
✨Salah Alamat✨
Nanda masih menangis dengan menangkup wajahnya yang basah karena air mata. Idris pun duduk di samping Nanda dengan memberi sedikit jarak.
"Aku ngga nyangka kamu bakal melakukan ini dibelakang aku mas..." ucap Nanda disela tangisnya.
"Sayang... Aku benar-benar ngga pernah melakukan dosa sebesar itu dibelakang kamu..." ucap Idris berusaha meyakinkan Nanda agar percaya.
Tak berapa lama terdengar suara bel berbunyi. Dengan segera Idris bangkit dan berlalu menuju pintu utama. Idris membuka pintu dan melihat siapa yang baru saja memencet bel rumahnya tadi.
"Assalamualaikum pak... Maaf menganggu waktunya..." ucap seorang pria dengan jas kerja berwarna abu-abu kepada Idris.
"Waalaikum salam pak... Iya tidak apa-apa... Memangnya ada apa yah, pak?" balas Idris dengan senyum yang selalu menyertainya. Kemudian Idris bertanya pada pria yang berada di hadapannya sat ini.
"Begini pak... Apa tadi siang sekitar jam 11 bapak menerima paketan seperti itu?" jawab pria itu sekaligus bertanya.
"Paketan? Tunggu sebentar yah pak..." jawab Idris lalu masuk ke dalam rumah untuk bertanya kepada Nanda.
"Siapa mas?" tanya Nanda.
"Ngga tau itu... Oh ya, apa tadi sekitar jam 11 siang kamu menerima paketan?" jawab Idris sekaligus menanyakan apa yang tadi ditanyakan oleh pria yang ada didepan rumahnya.
"Paketan? A-aku nerima kotak ini... Katanya buat kamu..." jawab Nanda.
Nanda segera keluar dari rumah dan mendapati seorang laki-laki yang tengah berdiri didepan rumahnya.
"Maaf pak... Bapak mencari paketan yang datang jam 11 siang?" tanya Nanda to the point.
"Iya betul... Apa mbaknya tau? Soalnya saya sudah menunggu sampai jam 2 tapi belum datang juga..." jawab pria itu sembari melirik jam tangannya.
"Nama bapak siapa?" tanya Nanda memastikan.
__ADS_1
"Saya Zulkifli Idris mbak..." jawab pak Ris dengan anggukan kepala.
"Jadi paketan itu milik bapak?" tanya Nanda.
"Boleh saya liat paketannya mbak?" dengan sopan pak Ris menanya balik.
"Boleh... Silakan masuk dulu..." jawab Nanda.
Idris merasa bingung dengan semuanya. Sedangkan Nanda mempersilakan pak Ris untuk masuk ke dalam. Dan benar saja ternyata kotak paketan itu milik pak Ris.
"Maaf pak... Saya juga tidak tau kalau bapak juga namanya Idris... Sama dengan suami saya..." ucap Nanda merasa bersalah.
"Tidak apa-apa... Memang biasa kurir itu sering begitu... Salah alamat seringnya..." balas pak Ris tersenyum.
"Ini dari istri bapak?" tanya Nanda.
"Iya betul... Istri saya bilang kalau dia mau kasi saya kejutan... Tapi saya tunggu ngga datang-datang jadi saya kesini siapa tau salah alamat... Ternyata betul itu salah alamat..." jawab pak Ris.
"Didepan rumah ini... Itu yang bercat abu-abu..." jawab pak Ris sembari menunjuk ke rumahnya.
Nanda menarik napas dalam-dalam. Ia merasa bersalah karena telah menuduh pada suaminya yang tidak-tidak. Ia juga merasa malu karena tak teliti dalam membaca.
"Kalau begitu saya minta maaf pak... Karena saya paketannya ngga jadi kejutan buat bapak... Sekaligus selamat yah pak..." ucap Nanda dengan malu-malu.
"Iya tidak apa-apa... Dengan ini kita bisa saling kenal satu sama lain... Soalnya saya juga baru pindah belum lama disini... Jadi belum banyak kenalan... Hehehe.. Terima kasih juga atas selamatnya mbak... Ya sudah saya permisi dulu..." balas pak Ris sambil bangkit dari sofa dengan tangan membawa kotak yang berisi testpack dan surat didalamnya.
Nanda dan Idris mengantar pak Ris hingga keluar rumah. Ternyata rumah yang sangat sepi itu masih berpenghuni. Hanya saja pak Ris jarang dirumah. Menjadikan rumah itu terlihat tak berpenghuni.
"Sekali lagi terima kasih... Assalamualaikum..." ucap pak Ris lalu keluar dari gerbang dan berjalan menuju rumahnya.
"Sama-sama... Waalaikum salam..." balas Nada dan Idris bersamaan.
__ADS_1
Nanda menunduk malu untuk menatap suaminya. Ia tak berani menatap mata Idris untuk saat ini. Idris yang tau soal itu langsung mengajak Nanda masuk ke dalam rumah.
"Mas aku minta maaf..." lirih Nanda sambil berhenti di ruang tamu.
"Udah sana kamu siap-siap... Aku tunggu disini..." balas Idris lalu duduk di sofa karena merasa lelah.
"Mas..." panggil Nanda lagi.
Seketika Nanda memeluk Idris yang tengah duduk disofa. Ia menjadi di dada Idris karena merasa bersalah. Kenapa ia bisa menuduh suaminya seperti tadi?. Nanda benar-benar menyesal.
"Mas aku minta maaf..." ucap Nanda.
"Iya udah aku maafin... Lain kali kamu harus teliti lagi... Jangan kaya tadi..." balas Idris mengusap air mata Nanda yang mengalir di pipi putihnya.
"Iya mas..." balas Nanda.
"Ya udah sana kamu siap-siap dulu... Udah mau jam tiga ini..." perintah Idris yang langsung diangguki oleh Nanda.
Dengan segera Nanda menuju ke kamarnya. Ia berganti pakaian dengan cepat. Sedangkan Idris merasa lega karena urusannya sudah selesai. Ia asik memainkan ponsel sambil menunggu Nanda selesai bersiap.
"Ayo mas aku udah siap..." ucap Nanda dengan senyum lebar di bibirnya. Walau wajah Nanda terlihat sedikit sembab akibat menangis tadi.
"Yuk..." ucap Idris bangkit dan pergi keluar rumah menuju mobil yang sudah terparkir cantik.
Mereka pun pergi ke rumah sakit tempat Nanda kontrol seperti biasanya. Kejadian tadi siang membuat Nanda sadar akan kesalahannya. Ia belajar dari kesalahan itu agar tak terulang lagi.
✨Hay gaes👋✨
Alhamdulillah hari ini bisa up. Semoga terhibur. Jangan lupa donk like and vote sebanyak-banyaknya yah. Hehehe. Biar Author tambah semangat nih. Jangan lupa juga donk baca karya baru Author.
Pluto's Eight Companions.
__ADS_1
✨Sampai bertemu di episode selanjutnya. Dahhh👋✨