
✨Pergi bersama✨
Seminggu telah dilalui begitu cepat oleh keluarga Firma. Tiba waktunya Nanda dan Idris berpamitan karena besok siang mereka berdua akan melakukan penerbangan ke Bali.
"Kakak yakin?" tanya Naya.
"Iya... Sebenarnya jadwal pemberangkatan kakak itu 3 hari setelah pemberangkatan mas Idris... Tapi Kakak pengin berangkat bersama..." jawab Nanda.
"Aku ikut donk kak..." ucap Naya dengan wajah memelas.
"Bagaimana dengan kuliah kamu? Waktu disana lumayan lama sekitar 3 minggu... Coba kamu pikir-pikir lagi..." ucap Nanda yang bibir Naya mengerucut.
"Iya... Pikir-pikir lagi kuliah kamu..." nasihat Alex.
"Iya deh kapan-kapan aja aku kesana..." ucap Naya pasrah.
"Kamu berangkat jam berapa nak?" tanya ayah Rama.
"Jam 10 siang ayah..." jawab Nanda.
Semua orang mengangguk paham. Mereka mengerti kenapa Nanda meminta berangkat bersama dengan suaminya. Mungkin saja mereka akan menghabiskan waktu berdua sebelum disibukkan dengan kesibukan masing-masing.
"Apa kalian berdua sudah mempersiapkannya?" tanya Omah.
"Habis ini kami akan bersiap Omah..." jawab Nanda.
Terlihat bu Maryam tersenyum memandang putrinya. Mendengar bahwa putrinya akan pergi selama 3 minggu membuat bu Maryam merasa sedih. Karena baru dua minggu ia hidup bersama dengan putrinya. Tapi bu Maryam memahami jika putrinya adalah seorang pemimpin perusahaan, mau tidak mau harus menjalankan semua tugas yang diberikan dengan sebaik mungkin.
"Bunda kenapa?" tanya Nanda yang melihat bu Maryam melamun.
"Bunda hanya sedih akan jauh dari kamu lagi..." jawab bu Maryam dengan menampilkan senyum disana.
"Bunda ngga perlu sedih... Disini ada banyak orang yang bakal nemenin bunda kok... Insya Allah Nanda sama mas Idris usahain supaya pulang lebih cepat..." ucap Nanda dengan lembut.
Setelah perbincangan tentang keberangkatan ke Bali, semua orang memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing. Walau jam baru menunjukkan pukul sembilan malam. Karena mereka semua tau jika Nanda dan Idris harus berkemas malam ini juga.
Nanda dan Idris kembali ke kamarnya yang terletak di lantai dua. Di sana mereka menyiapkan dua koper berukuran besar. Nanda memilih baju untuk dirinya dan juga Idris di lemari. Sedangkan Idris sibuk membereskan berkas-berkas yang harus dibawa ke Bali.
"Kamu udah kasih tau kan, kalau berangkat lebih awal dari jadwal pemberangkatan?" tanya Idris sambil duduk ditepi ranjang.
__ADS_1
"Iya aku udah bilang sama Santi... Aku suruh dia berangkat sama Alex... Biar lebih gampang..." jawab Nanda lalu melipat baju-baju yang sudah ia pilih.
"Bagus kalau begitu..." balas Idris kembali fokus ke berkas-berkas yang ada ditangannya.
Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Semua kebutuhan yang diperlukan di Bali sudah siap dipojok kamar. Nanda merebahkan tubuhnya diatas ranjang sambil mengelap keringat yang muncul akibat lelah. Kemudian Idris ikut merebahkan tubuhnya disamping Nanda karena merasa letih juga.
"Kamu capek yah?" tanya Idris.
"Lumayan kok..." jawab Nanda berusaha tak terlihat lelah.
"Sini aku peluk biar ngga lelah lagi..." ucap Idris dengan manjanya.
Nanda memiringkan tubuhnya seperti yang Idris mau. Tangan Idris melingkar di pinggang ramping Nanda. Jarak antara keduanya pun semakin terkikis. Mata Idris terpejam sambil menikmati suasana yang membuatnya merasa begitu nyaman.
"Terima kasih yah udah siapin semuanya..." ucap Idris dengan mata yang masih terpejam.
"Sama-sama... Terima kasih juga udah mengizinkan aku ikut sama kamu..." balas Nanda sambil memeluk tubuh Idris.
"Yuk tidur... Takut besok kamu kecapean..." ajak Idris.
"Ayuk..." balas Nanda lalu membenamkan kepalanya di dada Idris yang masih tertutup oleh kemeja.
"Eh tunggu dulu!" ucap Idris yang membuat Nanda terkejut.
