Jalan Pulang

Jalan Pulang
50. gundah


__ADS_3

Waktu terus berdetak. Pukul tujuh malam Hazri menghubungi Romi. Mereka  sepakat bertemu di pelataran parkir sebuah pertokoan di kawasan Kota Klaten jam delapanan. Hazri sengaja tidak mengarahkan langsung Romi ke kontrakannya. Dia perlu mengecek dahulu, siapa tahu Romi dikuntit polisi. Setengah delapan Hazri siap dengan penyamarannya, dan segera meluncur.


Di sana Hazri tidak turun. Mobilnya sengaja diparkir dengan kepala menghadap keluar. Berjaga-jaga, siapa tahu perlu kabur cepat. Lantunan suara Sheila On 7 menemaninya. Jam delapan lewat lima menitan Panther Romi masuk parkiran. Hazri mengecek ‘Rogo Swara’ , aman ternyata. Pajero Sport memberi lampu dim kepada Panther, lalu bergerak keluar area parkir. Panther mengikuti.


“Kita langsung ke tempatku. Aku memakai samaran, namaku Arif,” Hazri memberi tahu Romi lewat HP.


“Oke, Bang.”


Tidak sampai setengah jam mereka sudah sampai di kontrakan Hazri. Tadi sempat singgah dulu di mini market, membeli rokok, minuman, dan makanan  ringan. Pajero Sport parkir di halaman, Panther parkir di pinggir jalan. Sepi-sepi saja suasana di sekitar kontrakan ini. Mereka pun segera masuk.


“Bagus tempat ini, sepi...” Romi berkomentar.


Hazri mengangguk saja.


Mereka duduk santai dulu sebentar sambil minum bir ringan dan merokok.


“Bagaimana Jogja?” Hazri membuka percakapan.


Romi menggeleng. “Parah, diaduk-aduk polisi.”


Lalu dia pun bercerita tentang gebrakan polisi Jogja seharian tadi, yang dicari Hazri, tapi yang diacak-acak se-Jogja. “Kampus Biru disapu habis, untung Cak Jalal bisa lolos. Bringharjo sama, kocar-kacir semua di sana. Malioboro, Pasar Klitikan, Giwangan...semuanyalah. Benar-benar kurang ajar. Sampai anak-anak lampu merah pun diangkat.”


Hazri menghela napas. “Cak Jalal lolos?”


“Kudengar begitu, Bang. Tadi Tomi juga bilang begitu. Oo iya, Tomi sudah nongol. Baik-baik saja dia.”


“Ke mana katanya?”


“Biasa, Bang, ngeremin ayam-ayamnya yang pada panik.”


“Sialan tuh anak...,” Hazri meringis sedikit.

__ADS_1


“Memang kelewat gila si Sunda ini. Tadi dia cerita katanya habis jalan-jalan santai di Polda, ditemenin ayamnya yang baru...”


“Hah? Main ke Polda dia?”


Romi mengangguk. “Nggak sampai ke dalam. Putar-putar saja di depan, kesana-kemari. Sempat-sempatnya pula dia ngebakso sama ayamnya itu.”


Hazri geleng-geleng kepala mendengar tingkah laku anak buahnya itu.


“Gebleknya dia bilang gini, tempat paling aman kalau dikejar polisi ya di kantor polisi...”


“Busyet. Memang benar sih, cuma tetap saja gila tuh anak...,” Hazri meringis lagi.


Perbincangan berlanjut. Hazri berkata bahwa sementara ini tidak ada yang bisa mereka lakukan. Suka atau tidak, mereka hanya bisa menunggu ketegangan mereda. Soalnya lawan mereka polis. Dan hitung-hitungannya jelas, tidak ada untungnya sama sekali perang melawan polisi. Ruginya yang pasti. Apa yang direbutkan? Seperti sekarang, gara-gara ngikuti emosi akibatnya sungguh tidak enak di hati. Coba kalau di awal kabur saja, mungkin Sapri dan Ajay tidak harus mati.


