Jalan Pulang

Jalan Pulang
75. ada apa gerangan


__ADS_3

“Ganti lagi, Mar?” tanya Hazri.


“Iya, Pak. Sudah habis ini,” jawab Marno.


Dua anak buahnya sibuk mengikat kaki dan sayap puluhan ekor mantan induk merpati yang sudah kedaluwarsa. Ada jantan, ada betina. Merpati-merpati tua seperti ini masih laku dijual walau harganya miring. Ini kali kelima Marno meregenerasi sebagian induk merpatinya.


“Ambil jantan di Progo lagi?”


“Iya. Pak Untung punya jantan Ostrali.”


“Jantan Ostrali? Merpati jantan dari Australia?”


Marno mengangguk. “Sugeng yang sudah lihat. Gede-gede katanya. Betinanya juga ada, tapi cakepan yang di sini. Yang sana kegemukan, banyak lemak. Nanti susah bertelurnya. Jantan gemuk nggak apa-apa, kalau betina jangan.”


“Hehehe.... Kayak orang ya, Mar?”


“Betul, Pak Haji...”


“Jadi, ceritanya kamu mau bikin merpati indo?”


Marno cengengesan. “Iya, Pak. Biar cantik-cantik anaknya, model artis.”


Mereka pun tertawa-tawa.


“Aku ikut ah...,” kata Hazri kemudian.


“Ayo, Pak Haji. Pak Untung udah nanyain terus. Kapan katanya Pak Haji bisa sempat main ke Progo.”


Hazri kenal dengan Untung yang memang sering bertandang ke sini. Di Progo, Untung juga punya peternakan merpati. Tapi, bukan merpati potong. Fokusnya ke merpati aduan dan merpati hias. Berhubung konsen ke situ maka hasil tangkarannya bagus-bagus. Marno pun memanfaatkan keunggulan merpati tangkaran Untung untuk dijadikan indukan di sini.


Berangkatlah mereka ke Progo naik mobil dinas Suzuki Carry pick up milik CV Marno Sugeng Doro. Hazri duduk di depan, Marno pegang setir. Seorang anak buahnya nangkring di belakang. Beberapa kurungan juga dibawa. Kalau ternyata pejantan Ostrali itu cocok, langsung diangkat.


Berhubung perginya melewati batas Pasar Tidar maka diam-diam Hazri memasang ‘Cakra Buana’ bertenaga dalam sekedarnya. Pasar Tidar adalah batas aman bagi Hazri untuk tidak perlu mengaktifkan ajiannya. Dia sendiri yang menetapkan ini berdasarkan pengamatan dan keyakinan dirinya.


Sampai masuk di daerah Progo, semuanya baik-baik saja. Mereka ngobrol ringan, sesekali tersenyum atau tertawa kecil. Di tengah kedamaian ini, tiba-tiba Hazri terkesiap. Ajiannya berdenyut. Awalnya pelan, lalu makin menguat. Tapi aneh, bukan ‘Rogo Swara’ ternyata. Semua ajiannya berdenyut! ‘Cakra Buana’ yang berdenyut! Belum pernah kejadian yang seperti ini.


Maka, suka atau tidak suka Hazri harus bersiap. Ocehan Koma tidak lagi dihiraukan. Geblek! Dia mengumpat dalam hati. ‘Cakra Buana’-nya macet, tidak mau dipanggil. Hazri mendengus celingak-celinguk, namun tidak tampak sesuatu yang mencurigakan. Sepi, hanya ada mereka di jalanan itu.


Mobil terus melaju, Marno tidak tahu apa yang sedang terjadi ini. Denyutan pun semakin kencang, terus mengencang. Hazri memejamkan mata. Lalu, Jes... setahap demi setahap kembali melemah seiring laju kendaraan. “Ya Allah...,” Hazri mendesah pelan dalam sisa-sisa ketegangan hatinya.


“Kenapa, Pak Haji?” tanya Marno heran.


Hazri menggeleng. “Teruskan saja menyetir, Mar,” katanya.


Marno melihat wajah Hazri sedikit memucat dan basah berkeringat. “Lho? Sakit Pak Haji?” tanya dia lagi. Kaget.


“Nggak, nggak. Sudah, teruskan saja menyetir.”


