
✨Kejutan 2 ✨
Setelah acara selesai seluruh petinggi perusahaan berfoto bersama dengan Nanda dan Idris. Selepas itu Nanda dan Idris keluar dari perusahaan Argo menuju mobil yang sudah siap di depan lobi. Pak Hendi segera masuk ke dalam mobil lalu di susul pula oleh Nanda dan Idris.
Rasanya hari itu adalah hari yang paling berkesan bagi keduanya. Besok hari adalah hari penutupan pengawasan kontrak di perusahaan klien Nanda. Tentu saja Nanda akan mempersiapkan sebuah kejutan pula untuk suaminya.
"Makasih yah mas... Suara kamu bagus banget..." ucap Nanda sambil memandang wajah suaminya.
"Sama-sama... Aku juga nggak nyangka... Akhirnya aku bisa bikin kejutan buat kamu..." balas Idris mencubit pipi putih Nanda yang semakin berisi sekarang.
"Besok tinggal kamu yang nemenin aku..." ucap Nanda mengingatkan.
"Iya sayang... Tenang aja aku bakal temenin kamu..." ucap Idris yang membuat Nanda tersenyum senang.
Mobil pun mulai berjejer di jalan raya. Lalu lintas tak begitu ramai seperti di Semarang. Udara sejuk menerpa wajah ketika kaca mobil turun sedikit demi sedikit. Mata yang tadinya terbuka lebar sayup-sayup menutup. Kepala Nanda bersandar di bahu Idris karena sudah tak kuat lagi menahan kantuk.
"Kalau kamu ngantuk tidur aja..." ucap Idris sambil memegang pipi Nanda.
"Iya..." balas Nanda lalu terlelap ke dalam mimpi.
Akhirnya keduanya sampai di hotel. Nanda yang masih tertidur tersadar ketika tangan Idris mengelus lembut pipinya. Pak Hendi dengan setia menunggu bos nya turun dari mobil sebelum memarkirkan mobil perusahaan di parkiran.
"Terima kasih pak Hendi..." ucap Idris kemudian berlalu bersama Nanda memasuki lobi hotel.
"Sama-sama..." balas pak Hendi.
Dua hari lagi Nanda dan Idris akan pulang ke Semarang bersama dengan Santi dan Alex juga. Nanda menyerahkan semuanya pada sekretaris pribadinya dan orang kepercayaannya tentang kontrak yang ada di Bali.
Nanda dan Idris masuk ke dalam hotel melangkah menuju lift agar lebih cepat sampai ke kamar. Setibanya di kamar Nanda dan Idris duduk bersama di sofa karena kelelahan. Sedangkan Nanda yang ada di samping Idris kembali menyandarkan kepalanya tapi bukan ke bahu melainkan ke paha suaminya.
"Mas... Aku keinget mimpi tadi malam..." ucap Nanda mendongak.
"Udah... Kamu lupain mimpi itu... Anggap aja kamu nggak pernah mimpi..." nasihat Idris disertai senyum di bibirnya.
Di dalam lubuk hatinya, Nanda merasa khawatir. Senyum yang terukir di bibir suaminya itu tidak akan pernah ia lihat lagi. Seperti di dalam mimpi. Tak ada senyum di wajah pucat Idris. Itu yang paling Nanda takutkan dan khawatirkan.
Perlahan bulir bening mengalir begitu saja. Dengan segera Idris mengusap aliran itu dengan lembut. Idris tak akan pernah rela jika bulir bening itu harus mengalir sia-sia. Tak tega. Ya. Itu yang Idris rasakan.
"Mending kita sholat yuk..." ajak Idris yang membuat Nanda tersadar.
"Ayuk..." balas Nanda.
Keduanya membersihkan badan terlebih dahulu sebelum melaksanakan kewajiban pada Yang Maha Kuasa. Idris tak akan pernah melewatkan sholat berjamaah walau ia sesibuk apapun. Tak ada yang lebih utama kecuali cintanya pada Rabb.
