
Jam dua siang keesokan harinya Hazri sudah stand by di restoran padang milik Sabri. Telepon-teleponan dengan Huda tadi, mereka sepakat ketemu di sini. Huda masih ada sedikit urusan dokumen muatan di kantor pasar. Sambil menunggu, Hazri makan siang dulu.
Muncul lagi. Seperti tidak ada bosannya televisi menyiarkan berita kejadian Gondokusuman hampir seminggu lalu itu. Entah sudah berapa kali tayang sejak pagi tadi. Diam-diam Hazri mengamati situasi, tidak ada seorang pun yang curiga padanya di restoran ini. Tidak juga dua polisi pasar yang sedang makan itu. Tidak ada yang menduga kalau dialah Hazri Tiger yang ramai diberitakan.
“Assalamu’alaikum...,” sapa Huda. Muncul juga dia.
“Wa’alaikum salam,” balas Hazri. “Beres?”
“Bereslah. Sudah lama?”
“Belum, makan juga belum selesai. Ayo sekalian, Pak Haji.”
Huda tersenyum dipanggil Pak Haji di depan umum oleh Hazri. “Uda, minta piring...,” dia berseru ke pelayan restoran Padang. “Belum datang Imam...,” Huda celingak-celinguk, lalu menelepon mantan ABKnya itu. Ternyata, Imam sedang menuju ke pasar, hampir sampai. “Piringnya dua sekalian...,” dia berseru lagi ke pelayan restoran tadi.
Huda melirik-lirik dua polisi pasar yang duduk hanya selisih dua meja di samping mereka. Melihat itu, Hazri menggeleng kecil. Huda paham, dia pun kembali tenang.
Tidak lama kemudian Imam tiba. “Maaf, Pak Haji, telat saya ya?”
“Telat sekali, hahaha.... Aku juga baru tiba,” kata Huda. “Kenalkan, ini Pak Arif, sahabat lamaku.”
Hazri dan Imam bersalaman, saling berkenalan.
“Pak Arif, dia ini dulu pelaut ulungku. Ombak macam apa diterjang. Eh, nggak tahunya kalah sama perempuan...,” Huda mencandai Imam.
Imam tertawa. “Istri nggak mau ditinggal-tinggal terus, Pak Arif.”
Hazri tersenyum. “Memangnya kalau ditinggal berlayar berapa lama, sih?” dia bertanya. Penasaran juga.
“Normalnya setahun ketemu dua kali-lah,” jawab Imam.
“Pantas...,” Hazri berkomentar pendek.
Huda tertawa-tawa. “Sampai karung barang pun kelihatan cantik. Montok betul, hehehe.... Iya kan, Mam?”
Mereka tertawa-tawa. “Ayo makan dulu...,” ajak Hazri kemudian.
Mereka bertiga pun makan dengan lahap. Huda pesan jus jambu, Imam minta teh botol dingin saja untuk minumnya
Selesai makan mereka ngobrol ringan sebentar.
“Intinya begini, Mam, Pak Arif mau ikut aku berlayar. Pengen tahu kehidupan laut katanya...,” kata Huda. “Jadi, beliau ini mau titip mobilnya ke kamu. Tadinya mau dijual. Tapi sayang, kan?”
“Iya, Pak Haji, harga sedang jelek...,” kata Imam.
“Nah makanya itu, bisa nggak kau pegang amanat?”
Imam mengangguk mantap. “Beres, Pak Haji. Memangnya mau berapa lama berlayar, Pak Arif?” dia bertanya ke Hazri.
“Bisa dua tiga minggu, bisa dua tiga bulan. Bisa juga dua tiga tahun...,” Huda yang menjawab.
“Hehehe.... Hati-hati, karung jadi cantik, Pak,” canda Imam.
Hazri dan Huda tertawa. “Mobilnya boleh saya pakai nggak, Pak Arif?” tanya Imam kemudian.
“Silakan saja. Surat-suratnya lengkap,” jawab Hazri.