Marno pun tidak berani tanya-tanya lagi. Dia mempercepat laju kendaraannya. Rumah Untung sudah tampak di depan sana. Sampai akhirnya. Marno memarkirkan mobil di pinggir jalan bantaran Sungai Progo itu.


“Ayo, Pak Haji. Ini rumahnya,” ajak Marno.


“Kalian duluan, nanti kususul. Aku mau lihat-lihat pemandangan dulu,” kata Hazri sambil keluar dari mobil.


Marno mengangguk, mengunci mobil. Lalu, bersama anak buahnya itu masuk ke halaman rumah Untung lewat pintu samping. Langsung ke tempat penangkaran merpati yang kelihatan dari tepian jalan.


Hazri menghela napas sejenak, menenangkan diri. Apa itu? Kenapa ajianku? Dia bertanya-tanya dalam hati. ‘Rogo Kumitir’ coba dipanggil, bisa. Takar ‘Rogo Sukmo’, bisa juga. Normal semua ternyata. Jadi, apa tadi? Kenapa ‘Cakra Buana’ bereaksi aneh seperti itu?


Kalau diibaratkan manusia, sikap ‘Cakra Buana’ tadi serupa budak ketemu raja. Tunduk, hormat, dan sungkan sekali mereka terhadap ‘sesuatu’. Sampai tidak sanggup bergerak. Siapa atau apakah ‘sesuatu’ itu? Bagaimana bisa nyali macan ‘Cakra Buana’ menciut sampai sekecil bayi kucing?


Hazri pun berniat hendak memeriksa. Dia mau berjalan kaki menyusuri rute datang tadi. Tapi, baru akan melangkah, ada yang menyapa.

__ADS_1


“Assalamu’alaikum, Pak Haji.”


“Wa’alaikum salam,” balas Hazri sambil menoleh. Tampak Untung dan istrinya sudah berada dekat di belakangnya.


“Kok nggak masuk, Pak Haji?” tanya Untung.


“Ini, mau menikmati pemandangan dulu...,” kilah Hazri.


Untung tertawa kecil. “Emang ada yang indah di sini?”


Hazri pun tertawa. “Bagus. Sudah lama saya nggak lihat sungai besar.”


Sungai? Apa bagusnya sungai? Untung agak heran.


“Ayo, Pak Haji, ngopi-ngopi...,” ajak istri Untung.


“Iya, iya, Bu. Nanti saya singgah.. Nggak tahan nih pengen jalan-jalan dulu.” Untung dan istrinya pun menyerah. Tidak berani memaksa ‘Haji Mahmud’ yang mau menikmati keindahan Sungai Progo itu. Entah apa bagusnya sungai yang dipakai untuk sumber air PAM warga Jogja itu. Bagusan juga sungai di Tidar, bening yang ini sih coklat keruh.


“Tapi, nanti singgah lho, Pak Haji,” pinta Untung.


“Pasti saya singgah. Habis kata Marno, kopinya Bu Untung enak. Masak tidak singgah? Rugi dong,” Hazri sedikit menyanjung.


Istri Untung tersenyum dapat pujian. Mereka pun berpisah sebentar. Untung dan istrinya balik ke rumah, ‘Haji Mahmud’ jalan-jalan.


Hazri menapak selangkah demi selangkah, pelan saja. Kira-kira tiga ratus meter dari rumah Untung, ‘Cakra Buana’ mulai berdenyut. Dia menghela napas, langkah tetap dilanjutkan. Denyutan pun semakin kuat dan terus menguat. Kepalanya pening karena pengaruh energi ini, keringat dingin bercucuran. Namun, Hazri terus melangkah, ingin tahu pasti ‘lokasi puncak’ denyutan ini. Puyeng tambah menyengat, kepala serasa berputar kencang. Dia mengejap-ngejapkan matanya yang berkunang-kunang. Denyutan begitu kuat, makin kuat...Jess.... Lalu, setahap demi setahap melemah.


Hazri terus melangkah hingga seratusan meter ke depan, lalu berhenti di bawah pohon besar tepian jalan. Denyutan masih terasa sampai situ, tapi sudah lemah. Dia memandang ke arah lokasi puncak tadi. Sisi kanannya sungai, sisi kirinya ada sebuah rumah. Hazri pun bersiap, lalu kembali berjalan ke arah rumah Untung.


