
✨Semua perjuangan ✨
Hari demi hari terlewati dengan baik oleh Idris maupun Nanda. Sesekali Omah, ayah Rama dan Naya berkunjung ke rumah sakit bergantian. Bu Irma dan bu Maryam pun ikut menjenguk anaknya setiap dua hari sekali. Semua berjalan begitu cepat. Kondisi Idris pun sudah membaik dari hari sebelumnya.
"Bagaimana keadaan suami saya dok?" tanya Nanda setelah dokter Sendi selesai memeriksa.
"Alhamdulillah... Ini kemajuan yang sangat baik..." jawab dokter Sendi.
"Apakah saya sudah diperbolehkan pulang dok?" tanya Idris sambil berusaha duduk dengan dibantu oleh Nanda.
"Sudah pak... Besok tinggal pemeriksaan terakhir..." jawab dokter Sendi.
"Alhamdulillah..." ucap Nanda dan Idris bersamaan.
Nanda pun memeluk Idris dengan erat. Rasanya ia begitu senang mendengar bahwa suaminya sudah boleh pulang. Sudah dua minggu Idris dirawat dan akhirnya ia boleh pulang juga setelah besok pemeriksaan terakhir.
"Baiklah kalau begitu saya permisi..." ucap dokter Sendi dengan senyumnya.
"Terima kasih dok..." balas Nanda dan Idris.
"Sama-sama..." ucap dokter Sendi lalu keluar dari bangsal.
Setelah diperiksa, Nanda menyuapi Idris dengan telaten. Yang terpenting sekarang adalah kesembuhan suaminya. Nanda begitu rindu akan kebersamaan keduanya. Tawa renyah, makan bersama dan tentunya tidur bersama.
"Aku kangen mas..." ucap Nanda mengambil sesendok nasi dan lauk di piring.
"Sama siapa?" tanya Idris menerima suapan.
"Kamu..." jawab Nanda dengan senyum manisnya.
"Masa si?" tanya Idris.
"Beneran... Aku kangen banget sama kamu mas..." jawab Nanda.
Idris hanya menganggukkan kepalanya. Selesai dengan sarapan pagi, Idris pun meminum obatnya dengan dibantu oleh Nanda. Nanda menemani Idris dengan membaca buku seputar kehamilan.
"Kamu lagi baca apa, sayang?" tanya Idris melirik istrinya yang fokus dengan sebuah buku ditangannya.
"Baca buku seputar kehamilan mas..." jawab Nanda dengan menampilkan senyum.
"Bagus deh kalau begitu..." puji Idris.
"Iya..." balas Nanda.
Perlahan mata Idris mulai menutup karena mengantuk. Sedangkan Nanda fokus dengan buku yang ada ditangannya. Tak terasa mata Nanda pun ikut menutup karena mengantuk juga.
__ADS_1
Hari berganti menjadi sore. Waktu berjalan begitu cepat bagi keduanya. Nanda sudah siap dengan gamis berwarna biru muda dengan krudung senada ditambah dengan motif bunga. Membuat Nanda semakin cantik ketika dipandang. Apalagi ketika Idris yang memandang kecantikan Nanda, sungguh Idris mengakui kecantikannya. Sangat cantik.
"Assalamualaikum..." ucap seseorang ketika masuk ke dalam bangsal.
"Waalaikum salam..." balas Nanda dan Idris bersama.
Senyum Nanda dan Idris terukir melihat siapa yang masuk ke dalam bangsal. Dia adalah Omah. Setiap hari pasti Omah akan menjenguk menantunya itu dan juga cucunya yang sedang hamil. Omah sudah tak sabar untuk melihat cicitnya nanti. Maka dari itu rasa sayang Omah terhadap Nanda semakin bertambah.
"Omah..." ucap Nanda memeluk wanita tua yang sekarang sudah berhijab juga.
"Bagaimana kabar mu, nak?" tanya Omah mengelus punggung cucunya.
"Alhamdulillah Nanda baik-baik aja..." jawab Nanda sembari melepas pelukannya.
Omah tersenyum melihat ke arah menantunya itu. Idris dengan senang hati membalas senyum tulus dari Omah. Orang yang paling perhatian di keluarga Firma adalah Omah. Wanita tua yang sekarang sudah berubah. Dulu Omah tak mengenakan hijab, tetapi ketika melihat sang cucu berhijab, Omah berniat untuk berhijab juga. Tentu perubahan tersebut di terima dengan hangat oleh keluarga Firma.
"Bagaimana dengan keadaan mu, nak?" tanya Omah sembari duduk di kursi yang terletak di samping ranjang.
"Alhamdulillah Omah... Sudah lebih baik dari sebelumnya..." jawab Idris.
"Kata dokter Sendi besok mas Idris udah boleh pulang Omah..." beritahu Nanda.
"Alhamdulillah... Omah sudah tidak sabar menanti kalian di rumah..." balas Omah dengan senang.
"Apa kamu sudah membaca buku yang Omah berikan, nak?" tanya Omah.
"Sudah Omah... Nanda suka membaca bukunya... Banyak pelajaran yang dapat Nanda ambil dari sana..." jawab Nanda.
