Jalan Pulang

Jalan Pulang
52. pesan sang tiger


__ADS_3

Malam ini Hazri menginap di Banguntapan. Besoknya, dia menunggu telepon dari Fahmi sebagai reaksi atas aksinya tadi malam. Hazri yakin, Fahmi pasti tahu dia yang berbuat itu. Sebenarnya bisa saja Hazri langsung menghubungi Fahmi karena punya nomornya, tapi dirasa kurang nyaman. Kesannya Hazri yang butuh, nanti Fahmi jual mahal pula. Apalagi tempo hari teleponnya juga tidak direspon oleh Hazri. Seharian ditunggu ternyata belu juga Fahmi menghubunginya.


“Sialan. Apa mungkin Fahmi tidak tahu aku yang buat itu semua?” tanya Hazri ke Romi yang duduk menemaninya.


“Ah, tahu pasti, Bang. Tahan harga saja dia.” Romi berkomentar.


“Coba tanya si Kuncrit, gimana di sana...,” perintah Hazri.


Romi pun menghubungi Kuncrit yang sejak pagi diperintahkan mengamati situasi rumah Fahmi. Kuncrit melaporkan bahwa kaca-kaca jendela itu sudah hampir selesai diperbaiki. Pasang baru semua. Dia juga melapor, kalau siang istri Fahmi selalu menjemput anaknya pulang sekolah di daerah Sapen.


“Tadi aku ngikutin istrinya, Bang...,” kata Kuncrit.


“Pakai sopir?” tanya Romi.


“Iya, Bang. Polisi juga kayaknya.”


“Tahu dari mana kalau dia selalu pergi jemput anaknya, Crit?”


“Tukang lotek tempatku nongkrong yang cerita.”


“Oke, kau tetap di sana dulu ya.”


“Siap, Bang.”


Romi memandang Hazri, “Hampir selesai kacanya diganti. Kuncrit bilang istrinya selalu keluar rumah jemput anaknya pulang sekolah kalau siang..., bagaimana, Bang?” dia menyeringai.


Hazri paham maksud Romi. “Janganlah, Rom, nggak tega aku...”


“Halah, Bang. Cuma nakut-nakutin doang. Lagian mereka di kampung Abang sana lebih parah. Pakai bentak-bentak, nendang, nempeleng...”


Hazri tetap menggeleng. “Kita coba sekali lagi, Rom.”


Romi menepuk jidatnya. “Kadang-kadang kurasa Abang ini seperti ustadz-ustadz saja...,” Romi ngedumel kesal.


Hazri tidak berkomentar.


Malamnya mereka kembal menyatroni rumah Fahmi seperti kemarin. Kaca-kaca jendela yang baru diganti itu pun pecah berantakan lagi. Besoknya, pagi-pagi Kuncrit sudah lapor bahwa Fahmi kelihatan marah-marah sebelum berangkat kerja. Berdiri kacak pinggang di tepi jalan sambil tengok kanan tengok kiri. Romi terbahak-bahak mendengar laporan anak buahnya itu. Senang betul dia tampaknya. Fahmi baru berangkat kerja setelah satu mobil patroli datang. Dua polisi menjaga rumahnya kini.


Hazri duduk sambil menyeruput teh hangat yang disediakan Romi. Beli di warung Burjo dekat situ. Dia menunggu respons dari Fahmi atas aksi keduanya ini. Tadi malam, selain memecahkan kaca jendela Hazri juga mengirim pesan. Dia menulis kata ‘Hazri si Tukang Parkir’ dengan spidol merah di secarik kertas. Kertas itu direkatkan ke batu menggunakan lakban bening lalu dilempar masuk ke halaman rumah Fahmi sebelum kabur. Pasti pesan itu diterima tuan rumah. Tapi, sampai menjelang siang ternyata Fahmi belum juga merespon. Hazri sudah mulai kesal, apalagi Romi yang sedari tadi sudah nyut-nyutan kepalanya.


Tiba-tiba HP Hazri berdering. Segera diraih, disangka Fahmi. Ternyata Udin.