“Yakuza, Mafia atau bahkan Kartel pun kalau bisa menghindar saja, bukan takut kalah perang lawan polisi. Ngapain? Bagusan kerja sama...,” kata Hazri. “Kalau lawan geng lain sih masih nggak soal, pasti ada duitnya di situ. Bisa menang, bisa kalah. Bisa untung, bisa rugi. Kalau sama polisi? Ruginya doang yang gede...”


Romi manggut-manggut, paham juga kenapa Hazri tidak minta bantuan dengan Yakuzanya Day. “Kurasa benar. Kita memang belum pernah tempur lawan polisi seperti ini, paling selama ini cuma urusan kres kecil-kecilan. Mudah itu untuk dibereskan.”


“Itulah, Rom, kita sama belajar. Sekarang kita tunggu situasinya reda. Bilang ke teman-teman, dibuat santai saja tapi jangan terlena...,” kata Hazri “Kecuali sangat terpaksa, lebih baik lenyap saja dulu. Nggak perlu nongol-nongoln kepala. Biarkan saja mereka yang kecapekan nyari kita, nanti lama-lama juga bakalan bosan sendiri.”


Hazri setuju. “Yang penting kalian lenyap. Mau ngapain kek terserah, pokoknya lenyap. Main gaple boleh, main gitar boleh, nonton perkembangan situasi boleh. Apa saja, asal jangan kepancing naik.”


Romi mangangguk paham. “Oh iya, ada kabar dari Zii...l...” Hazri yang meneguk birnya melihat Romi dengan seksama. Romi diam sebentar. Dia memutuskan untuk tidak memberi tahu informasi yang dia dapat dari salah satu anak buahnya tentang Zilfa. Dia tidak ingin menambah pikiran ketua sekaligus sahabatnya ini.


“Tidak, Bang.” Romi meringis kecil. Diremasnya sebuah undangan pernikahan bercover batik.


Tertulis dengan jelas dalam undangan itu sebuah nama ZILFA MUFIDAH AZ ZAHRA & ARJUNA.


*


Di sebuah pagi buta, di sebuah kamar kos, Dewi kaget bukan kepalang setelah diberi tahu oleh sahabatnya, Susi, tentang koran yang memuat foto Hazri Tiger. Dewi sama sekali tidak menyangka kalau berita-berita dan cerita kawan-kawannya yang menurutnya sangat ngeri itu didalangi oleh Hazri, orang yang dicintainya.

__ADS_1


Dewi langsung memeluk sahabatnya dan menangislah dia. Susi membiarkan sahabatnya ini menumpahkan perasaannya. Dia menusap-usap punggung Dewi. Hatinya turut merasakan.


Ada lima belas menitan Dewi menangis. Sampai bagian pundak daster Susi basah terkena air matanya. Perlahan-lahan tangisan mulai mereda. Dewi melepaskan pelukannya. “Makasih, Sus,” dia berucap, Susi tersenyum kecil.


“Hazri Tiger...,” Dewi mendesah pilu. Sungguh dia tidak menyangka kalau Mas Hazrinya adalah Hazri Tiger yang menurut anggapannya selama ini sangat kejam itu. “Kenapa harus Hazri Tiger? Kenapa bukan yang lainnya saja yang jadi Tiger. Biar Mas Hazri jadi kucingku saja.”


Sejujurnya Susi ingin tertawa. Tapi, dilihatnya Dewi mengungkapkan kata tadi tanpa sadar maka Susi sekuat tenaga menahan tawa. Untungnya bisa.


Selanjutnya, mereka pun curhat. Dewi bercerita bagaimana dia ngobrol dengan Hazri soal Blandongan, Kampus Orange, dan Kedubes Jepang.


“Rasanya nggak mungkin, Sus. Masak sih Mas Hazri sekejam itu? Dia baik sekali... Aku tetap nggak percaya kalau bukan Mas Hazri sendiri yang bilang. Walaupun presiden yang bilang juga...,” kata Dewi.