Di malam harinya, Idris mengajak Nanda ke cafe Pey. Mungkin hanya sekedar mencari angin malam saja. Menghibur hati Nanda yang sedang bercampur aduk. Itu yang selalu Idris pikirkan. Tugasnya adalah membahagiakan.
"Nda... Aku pengen ngomong sama kamu..." ucap Idris.
"Mas... Tinggal ngomong aja... Kenapa harus ijin?" balas Nanda.
"Apa kamu masih ingat tentang surat kontrak kita dulu? Di dalam surat itu kita hanya menikah sampai 6 bulan aja... Apa setelah 6 bulan itu kamu benar-benar ingin bercerai denganku?" tanya Idris dengan wajah serius.
"Mas... Lupakan soal surat kontak itu... Aku cinta sama kamu... Benar-benar cinta mas... Kalau usia pernikahan kita udah sampai 6 bulan... Aku nggak akan bercerai sama kamu... Ini janji aku sama kamu..." jawab Nanda sambil menggenggam tangan Idris.
Idris tak menyangka jika itu yang akan terlontar dari bibir Nanda. Sungguh, sekarang Nanda benar-benar berubah. Mengenai surat kontak itu Nanda masih menyimpannya di suatu tempat. Tak ada yang mengetahui hal tersebut. Hanya Nanda saja.
"Dan sekarang aku yang tanya sama mas..." ucap Nanda.
"Apa mas benar-benar mencintai ku?" tanya Nanda.
"Sangat mencintai kamu Nda... Memang waktu pertama kali kita menikah aku belum merasakan apapun sama kamu... Tapi lambat laun cinta itu mulai hadir begitu aja... Dan aku pun nggak menyadari hal itu... Tapi sekarang kalau boleh jujur... Aku cinta banget sama kamu sayang... Bahkan aku rela jika harus berkorban nyawa aku buat kamu... Aku siap..." jawab Idris.
Di malam itu Nanda dan Idris saling mengutarakan isi hatinya masing-masing. Sungguh membuat keduanya merasa begitu lega. Selesai dengan hal itu keduanya kembali ke kamar.
"Udah malam... Yuk ke kamar..." ajak Idris setelah melirik jam tangannya.
"Ayuk..." balas Nanda sambil menggandeng tangan Idris.
Keduanya tidur karena jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Rasanya begitu menyejukkan bagi Nanda dan Idris. Terutama Nanda. Dia tak percaya jika ia bisa mengatakan semua itu pada suaminya.
"Selamat malam sayang... Jangan lupa mimpiin aku yah..." ucap Nanda sambil mencium pipi Idris.
"Malam juga sayang... Jangan lupa berdoa semoga kita bertemu di alam mimpi..." balas Idris ikut mencium kening Nanda. Lalu keduanya masuk ke dalam mimpi setelah selesai mengucapkan doa.
Keesokan harinya Nanda dan Idris bersiap pergi ke tempat seperti cafe untuk menghadiri acara penutupan pengawasan kontrak. Sebelum berangkat, Nanda menelpon Alex yang berada di hotel yang berbeda.
"Apa kamu sudah menyiapkan semuanya, Alex?" tanya Nanda ketika Idris sedang mandi.
"Sudah nyonya... Semua sudah siap..." jawab Alex dari seberang.
"Baguslah kalau begitu... Terima kasih untuk semuanya Alex..." ucap Nanda.
"Sama-sama nyonya..." balas Alex.
Sambungan pun berakhir bertepatan ketika pintu kamar mandi terbuka. Idris keluar lalu memakai baju yang sudah Nanda siapkan di atas ranjang. Selesai dengan itu mereka berdua segera turun ke lantai dasar.
"Pagi pak Hendi..." ucap keduanya bersamaan.
"Pagi tuan dan nyonya..." balas pak Hendi.
