Jalan Pulang

Jalan Pulang
97. ka'bah sejati


__ADS_3

 Lalu, balik ke pembahasan semula.


“Waktu nyari, lewat jalan nasional nggak?” tanya Hazri melanjutkan.


“Iya.”


“Kan ada tulisan Magelang di rambu jalan nasional?”


“Ada. Jelas banget kebaca. Tapi, nggak ngeh, seperti nggak ada kaitannya gitu. Pokoknya, hilang semua Magelang di kepalaku. Ingatnya DIY.”


Hazri manggut-manggut. Bumpet dua arah rupanya mereka selama ini.


“Tapi, Rif, kalau kau nggak bisa keluar, Kenapa bisa naik haji?” tanya Huda tiba-tiba.


Hazri tertawa. “Seru ceritanya itu. Mau dengar?”


Huda mengangguk.


Hazri pun menceritakan sejarahnya dia bisa dapat julukan haji.


“Oo gitu, hehehe. ... Jadi belum pernah lihat Ka’bah di Makkah?”


“Belumlah. Ka’bah sejati iya...,” celetuk Hazri tanpa sadar.


Komeng menyerengit. Abah Juhri, guru mengajinya dulu, sering menyebut ka’bah sejati. Katanya, kalau mau tenang hidup harus bisa ketemu dulu dengan ka’bah sejati. Tapi, segitu saja ucapannya, tidak ada keterangan lanjutannya.


“Ka’bah sejati itu di mana sih, Pak Haji?” tanya Komeng. Kagok,walau sudah tahu kini tapi Komeng tetap memanggil Hazri dengan sebutan ‘Pak Haji’.


“Apa, Meng?” Hazri kurang menyimak.


“Ka’bah sejati yang Pak Haji sebut tadi, adanya di mana?”


“Oo itu. Nggak di mana-mana, hahaha....”


“Maksudnya?”


“Yaa, nggak di mana-mana. Itulah.”


Kening Komeng berkerut. “Wah, Pak Haji sama kayak Abah Juhri. Nggak mau ngasih tahu...,” protesnya. Hazri tertawa kecil.


“Abah Juhri yang bersorban hijau? Yang tasbihnya gede-gede kayak tasbih Budha?” godanya.


Tidak ada yang tahu kalau barusan datang ‘sesosok orang’ mengaku bernama Juhri. Sekedar menyapa Hazri saja. Setelah saling uluk salam dalam dimensi alam lain, dia pun pergi lagi. Jin sama jin, setan sama setan, longga sama longga, wali sama wali. Hal seperti itu biasa bagi Hazri kini. Banyak teman antiknya dia.


“Pak Haji kenal Abah Juhri?” Komeng terperanjat kaget.


Hazri meringis, lalu mengangguk kecil.


“Kan Abah sudah meninggal sebelum saya kerja di kapal Cak Huda?”


“Memang...,” Hazri tertawa kecil.


“Kok Pak Haji bisa kenal?” kejar Komeng.


“Bisa saja. Emang nggak boleh kenalan? Hahaha....”


“Dulu Pak Haji pernah ke kampung saya di Banten ya?”


Hazri menggeleng dengan ekspresi wajah menggoda. Dalam pandangan kemursyidannya, Komeng punya tanda walau masih tertimbun ‘sampah’.


Komeng geleng-geleng kepala. Bingung dia.


“Ka’bah ya Ka’bah yang di Makkah itu, Meng. Itu yang sejati, kan? Emang ada yang lain?” tanya Huda agak telmi alias telat mikir. Orang sedang ngomongin Abah Juhri dia masih di Ka’bah.


“Iya nih, Komeng. Macam-macam saja, hahaha...,” Hazri terkekeh.


Komeng terus geleng-geleng kepala. “Sebentar, Pak Haji,” lalu dia berlari kecil ke mobil Kijang yang terparkir agak di sebelah sana. Mobil tidak bisa sampai persis di depan vila Hazri ini. Maklum, hutan.


