Jalan Pulang

Jalan Pulang
113. usai sudah


__ADS_3

Usai makan malam, Sulton mengajak Hazri ke rumah panggung. Mau bicara soal itu di sana. Intro dulu, ngobrol-ngobrol ringan sambil merokok.


“Hemh..., Hazri, Hazri..., Anakku...,” gumam Sulton.


Hazri tertawa kecil. “Ada apa, Pak Haji?” Tahu dia.


“Jadi susah aku ngomongnya ini. Habis, tadi siang sudah diberi tahu Pak Subakir soal siapa kita. Gimana ya?”


“Biasa-biasa saja, Pak Haji. Dulu saya juga sempat bingung, kayaknya tidak bisa bergerak karena terkurung oleh-Nya. Namun, tidak begitu ternyata. Segalanya tetap ada. Tanahnya ada, airnya ada, anginnya ada, apinya ada. Turun dari itu, gunung ada, laut ada, matahari ada, bulan bintang pun ada. Masalah-masalah hidup pun ada. Siapa bilang tidak ada? Hehehe.... Cuma, dimensinya lain. Dari alam nasut naik ke alam malakut. Dari dimensi manusiawi ke dimensi kemalaikatan. Dari lalai menjadi ingat. Apa yang mestinya dikerjakan, ya dikerjakan. Hanya, sekarang disertai dengan ingatnya. Jangan lalai lagi.”


Sulton manggut-manggut. “Jadi, aku ngomong aja nih?”


“Hehehe..., tidak ada larangan.”


Sulton menghela napas. “Soal Reni...,” berhenti sejenak menunggu reaksi. Karena dilihatnya Hazri biasa-biasa saja, maka Sulton melanjutkan. “Kata Huda, dia pernah cerita sedikit kepadamu. Aku nggak tahu, kau sudah tahu atau belum, tapi yang jelas. Reni mencintaimu. Sudah lama itu...”


Hazri tersenyum, tidak bicara.


“Gimana, Zri?”


“Saya bisa berkata apa?” Hazri tersenyum lagi.


“Tadi katamu harus ngomong...,” protes Sulton.


“Kan sudah?”


“Sudah apanya?”


“Hahaha.... Pak Haji, setelah saya tahu Reni mencintai saya, terus apa? Saya diharapkan bagaimana?”


“Maksudku, apa kau mencintainya juga?”


“Bodoh laki-laki yang tidak suka Reni....”


“Terus bagaimana?” Sulton tersenyum.


“Nah ini, terus bagaimana? Apa maksudnya, Pak Haji?”


“Maksudku...,” Sulton terhenti. Bingung juga di ngomongnya. “Sebentar ya, jangan ke mana-mana.” Dia bergegas menuju rumah, keluar lagi bareng Maemunah dan Zaenab. Bersama mereka ke rumah panggung.


“Kita teruskan, Zri. Ada ibumu dan ibunya Reni sekarang, hehehe...”


Hazri ikut tertawa. Ada-ada saja Haji Sulton, panggil bantuan segala.


Sulton pun menceritakan pencapaiannya tadi. “Sampai di pertanyaan, bagaimana ini seterusnya, Umi, Munah?”


“Hazri, Cak Sulton dan Umi mau bertanya, apa kamu bersedia menikahi Reni?” Maemunah nembak langsung. Habis Sulton kelamaan.


“Ooh.... Itu maksudnya, Pak Haji?” Hazri senyum-senyum.


“Iyalah, kau saja pura-pura nggak tahu. Bikin aku bingung ngomongnya.”


Mereka tertawa-tawa sejenak, lalu hening.


Huda muncul, ikut bergabung. “Gimana, Zri?” datang-datang langsung nembak sambil cengengesan.


“Mudah di saya, tapi entahlah di Reni dan di Ami,” kata Hazri kemudian.


“Maksudmu, Nak?” tanya Maemunah.


“Seperti aku bilang ke Pak Haji tadi, bodoh laki-laki kalau tidak suka Reni. Tapi, tidak sesederhana itu untukku sekarang, kan?”


Mengangguk-angguk semua. Paham. Justru ini masalahnya.


“Gimana kalau Ami dan Reni dipanggil ke sini?” Hazri bertanya.


Semua setuju. Huda memanggil mereka. Reni muncul menuntun si Fia, Ami menggendong Khansa. Akur sekali mereka sejak pertama jumpa. Ria dan Siti menyusul di belakangnya bareng Huda.


