
✨Pulau Dewata ✨
Didalam pesawat, Nanda tertidur pulas dengan kepala bersandar di pundak Idris. Sedangkan Idris sibuk dengan ponselnya. Urusan pekerjaan yang terus bertambah membuat Idris terkadang sulit menemukan waktu bersama dengan Nanda. Apalagi tiga minggu ke depan pastinya Idris dan Nanda disibukkan dengan pekerjaannya masing-masing. Mungkin mereka hanya akan bertemu ketika sore atau bahkan malam hari saja.
Pesawat mengudara selama empat jam. Menelusuri awan putih dan langit yang begitu bersih. Sangat menyenangkan bagi orang yang baru pertama kali naik pesawat. Pemandangan dari atas membuat semua orang betah untuk berlama-lama didalam pesawat.
"Mas..." panggil Nanda dengan suara khas orang bangun tidur.
"Kamu udah bangun?" tanya Idris sambil menoleh ke arah samping kiri. Dimana istrinya berada.
"Udah... Tapi aku masih ngantuk..." jawab Nanda sambil menutupi mulutnya. Menguap.
"Iya udah tidur lagi aja... Tapi bentar lagi juga pesawat bakal landing..." ucap Idris.
"Kamu nggak tidur, mas?" tanya Nanda sambil menyandarkan kepalanya lagi di pundak Idris seperti beberapa saat yang lalu.
"Aku tidur di hotel aja nanti..." jawab Idris. yang kembali sibuk dengan benda pipih ditangannya.
Akhirnya pesawat landing dengan selamat. Kemudian Nanda dan Idris turun dengan tangan yang saling berkaitan menuju mobil yang sudah disiapkan. Para supir yang ditugaskan segera menghampiri Nanda dan Idris.
"Selamat siang pak, bu..." ucap sopir 1 dengan ramah.
"Siang juga..." balas Nanda dan Idris bersamaan.
"Maaf sebelumnya, apa benar ini pak Zafran?" tanya sopir 2.
"Iya saya sendiri... Kalian yang ditugaskan oleh pak Hendi untuk menjemput saya kan, di bandara?" jawab Idris sekaligus bertanya.
"Oh iya pak betul, mari pak saya bawakan barang-barangnya..." balas sopir 1.
"Oh silahkan..." ucap Idris sambil memberikan dua koper besar kepada dua orang sopir.
Kemudian Nanda dan Idris berjalan ke mobil berwarna hitam dan silver. Satu untuk Nanda dan Idris dan satunya lagi untuk mengangkut barang-barang. Setelah masuk kedalam mobil, sopir pun mulai melajukan mobil keluar dari bandara menuju hotel yang sudah di siapkan oleh pak Hendi ( Sekretaris Pribadi Idris).
"Bapak dan ibu asli mana?" tanya sopir 1.
"Kami berdua asli Semarang..." jawab Idris.
"Jauh juga yah... Kalau saya asli sini aja pak..." ucap sopir 1 memberitahu.
__ADS_1
"Oh ya pak, berapa lama kita sampai di hotel?" tanya Idris sambil melirik jam tangan yang berada di tangan kirinya.
"Sebentar lagi juga sampai sekitar 10 menitan..." jawab sopir 1 yang tentunya sudah sangat hafal.
Seperti yang dikatakan sopir 1, akhirnya Nanda dan Idris sampai di hotel setelah 10 menit berlalu. Kedua sopir itu membantu membawakan barang-barang ke ke kamar yang sudah disiapkan disana. Di sana juga ada pak Hendi yang tengah menunggu kedatangan Idris. Idris berjabat tangan terlebih dahulu kepada sekretarisnya. Pak Hendi telah mempersiapkan semuanya dengan sangat baik.
"Assalamualaikum pak Idris..." ucap pak Hendi.
"Waalaikum salam pak... Terima kasih sudah mempersiapkan semuanya dengan sangat baik..." ucap Idris dengan menampilkan senyuman.
"Sama-sama pak... Oh iya, silahkan ke kamar terlebih dahulu... Bapak dan ibu pastinya capek karena perjalanan... Jika ada perlu apapun tinggal kabari saya... Saya ada dilantai 10..." ucap pak Hendi.
"Kamu tau saja... Baiklah kami pergi ke kamar dulu... Sampai nanti... Terima kasih atas semuanya... Assalamualaikum..." ucap Idris lalu pergi bersama setelah seorang petugas menghampiri mereka.
"Waalaikum salam..." balas pak Hendi.
Kemudian seorang petugas mengantar Nanda dan Idris ke kamar yang sudah pak Hendi pesan.Ternyata kamar yang disediakan oleh pihak perusahaan, sangat mewah. Pikir Idris ketika mereka sampai dikamar yang ditunjukkan oleh pelayan.
"Ini kartu sandi untuk bapak... Hanya kartu ini sebagai kunci ketika bapak masuk ke dalam kamar..." ucap petugas sambil memberikan kartu berwarna hijau tua.
"Terima kasih..." ucap Idris.
Lalu kedua sopir dan petugas tersebut meninggalkan Nanda dan Idris berdua di kamar. Nanda mengelilingi kamar yang begitu luas dan mewah. Idris pun sama, ia mengikuti kemana Nanda berjalan. Hingga keduanya sampai di ranjang yang begitu besar dan tebal dengan seprei berwarna putih bersih.
