Istriku Seorang CEO

Istriku Seorang CEO
Episode 61


__ADS_3

✨ Mimpi✨


Hari demi hari terlewati mulai dari pembukaan kontrak di perusahaan Argo, pembangunan seperti yang sudah disepakati dan masih banyak lagi. Tak terasa sudah tiga minggu Nanda dan Idris menghabiskan waktu bersama di Bali. Keduanya hanya bertemu ketika sore hari bahkan jika salah satu diantara keduanya sibuk, pasti hanya bertemu dimalam hari saja.


"Nggak terasa yah mas sudah tiga minggu kita disini..." ucap Nanda sambil memeluk Idris di atas ranjang.


"Aku juga merasa waktu berjalan begitu cepat..." balas Idris.


Keduanya berpelukan diatas ranjang setelah seharian tak bertemu. Proyek kedua perusahaan pun berjalan dengan lancar. Walau terkadang Idris merasa sedikit terganggu ketika Ameera mendekatinya. Seperti kejadian tadi siang. Dimana Ameera merayu Idris agar berfoto bersama sambil berpelukan. Sungguh untuk itu Idris menolak.


"Ayolah tuan Zafran... Ini sebatas kontrak perusahaan..." rayu Ameera yang membuat Idris risih.


"Nona Ameera tolong jaga sikap anda..." ucap Idris dengan tegas.


"Apakah aku kurang cantik, tuan Zafran?" tanya Ameera.


"Tidak..." jawab Idris singkat.


Ameera tak pernah menyerah agar Idris tergoda. Tapi hasilnya tetap sama. Idris berpendirian teguh. Tak akan goyah. Janji tetaplah janji. Janjinya pada Nanda tak akan pernah Idris ingkari. Itu yang ada didalam pikiran Idris.


Kembali lagi dikamar hotel. Nanda bangkit dari ranjang lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badannya yang terasa lengket. Sedangkan Idris masih merebahkan tubuhnya di ranjang sambil menatap ke atas dengan tangan dibawah kepala dan menerawang jauh.


Tak terasa mata Idris perlahan tertutup. Nanda yang berada didalam kamar mandi, segera membersihkan tubuhnya dengan sabun yang wangi. Tak lupa pula ia menggosok giginya yang berjejer rapi dan putih. Dan satu hal yang tidak akan Nanda lewatkan yaitu mencuci mukanya agar terlihat bersih dan cerah.


"Ternyata dia ketiduran..." gumam Nanda ketika ia keluar dari kamar mandi.


Kemudian Nanda berjalan menuju lemari dan memakai bajunya. Lalu menghampiri Idris yang masih tertidur. Digoyangkannya tubuh Idris dengan perlahan, tetapi Idris tak kunjung membuka matanya. Salah satu cara paling ampuh yang Nanda miliki adalah mencium pipi Idris.


Cup.


"Mas... Ayo bangun..." ucap Nanda.


"Cium lagi..." ucap Idris dengan manja.


Cup.


"Udah... Ayo bangun... Mandi dulu sana..." ucap Nanda.

__ADS_1


Kemudian Idris bangkit dari ranjang dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Sekarang berganti dengan Nanda yang merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Sama seperti Idris, Nanda memejamkan matanya yang terasa begitu berat. Lalu masuk ke alam mimpi dengan cepat.


Didalam mimpinya Nanda sedang berada di rumah sakit bersama dengan seluruh anggota keluarga Firma. Semua lengkap. Tetapi Nanda merasa begitu aneh ketika mendapati semua orang tengah menangis di kursi lorong.


"Mereka semua kenapa menangis?" tanya Nanda sambil berjalan melewati keluarganya.


Tepat di pintu yang bertuliskan IGD, mata Nanda tertuju pada laki-laki yang tengah terbaring lemah diatas ranjang. Ada selang oksigen yang menutupi hidung mancungnya. Ya. Nanda sangat mengenal orang itu. Suaminya sendiri. Suaminya sedang terbaring dengan berbagai macam alat yang menempel di tubuhnya.


Senyum yang selalu terukir kini tak terlihat lagi. Wajah pucat itu membuat air mata Nanda mengalir begitu saja. Nanda melangkahkan kakinya mendekati pintu berkaca. Tangannya berusaha meraih tetapi tak bisa. Rasanya begitu jauh.


"Ada apa dengan mas Idris?" tanya Nanda dengan air mata yang mengalir sambil mengusap kaca IGD.


Para dokter dan suster sedang berkutat didalam ruangan. Nanda juga melihat bu Irma yang tengah menangis dengan kencang di samping bu Maryam. Semua itu terasa begitu nyata bagi Nanda.


"Mas..." ucap Nanda.


"Jangan pergi..." ucap Nanda lagi.


"Jangan tinggalkan aku sama anak kita..." ucap Nanda tanpa disadari.


"Nanda... Bangun... Sayang... Bangun..." ucap Idris sambil menggoyangkan tubuh Nanda.