“Bagusnya Pak Juned dan Bu Juned juga ada ya?” pancing Sulton.


Setuju juga semua. Juki dimintai tolong memanggilkan mereka.

__ADS_1


Sambil menunggu kehadiran mertua Hazri, mereka berbincang ringan. Reni kelihatan gelisah, bolak-balik melirik Ami. Dia sudah bisa membaca ada apa ini. Ami pura-pura tidak tahu, tenang saja bermain dengan putri keempat Huda dan Ria. Sulton, Maemunah, dan Zaenab menahan hati. Walau tampak ngobrol, sebenarnya Hazri telah melarut dalam Cahaya. Dzikir itu terus berkumandang syahdu pada semua yang dilihat sang Mursyid. Inni wajahtu wajah hiya... Ke mana pun wajahmu memandang, di situ wajah-Ku.


Akhirnya, Juned dan istrinya datang. Hazri bangkit menyambut, yang lain juga. Setelah ber-haha-hehe sebentar, acara pun dilanjutkan. Haji Sulton yang menyampaikan maksud dan tujuan. Langsung pada sasaran. Reni menunduk dalam. Ami di sebelahnya juga sedikit menunduk dengan tetap tersenyum. Entah apa yang sedang berkumandang dalam benaknya. Di bawah selimut si Khansa yang disampirkan di atas pangkuan mereka, Ami meraih dan menggenggam tangan Reni. Reni membalas, tangan istri kekasihnya itu dipegangnya erat. Mohon dukungan. ..


“Seperti itulah gambarannya, Pak Juned, Bu Juned, dan Ami. Putri ketiga kami ini sudah mencintai Mahmud sejak masih SD dulu. Tadinya kami kira cuma cinta monyet, ternyata kingkong...,” Sulton berhumor, tapi serius.


Terpaksa nyengir semua, kecuali Reni. Dia malah berkaca-kaca matanya dan mulai terisak pelan. Ami segera mengeratkan genggamannya. Hazri menghela napas dengan tetap melantunkan dzikir.


Haji Sulton pun paham untuk tidak berlama-lama lagi. “Sekarang, biar anak-anak kita yang tentukan sendiri ya, Pak Juned?”


Juned mengangguk. Sudah ada deal sih sebelumnya.


“Nah, Mahmud..., terserah kau sekarang, Nak...,” ujar Haji Sulton.


Hazri tersenyum. “Bapak, Ibu...,” dia berkata ke Juned dan Sadiyah. “Saat saya datang pertama ke Tidar dulu, ketemu Ibu di depan rumah, kita sama-sama tidak tahu kalau akan jadi mertua dan menantu. Saat saya datang melamar pun, kita sama-sama belum tahu kebenaran terjadinya pernikahan. Setelah ijab qabul, barulah bisa dipandang kebenarannya secara syariat agama. Sekarang pun sama, tidak ada yang tahu karena hanya Dia Yang Maha Tahu....”


Hening di situ.


Hazri melanjutkan. “Kisah yang disampaikan Pak Haji Sulton tadi benar, saksinya ada. Sebenar kenyataan bahwa saya adalah suami Ami saat ini. Sebenar saya adalah ayahnya Fia. Benar semua. Dan, Allah adalah Sang Maha Benar....”


Masih hening.


“Jadi, apakah saya mau menikahi Reni? Mudah di saya, dengan tiga syarat. Pertama, Reni benar mau menikah dengan saya pada keadaan saya sekarang. Kedua, Ami ikhlas menerima kehadiran Reni beriring dengannya... ” Hazri memutus ucapannya. Tasbih dipilin sepenuh rasa keberserahdirian kepada-Nya.


“Yang ketiga?” tanya Sulton.


“Allah mengizinkan...,” jawab sang Mursyid. “Lewat dua syarat itu”


Makin hening. Sekarang bukan cuma Reni, Ami juga terisak Maemunah, Zaenab, Sadiyah, Siti, Ria menunduk. Huda diam. Sulton dan Juned merenung. Untung Fia dan Khansa sudah bobo di pangkuan neneknya masing-masing. Kalau belum mungkin melongo dua ‘manusia kecil’ ini melihat para ‘manusia besar’ di situ diam semua.


“Jadi, gimana, Reni?” tanya Hazri beberapa saat kemudian.


