama Omah. Ia tak ingin melewatkan sedikit pun kesempatan yang berharga agar si bayi tumbuh dengan sehat.
"Ayo Nyonya, semangat!!!" ucap Mak Ijah dan Bi Anik bersamaan.
"Terimakasih Mak, dan Bibi..." balas Nanda.
Setelah seharian, Nanda merebahkan tubuhnya di sofa menunggu Idris datang. Tak berapa lama, suara ketukan pintu terdengar. Membuat Nanda dengan cepat bangkit dan membuka pintu. Nanda langsung memeluk Idris dengan erat. Entah apa itu sebabnya.
"Aku rindu kamu mas..." jawab Nanda.
"Aku bau tau, yuk kita masuk..." ucap Idris yang diangguki oleh Nanda.
"Yuk..." balas Nanda.
Mereka segera masuk ke dalam, karena adzan Maghrib sudah terdengar. Idris membersihkan badannya lalu melaksanakan sholat berjamaah dengan Nanda. Selepas itu, mereka makan malam bersama seperti biasa.
"Oh ya mas, besok jadwal aku kontrol kandungan... Kamu bisa kan temenin aku?" tanya Nanda ketika mereka berada di kamar.
"Bisa... Kamu tenang aja..." jawab Idris.
__ADS_1
"Sekalian jalan-jalan gimana?" tanya Nanda meminta pendapat.
"Boleh... Sekalian aku refreshing juga..." jawab Idris.
Malam cukup larut, mereka berdua bersiap untuk tidur karena sudah mengantuk. Sebenarnya Idris merasa tidak enak sedari pagi. Entah itu kenapa Idris pun tak sebabnya. Ia hanya berdoa supaya dirinya dan juga Nanda tak terjadi apapun.
"Kamu kenapa mas?" tanya Nanda membuyarkan lamunan Idris.
"Eh, ngga papa kok... Aku cuman mikirin pekerjaan..." jawab Idris berbohong. Agar Nanda tak menjadi khawatir.
"Beneran? Sedari tadi kamu banyak melamun lho?" tanya Nanda.
"Iya ngga papa... Sebaiknya kita tidur yah..." jawab Idris yang membuat Nanda terdiam.
Ia juga merasakan hal yang sama. Perasaan tak enak. Nanda selalu berdoa agar keluarganya selalu dijauhkan dari marabahaya. Perlahan Nanda menutup matanya dan masuk ke dalam mimpi menyusul Idris yang sudah sedari tadi terlelap.
Di dalam mimpi itu Idris melihat Nanda yang tengah menangis di pojok kamar. Idris pun mendekati dan memeluknya dengan erat. Tetapi Nanda justru melepas pelukannya dan menampar pipi Idris dengan keras.
"Jahat kamu mas! Kamu tega! Pergi kamu!" ucap Nanda yang membuat hati Idris hancur.
Mendapat mimpi buruk, Idris segera terbangun dan mengucapkan istighfar berulang kali. Ia memandangi wajah Nanda yang tengah tertidur pulas disampingnya. Ia merasa beruntung itu hanyalah mimpi. Semoga tak menjadi nyata. Doa Idris.
"Aku mencintaimu sayang... Semoga Allah selalu memberikan kita pertolongan dalam segala hal dan cobaan..." ucap Idris lalu mencium kening Nanda.
✨Hai gaes✨
Sory yah baru up. Masih semangat ngga nih?. Banyakin like dan Vote jangan lupa yah. Biar Author tambah semangat donk.
__ADS_1
✨Semoga terhibur. Dahhh👋✨