Jalan Pulang

Jalan Pulang
100. ketemu sangat jenderal


__ADS_3

Pagi ini, dua hari setelah kepulangan Huda dan Komeng, Hazri kelihatan gembira. Senyum-senyum terus sejak subuh tadi. “Dek...,” dia memanggil istrinya.


Ami menghampiri suaminya di ruang tamu. “Iya, Mas, ada apa?”


“Dek, nanti Mas mau ke Jogja. Mungkin bermalam sehari dua hari,” kata Hazri kepada Ami yang duduk di sebelahnya.


“Tumben, Mas? Mau apa?”


“Ada urusan lama yang mesti Mas beresin.”


“Adek ikut nggak?”


Hazri menggeleng. “Kapan-kapan saja ya.”


“Ah, Mas mah.... Kapan... kapan-kapannya?” Ami merajuk.


Hazri tertawa kecil. “Nanti kalau urusan ini sudah beres. Janji. Mau ke mana juga Mas anterin.”


“Bener nih, Mas?” Bola mata Ami membulat. Maklum, sekian tahun menikah mereka belum pernah piknik jauh-jauh. Paling muter-muter Kota Magelang. Tapi, Ami tidak protes, tahu suaminya adalah ‘Pasak Bumi’ kampung Tidar.


Hazri mengangguk sambil tertawa lagi.


Ami pun tersenyum. “Adek nyiapin bajunya dulu ya....”


“Nggak usah banyak-banyak. Dua tiga stel saja.”


Ami mengangguk, lalu beranjak menyiapkan keperluan suaminya itu.


Hazri menghela napas panjang. Bakda subuh tadi, dengan isyarat-Nya, Allah mengizinkan Hazri untuk menunaikan niatnya yang telah tertunda sekian lama. Niat yang dulu itu, yang ‘tanpa sengaja’ mendamparkannya di tanah Tidar sebagai ‘Pasak Bumi’. Sesungguhnya, tidak ada kebetulan pada setiap kejadian. Maka, dia pun mendesah, “Ya Allah, aku milik-Mu....”


Usai mandi dan bersiap diri, tanpa sepengetahuan istrinya, Hazri menyusupkan pistol Colt 38, bundel dokumen, dan semua ‘duit darah’ yang tersisa ke dalam tas pakaiannya. Selama ini, barang-barang bersejarah itu disembunyikan di tempat aman. Dia yang membuat sendiri tempat rahasia itu, tidak ada orang lain tahu.


Siap berangkat. Berbaju koko putih lengan pendek dipadu celana jeans biru plus sepatu kulit hitam, tampanlah kelihatan buronan kakap ber-haqullah mursyid ini. Ami mesam-mesem. Hazri mencium kening istri dan putrinya. “Mas pergi sebentar ya, Dek...,” katanya. Ami mengangguk. Si Fia yang belum tahu persoalan terkekeh diciumi ayahnya. Baru meraung setelah melihat ayahnya pergi naik motor berdua saja sama Om Juki-nya. Kesal dia tidak diajak.


Hazri mau naik bus umum saja ke Jogja. Di sana nanti gampang pakai taksi. Sekian tahun tidak pernah menengok kota pelajar itu, agak lupa jalanannya yang penting Hazri sudah pegang informasi tempat tinggal Fahmi dari ikhwannya di Progo yang anggota polisi itu. Ternyata, Fahmi masih tinggal di rumahnya yang dulu. Ada rumah yang lain, tapi alamat tetapnya di situ. Sudah purnawirawan dia, jenderal bintang satu. Terakhir dinas di Mabes Polri.


Orang-orang yang sedang menunggu bus di dekat pasar Magelang itu ternyata banyak yang mengenalnya, walau Hazri tidak kenal mereka. Beken juga ternyata Haji Mahmud Doro ini. Hazri pun berbaur dengan mereka tanpa canggung. Orang-orang itu banyak yang menyapa Hazri. Bahkan, di dalam bus saat kendaraan itu sudah berjalan. Kebanyakan dari mereka menilai aneh terhadap Hazri yang naik bus umum, tidak membawa mobil pribadi. Tapi, itulah memang Hazri sekarang.