Sama seperti tadi, denyutan-denyutan itu. Tepat di lokasi puncak, dia memaksakan diri berhenti. Kepala serasa berputar mau pecah, jantung berdegub kencang, keringat dingin pun mengucur deras tanpa halangan. Hazri tetap bertahan. Pelan-pelan matanya yang sedikit mengatup itu membuka.


Pasti rumah ini. Tidak mungkin sungai. Hazri membatin. Dia pun beranjak mendekati halaman rumah itu. Benar, makin dekat makin kuat denyutannya. Sesaat lagi serasa kepalanya benar-benar sakit. Yakin, maka ‘Cakra Buana’ pun segera ditutup. Mentang-mentang mau ditutup, ajiannya itu buru-buru pergi dengan sukarela. Bless.... Ringan sekarang. Tanpa ‘Cakra Buana’, lokasi luar biasa ini terasa biasa-biasa saja.


Dari tepian jalan, sambil pura-pura menikmati aliran sungai, Hazri mengamati rumah bercat hijau muda ini. Biasa saja, sederhana. Ada kolam ikan lumayan besar di tanah sampingnya. Di atas kolam ada saung tempat duduk-duduk. Sudah begitu, tak tampak keistimewaan menyolok. Namun, Hazri jelas tidak mau gegabah sebab sudah terbukti ada ‘sesuatu’ yang luar biasa tersembunyi di sini. Dia tidak punya bayangan apa. Mungkin saja pusaka. Atau, jangan-jangan ‘besi kuning’? Material yang sama untuk membunuh bapaknya dulu?


Ah nggak mungkin, bantah hatinya. Kalau pun benar ada pusaka atau ‘besi kuning’ sekalian di situ, tidak mungkin ‘Cakra Buana” langsung ciut nyalinya sampai seperti itu. “Nggak mungkin...,” gumamnya sambil geleng-geleng kepala. Yang terkandung di sini pasti ‘sesuatu’ yang jauh lebih hebat dari semua dugaan yang muncul dalam benaknya.


Setelah dirasa cukup mengamati, Hazri pun lanjut berjalan ke rumah Untung. Masuk dari halaman samping seperti Marno tadi. Untung dan istrinya menyambut. Kopi pun segera terhidang. Sekalian pisang gorengnya.


Marno belum selesai pilih-pilih calon pejantan. Masih sibuk membolak-balik badan merpati satu per satu, ditemani seorang pekerja senior di sini. Hazri dan Untung duduk santai di atas balai-balai bambu. Ngobrol sambil ngopi dan menikmati pisang goreng empuk buatan Bu Untung.


“Maklumlah, Pak Untung, Si Marno kalau sudah pegang burung lupa kawan,” kata Hazri menanggapi lamanya Marno memilih pejantan.


Untung tertawa. Dia sudah tahu ketelatenan direktur CV Marno Sugeng Doro ini karena mereka sudah lama kenal. Sejak Marno masih belum siapa-siapa.


“Ngomong-ngomong, rumah hijau yang di sana itu punya siapa?”


“Yang mana, Pak Haji?”


“Itu, yang ada kolamnya.”


“Ooh..., rumahnya Pak Subakir. Emang kenapa, Pak?”


“Nggak apa-apa. Saung di kolamnya, bagus.” Hazri berkilah.


Untung setuju. “Pak Subakir memang suka ikan. Cocok bikin kolam di sini, nggak kurang air.”


Hazri mengangguk-angguk. “Sudah tua orangnya Pak Subakir itu?”


“Kira-kira enam puluhan-lah.”


“Hari-hari kerja apa?”

__ADS_1


“Eemm, apa ya? Kelihatannya sih di rumah saja ngurus kolam. Kalau nggak salah pensiunan dia, tapi saya tidak tahu pensiunan apa. Anak-anaknya yang kerja jadi karyawan pabrik.”


“Haji?” tanya Hazri.


“Iya.”


“Guru silat ya?” tebak Hazri yakin.


Tapi, ternyata Untung menggeleng. “Bukan ah. Saya nggak pernah lihat ada latihan silat di sana. Kalau malam Senin sama malam Jum’at, tengah malam, memang ada pengajian di situ. Dzikir sampai menjelang subuh. Tapi, bukan latihan silat.”