Seketika Nanda terbangun dengan wajah yang penuh dengan air mata. Detik berikutnya Nanda langsung memeluk Idris dengan kuat. Idris pun terkejut ketika Nanda memeluknya. Tangis Nanda kembali terdengar. Tangan Idris terulur untuk mengusap punggung Nanda dengan lembut.


"Mas jangan tinggalin aku..." ucap Nanda disela tangisnya.


Rasanya ia begitu takut jika mimpi tadi adalah kenyataan. Nanda tak siap jika harus menerima kenyataan itu. Sakit. Sakit sekali.


"Kamu kenapa? Iya aku nggak bakalan ninggalin kamu... Kamu tenang aja..." tanya Idris sambil menangkup wajah Nanda.


"Kamu harus janji dulu... Kamu nggak bakalan ninggalin aku..." ucap Nanda dengan air mata yang masih mengalir di pipinya.


"Iya sayang aku janji... Sebenarnya kamu kenapa? Kamu mimpi buruk?" tanya Idris yang merasa khawatir dengan keadaan Nanda.


"Aku takut kamu ninggalin aku..." jawab Nanda yang kembali memeluk Idris.


"Udah... Udah..." ucap Idris sambil mengelus punggung Nanda dengan lembut lagi agar memberikan rasa tenang.

__ADS_1


Nanda pun melepas pelukannya. Wajahnya menunduk. Idris yang melihat hal tersebut langsung menangkup wajah istrinya. Mata mereka berdua bertemu untuk beberapa saat. Terlihat begitu jelas di mata Nanda bulir-bulir bening masih sedikit menggenang di sana. Dengan cepat tangan Idris bergerak untuk menghapusnya dengan perlahan.


"Udah jangan nangis lagi... Aku disini... Nggak bakal ninggalin kamu kok... Kamu tenang yah... Ayo minum dulu..." ucap Idris dengan nada yang begitu lembut.


Lalu tangannya terulur mengambil segelas air putih diatas meja kecil samping ranjang.


"Makasih mas... Aku cuman takut aja... Mimpi yang tadi itu seperti kenyataan mas..." ucap Nanda sambil menerima segelas air putih lalu meminumnya hingga habis. Kemudian Nanda memberikan segelas air putih yang sudah tandas pada Idris.


"Udah lupain aja... Yang penting sekarang kita tidur yah..." ajak Idris sambil meletakkan gelas tadi seperti semula.


"Iya ayo..." balas Nanda.


Keduanya berbaring sembari berpelukan. Wajah Nanda terbenam di dada bidang Idris yang tertutup kaos berwarna putih. Nanda kembali teringat mimpi yang tadi membuat air matanya kembali mengalir. Aliran itu membasahi kaos Idris.


"Udah... Jangan dipikirin terus... Nanti kamu sakit..." ucap Idris lalu mencium puncak kepala Nanda.


Perlahan tapi pasti air mata itu berhenti mengalir. Lalu mata Nanda tertutup seiring dengan gerakan tangan Idris yang mengusap punggungnya. Begitu menenangkan hingga membuat Nanda tertidur sambil memeluk tubuh Idris.


Pada hakikatnya Idris hanyalah orang biasa. Janji yang ia ucapkan pada Nanda agar tidak meninggalkannya selalu ada dipikiran dan dihatinya. Namun apa daya Idris jika yang maha kuasa berkehendak lain.


Ya. Tak ada yang tau kapan kematian akan menghampiri. Tetapi Idris akan selalu berdoa agar selalu dilindungi baik dirinya, istrinya maupun seluruh keluarganya. Itu yang selalu ada di dalam hati dan pikiran Idris.


"Aku akan selalu berdoa agar selalu bisa menemani kamu sayang... Baik susah maupun senang... Akan selalu berusaha untuk ada buat kamu... Aku sayang kamu..." ucap Idris diakhiri dengan satu kecupan di puncak kepala Nanda.


Cinta yang tak pernah Idris sadari tumbuh begitu saja. Berawal dari keterpaksaan hingga akhirnya takdir menyatukan. Siapa sangka jika seorang Nanda yang terkenal dingin sekarang dia berubah menjadi orang yang begitu ceria. Senyum yang jarang ia perlihatkan pada semua orang, sekarang semua orang pun dapat melihat dengan jelas senyum manis dibibirnya itu.


من يحبك لن يتركك ولو كنت شوقا بين يديه


"Orang yang benar-benar mencintaimu tidak akan pernah meninggalkanmu walaupun kau berupa duri yang berada digenggamannya."


By : Zafran Idris


✨Hallo gaes 👋✨


Alhamdulillah deh bisa ketemu lagi nih. Tenang aja deh kalian semua. Ada banyak episode yang masih misteri. Hehehe. Jangan bosan pokoknya. Tetap setia. Dan jangan lupa donk kasih Like dan Vote. Biar Author lebih semangat lagi. Kalian kan baik. Sampai ketemu disini yah. Dahhhh👋


✨Kalau kalian sampai ikut terharu berarti kalian hebat. Terima kasih para pembaca setiaku 🤗💙✨

__ADS_1


__ADS_2