Bus terus melaju.... Akhirnya, sampai di terminal. Setelah saling beruluk salam dengan teman ngobrolnya sepanjang perjalanan tadi, mereka berpisah. Masing-masing punya keperluan sendiri. Hazri naik taksi, langsung meluncur ke arah rumah Brigadir Jenderal Polisi (Purn) Fahmi Putra di daerah Kata Baru.


“Nomor rumahnya berapa, Pak?” tanya sopir taksi.


“Saya nggak tahu, tapi saya tahu rumahnya. Ke arah Kota Baru saja. Nanti saya tunjukkan di sana,” jawab Hazri.


Sopir taksi yang potongan wajah dan namanya tipikal Jawa itu mengangguk. Tanpa banyak cakap lagi, dia pun menghela taksinya menuju sasaran.


Sudah banyak perubahan Kota Baru sekarang. Rumah mewah besar-besar berjajar rapi. Banyak kafenya juga. Taksi jalan melambat. Hazri melihat pertigaan tempatnya dulu menyatroni rumah Fahmi bersama Romi. Agak di depan sana tampak rumah berjendela delapan besar-besar. Hazri pun tersenyum.


“Berhenti di sini, Pak,” katanya.


Sopir taksi menepikan mobilnya.


“Tunggu sebentar ya..”


Sopir itu mengangguk.


Hazri turun. Bel di pintu pagar itu dipencet.


Seorang remaja laki-laki muncul dari pintu samping. “Cari siapa, Pak?”


“Betul di sini rumahnya Pak Fahmi Putra?”


“Iya. Bapak siapa?”


“Saya Hasanuddin, kenalan lamanya Pak Fahmi. Beliau ada?”


“Ada.” Anak muda itu membukakan pintu. “Silakan masuk.”


“Terima kasih. Sebentar saya bayar taksi dulu.”


Hazri membayar ongkos taksinya, lalu segera melangkah masuk.


“Silakan duduk, Pak. Saya kasih tahu Bapak dulu.”


Hazri mengangguk. Dia duduk menunggu di teras depan rumah mewah ini. Tampak seorang tukang kebun sedang merawat tanaman di halaman. Apa kabar Kang Tejo? Apa kabar Mbok Ijah?


Tidak berapa lama, terdengar langkah kaki menuju pintu depan, Hazri bersiap, dia sudah berdiri sebelum pintu dibuka. Ternyata langsung Fahmi yang muncul.


“Assalamu’alaikum...,” sapa Hazri sambil tersenyum.


Fahmi terpana, matanya menyipit. Salam Hazri lupa dibalas.


“Assalamu’alaikum, Cak,” buronan ini menyapa lagi.


“Eh, wa’alaikum salam...,” sahut Fahmi.


“Hazri...?”


“Iya, Cak.”


“Benar Hazri ini?” Fahmi seperti belum percaya.


“Hahaha. ..,” Hazri tertawa pelan, tapi bertenaga dalam. Langsung diarahkan ke gendang telinga Fahmi.


“Aih...,” Fahmi menutup kupingnya. “Hazri...? Hei...! Masuk, masuk. Ayo...” dia menarik tangan Hazri. Buronan itu pun melangkah masuk sambil mesam-mesem.


Duduk berhadapan mereka sekarang. Hening lagi.... Fahmi kembali diam, matanya menatap tajam Hazri. Ya sudah, sekalian saja Hazri balas menatap.


“Aih...,” Fahmi langsung mengucek-ngucek matanya yang perih. “Kenapa mataku?” dia bertanya sambil sibuk menyusut air matanya dengan tisu yang tersedia di meja tamu.


Hazri tertawa kecil. “Tidak apa-apa, Cak...”


“Jadi, benar ini si Biang Kerok?” tanya Fahmi sambil mengambil tisu lagi.


“Betul sekali, Cak. Kenalkan, Hasanuddin Azhari, Jombang, juru parkir. Alias, Hazri Tiger, hehehe...”


Fahmi meringis. “Sialan, benar-benar kau rupanya....”

__ADS_1


Hazri terus tertawa. Terpaksa Fahmi ikut terkekeh.


Pembantu rumah tangga Fahmi muncul membawakan suguhan.


“Terima kasih, Bu,” ucap Hazri kepada -perempuan yang belum terlalu tua itu.