"Kita bersih-bersih dulu yuk sebelum tidur... Biar tidurnya lebih nyenyak..." jawab Idris.
Lalu Nanda dan Idris bangkit dari kasur. Kemudian masuk ke dalam kamar mandi bersama. Sepuluh menit sudah mereka berdua di dalam kamar mandi. Tak lama setelah itu Nanda dan Idris keluar dengan wajah yang basah karena air wudhu.
Keduanya berjalan menuju ranjang setelah berganti pakaian. Lalu Idris dan Nanda tidur bersama diatas ranjang dengan selimut abu-abu sebagai penghangat dinginnya malam. Mereka berdua tidur sembari berpelukan.
Keesokan harinya...
Nanda dan Idris sudah bersiap didalam kamar. Dua koper besar sudah dibawa pelayan ke lantai satu. Lalu Nanda dan Idris ikut turun karena jam sudah menunjukkan pukul delapan siang.
"Siang semua..." sapa Nanda.
"Siang..." balas seluruh keluarga.
Nanda dan Idris duduk terlebih dahulu. Masih ada waktu luang sebelum penerbangan. Nanda berinisiatif untuk makan siang bersama sebelum jam setengah sepuluh.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita makan siang bersama terlebih dahulu? Mumpung waktunya masih lumayan senggang sebelum penerbangan..." ajak Nanda yang dibalas anggukan oleh seluruh anggota keluarga.
"Iya ayo kak..." ucap Naya yang begitu bersemangat.
Mereka semua masuk ke dalam dua mobil yang sudah disiapkan didepan teras. Dua sopir yang ditugaskan untuk menyetir pun sudah siap didalam mobil. Langsung saja seluruh anggota masuk kedalam mobil satu persatu.
"Ayo jalan pak..." perintah Nanda.
"Baik Nyonya..." balas pak supir dengan anggukan kepala.
Mobil perlahan mulai meninggalkan rumah menuju jalan raya. Lalu ikut berbaris rapi dengan mobil yang lainnya selama 15 menit. Dan akhirnya sampai di restoran yang lumayan dekat dengan bandara.
Semua orang turun dari mobil dan masuk ke dalam restoran. Nanda memilih meja makan yang berada didekat kolam renang. Membuat suasana semakin asik untuk menikmati makan siang bersama.
"Silahkan dinikmati..." ucap pelayan restoran dengan sopan.
Akhirnya yang dinantikan pun tiba. Makanan dengan berbagai ciri khas pun tersedia di meja makan yang besar. Semua orang memakan makanan yang sudah mereka pesan tadi. Suasana begitu tenang dan damai. Terkadang disela juga dengan canda dan tawa.
"Yuk kita foto bersama..." ajak Nanda.
"Pelayan! Tolong foto kami yah..." perintah Nanda.
Semua anggota keluarga berjejer rapi. Ditengah mereka ada Nanda dan Idris. Senyum dan berbagai gaya menghiasi setiap moment yang ada. Tepat setelah berfoto bersama, mereka semua langsung menuju Bandara. Karena tak lama lagi pesawat akan melakukan pemberangkatan.
"Ayah... Bunda... Omah... Dan kamu Naya... Nanda dan mas Idris pamit... Sampai jumpa kembali... Jaga diri kalian yah... Assalamualaikum..." ucap Nanda sambil memeluk satu persatu anggota keluarga. Begitu juga Idris. Ia ikut memeluk ayah Rama dan Alex yang ada disana. Tak lupa pula mencium tangan Omah dan bunda.
"Waalaikum salam..." balas semua orang.
Setelah itu pengumuman terdengar agar setiap penumpang masuk ke dalam pesawat. Nanda dan Idris melambat bersama sebelum masuk ke dalam. Seluruh keluarga pun membalas lambaian itu.
Perlahan pesawat mulai bergerak. Semakin cepat dan akhirnya mengudara di langit yang bersih dengan warna biru disana. Nanda melihat ke luar jendela. Sungguh pemandangan yang begitu indah.
"Gimana rasanya?" tanya Idris yang ikut memandang keluar jendela.
"Sebenarnya aku lumayan takut... Tapi ada kamu yang membuat aku berani..." jawab Nanda yang membuat Idris langsung mencubit pipi putihnya.
✨Hallo gaes👋✨
Balik lagi nih. Jangan lupa donk tinggalkan jejak yah... Like dan Vote. Biar Author tambah semangat lagi... Oh iya ini, Author juga mau kasih tau buat kalian semua... Jangan lupa masuk group baru Author yah... Disana kalian bisa tanya-tanya tentang novel ini... Pastinya bakal Author jawab kalau bisa... Hehehehe... Sampai ketemu di episode selanjutnya...
__ADS_1
✨Semoga terhibur 👋🤗