Sebentar kemudian Komeng telah kembali.


“Ini, Pak Haji...,” Komeng membuka tangan kanannya. Ada seuntai tasbih biji kauka merah kehitaman di situ. “Dulu saya pernah janji ke Pak Haji di kapal.”


Hazri tertawa. Ingat dulu Komeng memang pernah berjanji akan mencarikan tasbih kauka merah kehitaman untuknya, selain untuk Huda, kalau ada. Ngomongnya di mushala. Dua hari setelah janji ke Huda di anjungan.

__ADS_1


“Tapi, saya minta ditebus...,” lanjut Komeng. Matanya berbinar menatap Hazri.


Hazri tertawa lagi. “Boleh. Berapa?”


Komeng menggeleng cepat. “Bukan uang. Saya minta dikasih tahu di mana adanya ka’bah sejati itu.”


“Hahaha...,” Hazri terbahak. “Boleh. Tapi, sinikan dulu tasbihnya.”


Komeng menyerahkan tasbih itu. Hazri memandang-mandangnya sejenak lalu mengeluarkan tasbih kauka hitam miliknya dari saku celana, “Sekarang, kamu punya pasangan...,” dia berkata ke tasbih hitamnya. “Cantik, kan?” lanjutnya sambil memperlihatkan tasbih merah itu seperti mak comblang.


Huda dan Komeng tertawa melihat tingkah Hazri itu. Ada-ada saja.


Hazri cuek. Dia malah memilin-milin kedua tasbih itu bersamaan. Yang hitam ditangan kanan, yang merah di kiri. Antik juga gayanya. Matanya pun menyahdu seperti ‘mata syahdu’ Zilfa yang masih sempat melekat. Nikmat betul..


Huda dan Komeng terus tertawa. Tapi, lama-lama Hazri keterusan. Sekarang matanya.malah benar-benar mengatup. Seolah lupa ada mereka. Terbang melayang entah ke mana.


“Pak Haji...,” kata Komeng.


“Hem?” Hazri tersadar. Matanya membuka.


“Tebusannya mana?” katanya lagi.


“Oo iya, lupa saya...," Hazri memasukkan tasbih merah itu ke saku celananya; yang hitam terus dipilin. “Memangnya benar kamu mau tahu, Meng?”


Komeng mengangguk cepat.


“Alhamdulillah, kalau gitu. Sudah siap nih?”


Komeng mengangguk lagi.


“Dengarkan...,” Hazri agak berbisik. “Ka’bah sejati itu kiblat sejati. Adanya di mana-mana, tapi tidak ke mana-mana.”


“Hahaha...,” Huda yang ikut penasaran dan diam-diam turut menyimak itu tertawa terbahak-bahak.


“Yang benar dong, Pak Haji...,” Komeng protes.


“Demi Allah. Itulah kebenarannya,” kata Hazri tegas.


Huda yang mendengar ucapan Hazri barusan, tiba-tiba tersedak. Seperti ada yang menyetop mendadak tawanya. “Uhuk uhuk...,” terbaruk-batuk. “Uhuuk...,apa tadi? Ada di mana-mana tidak ke mana-mana? Itu kan al-Hikam?” Ingat dia.


Huda meminum air tehnya. “Ehem, ehem...,” Mendehem. “Itu kan jawabannya di mana Allah, bukan di mana ka’bah sejati?” dia bertanya.


Hazri mesem. “Wah, masih ingat nih. Masih mencari nggak?”


Huda meringis.


“Jadi, jawabannya tadi itu, Pak Haji?” Komeng memotong.


“Iya. Cuma, ada cumanya nih, hanya bisa dipahami lewat sejati diri, Meng. Nggak bisa dikejar pakai akal. Nanti jadi akal-akalan, penuh bayangan. Padahal, kiblat sejati bukan bayangan. Namanya juga sejati, bukan kiblat-kiblatan.”


Komeng melongo. Apa maksudnya Pak Haji ini?


“Sebentar, Rif, kenapa dari ka’bah sejati loncat ke Allah?” Huda penasaran.