“Sama-sama, Pak,” dia tersenyum lalu beranjak.


“Tidak ada alkoDayl di sini. Adanya itu. Jangan protes.. ,” kata Fahmi.


Hazri tertawa lagi. “Es jeruk pun bisa jadi alkoDayl kalau diminum tanpa hak-Nya...”


“Heh? Apa maksudmu?”


“Minum doang, tidak sama ingat-Nya...”


Kening Fahmi berkerut. “Berfilsafat nih ceritanya?”


Hazri menggeleng. “Bahkan, filsafat pun bisa jadi seperti es jeruk tadi.”


Fahmi meringis. “Lama tak jumpa. Muncul-muncul, pujangga....”


“Ah, tetap buronan kok...,” Hazri ngeles sambil cengar-cengir.


“Hahaha.... Terserahlah. Sekarang, apa maksudnya semua ini?”


“Tidak ada maksud apa-apa, Cak. Saya ke sini bukan karena saya, saya kabur bukan karena saya. Saya jumpa Cak dulu bukan karena saya, masih bisa ketemu lagi sekarang pun juga bukan karena saya. Sesungguhnya, saya tidak ada. Maka, saya pun tak punya hak apa-apa.”


“Wah, apa itu? Segala bukan saya, segala tak punya apa-apa?”


“Hehehe.... Itu namanya Qulhu Allahu Ahad, bahwa Allah itu Setunggalnya Tunggal. Habis perkara.”


Kening Fahmi kembali berkerut. Hazri mesem mengeluarkan tasbih marunnya. Lalu, dipilin-pilin syahdu seperti biasa. Mantan jenderal polisi ini memperhatikan.


“Eemm, tadi itu hakikatnya, Cak. Kalau syariatnya, saya ke sini mau minta maaf atas apa-apa yang terjadi dulu di antara kita. Mungkin saya sudah sedikit merepotkan Cak Fahmi.”


“Kata siapa sedikit? Buanyaak, hahaha...,” Fahmi tertawa. Entah kenapa tiba-tiba hatinya gembira.


“Kalau begitu, saya tambah lagi permoDaynan maafnya.”


“Hahaha...,” Fahmi ngakak. “Hazri, Hazri.... Coba ceritakan, ke mana kamu selama ini? Pokoknya saya pengen dengar semuanya, yang sebenarnya. Jangan khawatir, saya sudah pensiun.”


Hazri tersenyum. “Benar Cak Fahmi mau dengar ceritanya?”


“lya. Semuanya, sejujurnya. Sungguh mati aku jadi penasaran...,” jawab Fahmi, mengutip lirik lagu RDayma Irama.


Hazri terkekeh sebentar. Lalu, diam terpekur sambil terus memilin tasbihnya. Aroma wangi serupa buhur itu pun menyeruak hadir, walau tanpa buhur. Hazri sudah biasa dengan ini, sering muncul, terutama kalau sedang tafakkur. Bisa di mana saja, di masjid, di kandang, bahkan di bus dan di taksi tadi.


“Wangi apa ini?” Fahmi berkata sambil mengendus-endus.


Kasus khusus rupanya kali ini. Biasanya hanya Hazri, selam Pak Subakir dan para ikhwan jadug, yang bisa merasakan. Bocor mungkin reaktornya. Allah, Hazri mengucap dalam hati. Bles, seketika aroma harum itu lenyap dari penciuman Fahmi yang di Hazri tetap ada.


“Wah hilang sekarang...” Fahmi bergumam. “Kau kecium nggak barusan?”


Hazri mengangguk. “Syukurlah kalau Cak juga bisa merasakan.”


“Segalanya Dia.”


“Maksudmu?”


Hazri tidak menjawab, senyumnya saja yang makin lebar. “Cak masih mau dengar ceritaku nggak?” dia bertanya. Biasa, pengalihan topik.


“Iya, iya. Soal harum ini juga ya. Pokoknya semua.”


Hazri pun terkekeh lagi, lalu bercerita...


Kisah dimulai dari pertemuannya dengan Day, kesepakatan yang ada, sampai kecurangan yang dilakukan Day bersama komplotan Kapri. Selanjutnya Hazri menceritakan tentang penyerangan Blandogan, Kampus Orange, juga pemenggalan kepala Day. Demikian pula bentroknya saat penyergapan yang dilakukan polisi, pelariannya dan bersembunyi di atas kapal, turun lagi ke darat, sampai sekarang. Semuanya diceritakan Hazri, namun Hazri tetap merahasiakan beberapa nama yang bahaya keselamatannya bila disebut.


