
Cepatnya waktu. Shofia, gadis kecilnya Hazri itu, sekarang telah berusia tiga tahun. Berarti, empat tahunan sudah Hazri dan Ami menjalani bahtera rumah tangga. Seperti ucapan Pak Subakir, anak pertama mereka terlahir perempuan. Hazri memberi nama Annisa Shofia, sesuai pesan gurunya.
Gadis mungil yang cantik. Kulitnya putih bersih seperti ibunya, mata bening tajam menyorot seperti ayahnya. Begitu pun alis tebalnya. Hobinya menguntai manik-manik. Entah berapa banyak sudah biji manik-manik plastik beraneka ragam dibelikan ibunya. Ada yang jadi gelang, ada kalung. Uniknya, semua itu lalu dianggapnya untaian tasbih. Dipilin-pilin meniru ayahnya. Tidak salah, segalanya memang tasbih Ilahi.
Marno Sugeng Doro seolah tak pernah terbentur masalah. Semenjak menikah, Hazri.menyerahkan sepenuhnya pengelolaan peternakan itu kepada duet Marno dan Sugeng, dalam pengawasan Karno. Tidak usah lagi minta persetujuannya untuk segala apa yang mereka anggap perlu bagi peternakan itu. Silakan putuskan sendiri. Maka, sekarang luasnya mencapai lima hektar. Seperti hamparan ‘sawah kandang burung’. Bagus, makin banyak anak putus sekolah yang bisa ikut bekerja di sana. Hazri hanya berpesan agar rumah bilik bambunya jangan digusur walau dia tidak lagi tinggal di sana. Bangunan ‘bersejarah’ itu. Tidak ada yang tahu kalau ‘Haji Mahmud’ pernah memenggal kepala orang Jepang di situ.
Allah telah berkehendak mempertemukan Hazri dengan Marno dan Sugeng. Sama jujurnya dua anak muda ini. Walau Hazri sudah tidak cawe-cawe lagi urusan peternakan, namun mereka tetap memegang teguh amanat. Tidak ada curang dalam pembagian hasil. 50% Hazri, 20% Karno dan mereka masing-masing 15%, diluar gaji bulanan. Untung besar atau kecil, tetap begitu persentasenya.
Setengah gaji bulanan Hazri langsung ditransfer ke rekening dana non-budgeter yang dikelola Faruq. Setengahnya lagi, diberikan tunai ke ‘Bu Haji’ alias Mbak Ami. Enak Marno karena ada ‘Bu Haji’ sekarang, urusan jadi lebih gampang. Dulu, gaji setengahnya itu pun sering dikembalikan oleh Hazri. Disuruh bagikan lagi ke anak-anak pekerja. Paling diambil sedikit untuk makan, bensin, dan rokok. Memang sudah ‘gila’ dari dulu setelannya ‘Haji Mahmud’ ini. Makanya mereka bersih dari niatan main gila terhadap biangnya ‘gila’. Nanti terkutuk gila beneran.
Dulu, kira-kira sebulan setelah menikah, Ami sempat tertegun melihat angka saldo rekening bagian keuntungan Hazri dari usaha peternakan ini. Marno yang memberi tahu, maksudnya mau serah terima tanggung jawab rekening itu kepada menteri keuangan keluarga ‘Haji Mahmud’. Hazri sendiri lupa tentang ini karena memang tidak pernah dipikirin. Kas yang ada di tasnya saja masih lebih dari cukup. Sisa ‘duit darah’ itu. Kental, susah habisnya. Mentang-mentang ‘Haji Mahmud’ tidak pernah tanya-tanya, Three Musketeers pun tidak bicara. Hening mereka. Kalau ramai nanti jadi jalan desa semuanya. Keenakan Pak Kades.
Malamnya, Hazri tertawa mendengar cerita istrinya tentang rekening itu. “Ada-ada saja si Marno. Segala jalan desa, hahaha..... Coba lihat, berapa sih?”
Ami menyerahkan buku tabungan itu. Hazri manggut-manggut melihat teraan angka-angka di situ. Ami memandangi suaminya dari samping. Merasa dipandangi, Hazri pun menoleh. “Kenapa, Dek? Mau?” dia bertanya sambil mesem.
Ami tersenyum malu-malu. Tidak menjawab tapi jelas ‘bicara’.
“Ambil saja kalau Adek mau. Memang buat siapa sih?” kata Hazri paham.
Senyum Ami pun mengembang. Sang suami dipeluknya dan dihadiahi satu kecupan mesra. Hazri tertawa kecil seraya membelai rambut panjang istrinya itu.