“Kata siapa loncat? Nggak pernah loncat ah. Kan tadi, ada di mana-mana tidak ke mana-mana. Maha Stabil. Mana loncat-loncatnya? Hahaha....”


Huda garuk-garuk kepala. Dia yang bego atau Hazri yang ngehang?


“Sudah, maghrib dulu yuk...,” Hazri memutus pembicaraan. Adzan maghrib sayup-sayup telah berkumandang. “Mau di sini apa di masjid?”


Huda memilih shalat di rumah saja. Mereka pun menunaikan shalat maghrib di ruang dzikir. Sebelum shalat, Komeng bertanya tentang ruangan yang beraroma harum tapak buhur itu. Katanya, rumah Abah Juhri dulu juga beraroma seperti itu. Hazri mengatakan ruangan ini tempatnya bertafakkur. Serupa dengan dek bertikar di buritan KM Bima. Walau masih penasaran dengan wanginya, tapi Komeng tidak bertanya-tanya lagi.


Usai shalat, mereka mandi lalu makan malam bersama. Rencananya Huda dan Komeng mau menginap. Kapal baru akan berlayar lagi lusa sore. Mereka membawa perlengkapan pribadi untuk menginap. Sudah siap-siap. Bakda isya’, konferensi teras depan pun dilanjutkan kembali, sambil menertawai tingkah si Fia yang langsung akrab dengan kedua omnya itu.


Topik utamanya masih sama yang tadi. Hazri memberi penjelasan dengan siloka-siloka sederhana, tingkatan ‘pra sekolah’. Maksudnya untuk pancingan. Dulu dia pernah berjanji akan memberi tahu Huda kalau sudah tahu misteri ‘di mana Allah’ itu. Namun, sepertinya belum ada tanda sama sekali pada Huda. Masih sangat terhijab urusan duniawi tampaknya sahabat lama ini.


Huda mentok, sudah lebih banyak menguapnya. Tapi, Komeng justru makin cerah, tandanya semakin tampak. Walau pasti masih bingung, tapi dia terus mengejar dengan pertanyaan-pertanyaan lumayan. Sementara sang kakak ipar menguap terus. Pembicaraan seperti ini memang membosankan bagi yang belum membutuhkan. Susah dicerna, bikin pusing kepala.


“Haduh, ngantuk sekali aku, Rif. Enak banget udara di sini, adem. Aku tidur duluan ya, nggak kuat nih...,” kata Huda akhirnya.


“Silakan, Haji. Dijamin pulas.tidur di sini, hehehe....”


Huda meringis. “Kau belum ngantuk, Meng?”

__ADS_1


Komeng menggeleng. “Duluanlah, Cak.”


“Ya sudah, aku duluan ya.”


Hazri dan Komeng mengangguk. Huda pun masuk ke kamar tamu yang sudah disiapkan oleh Ami itu. Sebentar kemudian, ngorok, nya sayup-sayup sampai ke teras depan. Tampaknya bukan sembarang pula ngantuk Haji Huda ini.


Lewat pukul sepuluh malam, satu per satu ikhwan berdatangan. Ini memang malam Senin. Semua menyalami dan mencium tangan sang Mursyid. Tentu Komeng bertanya. “Mereka orang-orang yang butuh kebenaran,” jawab Hazri. Lalu, memberi penjelasan sedikit soal ‘kebenaran’ itu; yang ringan-ringan saja.


“Acaranya apa, Pak Haji?” tanya Komeng.


“Tawasulan.”


“Pengajian?”


“Yaa, serupa itulah. Hadiahan untuk Kanjeng Nabi, para Sahabat, para syekh, lalu berdzikir bersama. Kalau perlu, ada pembahasannya sedikit.”


“Panggil ustadz?” tanya Komeng lagi.


Hazri mesem. “Ada tuh, Ustadz Faruq...,” jawabnya.


Kebetulan Faruq sedang menuju ke situ. Hazri pun memperkenalkan Komeng.