Dewi kemudian meraih HP menghubungi Hazri. Berkali-kali tidak diangkat. Dewi semakin sedih. Ada yang berat terasa di dada. Dewi lalu terlungkup di tempat tidurnya. Menangis sesenggukan. Susi dengan sabar menemani.


Sementara di sebuah kantor redaksi surat kabar di Jogja terlihat seorang mahasiswi magang berkerudung biru tua sedang duduk di sebuah taman. Kedua bola mata berliannya berkaca-kaca dipenuhi air mata yang hampir tumpah. Hanya butuh sepersekian detik akhirnya tumpah juga air mata itu. Terus turun hingga menetes ke koran dan sebuah undangan pernikahan.


“Hazri...” pundaknya terguncang terisak.


HAZRI KOBRA DALANG PEMBUNUHAN DAN PEMBANTAIAN ditulis oleh Zilfa Mufidah Az Zahra. Sebuah berita yang menjadi headline news hari itu. Tertampang juga sebuah foto Hazri yang diambil dari data SIM oleh pihak kepolisian.


“Hei, Zilfa, kenapa..?” sapa Shanaz teman magangnya.


Zilfa melihat sebentar Shanaz lalu memeluknya. Menangis lah dia. Koran di cengkeram kencang, sebuah undangan pernikahan pun jatuh. Shanaz tahu apa yang sedang dialami oleh temannya ini. Tadi pagi calon suaminya datang membawa contoh undangan pernikahan mereka berdua yang akan dilaksanakan minggu depan. Sejak tadi pagi pula Zilfa sudah membawa koran yang memuat berita tentang Hazri. Semenjak itu dia terlihat murung bahkan saat calon suaminya datang dia hanya senyum-senyum sedikit.


“Keluarkan semuanya, Zil...”kata Shanaz. Zilfa semakin kencang memeluk Shanaz sambil terus menangis sesenggukan. Shanaz tahu kalau Zilfa menaruh hati ke Hazri, dan dia yakin Hazri juga menaruh hati ke Zilfa.


Bukan cuma Dewi dan Zilfa yang gundah saat ini. Di sana, di tempatnya masing-masing, Yudi, Tika, Kang Tejo, Mbok Ijah juga sama. Mereka merasakan kesusahan yang mendera Hazri. Nun jauh disana, ada Emak, Siti, dan Udin. Ada Haji Sulton, Umi, dan Ria juga....


Secuil Kopi


__ADS_1


Sheila On 7 adalah grup musik Indonesia yang berdiri pada 6 Mei 1996 di Yogyakarta.Grup band ini pada awalnya adalah sekumpulan anak-anak sekolah dari beberapa SMA di Yogyakarta.5 Anggota di awal berdirinya adalah Duta (vokal) berasal dari SMA 4, Adam (bass) dari SMA 6, Eross (gitar) dari SMA Muhammadiyah I, Sakti (gitar) dari SMA De Britto, dan Anton (drum) berasal dari SMA Bopkri I . Mereka sepakat untuk membentuk sebuah band dan membawakan lagu-lagu dari kelompok Oasis, U2, Bon Jovi, Guns N' Roses, dll. Pada waktu itu juga, mereka telah memiliki beberapa lagu-lagu orisinal karya mereka sendiri dan mereka mencoba untuk memperkenalkan dan membawakan lagu-lagu tersebut dengan penuh rasa percaya diri di berbagai pentas.


Grup ini awalnya bernama Sheila Gank yang diambil dari kata Sheila dari bahasa Keltik yang berarti musikal. Nama ini pun kemudian diubah menjadi On Seven, yang berarti tujuh tangga nada dalam musik. SO7 dalam perjalanan bermusik telah beberapa kali mengalami perubahan formasi. Pada Oktober 2004, Brian masuk menggantikan Anton yang dipaksa mengundurkan diri karena dianggap tidak disiplin.


__ADS_2