Istriku Seorang CEO

Istriku Seorang CEO
Episode 50


__ADS_3

✨Malam itu✨


Malam itu adalah malam paling bahagia bagi Nanda. Sifat Idris yang selama tiga hari hinggap sekarang berubah. Sungguh rasanya Nanda ingin berteriak sekencang mungkin. Meluapkan rasa bahagianya pada semua orang.


Satu suapan Nanda terima dengan senyum yang terus mengembang dibibirnya. Sekarang berganti Nanda yang menyuapi Idris. Satu suapan Idris terima dengan tak henti-hentinya bersyukur.


"Terima kasih..." ucap Idris sambil mengunyah kue.


"Sama-sama..." balas Nanda.


Semua keluarga bersiap untuk mengambil momen bahagia itu. Disana ada ayah Rama, Omah, Naya, Alex, pak Anton, bu Irma dan Fika yang duduk disofa. Sedangkan Nanda dan Idris duduk bersama disatu sofa berbeda.


"Satu... Dua... Tiga..." ucap pelayan yang dipercayai oleh Nanda sebagai fotografer.


Cekrek


Berbagai macam pose ada di setiap foto. Menghiasi setiap senyuman dan kebahagiaan yang terpancar disana. Setelah selesai mengambil momen yang paling berkesan itu, seluruh keluarga memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya dikamar masing-masing.


"Mamah sama papah tidur dimana?" tanya Idris ketika ruang tamu mulai sepi.


"Aku udah siapin kamarnya kok... Deket kamar Omah..." jawab Nanda yang diangguki oleh Idris.


"Iya udah yuk ke kamar... Udah malam juga..." ucap Idris sambil bangkit dari sofa.


"Iya yuk..." balas Nanda.


Nanda dan Idris menaiki tangga menuju lantai dua dimana kamarnya berada. Lalu mereka berdua merebahkan tubuh bersama diatas ranjang. Lalu saling berpeluk mesra.


"Mas..." panggil Nanda dengan tangan yang melingkar di dada Idris.


"Hmm" balas Idris.


"Semoga di ulang tahun kamu yang ke 26 ini... Kamu terus dilimpahkan kesehatan, panjang umur, dan tentunya semoga kamu masih ditakdirkan sama aku sampai kita tua nanti..." ucap Nanda dengan air mata yang menetes dibaju kerja Idris.


"Aminnn... Makasih buat semuanya... Aku ngga nyangka kalau kamu bakal ngelakuin itu..." balas Idris.


"Kamu masih marah yah mas?" tanya Nanda disela pelukannya.


"Sedikit..." jawab Idris.


"Mas beneran masih marah sama aku?" tanya Nanda mendongak menatap wajah tampan suaminya.


"Hmmm" jawab Idris.


"Apa yang bisa aku lakuin supaya kamu ngga marah lagi sama aku?" tanya Nanda memeluk tubuh Idris lebih erat. Takut kehilangan.


"Cium..." jawab Idris yang membuat mata Nanda membulat.


"Kamu bohong yah?" tanya Nanda.


"Bener... Kalau ngga mau ya udah... Aku bakal marah lagi sampai besok..." jawab Idris yang membuat Nanda cepat-cepat bangkit dari ranjang.

__ADS_1


Idris merasa senang jika Nanda tau maksudnya. Dengan perlahan wajah Nanda mendekat. Deru napasnya menerpa wajah tampan Idris. Bibir manis Nanda menempel dipipi Idris menyisakan bekas lipstik yang tak begitu jelas disana.


"Udah..." ucap Nanda yang tak paham maksud Idris.


"Kurang..." ucap Idris meng-kode.


Kurang?. Pikir Nanda tak mengerti. Tiba-tiba Idris merangkulkan tangannya ke leher Nanda, sehingga tubuh Nanda kembali jatuh ke ranjang.


Tanpa aba-aba Idris mencium bibir Nanda sekilas. Membuat mata Nanda membulat. Terkejut?. Jelas.


"Sudah cukup..." ucap Idris dengan senyum dibibirnya.


"Kamu meng-kode yah?" tanya Nanda menebak.


Dengan cepat mata Idris memandang lekat ke arah Nanda. Dan mengangguk. Tanda Iya. Tawa Nanda langsung pecah ketika mengetahui maksud dari Idris.


"Kok kamu tertawa?" tanya Idris dengan heran.


"Kamu tuh lucu yah... Kalau mau tinggal bilang aja... Ngga usah pake kode..." jawab Nanda sembari menutup mulutnya menahan tawa.


"Bilang aja kamu yang nggak ngerti kan?" tanya Idris yang tak mau kalah.


"Ya karena kamu pake kode jadi aku nggak ngerti..." jawab Nanda.


"Iya udah... Sekarangkan kamu udah ngertikan?Jadi kita bisa mulai donk..." ucap Idris.


"Tapi... Pelan-pelan yah..." ucap Nanda yang masih merasa takut.


Dimalam itu mereka berdua menghabiskan sepanjang malam dengan bermain diatas ranjang. Tak ada lelah sedikit pun justru nikmatlah yang mereka berdua rasakan.