“Enak betul kau, Mam. lya nggak?” tanya Huda.
Imam mengangguk senang. “Terima kasih, Pak Arif.”
“Sama-sama,” jawab Hazri.
“Apa bisnismu sekarang?” tanya Huda lagi.
“Kecil-kecilan, Pak Haji, buka toko sembako...,” jawab Imam.
“Bagus itu. Bisa ganti oli dong?” canda Huda.
“Bisa, Pak Haji, tenang...,” Imam meringis.
“Kalau gitu beres nih...,” kata Huda sambil melihat arloji. “Ya sudah, gitu saja, Mam. Kita sudah mau berangkat.”
Imam mengangguk.
Hazri memanggil pelayan restoran.
“Biar aku yang traktir...,” kata Huda saat melihat Hazri hendak membayar.
Beres bayar-bayaran, mereka menuju Panther merah di parkiran depan restoran, Hazri menyerahkan kunci kontak dan STNK mobil itu kepada Imam.
“Terima kasih, Pak Arif. InsyaAllah saya jaga amanat ini,” kata Imam saat menerima kunci kontak dan STNK.
__ADS_1
“Sama-sama, Pak Imam. Saya juga terima kasih...,” balas Hazri.
Imam menjabat tangan Hazri dan Huda lalu segera membawa pergi mobil itu. Senang betul hatinya dapat mobil gratisan, sebab dia memang sedang perlu kendaraan untuk angkut-angkut barang sembako.
“Ayo...,” ajak Huda.
Mereka berjalan kaki menuju mobil truk yang telah siap dengan segala muatannya. Ada tiga truk yang akan berangkat. Hazri sengaja naik di belakang bersama muatan. Sekalian bersembunyi. Truk pun melaju kencang, tujuan mereka adalah Pelabuhan Tanjung Mas di Semarang. Kapal Phinisi milik Haji Huda sudah siap menanti mereka.
Lima jam perjalanan, akhirnya tiba juga di Pelabuhan Tanjung Mas.
“Wah, lebih besar dari punya Haji Sulton...,” komentar Hazri setelah melihat kapal milik Huda itu.
“Hadiah pernikahan, hahaha....”
“Sialan. Sudah dikasih anaknya, dikasih kapal pula.”
“Salah sendiri ditunggu-tunggu nggak muncul. Reni?”
“Ah, jangan mulai lagi kau....”
“Hahaha...,” Huda ngakak. “Tunggu saja nanti kalau karung-karung beras itu tampil menggoda, hahaha....”
Hazri juga tertawa sambil naik ke atas kapal.
“Dasim! Kelar?” teriak Huda ke Dasim, ABK seniornya.
“Belum, Bos, sedikit lagi...,” balas Dasim.
“Hud, basa-basinya nanti saja ya. Aku lelah sekali...,” kata Hazri. Tahu berada di tempat yang aman, tiba-tiba Hazri merasa sangat lelah.
“Oke, oke. Santai saja, Rif....” Huda membawa Hazri ke kabinnya. Seperti kapal Haji Sulton, di sini juga ada dua tempat tidur. Lebih besar karena ukuran kabinnya juga lebih besar. “Tidurlah dulu yang nyenyak. Itu kamar mandi...,” Huda menunjuk sebuah pintu dekat situ.
“Sori ya, Hud, aku benar-benar lelah...,” kata Hazri rada tidak enak.
“Halah, santai saja. Tapi, aku ke anjungan dulu ya.”
Hazri mengangguk, Huda pun balik ke anjungan.
Setelah Huda pergi, Hazri menutup ‘Cakra Buana’ yang telah sekian lama terpasang terus-menerus di tubuhnya. Pless... Seolah tenaganya copot dari tubuh saat ajian tertinggi silat Ki Ageng itu undur diri. Baru terasa sekarang, ternyata luar biasa lelahnya fisik Hazri ‘Cakra Buana’-lah yang menopangnya selama ini. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Hazri masuk ke kamar mandi membasuh, muka. Lalu, segera kembali ke kabin dan langsung menggeletakkan diri di atas dipan. Tidur.