"Ini adalah kehamilan pertama kamu... Biasanya jika kehamilan pertama itu banyak sekali cobaan yang akan datang... Baik itu dari kandung kamu, lingkungan sekitar dan masih banyak lagi... Maka dari itu Omah memberikan buku seputar kehamilan itu untuk kamu... Agar kamu tidak kaget..." beritahu Omah.
"Terima kasih Omah... Omah memang yang terbaik..." ucap Nanda memeluk Omah selama beberapa saat.
Pukul delapan malam, Omah memutuskan untuk pulang ke kediaman. Sopir pribadi Omah dengan setia menunggu majikannya di dalam mobil setelah diberitahu oleh Omah. Nanda pun mengantar Omah hingga ke lantai satu.
"Hati-hati dijalan Omah..." ucap Nanda.
"Iya nak... Omah pergi dulu yah... Assalamualaikum..." ucap Omah.
"Waalaikum salam..." balas Nanda.
Setelah Omah pulang, Nanda segera kembali ke bangsal. Di sana Idris tengah duduk sambil menunggu sang istri kembali. Tak lama kemudian pintu bangsal terbuka. Menampilkan wanita cantik dengan hijab yang menutupi kepalanya.
Disisi lain Naya sedang berdua dengan Alex di suatu cafe. Alex dengan setia mengantar dan menjemput sang kekasih untuk kuliah. Di malam itu Nanda pulang dengan jemputan Alex tentunya.
"Sayang... Apa kamu masih setia nunggu aku sampai wisuda?" tanya Naya sambil menyeruput jus alpukat.
__ADS_1
"Setia donk... Kamu tenang aja... Aku bakal tunggu kamu sampai wisuda..." jawab Alex yang membuat Naya bahagia.
Naya tak tau jika ada seseorang yang menyukai kekasihnya itu. Sifat Naya yang acuh terhadap lingkungan membuatnya bersikap biasa saja kepada semua orang. Naya memang tau jika Santi adalah sekretaris pribadi kakaknya, tetapi ia tak tau jika Santi menyimpan rasa terhadap Alex.
"Sebenarnya ayah udah tau tentang hubungan kita sayang..." beritahu Naya.
"Bagus deh kalau begitu..." ucap Alex.
"Tapi aku ngga pernah cerita tentang hubungan kita sama ayah..." ucap Naya.
"Kalau bukan kamu yang beritahu, lalu siapa?" tanya Alex yang ikut penasaran.
"Entah... Mungkin kakak yang kasih tau ke ayah..." jawab Naya menerka-nerka.
Selepas dari cafe, keduanya pulang ke kediaman. Mereka masuk ke dalam kamar masing-masing. Tepat saat itu juga Omah baru pulang dari rumah sakit. Keadaan rumah begitu sepi dan sunyi. Bagi keluarga Firma itu adalah hal yang sudah biasa.
Kembali lagi ke rumah sakit, Nanda dan Idris tengah duduk bersama di sofa. Idris merasa bosan jika harus selalu duduk di ranjangnya itu, maka ia ingin berpindah untuk sementara waktu. Tentu saja semua itu pun atas ijin dari sang istri. Biasanya Nanda akan melarang sang suami untuk berpindah tempat. Karena Nanda masih takut jika suaminya terjadi apa-apa.
"Iya udah sini aku bantu..." ucap Nanda setelah dirayu oleh Idris.
"Makasih sayang..." ucap Idris ketika duduk di sofa empuk.
"Sama-sama..." balas Nanda lalu duduk di samping Idris.
Tangan keduanya pun saling mengaitkan. Idris mencium tangan yang selalu ia genggam itu. Tak ingin melepas. Tentu saja. Ingin selalu ada dan mengisi setiap waktu untuk selalu bersama. Pikir Nanda dan Idris yang sehati.
"Terima kasih atas semua perjuangan kamu yah sayang..." ucap Idris menatap mata istrinya.
"Seharusnya aku yang berterima kasih sama kamu..." sanggah Nanda.
"Terima kasih karena selalu ada buat aku..." ucap Idris.
"Terima kasih juga karena udah ada buat aku mas..." ucap Nanda.
Tangan Idris terulur menyentuh perut rata Nanda. Idris membayangkan jika anaknya sudah lahir. Pasti akan sangat menyenangkan di setiap waktu yang mereka lalui bersama nanti. Nanda tersenyum ketika tangan kekar itu mengusap perutnya dengan lembut. Seakan-akan Nanda tau apa yang sedang Idris pikirkan saat ini. Semua tentang masa depan yang entah bagaimana. Semua masih menjadi rahasia yang Allah sembunyikan dari makhluknya.
"Baik-baik yah sayang di dalam perut bunda..." ucap Idris.
"Iya ayah..." balas Nanda dengan suara seperti anak kecil.
✨Pagi semuanya 👋✨
Alhamdulillah deh kita bisa ketemu lagi nih. Masih semangat baca ngga ini?. Pokoknya kalian cukup setia aja. Karena masih banyak episode yang masih misterius buat kalian. Dan jangan lupa Like dan Vote sebanyak-banyaknya. Buat Author tambah semangat nih nulisnya. Ayo donk ramaikan group Author.
✨Sampai ketemu di episode selanjutnya, Semoga terhibur 👋🤗✨
__ADS_1