Fahmi serius menyimak.


“Sekarang, aku beternak merpati untuk menafkahi keluargaku. Namaku Mahmud di sana. Jadilah dipanggil Mahmud Doro gara-gara itu.”


“Hahaha..., Mahmud Doro, hahaha.... Doro itu merpati, kan?” Fahmi tidak menahan tawanya saat tahu sekarang bahwa Tiger jadi Doro.


Hazri mengangguk.


“Kalau sudah Doro, nggak pegang preman lagi dong kau di sana?” tanya Fahmi kemudian, di ujung tawanya.


Hazri menggeleng mesem. “Beternak saja.”


“Merpati apaan sih?”


“Merpati potong..”


“Yang buat penyetan-penyetan itu?”


Hazri mengangguk.


Fahmi menghela napas, membayangkan kehidupan Hazri di sana. Beternak merpati potong untuk warung penyetan pasti jauh dari glamour. Kasihan juga. Padahal, kalau mau bisa saja Hazri jadi pentolan preman disana. Apa susahnya? Pukulan kilat bisa, kebal peluru iya. Menghilang pun jago. Buktinya, sekian tahun dia gagal meringkusnya. Padahal, sudah dibantu polisi serepublik ini. Sampai pensiun.


“Cukup apa itu, Zri?” tanya Fahmi.


“Yah, dicukupkan sajalah, Cak.”


Fahmi mengangguk-angguk.


“Ini keluarku yang pertama, Cak, sejak di sana...,” lanjut Hazri.


“Hah? Sebentar, sebentar..., yang kau maksud nggak bisa keluar itu bertahun-tahun juga lamanya?”


“Iya.”


“Maksudmu, kau di sana terus begitu? Kayak waktu di kapal?”


“Ada, turun ke kota sekali-sekali, jalan-jalan naik motor sama anak istri. Kalau asli keluar Magelang, inilah yang pertama.”


“Busyet...,” Fahmi geleng-geleng kepala. “Berapa lama itu?”

__ADS_1


“Sepuluh tahunan ada.”


“Busyeeet...,” gelengan kepala Fahmi tambah cepat. “Dua tahun lewat di laut, sepuluh tahunan di darat.... Dua belas tahun lebih ya? Gila, edan kau, Zri..”


Hazri meringis. “Nggak edan-edan amat kok, Cak.”


“Ah, bisa aja kau. Kalau bukan edan, apa namanya? Sedeng?”


Terpaksa Hazri tertawa karena Fahmi tidak percaya, Ya sudah, biarkan saja.


“Jadi, inilah aku, Cak. Turun dari bus tadi, langsung naik taksi ke sini. Cak Fahmi yang pertama kukunjungi. Kalau ikut logika, mestinya aku jangan ke sini ya? Bahaya, nanti malah disergap kayak Pangeran Diponegoro, hehehe...”


Fahmi nyengir. Jujur, terbit salutnya kepada buronan ini.


“Atau, jangan-jangan Brimob sedang ke sini?” canda Hazri lagi.


Fahmi terkekeh. “Aku sudah pensiun, bukan tugasku lagi itu.”


“Aaah, Hazri Tiger loh nih...,” Hazri mengedip mata.


Fahmi makin terkekeh. “Entahlah. Aku nggak mau komentar.”


“Jadi, aku aman ceritanya?”


“Tau ah, hahaha....”


Hazri pun ikut tertawa.


Jeda sejenak, nyeruput eo’ dan menyulut rokok.


“Kok sepi dari tadi, Cak? Istri sedang keluar?” Hazri buka obrolan lagi.


“Memang sepi, Zri. Aku sendirian sekarang,” Fahmi menjawab pelan. Sesaat sinar matanya meredup.


Kening Hazri berkerut, menunggu kelanjutan.


“Aku sudah cerai...,” lanjut Fahmi.


Hazri menghela napas. Hening pun menyergap.