“Assalamu’alaikum, Cak.” sapa Udin.


“Ya, Din.”


“Cak, mereka datang lagi...,” suara Udin tersendat. “Siti juga ditempeleng...,Emak...”


“Kenapa, Emak?!” serunya tertahan.


“Emak melawan, didorong..., jatuh, kakinya terkilir.”


“Biadab! Aku bunuh kau, Fahmi!” desis Hazri. Merah padam wajahnya.


Romi memperhatikan sambil menjawab telepon dari Kuncrit yang barusan masuk ke HPnya.


“Cak, apa nggak sebaiknya kami pergi dari sini saja?” tanya Udin.


Hazri diam sebentar. “Jangan, Din, sabar dulu...”

__ADS_1


Udin sekarang yang diam.


“Tapi, Cak, kasihan Emak dan Siti...” katanya lagi agak memelas.


“Jangan, Din. Percaya kepadaku. Aku minta waktu sehari dua hari ini untuk menyelesaikannya.”


Udin terdiam lagi.


“Kamu serahkan semua ini padaku...”


“Baiklah, Cak. Kita akan coba bertahan.”


“Makasih, Din.”


“Ya sudah, Cak. Aku mau nengok Emak dan Siti dulu.”


“Iya, jaga mereka.”


“Wassalamu’alaikum.”


“Heemm...”


Hazri menutup Hpnya. Dia mengusap-usap wajah lalu memandang Romi yang juga sedang melihatnya.


“Istrinya barusan keluar...” kata Romi sambil mengangguk-angguk.


Hazri mengatur napasnya yang memburu. “Ayo!” dia pun berkata.


Romi mengangguk sigap, dia keluar mempersiapkan mobil. Hazri memakai penyamaran dan segera menyusul. Lalu, mereka pun meluncur cepat ke arah Sapen. Di perjalanan, Romi menghubungi Kuncrit menanyakan kepastian tujuan istri Fahmi. Tadi, saat Kuncrit menelepon, Romi langsung memerintahkan dia untuk membuntuti mobil istri Fahmi.


“Tetap, Bang, ke sekolahan yang di Sapen. Cuma sekarang dikawal polisi, ikut di mobilnya,” jawab Kuncrit.


“Satu. Berarti ada dua sama sopirnya.”


“Kau dimana?”


“Di warung jus buah, dekat sana.”


“Belum bubaran kan sekolahnya?”


“Belum, Bang. Hampir..”


“Oke, Crit, aku sama Bang Hazri ke sana. Kau pantau terus.”


“Baik, Bang.”


Pajero Sport meluncur cepat. Karena menjelang tengah hari maka jalanan sudah tidak terlalu padat. Akhirnya, sampai juga mereka di sasaran tepat saat bubaran sekolah. Romi melihat Kuncrit di warung jus buah depan sana memberi kode. Romi menghentikan mobil di tepi jalan dekat sekolahan itu.


“Bagaimana sekarang, Bang?” tanya Romi.


Hazri tidak menjawab, dia sedang mengamati situasi. Mobil Xpander keluarga Fahmi ada di parkiran sebuah tanah kosong depan sekolah itu, menunggu giliran  untuk keluar. Kacanya gelap. Hazri mengerahkan tenaga dalam ke mata, dia perlu tahu siapa yang ada di dalam mobil itu. Ternyata istri Fahmi, anak perempuannya, sopir, dan seorang polisi pengawalnya semua ada. Lengkap di dalam mobil.


“Merek semua di dalam mobil.” kata Hazri. “Kamu bersiap di sini, bawa mobil agak ke depan sana. Aku mau turun...,” sambungnya.


Romi mengangguk.


Hazri merapikan penyamarannya. Kemudian segera turun dan berjalan menuju sasaran. Sambil berjalan dan menggenjot ‘Rogo Kumitir’ hingga seperempat tenaga dalam. Kaus lengan panjangnya menyamarkan perubahan tangan. Hazri melangkah begitu tenang, bahkan sangat santai saja. Begitu sampai di samping mobil Xpander itu dia langsung menyabetkan tangan kanannya yang terisi ‘Rogo Kumitir’ ke arah penumpang di kursi depan. Seketika itu, polisi dan sopir yang duduk di situ  tersentak kaget seperti tersengat listrik dan langsung terkulai pingsan. Hebatnya, kaca mobil Xpander itu tidak pecah karena sabetan energi supranatural tadi.