Pulas, bablas....
\=====
Hazri bangkit, duduk di tepian tempat tidur sambil melihat arloji. Dari tanggal hari ini yang ditampilkan arlojinya, berarti dua hari dua malam dia tidur. Baju dicium, geleng-geleng kepala. Baunya.... Hazri pun bergegas masuk kamar mandi. Mandi sepuasnya tanpa was-was lagi. Sempat nyanyi-nyanyi pula di dalam kamar mandi.
Sudah rapi sekarang. Dia beranjak naik ke dek atas. Hari telah menjelang sore. Dilihatnya Huda sedang pegang kemudi di anjungan. Huda juga melihat kemunculan Hazri. “Hoei, Pak Arif, sini....” panggilnya sambil melambai. Hazri balas melambai lalu berjalan ke sana.
“Pulas betul tidurnya Pak Arif ini...,” sapa Huda sambil tersenyum.
“Iya, maaf. Berhari-hari nggak bisa tidur sih,” Hazri juga tersenyum.
“Dasim, kenalkan. Ini Pak Arif sahabatku waktu seumur kau ”
Hazri dan Dasim bersalaman.
“Makan dulu yuk...,” ajak Huda.
Hazri mengangguk. Memang lapar betul dia.
“Dasim, pegang kemudi.”
“Siap, Pak Haji,” jawab Dasim.
Huda dan Hazri beranjak ke dapur. Usai makan mereka duduk-duduk ngobrol di dek buritan yang ada tudungnya. Di situ, Huda menyampaikan beberapa aturan kapal sesuai amanat Haji Sulton, daripada Hazri salah sangka nantinya.
“Pertama, Rif, dilarang bawa perempuan...,” kata Huda sambil melirik Hazri.
Hazri mesem-mesem.
“Kedua, dilarang mabuk.” Hazri tambah mesem.
“Ketiga, nggak boleh judi....”
Hazri pun tertawa. “Taruhan panjat tiang termasuk judi nggak?”
Huda mikir sebentar sambil nyengir. “Kukira nggak itu....”
“Kok bisa?”
“Taruhannya kecil sih.”
__ADS_1
“Kalau gede?”
“Halah, pokoknya gitu peraturannya dari Mertua.”
Mereka tertawa-tawa. “Terus yang kedua apa maksudnya? Mabuk laut apa mabuk minuman?” tanya Hazri lagi. Bercanda.
“Minumanlah.”
“Kalau minum, tapi nggak mabuk?”
Huda mikir lagi. “Tetap saja nggak boleh. Kan sudah minum, berarti haram.”
“Kalau gitu mestinya dilarang haram, bukan dilarang mabuk, hahaha....”
Terpaksa Huda ikutan tertawa. “Yang nomor satu paling unik...,” Hazri mulai lagi. “Kalau nggak dibawa, tapi perempuannya ikut sendiri gimana? Lagian, di mana dapat perempuan di tengah laut begini? Putri duyung?”
Huda cengengesan.
“Terus, kalau gara-gara itu karung jadi menggiurkan, siapa yang salah?”
Huda makin cengengesan. “Susah ngomong sama calon menantu gagal ini. Protes langsung ke Haji Sulton sana...” katanya kehabisan kata-kata. “Repot debat sama jawara.” Dia tertawa-tawa.
Hazri terus tertawa. “Kalau nembak dilarang juga?”
“Hah, ya.... Boleh kalau itu. Boleh sekali, hehehe...”
“Tanya dulu ke Haji Sulton,” goda Hazri.
“Nantilah, kalau ketemu....” Huda masih terkekeh. Lalu, beranjak mengambil pistol. “Pelurunya di mana?”
“Ada di tasku.”
Sebentar kemudian Huda sudah balik ke dek itu sambil menenteng pistol dan sekotak peluru. Beberapa ABK melihat, tapi tidak ada yang berani komentar. Huda duduk di sebelah Hazri ambil posisi.