Pak Hendi menyetir mobil menuju tempat yang sudah Nanda beritahu. Sebuah cafe yang cukup besar. Dengan desain budaya Bali. Begitu unik ketika di pandang. Di dalam cafe sudah banyak orang. Terutama para petinggi perusahaan yang diundang sebagai tamu.
Acara di mulai dengan lancar tanpa ada halangan suatu apapun. Hingga akhirnya tiba di penghujung acara, Nanda dipanggil oleh host yang berada dipanggung. Dengan segera Nanda bangkit dan naik ke atas panggung.
__ADS_1
Suara tepuk tangan terdengar memenuhi ruangan. Alex pun ikut naik ke panggung ketika mendapat kode dari Nanda. Sedangkan Santi ada di balik panggung.
Di kediaman Firma seluruh keluarga tengah menonton acara yang sedang berlangsung di Bali saat ini. Semua anggota keluarga ikut bertepuk tangan ketika Nanda naik ke atas panggung.
"Terima kasih untuk semua yang hadir disini... Di sini saya akan membawakan dua buah lagu untuk orang yang paling berarti di dunia ini bagi saya... Pertama dia adalah seorang laki-laki yang mempunyai kesabaran dan ketulusan yang luar biasa... Dia selalu menemani saya di kala susah maupun senang... Mungkin saya tak pernah mempublikasikan orang itu... Tapi kali ini dunia akan tahu siapa orang itu... Dan dia adalah orang yang menggunakan jas hitam yang duduk di barisan terdepan... Dia adalah suami saya..." ucap Nanda sambil memandang suaminya.
Seketika semua orang menoleh ke arah yang Nanda tunjuk. Semua orang tak percaya jika CEO muda yang berada di atas panggung ternyata sudah menikah. Idris hanya menunduk ketika semua orang menatapnya.
Alunan musik mulai terdengar. Alex memainkan piano dengan sangat lihai. Semua orang kembali tertuju ke atas panggung. Mereka mengabadikan moment yang langka itu dengan ponsel dan ada juga yang menggunakan kamera.
***
Aku tak pernah meminta...
Sosok pendamping sempurna...
Cukup dia yang selalu...
Sabar menemani dalam kekuranganku...
Namun Tuhan menghadirkan...
Kamu lelaki terhebat...
Kuat tak pernah mengeluh...
Bahagiaku selalu bersamamu...
Andai ada keajaiban...
Ingin ku ukirkan...
Namamu di atas bintang-bintang angkasa...
Agar semua tau...
Selama-lamanya kamu milikku...
Kini telah ku buktikan...
Kamu pendamping setia...
Kuat tak pernah mengeluh...
Bahagiaku selalu bersamamu...
Andai ada keajaiban...
Ingin ku ukirkan namamu...
Namamu diatas bintang-bintang angkasa...
Agar semua tau...
Selama-lamanya kamu milikku...
Namun ku sadari diriku...
Takkan mampu selalu...
Bahagiakan kamu...
Tapi akan ku perjuangankan...
Untukmu yang terhebat...
Kekasih impian...
Andai ada keajaiban...
(Andai ada keajaiban)...
Ingin ku ukirkan...
Namamu diatas bintang-bintang angkasa...
Agar semua tau...
Selama-lamanya...
Selama-lamanya kamu milikku...
***
Prok...prok...prok...
Nanda mengusap bulir bening yang mengalir di pipinya. Semua orang kagum dengan bakat yang Nanda miliki. Sangat jarang seorang CEO memiliki bakat seperti Nanda. Cantik, berbakat dan pekerja keras. Banyak yang menyukai Nanda hingga saat ini. Tetapi Nanda selalu mengabaikan semua itu. Sekarang di hatinya hanyalah ada nama Idris. Suaminya.