"Ia aku juga nggak nyangka bakal dapat kamar di hotel mewah kaya gini... Alhamdulillah pak Hendi memang sudah berpengalaman... Kata papah pun seperti itu... Dia adalah orang kepercayaan perusahaan..." balas Idris menjelaskan sekaligus memberitahu.
Mereka berdua merebahkan tubuhnya di atas ranjang karena lelah. Mata Nanda tertuju pada tirai yang tertutup. Langsung saja Nanda segera bangkit dan berjalan ke arah tirai yang menutupi jendela kaca kamar karena penasaran. Tangan Nanda menggeser tirai yang menutupi jendela yang terbuat dari kaca itu.
"Masya Allah mas... Bagus banget pemandangannya..." ucap Nanda ketika tirai terbuka lebar.
Pancaran sinar matahari langsung menerobos masuk ke dalam kamar. Membuat ruangan terasa begitu terang dan nyaman. Kamar Idris dan Nanda berada dilantai 25. Begitu tinggi bukan?. Karena hotel yang disediakan oleh pihak perusahaan hanya berlantai 30 saja. Sudah dipastikan biaya menyewa hotelnya pun sangat mahal. Karena fasilitas yang diberikan begitu mewah seperti hotel bintang lima.
"Mas aku pengen kesana..." tunjuk Nanda ketika Idris mendekat.
"Ke pulau Dewata?" tanya Idris mengikuti kemana arah jari telunjuk Nanda.
Di sana terlihat pulau yang luas. Membentang tanpa ada batas dan penyekat yang pasti. Langit bersih terlihat jelas dari lantai 25. Begitu indah.
"He'em... Ayolah... Kamu mau kan?" jawab Nanda dengan menganggukan kepalanya.
__ADS_1
"Iya udah ayo... Sekalian jalan-jalan juga..." balas Idris yang membuat senyum Nanda langsung mengembang.
Lalu Nanda memeluk Idris dengan erat. Idris pun sama. Ia membalas pelukan itu sambil sesekali mengecup puncak kepala Nanda. Setelah itu mereka berganti pakaian yang pas untuk pergi jalan-jalan.
"Kamu udah siap?" tanya Idris yang melihat pintu kamar mandi masih tertutup.
"Belum... Sebentar lagi..." jawab Nanda dari dalam kamar mandi.
Tak berapa lama Nanda keluar dengan pakaian berwarna hijau tosca yang menutupi seluruh tubuhnya. Lalu Nanda duduk dimeja yang terdapat kaca cermin didepannya. Kemudian Nanda mulai memakai hijab dengan warna senada seperti pakaiannya hanya saja terdapat motif bunga-bunga yang tak terlalu banyak disana. Membuatnya terlihat begitu cantik.
"Pak Hendi udah nungguin kita dibawah..." ucap Idris ketika Nanda selesai berdandan.
"Yuk... Aku udah siap..." ajak Nanda dengan begitu bersemangat.
Tak lupa pula Nanda membawa tas yang tak terlalu besar berwarna putih. Kemudian keduanya keluar dari kamar menuju lantai 1. Pastinya menggunakan lift agar lebih cepat sampai.
"Mari pak Idris..." ucap pak Hendi.
Nanda dan Idris masuk ke dalam mobil. Mereka duduk berdua dibelakang. Jari-jari Nanda terus mengait di jari-jari Idris. Saling menggenggam. Membuat pak Hendi tersenyum ketika mobil mulai berjalan ke arah jalan raya.
Sebenarnya pak Hendi datang lebih awal karena ia harus mempersiapkan semuanya seperti biasa. Pengalaman yang sudah pak Hendi dapatkan tentu tak bisa diragukan lagi.
"Silahkan pak... Ini sudah sampai..." ucap pak Hendi setelah 20 menit mengendarai mobil di jalan raya.
"Anda sudah sangat hafal pak Hendi..." puji Idris.
"Tentu saja... Dulu juga saya dan pak Anton pernah kesini beberapa kali... Jadi saya hafal..." ucap pak Hendi membalas pujian.
Kemudian Nanda dan Idris turun dari mobil. Angin berdesir menerpa wajah keduanya. Pak Hendi ikut turun sebagai penunjuk jalan. Dalam beberapa menit saja mereka sampai di pulau Dewata. Banyak orang disana baik laki-laki maupun perempuan. Begitu ramai.
"Kamu suka?" tanya Idris ketika mereka berjalan berkeliling.
"Suka banget..." jawab Nanda.
"Pak Idris tidak ingin berfoto?" tanya pak Hendi.
"Tentu saja... Kami sedang mencari tempat yang tepat untuk berfoto..." jawab Idris.
Pada saat yang bersamaan Nanda mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Kemudian ia memberikan ponsel itu pada pak Hendi. Tentu saja memintanya untuk menjadi fotografer sementara.
__ADS_1
Nanda dan Idris berjejer. Keduanya saling menampilkan senyum disana. Pak Hendi sudah siap dalam posisinya. Dan moment tersebut akhirnya tercetak jelas di ponsel Nanda. Berbagai macam gaya ada didalam foto tersebut. Setelah banyak menyimpan kenangan, Nanda dan Idris kembali melanjutkan perjalanannya berkeliling.
✨Gaes ketemu lagi nih. Maaf yah baru up soalnya banyak tugas dari sekolah. Jadi baru bisa up nih. Jangan lupa like dan Vote yah. Banyakin tinggal kenangan. wkwkwk. Sampai jumpa kembali di episode selanjutnya. Babay👋🤗. Semoga kalian terhibur😊✨