Hazri tersenyum. Itulah ciri perguruan silat kelas tinggi. Tersembunyi, tidak gembar-gembor. Cerita ayahnya, dulu Ki Ageng saat mengajar silat juga tidak terang-terangan. Sesudah latihan, mereka mengaji. Tidak semua orang kampung tahu kalau Ki Ageng adalah guru silat. Sama, kan?


“Ada apa sih Pak Haji? Kok tanya-tanya Pak Subakir terus?” selidik Untung.


“Nggak. Itu tadi, saung di atas kolamnya bagus.”


Lalu, Hazri pun mengalihkan pembicaraan ke topik lain. Cukuplah informasi awal tentang lokasi puncak ini. Untung pun tidak merasa perlu melanjutkan penyelidikan. Buat apa? Yang penting merpati Ostralinya terjual hari ini.


Selesai juga akhirnya Marno memilih jagoan. Hampir semua pejantan bule itu lolos seleksi. Kira-kira ada lima puluh ekor.


“Sekalian betinanya dong, Bos,” Untung merayu Marno.


“Nggak ah, gembrot-gembrot gitu.”


“Yee, bukan gembrot, itu Bos. Cewek bule memang gede. Normal ini. Kalau cewek lokal segede gini, baru gembrot namanya. Cobain dulu....”


Marno tetap menggeleng, tidak mempan rayuan.


“Coba saja, Mar. Rasanya benar kata Pak Untung. Kamu mau bikin indo, kan? Cobain dari dua arah. Jantan bule lawan betina lokal, sama jantan lokal lawan betina bule. Nanti dilihat, cantik mana anaknya.”


“Tuh, betul kata Pak Haji itu, Bos...,” Untung langsung menyambar.


Marno menimbang sejenak. “Oke, tapi Pak Untung ikut bantuin milih. Supaya bisa dimintain pertanggungjawaban....”


“Siap, Bos, hehehe.... Pak Haji, saya tinggal dulu ya.”


Hazri mengangguk.


Disana, Marno dan Untung pun uplek memilih betina-betina bule itu. Pakai adu argumen segala. Hazri tersenyum, lalu kembali sibuk menduga-duga ilmu silat apa yang dimiliki Pak Subakir itu.


Kira-kira empat puluh lima menit kemudian Marno dan Untung telah mencapai kata sepakat tentang pilihan betina-betina impor itu. Totalnya tujuh puluh empat ekor. Untung berseri-seri memencet kalkulator. Walau Marno selalu rewel kalau memilih, tapi tidak pernah rewel soal harga. Asal barangnya bagus, harga berapa juga jadi. Maklum, ‘Haji Mahmud’ di belakangnya.


“Nih, Bos, semuanya enam juta sembilan ratus delapan puluh ribu. Jantan ada empat puluh enam, betinanya dua puluh delapan.”


“Coba sini...,” Marno menghitung sendiri.


Harga jantan seratus ribu seekor, yang betina delapan puluh lima ribu. Mahalan jantan karena merpati ini sebenarnya termasuk jenis hias. Bulu yang jantan lebih cerah daripada betina. Kalau indukan lokal, betinanya yang lebih mahal.


Marno melihat angka yang tertera di layar kalkulator. “Oke,” katanya sambil mengeluarkan uang dari tas pinggangnya.


Untung kembali senyum-senyum. Di dapur, istrinya juga mesam-mesem.


“Pas ya?” tanya Marno.


“Sip, Bos. Makasih...,” jawab Untung. “Pak Haji, makasih banyak nih.”


Hazri pun mengangguk.


Kurungan-kurungan berisi burung-burung merpati itu dinaikkan ke bak mobil oleh anak buah Marno, dibantu dua karyawan Untung. Setelah saling berjabat tangan, mereka pun kembali ke Tidar. Hazri mengamati rumah hijau itu sambil melintas. Ada apakah gerangan di situ?


Lepas dari Progo barulah Hazri kembali memasang ‘Cakra Buana’. Sepanjang perjalanan pulang dia banyak diam. Mata terpejam, pura-pura tidur supaya tidak diajak ngobrol oleh Marno. Malas bicara karena pikirannya nyangkut terus ke rumah lokasi puncak tadi...

__ADS_1


__ADS_2