"Dan satu lagu terkhusus untuk bunda... Bunda... Lagu ini Nanda persembahan untuk bunda... Yang selalu Nanda tunggu-tunggu... Dan akhirnya kita bertemu... Terima kasih telah melahirkan Nanda ke dunia... Tak ada yang bisa Nanda ucapkan selain terima kasih yang sebesar-besarnya untuk bunda..." ucap Nanda sambil menunduk.
Semua orang tertunduk ketika mendengar kata 'Bunda'. Banyak orang yang ikut menangis haru. Kembali alunan musik terdengar dari piano yang dimainkan oleh Alex.
***
__ADS_1
Bunda...
Engkaulah muara kasih dan sayang...
Apapun pasti kau lakukan...
Untuk anakmu yang tersayang...
Bunda...
Tak pernah kau berharap budi balasan...
Atas apa yang kau lakukan...
Untuk diriku yang kau sayang...
Saat diriku dekat dalam sentuhan...
Peluk kasihmu dan sayang...
Saat ku jauh dari jangkauan...
Doamu kau sertakan...
Maafkan diriku bunda...
Kadang tak sengaja ku membuat...
Relung hatimu terbuka...
Ku ingin kau tau bunda...
Betapa ku mencintaimu lebih dari segalanya...
Ku mohon restu dalam langkahku...
Bahagiaku seiring doamu...
Bunda...
Tak pernah kau berharap budi balasan...
Atas apa yang kau lakukan...
Untuk diriku yang kau sayang...
Saat diriku dekat dalam sentuhan...
Peluk kasih mu dan sayang...
Saat ku jauh dari jangkauan...
Doamu kau sertakan...
Maafkan diriku bunda...
Kadang tak sengaja ku membuat...
Relung hatimu terluka...
Ku ingin kau tau bunda...
Betapa ku mencintaimu lebih dari segalanya...
Ku mohon restu dalam langkahku...
Bahagiaku seiring doamu...
Bunda...
Engkau muara kasih dan sayang...
Apapun pasti kau lakukan...
Untuk diriku yang kau sayang...
***
Semua orang menangis mendengar lagu yang Nanda bawakan. Lalu tak lama setelah itu terdengar suara tepuk tangan yang begitu meriah dari semua orang. Nanda menunduk lalu kembali ke tempat duduk setelah mengucapkan terimakasih. Langkah Nanda terhenti tepat di depan kursi suaminya. Lalu Nanda memeluk Idris dengan kuat.
"Terima kasih untuk semuanya mas..." ucap Nanda.
"Sama-sama sayang... Terima kasih juga atas semuanya..." balas Idris ikut memeluk istrinya.
"Sama-sama..." ucap Nanda sambil melepas pelukannya.
Acara selesai dengan berbagai penampilan dari pihak cafe. Setelah itu Nanda dan Idris masuk ke dalam mobil bersamaan. Di dalam mobil sudah ada pak Hendi yang dengan setia menunggu bosnya.
Mobil pun mulai bergerak keluar dari area cafe menuju hotel yang sudah tiga minggu ini Nanda dan Idris tinggali. Di dalam perjalanan Idris terus memandangi istrinya. Rasa bahagianya tak terbendung lagi.
Sedangkan di dalam keluarga Firma, semua orang terharu dengan lagu yang dibawakan oleh Nanda. Semua orang tak menyangka jika Nanda memiliki bakat menyanyi. Karena Nanda adalah orang yang begitu pendiam dan cuek terhadap lingkungan sekitar. Jadi bakatnya pun ikut terpendam.
✨Gaessss👋✨
__ADS_1
Gimana nih?. Seru nggak?. Alhamdulillah bisa up banyak ini. Jangan lupa Like dan Vote donk biar Author lebih semangat lagi. Tinggal kenangan biar banyak kenangan. Wkwkwk. Oke deh. Terimakasih buat yang udah dukung novel ini dan udah setia baca dari episode 1 sampai 63. Sampai ketemu di episode selanjutnya. Dahhh👋
✨Semoga kalian terhibur 🤗✨