“Kami memang sudah sering bertengkar menjelang aku pensiun. Biasa, soal penghasilan. Waktu itu kan aku sudah tidak pegang jabatan strategis lagi, namanya juga detik-detik terakhir. Nggak tahan kayaknya dia nggak punya duit. Begitulah. Perang terus kami setiap hari. Saat aku pensiun, puncak juga keterlaluannya. Selingkuh sama pengusaha kemarin sore. Anakku bungsu yang mergokin mereka. Ya sudah, kupecat sekalian. Bagus nggak kutembak mereka. Pengennya gitu, untung masih ada sadarku...,” Fahmi menghela napas panjang.


“Anak-anak?” tanya Hazri sesaat kemudian.


“Si sulung di Batam sama istrinya. Kerja. Yang bungsu, cewek, di sini. Belum balik kuliah. Repot juga ngawasin itu anak...,” Fahmi mesem. “Pacarannya kenceng, mana cowoknya model jambul kakaktua semua.”


Hazri terkekeh.


“Anakmu laki atau perempuan?” tanya Fahmi.


“Perempuan.”


“Nah, siap-siaplah kau nanti ngusirin kakaktua juga ya.”


Hazri terkekeh lagi. “Masih lama, Cak.”


“Sama saja. Yang akan datang malah model burung unta, hahaha....”


Mereka pun tertawa-tawa.


“Jadi, sekarang apa kegiatan, Jenderal?”


“Bengong dan bingung...”


“Masak? Jenderal kok bingung. Bisnis-bisnis mungkin?”


Fahmi menggeleng.


“Bingungin apa sih, Cak?”


“Setelah sampai di titik ini, terus apa sebenarnya semua ini?”


Hazri mesem. “Hampa rasanya ya? Seperti bukan semua ini yang dimaksud. Ada yang lebih luhur. Entah apa, pokoknya ada dan bukan ini, Begitu, kan?”


“Kok kau tahu?” Fahmi menatap Hazri.


“Aku kan mengalami juga, Cak. Hakikatnya sama, walau sababiah-nya lain-lain. Beda kasus, sama makna.”


“Apa maknanya?” kejar Fahmi.


“Bahwa manusia ternyata tak berdaya. La haula wala quwata illa billah, tiada daya dan kemampuan tanpa Dia. Sesungguhnya kita ini memang tidak ada. Alam semesta pun tak pernah dicipta, hehehe....”


Fahmi terperanjat. “Kata siapa itu, Zri? Kan jelas-jelas ada ini?”


“Kata saya,” Hazri mengulum senyum.


Fahmi menatap Hazri. “Coba jelaskan. Sejelas-jelasnya.”


“Siap, Jenderal...,” Hazri nyengir.


Terpaksa Fahmi meringis.


“Cak, kalau manusia tiada berdaya apa-apa tanpa Dia, maka sejatinya siapa yang ada? Masih beranikah kita mengaku diri kita ada walau tanpa mampu apa-apa? Coba lihat, apa sih yang kita punya? Tanahnya punya Allah, udaranya punya Allah, airnya punya Allah, apinya punya Allah, matanya punya Allah, kupingnya punya Allah, lidahnya punya Allah, darahnya punya Allah, bahkan ruhnya pun punya Allah. Semua ini milik Allah. Kita ini fakir, tidak punya apa-apa karena memang tidak ada, hehehe....”


Fahmi terhenyak, duduknya menegak. Diam menatap Hazri. Bingung kayaknya ‘ditembak’ Allah Allah begitu.


“Kenapa, Cak? Nggak percaya?”


Fahmi tidak menjawab. Matanya masih menatap Hazri, sementara tangannya memain-mainkan sebatang rokok yang belum disulut.


“Kalau Rahasia Ilahi yang ada dalam diri Cak diambil kembali oleh Pemiliknya, kujamin Cak tidak akan bisa melintir rokok seperti itu...,” kata Hazri tanpa diduga. “Iya, kan?”


Fahmi mengangguk-angguk. Agak ketangkap maksudnya.


“Jadi, siapa sebenarnya yang sedang berbuat melintir rokok itu?”


Fahmi melongo, tidak bisa menjawab. “Siapa, Zri?” Penasaran dia.

__ADS_1


“Sang Dalanglah. Kita ini kan cuma wayangnya.”


__ADS_2