Reni tidak menjawab, makin menunduk sambil mengusap-usap air mata pakai tisu yang dibawanya.


“Reni...?” Hazri bertanya lembut.


Reni masih diam. Isaknya saja yang terdengar.


Putri ketiga Haji Sulton itu mengangkat wajah, ditatapnya lekat Ami. Lalu, memeluknya. Semua tersentuh hati melihat itu. Zaenab, Sadiyah, dan Maemunah berkaca-kaca, Sulton menghela napas. Juned mengejap-kejapkan mata. Sungguh, bukan perkara mudah bagi seorang Reni membenturkan isi hatinya dengan kenyataan ini. “Reni, saya ikhlas...,” bisik Ami sambil memeluk ‘kembarannya’. Hanya mereka berdua yang tahu, dan Allah. Maka, Reni pun menangis beneran sekarang. Sesenggukan. Di tengah senggukannya, dia mengangguk dengan gerakan jelas.


Cukup. Hazri dan yang lain menghela napas.


“Ami...?” tanya Hazri kemudian.


Ami mengangkat wajahnya, tersenyum ke arah suaminya. Hazri balas tersenyum. “Adek ikhlas, Mas...,” katanya pelan namun mantap, tidak terdengar nada keraguan ataupun keterpaksaan.


“Alhamdulillah...,” kata sang Mursyid diikuti yang lain. Hazri melantunkan doa khusus. Hadirin mengamini. Suasana tegang ini pun berangsur mencair gembira. Semua tersenyum, semua tertawa. Termasuk Reni. Walau masih malu-malu...


Acara pernikahan pun digelar lusanya. Tidak perlu lama-lama dan tidak perlu repot-repot pesta karena Reni tidak butuh itu. Cukup syukuran sederhana. Penghulunya Ustadz Faruq, petugas KUA menyaksikan. Undangannya para tokoh masyarakat setempat. Tidak ketinggalan Syekhuna Progo dan para ikhwan jadug.


“Kata siapa ‘kekasih’ nggak boleh dua?” celetuk Pak Subakir.


Hazri pun tertawa..


Dan, Romi tidak mau kalah. Di penghujung acara dia menyampaikan langsung undangannya kepada para hadirin untuk berkenan hadir di acara pernikahannya lusa. Di rumahnya. “Syukuran macam inilah, hahaha...,” katanya senang.


Kaget semua, termasuk Hazri. Dan, makin terpana mereka waktu tahu mempelai wanitanya Susi, “Sebentar sahabatku, Umar, Bu Susi...?” Hazri minta ketegasan. “Iya, Bang. Kami sudah sepakat, hahaha...,” Romi tertawa lagi.


Faruq dan Karno geleng-geleng kepala. Mereka tidak tahu sama sekali penjajakan yang dilakukan Umar ‘Romi’ Khathab ini ke Susi. Padahal, hampir tiap hari mereka bersama-sama survei lokasi peternakan kambing. Malam mungkin bergeraknya. Senyap. Tidak tahu mereka kalau Umar mantan panglima....


Hening setelah itu, sampai tiba-tiba Faruq terkekeh sendiri. Serentak, semua hadirin yang tahu ‘rasa situasi’ ini pun ikut tertawa. Termasuk Hazri. Bukan menertawai Umar Khathab, bukan pula menertawai sang janda Susi, hanya ingin tertawa saja. Sialnya, Romi yang paling keras tertawanya.


“Baik, Pak Umar. Insya Allah, kami hadir,” kata Hazri kemudian. “Bagaimana yang lain?” dia bertanya ke hadirin.


“Insya Allah, insya Allah...,” hampir semua mengangguk-angguk.


Allah yang punya cerita. Dialah yang menggores pena....


* * *


Sebelas bulan berlalu. Hazri tersenyum melihat kedua istrinya yang sedang jalan pagi bersama. Wajahnya serupa, perutnya sama-sama bulat, prakiraannya sama-sama bulan depan, isinya sama-sama kembar dua. Kata dokter, perempuan empat-empatnya. Kata Pak Subakir sama. Maka, sang Mursyid pun berujar, “Ya Allah, sungguh aku tak punya apa-apa....”

__ADS_1


Dari kejauhan terlihat pemuda menaiki motor CB Verza warna merah hitam yang sedang menuju ke arah Hazri. Tidak asing baginya sosok pemuda ini bagi Hazri, beberapa kali mereka memang sering bertemu. Hazri tersenyum saat pemuda ini mendekat setelah memakirkan motornya dan menyapa kedua istrinya itu.