Hingga pada pukul dua pagi mereka baru berhenti. Lalu masuk ke dalam dunia mimpi dengan tubuh berpelukan tanpa adanya satu penghalang sedikit pun. Dan hanya selimut putih sebagai penutup tubuh polos itu.


04.00


Mata Nanda terbuka karena suara alarm. Tangan Nanda meraih jam tersebut lalu menekannya agar tak mengganggu tidur sang suami. Ya. Idris masih tertidur lelap dengan tangan berada diatas perut rata Nanda.


Nanda mengelus wajah Idris dan mengecupnya dengan perlahan. Tangan Idris yang mula ada di atas perut Nanda, pindah ke wajahnya. Menyentuh tangan Nanda dan ikut menciumnya dengan mata masih tertutup.


"Kamu udah bangun?" tanya Nanda terkejut.


"Udah..." jawab Idris dengan suara khas bangun tidur.


Nanda mendekatkan wajahnya dan menatap lekat wajah suaminya. Hanya untuk memastikan apakah suaminya tidak mengigau. Tak disangka tangan Idris meraih leher Nanda dan akhirnya terjadi persatuan kedua bibir.


"Terima kasih..." ucap Idris.


"Kamu tuh... Ayo bangun..." ucap Nanda dengan pipi yang bersemu merah.


Perlahan Idris membuka matanya setelah mendapatkan bonus pagi. Kemudian bangkit dari kasur menuju kamar mandi. Nanda yang sudah terlebih dahulu dikamar mandi, segera menyalakan air shower untuk mandi besar.


Setengah jam kemudian kedua pasangan itu muncul dengan wajah yang segar dan juga rambut yang sama-sama basah. Setelah mengeringkan rambutnya, mereka berdua berpakaian lalu sholat shubuh berjamaah.

__ADS_1


"Udah siap?" tanya Idris memastikan sambil melihat ke belakang.


"Udah..." jawab Nanda sembari membenarkan mukena barangkali ada rambut yang keluar.


Allahuakbar...


Dimulainya sholat shubuh dengan khusyuk. Sampai di penghujung sholat Idris pun mengucapkan salam.


Assalamualaikum...


Lalu Nanda mencium tangan Idris setelah berdoa. Nanda benar-benar tak pernah menyangka jika ia akan jatuh cinta pada lelaki tampan didepannya. Dulu ia sangat mencintai Rio, tetapi ketika mendengar penuturan salah satu orang kepercayaannya yang ditugaskan untuk memata-matai Rio, membuat Nanda sangat kecewa.


"Oh ya mas. Bulan depan aku akan ke Bali... Karena perusahaan punya kontrak disana..." ucap Nanda ketika ia duduk disofa bersama dengan Idris disampingnya.


"Bulan depan?" tanya Idris memastikan.


"Iya bulan depan..." jawab Nanda.


"Kalau begitu kita sama donk..." ucap Idris yang teringat jika ia juga punya kontrak di Bali.


"Bagaimana kalau kita berangkat bersama aja?" tanya Nanda memberi solusi.


"Boleh si... Tapi apa kamu nggak papa?" jawab Idris lalu bertanya.


"Ngga papa kok... Asalkan sama kamu..." jawab Nanda dengan senyuman yang menurut Idris sangatlah manis.


Lalu Idris menyandarkan kepalanya di paha Nanda. Pandangan keduanya pun bertemu selama beberapa saat. Nanda mengusap rambut Idris dengan lembut.


"Maaf yah buat semuanya..." ucap Idris dengan mata yang terpejam.


"Kamu nggak salah kok... Aku yang salah..." ucap Nanda yang asik mengelus rambut hitam Idris.


"Mulai sekarang kamu janji yah... Nggak bakal bohong lagi sama aku..." ucap Idris dengan sorot mata keseriusan.


"Iya aku janji..." balas Nanda diakhiri dengan ciuman dibibir Idris sekilas.


"Kalau kamu ada apa-apa... Kamu wajib ngomong sama aku... Jangan pendam sendiri... Aku itu suami kamu..." ucap Idris menasihati.


"Iya sayang..." balas Nanda.


Disaat itu juga kehangatan semakin terasa di hati Nanda. Dia mempunyai keluarga yang sangat menyayanginya dan juga suami yang selalu setia berada disampingnya dikala suka maupun duka.


"Ketika kau telah menghancurkan hati seseorang, tetapi dia masih berbicara kepadamu dengan penuh kelembutan. Dengan penuh senyuman dan tetap memperlakukanmu dengan baik. Sungguh, orang yang kau hancurkan hatinya itu adalah orang yang benar-benar tulus menyayangimu."


By: Zafran Idris 💙


✨Hallo gaess👋✨


Balik lagi nih yah... Gimana sampai sini ceritanya? Pokoknya saranku kalian nikmatin aja alurnya... Mau sedih mau bahagia itu serahin aja ke Author😊 Jangan khawatir deh... Oh ya. Jangan lupa donk dukung novel ini dan tinggalkan jejak... Like dan Vote... Sebagai tanda kalau kalian pembaca setia novel ini... Sampai ketemu di episode selanjutnya... Babay👋🤗


✨Salam pagi dari Author💙✨

__ADS_1


__ADS_2