Cepat sekali kejadiannya dan tanpa menimbulkan kegaduhan. Hazri menarik hendel pintu penumpang belakang, terkunci. Segera dia menggeser ‘Rogo Kumitir’ ke ‘Belut Lunyu’. Cuma perlu tiga detik...klek! Kunci terbuka. Hazri menarik hendel dan langsung masuk ke dalam mobil tanpa basa-basi.

__ADS_1


Hazri menatap tajam istri kenalan lamanya ini yang sedang merangkul anak semata wayangnya. Kasihan juga sebenarnya, tapi apa boleh buat. Istri Fahmi terkesima, mulutnya terkunci rapat. Jangankan teriak, berucap saja tidak ada. Hazri mengendurkan tenaga dalam di matanya.


“Maaf, Bu, saya mengganggu sebentar. Perkenalkan saya Hazri Tiger. Tolong Ibu sampaikan pesan saya ke suami Ibu, Pak Fahmi Putra. Jangan ganggu keluarga saya di Jombang. Itu saja, Bu. Saya ulangi, jangan ganggu keluarga saya di Jombang! Tolong sampaikan pesan itu ke suami Ibu,” kata Hazri tegas.


Istri Fahmi itu mengangguk paham tergagap-gagap.


“Mereka tidak apa-apa...” Hazri menunjuk dua penumpang depan yang masih terkulai pingsan. “Sekali lagi, tolong sampaikan pesan saya tadi ke Pak Fahmi Putra. Jangan sampai tidak! Permisi...” Hazri menatap anak perempuan Fahmi yang ketakutan di pelukan ibunya, lalu mengusap lembut rambut bocah itu. Hazri pun bergegas keluar, berjalan tenang saja menuju Pajero Sport yang siap di depan sana. Lalu, mereka pun kabur. Saat melintasi kawasan warung makan mahasiswa, mata Hazri beradu dengan sebuah mata berlian yang mulai redup sinarnya. Bukan hilang sinarnya hanya harus di bagi dengan seseorang yang sudah halal memilikinya.


“Zilfa...” desah  Hazri. Romi hanya bisa diam terpekur. Hazri sudah tahu tentang pernikahan Zilfa. Itupun tidak sengaja dia tahu saat menemukan undangan di ruang tamu rumah Romi. Romi pun mejelaskan, dan Hazri paham itu semua.


Hazri menatap lekat kedua mata itu. “Semoga engkau bahagia...” desahnya lagi


PERMATAKU YANG HILANG.


Secuil Kopi


Wahai Layla Kekasihku


 


 


Wahai Layla kekasihku


Berjanjilah pada keagungan cinta agar sayap jiwamu dapat terbang bebas


Melayanglah bersama cinta laksana anak panah menuju sasaran


Cinta tidak pernah membelenggu


Karena cinta adalah pembebas, yang akan melepaskan


buhul-buhul keberadaan


Cinta adalah pembebas dari segala belenggu


Walau dalam cinta, setiap cawan adalah kesedihan


Namun jiwa pecinta akan memberi kehidupan baru


Banyak racun yang harus kita teguk untuk menambah


kenikmatan cinta


Atas nama cinta, racun yang pahit pun terasa manis


Bertahanlah kekasihku, dunia diciptakan untuk kaum pecinta


Dunia ada karena ada cinta


 


 


 


 


(Bab II, hlm. 16-17, situasi ketika Qays dalam kerinduan memuncak mengendap-endap ke rumah Layla, seraya menciumi rumah mawar itu dengan derai airmata membasahi pipi. Ia melantunkan syair ini, tak peduli apakah Layla mendengar atau syairnya tertelan dinding rumah)

__ADS_1


__ADS_2