“Assalamu’alaikum, Pak Haji...” sapa pemuda ini.


“Wa’alaikum salam...” jawab Hazri semangat. “Wah ada apa nih author novel jalan pulang ke sini?” goda hazri.


“Mbok ditawari minum dulu gitu, malah ditanya.” celetuk Author.


“Hahaha... sebentar.” Hazri memanggil Juki yang sedang memandikan si Tuyi untuk membuatkan dua gelas kopi.


“Tolong buatkan dua gelas kopi ya, Juk. Yang satu pahit yang satu manis buat Author jomblo ini.” goda Hazri sambil melirik Author. Yang dilirik cengar-cengir saja.


“Bagaimana novelnya? Sudah selesai?” tanya Hazri kemudian.


“Alhamdulillah, Pak Haji. Cerita sudah selesai tapi kisah masih terus berlanjutkan? Hehehe.”


Hazri ikut tersenyum melihat tingkah pemuda ini.


Hening kemudian. Dan kopi pun datang. Mereka berdua menyeruput kopi procotan itu.


“Pak Haji, banyak yang tanya tuh.” kata Author membuka pembicaraan.


“Kalau ada yang tanya ya tinggal jawab, hehehe...”


Author itu melirik Hazri. “Ya kale semudah itu.”


Hazri tersenyum.


“Pak Haji ada yang tanya, apakah Hazri Tiger itu ada? Apakah ajian semisal ‘Cakra Buana’ itu juga ada? Terus ada yang tanya apakah Syekhuna Progo juga ada? Hayo saya mesti jawab apa ini?”


Hazri tersenyum. “Ya, jawab aja ada.”


“Serius Pak Haji, kasihan loh pembaca bingung mereka membaca penjelasan tentang Tauhid Mutlakah.”


“Iya..iya, serius amat nih jomblo satu. Hazri Tiger memang benar adanya, tapi mungkin bukan itu namanya. Ajian semisal ‘Cakra Buana’ dan lain-lain juga ada, tapi bukan itu juga namanya. Terus Syekhuna Progo juga ada loh, hehehe... tapi lagi-lagi bukan itu namanya.”


Author itu mengerutkan kening. “Kenapa mesti rahasia-rahasian sih, Pak Haji?” tanya Author itu. “Dosa loh buat orang penasaran.”


Hazri tertawa agak keras. “Weh mudah amat dapat dosa, biarkan mereka menemukan jalannya masing-masing, Thor.”


Author diam merenung.


“Hoii.. udah jomblo sering ngelamun nih anak.” senggol Hazri.


“Oww iya satu lagi Pak Haji.”


“Apa?”


“Banyak yang minta untuk menceritakan kisah Pak Haji sama Zilfa loh.”


“Sebentar, Zilfamu apa Zilfaku?” goda Hazri.


Hazri tahu kalau Author jalan pulang ini juga pernah punya kisah yang hampir sama dengan Hazri soal seseorang yang bernama Zilfa. Entah itu kebetulan atau tidak.


“Pak Haji mah jangan sebut-sebut nama itu disini, kalau dia baca gimana?” gerutu author itu.


“Hahaha...tidak ada yang kebetulan di dunia ini, Thor. Kau menulis kisah ini pun bukan kebetulan. Semua sudah diatur Sang Dalang. Kita mah apa atuh?”


“Mantan.” celetuk Author.


“Hahaha dasar jomblo akut, nikah sana.”


“Kan nunggu si Fia gedeh, hehehe...”


“Ya kali kalau si Fia mau?”


Tertawalah mereka berdua.


Dibalik hati kecil mereka berkata. “Suatu saat akan kami ceritakan kisah kami dengan sang pemilik mata berlian itu. Entah kapan dan dimana.”


“Kalau aku bisa melihat-Mu, mungkin aku akan langsung percaya. Kalau aku bisa mendengar suara-Mu mungkin aku bisa mengikuti kehendak-Mu. Aku sadar...aku tidak bisa membuat-Mu seperti yang aku inginkan. Mungkin ini cara-Mu untuk menguji seberapa tebal imanku. Bagaimana caranya aku bisa menjadi hamba-Mu. Tunjukkan kepadaku. Beritahu aku.”

__ADS_1


__ADS_2