“Buka kunci pengaman, periksa magasin...,” Hazri memberi arahan.
Selanjutnya, acara latihan nembak itu sangat seru. Huda bersemangat, meski berkali-kali gagal menembak sasaran papan. Latihan terus berlanjut sampai benar-benar Huda bisa.
“Makasih, Rif,” kata Huda setelah dirasa latihan cukup.
“Sama-sama, Haji.”
Huda menghela napas senyum-senyum. “Komeng, maghrib, adzan...,” serunya ke Komeng yang biasa jadi muadzin di kapal ini.
“Ayo, Rif, kita jamaah maghrib...,” ajak Huda.
“Eh, iya. Ayo, ayo...,” Hazri gelagapan. Shalat? Kapan terakhir dia shalat? Dua belas tahun ngemplang, apa masih ingat bacaan dan gerakannya? Hazri garuk-garuk kepala. Tapi, melihat Huda dan semua ABK menuju tempat wudhu maka dia pun terpaksa ikut. Masak tidak?
“Allabu Akbar... Allaaaaaahu Akbuaar...,” Komeng mengumandangkan adzan dari dek tempat latihan nembak tadi. Seorang ABK yang lain menggelarkan tikar.
Darah Hazri mendesir. Di tengah samudra dia kini, diburu polisi seantero negeri.... Sungguh, nama Tuhan serta-merta menggetarkan kalbunya. Hazri terpekur, matanya berkejap-kejap. “Allah...,” dia mendesah pelan, Bola mata pun berkaca-kaca tanpa diminta.
“Sudah wudhu?” Huda berdiri di sampingnya.
“Belum. Ini baru mau. ..,” jawab Hazri, langsung beranjak ke tiga pancuran kecil yang ada dekar situ. Malu kalau ketahuan matanya basah.
Diam-diam Hazri mencontoh seorang ABK yang sedang wadhu. Lupa-lupa ingat urutannya.
“La illaaa ha illallaaah...,” Komeng mengakhiri adzannya, langsung lanjut ke iqamat. Semua jamaah pun berdiri, termasuk Hazri.
“Pak Arif, silakan jadi iman!” Huda mempersilakan.
Jelas Hazri menolak. “Pak Haji lebih pantas..,” kilahnya
Huda tersenyum, ia pun maju jadi imam.
“Ushalli fardhal maghribi tsalasa roka’aatim mustakbilal kiblati adaan makmuman lillahi ta’ala..,” desah Hazri pelan, tanpa sadar. Kaget sendiri, karena tidak merasa sengaja mengucapkan niat shalat maghrib itu. Benar pula ucapannya.
“Allah Akbar,...” Huda bertakbiratul ihram.
“Allahu Akbar,..,” jamaah mendesah mengikuti, termasuk Hazri. Lalu, ada yang bergetar dalam hati biang preman ini.
Sepanjang shalat itu, Hazri mati-matian menahan air matanya yang tiba-tiba serasa berkumpul semua di rongga kepalanya minta tumpah. Dag dug dag dug dag dug... Jantung berdebar kencang. Napas saling mengejar. Sampai tidak sanggup dia untuk sekedar menjawab “Amiiinn...” di penghujung bacaan al-Fatihah.
Rakaat terakhir, debur jantung semakin tidak keruan, tubuh Hazri pun bergetar pelan, keringat bercucuran, napas kejar-mengejar..., “Allah, Allah, Allah, Allah, Allah, Allah, Allah...,” hanya itu yang berdetak nyata dalam dirinya.
“Assalamu’alikum warahmatullah...,” Huda mengucapkan salam, menengok ke kanan lalu ke kiri. Shalat berjamaah ini pun usai sudah. Hazri langsung bangkit menuju tempat wudhu, air matanya ini... Daripada ketahuan, lebih baik cepat dihapus dengan membasuh muka. Lalu, dia segera balik ke mushala, turut mengamini doa yang sedang dipanjatkan Huda.
Secuil Kopi
Bagian-bagian kapal Pinisi
__ADS_1