“Cuma, Adek jangan sampai kehijab beginian ya? Ingat pesan Guru, kemuliaan duniawi itu salah satu hijab utama dalam perjalanan ‘ruhani kita. Akarnya ada di harta benda. Coba lihat, yang kaya yang cenderung dianggap mulia oleh manusia, kan? Padahal, belum tentu kalau kata Allah. Busuk mungkin, hahaha.... Pokoknya, Mas nggak ingin Adek kejeblos beginian.”
Ami mengangguk.
“Tapi, bukan.juga artinya disuruh miskin lho. Miskin dan kaya itu hak Allah, bukan hak kita. Kalau kata Allah kaya, kayalah orang itu walau syariatnya cuma melongo saja. Kalau kata Allah miskin, ya miskin dia walau nguber dunianya sampai-sampai rela kepalanya dijadikan keset, hahaha....”
“Terus Adek mesti gimana, Mas?”
“Apanya?”
“Itu, uangnya...,” Ami sedikit meringis.
“Pakai saja. Kita yang kuasai harta, jangan harta menguasai kira. Kalau Adek perlu... pakai, kalau ada orang yang perlu... kasih. Begitu saja, jangan susah-susah. Pakai, manfaatkan. Jangan ditimbun-timbun. Ngapain ngumpulin kayu bakar kita sendiri di neraka?” kata Hazri agak berbisik.
Walau Ami juga melaksanakan perjalanan ruhani, tapi sebagaimana umumnya perempuan, pelan kemajuannya. Masih ada surga dan neraka. Hazri harus sabar, jangan mentang-mentang sudah tinggi lalu memandang rendah orang lain. Nanti malah terhijab oleh ilmunya sendiri. Apalagi ini istrinya, yang secara syariat memang harus dibimbing olehnya. Bukankah istri adalah tanggung jawab suaminya?
“Emang Adek pengen apa sih?” pancing Hazri.
__ADS_1
“Pengen ngedandanin rumah Bapak...,” Ami langsung menjawab.
“Hem, bagus. Apa lagi”
“Pengen baju muslim yang kayak punya Bu Faruq.”
Hazri tertawa kecil. “Bagus. Apa lagi?”
“Eemm, pengen...,” Ami mencari-cari ide.
“Sudah, yang asli cuma dua sementara ini, yang lain bawaan nafsu. Iya, kan?” Hazri tersenyum.
Ami pun tersenyum paham.
Malam pun semakin larut. Rasanya suasana mendukung. Si Fia sudah tidur di kamarnya sejak sore tadi. Mulailah kasak-kusuk mereka, pelan-pelan kebawa nanjak. Ami tersenyum saat Hazri bangkit mematikan lampu. Tapi, tiba-tiba pintu kamar yang mau dikunci itu terbuka. Terpaksa lampu kembali terang. “Ayaahh, Fia mo bobo cama ayah ah...,” rengek gadis kecil ini. Tanpa rasa bersalah dia memanjat naik ke tempat tidur. “Cini...,” tangannya melambai, minta ayahnya tidur di sebelahnya. Ami tertawa. Hazri garuk-garuk kepala....
***
“Dek, Mas turun dulu ya. Guru manggil...,” kata Hazri. Dia baru saja menerima pesan batin dari Pak Subakir yang memintanya datang ke Progo. Arloji menunjukkan waktu menjelang pukul sembilan malam ini.
Ami yang sedang menidurkan si Fia itu pun mengangguk. “Hati-hati, Mas,” ucapnya.
Setelah mengecup kening istri dan anaknya, Hazri pun meluncur ke Progo naik motor aduk-uduk kesayangannya. Motor yang sudah babak belur diledek Marno dan Sugeng. Masih bisa mengabdi motor antik itu, walau harus dua kali turun mesin selama empat tahun terakhir. Kalau sendirian, dia memang lebih suka naik motor ini daripada yang Tiger. Lebih syahdu katanya. Mobil? Tidak punya. Dia tidak merasa perlu punya mobil. Mau ke mana sih? Mobil lagi, HP saja tidak punya. Mau nelepon siapa katanya. Maka Karno, Marno, dan Sugeng pun hanya bisa geleng-geleng kepala. Parah betul selera mode ‘Haji Mahmud’ ini. Padahal, duit tidak kurang.
Menjelang tengah malam, Abi dan Rohman datang hampir bersamaan. Pak Subakir menghela napas, senyumnya kembali mengembang lebar. Sesaat kemudian, “Ayo kita masuk, sudah lengkap sekarang. Waudhu dulu ya...,” katanya. Setelah berwudhu, satu per satu mereka masuk ke ruang majelis yang biasa dipakai tawasulan itu. Duduk tenang di situ memilin tasbih masing-masing, menanti apa yang akan terjadi.