“Ini adik saya, Pak Ustadz, ketemu gede. Lain bapak, lain ibu...”


Faruq dan Komeng terkekeh.


“Dulu kami pernah berlayar bersama satu kapal. Calon juragan kapal adik saya ini, Ustadz. Nggak bisa sembarangan ya? Mesti pakai syukuran?”


Faruq,tertawa, tahu Haji Mahmud sedang mencandainya. Soalnya sampai sekarang dia masih suka berkata, “Nggak bisa sembarangan, mesti pakai syukuran...”


Komeng mesem walau tidak tahu persoalan.


Selanjutnya, Hazri meminta Faruq untuk menemani Komeng, sementara dia bersiap diri untuk tawasulan malam ini.


Beberapa saat kemudian Hazri kembali ke teras. Sudah berpakaian ‘dinas lengkap’ sekarang. Tasbih kauka merah kehitaman itu dilingkarkan tiga kali di pergelangan tangan kanannya. Harum wewangian khas merasuk hidung. Komeng terkesima melihat ‘Sunan Tidar’ itu. Hazri tersenyum. “Kenapa, Meng?”


“Wah, Pak Haji keren amat...,” katanya nyengir. Hazri dan Faruq tertawa kecil.


“Saya boleh ikut? Kata Pak Ustadz mesti minta izin Pak Haji.”


“Boleh, asal Komeng siap, hahaha. .”


“Ooh siap, Pak Haji.”


“Benar nih?”


“Siap.”


“Nggak nuduh macam-macam nantinya?”


“Nuduh gimana?”


Hazri tertawa saja tidak menjawab. “Ya sudah. Ayo wudhu kalau mau ikut. Sebentar lagi kita mulai.”


Komeng pun bersiap. Mengambil air wudhu, mengganti baju kausnya dengan kemeja lengan panjang yang dia bawa. Kupluknya pinjam ke Ami yang kebetulan dijumpainya di dapur. Ami meminjamkan kupluk bolong milik suaminya. Lalu, masuk ke ruang tafakkur, tempatnya shalat tadi.


“Assalamu’alaikum,” sapa Komeng.


“Wa’alaikum salam...,” serentak para ikhwan menjawab.


Komeng pun menyalami satu per satu ikhwan yang ada di situ.


“Sini, Meng...” Hazri meminta Komeng duduk di sebelahnya.


Komeng menuruti.


Lalu, hening suasana. Semua orang di situ terpekur. Ada yang memilin-milin tasbihnya, ada juga yang hanya diam saja. Seperti sedang merasakan atau menghayati sesuatu. Entah apa. Tentu Komeng heran. Kok hening begini? Ngaji apaan?


“Namanya memang ngaji meneng...,” bisik Hazri pelan. Seolah tahu apa yang sedang melintas di pikiran adik ipar Huda ini. Dia tahu Komeng bisa sedikit-sedikit bahasa Jawa pasaran, dan pasti tahu meneng artinya diam.


Hazri mengeluarkan tasbih kauka hitamnya dari saku jubah, lalu diserahkan ke Komeng. “Daripada meneng melotot peda mending meneng dzikir...,” bisiknya lagi.


Komeng nyengir. Sialan. ‘Melotot peda’ artinya melotot ikan asin, maksudnya melotot bengong alias asli melotot doang. Maka, dia pun memilin mantan tasbihnya itu. Lumayan, daripada jadi ikan asin.

__ADS_1


Selanjutnya, hening lagi. Betul-betul senyap. Hanya menjawah salam kalau ada ikhwan yang datang. Komeng mengamati ketidak, laziman pengajian ini. Belum pernah dia ikut pengajian model senyap kayak begini. Biasanya, walau acara belum dimulai, ngobrol-ngobro pasti sudah ada.


Beberapa saat kemudian, seorang ikhwan masuk membawa tungku bara arang dan diletakkan di depan sang Mursyid. Hazri menaburkan buhur. Semerbak wangi pun menyeruak ke sepenjuru ruangan.


__ADS_2