Fuad, putra Pak Subakir yang termasuk jadug itu, masuk membawa tungku bara arang yang sudah dibakar sejak mereka masih di saung tadi. Hampir bareng, Pak Subakir pun muncul mengenakan jubah putih dan sorbannya. Kalau sudah begitu, rasanya seolah melihat Sunan Subakir. Disimak-simak, wajah Pak Subakir memang banyak miripnya dengan Sunan Subakir, salah seorang dari Wali Songo itu. Ada gambarnya terpasang di dinding bersama para sunan yang lain. Pak Subakir bukan tidak tahu gosip ini. Tertawa saja beliau tanpa pernah berkomentar.
“Fuad, tolong kainnya bawa ke sini. Sekalian buku-bukunya,” pinta Pak Subakir.
Fuad mengangguk. Lalu, mengajak Agil untuk membantunya. Sebentar kemudian mereka kembali membawa setumpuk kain putih dan buku-buku kecil. Kain kafan rupanya. Wah, ada apa ini? batin Hazri. Mungkin yang lain juga berpikir sama.
Serbuk buhur ditaburkan di atas bara arang. Semerbak wangi memenuhi ruangan. Pak Subakir menghela napas panjang, senyumnya kembali mengembang. Semua diam menanti wejangan.
“Bismillahirahmannirrahim. Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh,” beliau membuka acara.
“Wa’alaikum salam...,” sahut semua.
“Saudara-saudaraku sesama mukmin, sebagai pembimbing, Bapak bersyukur melihat Anda sekalian di sini. Wajah-wajah kekasih. Ketahuilah, Anda masing-masing telah menerima ‘Stempel Ilahi’ atas keimanan hakiki. Itu istilah untuk sebentuk tanda khusus yang dikaruniakan Allah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Tanda yang hanya bisa dilihat atau dipahami oleh mereka yang juga diberi karunia untuk mampu menjangkaunya. Syariatnya, kini tugas Bapak sebagai pembimbing Anda sudah selesai. Anda masing-masing telah sampai pada derajat keyakinan haq kepada Allah. Haqqul yaqin. Tidak akan goyah keimanan itu oleh apa pun. Untuk seterusnya, lanjutkan perjalanan ruhani masing-masing dengan bimbingan Sang Maha Mursyid. Makrifatullah tiada berbatas, langit di atas langit, tiada akan habis, Jangan takut dan jangan bersedih hati, Anda telah ber-‘Stempel Ilahi’. Raihlah mutiara Kesejatian dari ‘Lautan tanpa Batas’ ini....”
__ADS_1
Hening suasana. Semua menunduk, semua meneteskan air mata. Bukan sedih, melainkan rasa syukur yang terdalam kepada Sang Maha Haq atas karunia-Nya ini. Bagi mereka yang menempuh perjalanan ruhani, hal ini adalah karunia mahabesar yang diterima dari Ilahi. Tidaklah sepadan jika dibanding dengan sejagat raya alam semesta berikut segala isinya. Tidak akan pernah sepadan!
“Kalau ada orang yang butuh kebenaran datang kepada Anda, maka baiat saja. Jangan ragu. Sebab Anda ber-haqullah untuk membimbing manusia lainnya. Tetapi, misalnya tidak ada pun tidak mengapa karena memang tidak semua kekasih diberi tugas kemursyidan. Ingat, jangan sengaja mencari murid. Berpromosi, pasang iklan, dan lain-lain. Ini bukan kursus mengemudi, melainkan bentuk perjalanan ruhani mahakritis dan rawan yang ditempuh sejati diri manusia menuju Sang Maha Sejati. Secbagaimana Anda masing-masing telah memahaminya. Memang bukan untuk semuanya, hanya bagi mereka yang terpilih. Apa pun iradatullah selanjutnya, mursyid atau bukan, yang pasti setiap Anda adalah kekasih-Nya....”
Masih hening suasana. Syahdu meresap.
“Kalau diibaratkan sekolah di UIN Sunan Kalijaga, maka sekarang Anda akan diwisuda menjadi sarjana perjalanan ruhani...,” Pak Subakir mesem. Semua pun ikut tersenyum. “Ada ijazahnya. Kalau zaman dulu, seorang sufi menyerahkan ‘kirka’-nya kepada sang murid yang diwisuda. Kirka adalah jubah kebesarannya yang kumuh penuh tambalan itu. Tapi, bapak tidak punya kirka. Zaman sekarang sudah tidak mode lagi sih. Sudah banyak mal yang jual baju bagus-bagus.”
Tertawa semua. Pelan saja.
“Mau Bapak belikan baju di mal, kurang uangnya. Mau Bapak kasih ijazah yang seperti dari UIN Sunan Kalijaga, bingung mau ditulisin apa. Lagian juga tidak bakal bisa dipakai melamar kerja. Rasanya tidak pernah ada iklan lowongan kerja untuk sarjana teknik taqarrub terpampang di koran, hehehe..”
Tertawa lagi semua.
“Ya sudah, bapak beri ijazah kain kafan saja. Supaya selalu ingat bahwa kita, para manusia, sejatinya sedang sekarat di kehidupan ini. Kata siapa sakaratul maut itu nanti sepuluh menit sebelum mati? Jelas sekarang sedang sekarat, setiap saat maut mengintip. Dengan kafan itu, bapak akan membaiat talqin Anda masing-masing. Baiat kedua, bait penutup. Ibarat sumpah wisudawan. Fuad, tolong dibagikan....”
Fuad pun membagikan kain-kain itu. Kafan murah, kasar, dan renggang jalinan benangnya. Tapi, sejagat alam tunduk pada maknanya. Bukan sembarang kafan ini.
“Kainnya dipakai seperti kain ihram haji. Telanjang, jangan ada kain yang lain masih menempel, hehehe.... Gantinya di sana...,” Pak Subakir menunjuk tempat bersekat kain di pojok ruang yang sudah disiapkan sebelumnya.
Satu per satu mereka masuk ke kamar darurat tadi. Lalu, saling membantu memakai kafan itu sebagaimana kain ihram. Tampaknya mudah, tapi susah juga ternyata membelit-belitkan kain ke tubuh. Merosot lagi merosot lagi. Pak Subakir mesem melihat kekacauan kecil itu. Maklum, dari sepuluh manusia ini belum ada yang haji. Sebelas malah, termasuk sang Mursyid sendiri. Tapi, Pak Subakir tahu caranya, dia pun memberitahukan. Setelah berjuang di jalan yang benar, sukses juga akhirnya. Kafan itu patuh melekat di tubuh masing-masing, segan merosot lagi.
Harum buhur semerbak mewangi, baiat talqin itu pun dimulai. Para ikhwan bersila, berbanjar di hadapan sang Mursyid. Mereka mengikuti setiap kata sumpah yang diucapkan Pak Subakir. Syahdu merasuk suasana. Hazri melihat nuansa kabut hijau bening menyelimuti seluruh ruangan. Cahaya-cahaya, entah apa, bermunculan di sana sini. Ada yang kelebat-kelebat semacam larik, ada yang membulat seperti buih air mendidih lalu pecah gemerlap menabur aneka warna, ada pula yang gemericik seperti ribuan kunang-kunang. Lalu, berdatanganlah kabut keemasan menyerupai wujud seperti yang dulu dilihat Hazri mengawal almarhum Nurdin. Kabut-kabut keemasan itu terus berdatangan, satu-satu maupun bergerombol. Hingga penuhlah ruangan ini oleh mereka. Berbaur bersama bentuk-bentuk cahaya lain yang semakin beragam. Subhanallah, Maha Suci Engkau....
“Demikian kami bersumpah,” ucap Pak Subakir.
“Demikian kami bersumpah,” semua ikhwan mengikuti.
“Dari-Mu kembali kepada-Mu.”
“Dari-Mu kembali kepadaMu.”
“Aamiin.”
“Aamiin.”
Baiat talqin pun selesai dilaksanakan. Hazri melihat para kabut keemasan itu menghormat kepada mereka, lalu serentak lenyap semuanya. Tinggal cahaya-cahaya lain yang juga melenyap perlahan-lahan. Suasana pun berangsur normal.
Pak Subakir berdiri, berjalan memeluk satu per satu mantan muridnya itu. Sambil menyerahkan buku kecil fotokopian tentang tata cara baiat. Buku tulisan tangan, karya Syekhuna Mursyidnya dulu. Gurunya Pak Subakir.
__ADS_1
“Hazri Tiger, bersiaplah...,” bisik Pak Subakir pelan ke telinga Hazri.
Walau terkejut, Hazri bisa mengendalikan diri. Dipeluknya erat sang Mursyid yang telah mengantarkannya ke gerbang mikrifat. Air matanya pun menitik jatuh, membasahi pundak sang guru..