
“Mas Mahmud, Anda akan menerima tiga rahasia dasar al-Irfan. Ketiganya adalah aurat ilmu, sangat dilarang dibuka atau diberitahukan kepada orang lain tanpa hak. Semua orang lain, termasuk ibu Anda jika beliau belum berbaiat. Apa pernyataan ini bisa Anda pahami?” tanya Pak Subakir tegas.
“Iya, Pak. Saya berjanji,” Hazri menjawab mantap. Walau kaget lagi karena Pak Subakir hanya menyebut ibu Anda, tanpa bapak. Bagaimana bisa tahu kalau ayahnya sudah meninggal?
“Dengan tiga rahasia al-Irfan itu, Mas Mahmud akan dapat memulai perjalanan menuju Kesejatian. Bagaimana? Siap?”
Hazri mengangguk. “Siap.” Dia melirik arlojinya, tengah malam lewat tujuh belas menit waktu Progo.
Pak Subakir menghela napas. Dia memegang tangan kanan Hazri seperti pegangan penghulu pada ijab kabul pernikahan. Jempolnya ditekan. “Bismillah. Mas Mahmud ikuti ucapan saya ya....”
Hazri mengangguk.
“Astaghfirullah, innahu kana ghafaar...,” ucap Pak Subakir mengawali sumpah suci baiat itu. Hazri mengikuti. Lalu, kata demi kata yang diucapkan Pak Subakir pun diikutinya dengan lancar.
Perlahan, tubuh Hazri bergetar. Peluh merembes keluar. Satu per satu kunci supranatural ‘Cakra Buana’ terlepas sendiri. Ajian-ajian itu pun kemudian seolah menari-nari riang dalam tubuhnya. Tenaga dalam yang jadi penabuh gendang.
Sumpah suci itu terus diucapkan....
“Demikian saya bersumpah kepada Allah,” ucap Pak Subakir.
“Demikian saya bersumpah kepada Allah,” Hazri mengikuti.
“Laknat Allah langsung kepada saya, jika saya melanggar sumpah ini,” ucap Pak Subakir lagi.
“Laknat Allah langsung kepada saya, jika saya melanggar sumpah ini,” Hazri pun mengikuti. Seeerr.. Darahnya mendesir saat mengucap kalimat ini.
“Alhamdulillah,” ucap Pak Subaki.
__ADS_1
“Alhamdulillah,” ucap Hazri.
Jep. ‘Cakra Buana’ kembali tenang. Terkunci sebagaimana tadinya. Tenaga dalam pun menyudahi tabuhan gendangnya. Sebentuk keheningan anggun terasa mengalir lembut dalam dirinya sekarang.
“Nah, Mas Mahmud, sekarang Anda adalah manusia.yang berbaiat kepada Allah. Mari saya buka rahasia al-Irfan itu.” Lalu, Pak Subakir membuka satu per satu rahasia ini. “Yang pertama....”
Maka, Hazri pun termangu mendengar rahasia yang pertama itu. Makin termangu untuk yang kedua, bibirnya agak membuka.... Lalu, menangislah dia setelah yang ketiga tuntas dibuka. Awalnya pelan terisak, kemudian menjadi tersedu-sedu. Akhirnya, meraung macam anak TK tidak jadi dibelikan mainan oleh ibunya. Bukan main, seorang Hazri Tiger pun rela menangis seperti itu.
Pak Subakir, Bilal, dan Agil keluar menuju saung kolam. Mereka memberi waktu kepada Hazri untuk melepas beban dirinya setelah mengetahui rahasia al-Irfan tadi. Bertiga duduk diam di situ sambil memainkan tasbihnya masing-masing. Bilal memilin pelan-pelan, setiap gerakan biji tasbihnya diresapi dengan syahdu. Agil lain, untaian tasbih pendek yang hanya berbutir sepuluh itu diputarnya cepat. Matanya memejam, badan bergoyang-goyang. Pak Subakir seperti biasa, ditarik-tarik. Bermacam gaya, satu makna. Ingat...
Sepuluh menitan kemudian Hazri muncul. Wajahnya kelihatan riang dengan senyum tipis tersungging di bibir.
“Sini, Mas...,” panggil Agil. Dia yang pertama melihat kemunculannya.
Hazri menuju ke saung itu. “Ini yang namanya bar setu minggu bar nangis ngguyu..” canda Pak Subakir.
Agil dan Bilal pun tertawa.
Pak Subakir tersenyum dipanggil ‘guru’ oleh Hazri. “Boso Jowo...,” jawabnya. Bahasa Jawa. “Habis Sabtu Minggu, habis nangis tertawa-tawa, hehehe....”
“Ah...,” Hazri jadi malu-malu.
“Kok Guru bisa boso Jowo?”
“Lha kulo wong Jowo...,” jawab Pak Subakir.
Hazri tertawa lagi. Bisa ketebak kira-kira artinya kalimat Jowo yang ini.
__ADS_1
“Kalau Mas Mahmud dari mana?” Agil yang tanya.
“Jauh, Kang Agil, dari seberang pulau. Timurnya Jawa,” Pak Subakir yang menjawab.
Busyet, Hazri meringis lagi. Kapan dia ngomong asal usulnya? Ngomong juga dari Tidar bukan Jawa. “Timurnya Jawa mana, Guru?” tembak sekalian.
“Jawa Timur. Jombang...” jawab Pak Subakir sambil senyum-senyum.
Busyeet dah. Sudah, nyerah. Hazri geleng-geleng kepala. Salut dia.
“Hahaha... Dari kota santri nyangkut di gunung Tidar, terus turun ke kali Progo, hahaha.... Dasar pewaris...,” kata Pak Subakir.
Semua pun ikut tertawa. Hazri yang paling keras.
Pembicaraan terus berlanjut. Hazri bertanya ini dan itu yang belum dia pahami dari kitab al-Hikam. Pak Subakir menjawab dengan mudah pertanyaan-pertanyaan kelas berat itu. Lain memang kalau orang sudah sampai ilmunya. Kalau bertanya ke yang baru sampai pengertian, pasti runyam kuadrat yang menjawab runyam, yang dengar lebih runyam.
Hingga menjelang pukul tiga dini hari...
“Bapak istirahat dulu ya. Kalau Mas Mahmud masih mau ngobrol sama Kang Bilal dan Kang Agil silakan saja. Ingat, dzikir Cahaya. Gunakan itu untuk memperjalankan ruhani menuju Kesejatian. Tidak ada kenal tanpa ingat. Ingat dulu baru bisa kenal. Kalau sudah kenal baru bisa dekat. Kalau sudah dekat silakan melebur. Tenggelam ke ‘lautan tanpa batas’ atau kembali ke hadirat ‘kitab tanpa halaman’. Pahami baik-baik ya. Ingat, kenal, dekat..., lebur. Begitu.”
Hazri mengangguk. Walau masih dalam batas pengertian, siloka atau simbolis yang dipakai Pak Subakir itu bisa dimengerti. Kalau sebelumnya, dia pasti pusing tujuh keliling. Apa itu ‘lautan tanpa batas’ atau ‘kitab tanpa halaman’? Emangnya ada laut yang tidak berpantai? Atau, kitab yang tidak punya halaman?
Ada, kata Pak Subakir. Hazri mau ke sana diantar beliau.
“Sekali lagi, Mas Mahmud, dzikir Cahaya. Dzikirkan ruh Anda. Pegang teguh itu, kerjakan seperti yang Bapak ajarkan tadi. Kesejatian hanya bisa dipahami dengan Kesejatian. Tidak ada ceritanya kepalsuan mampu mengungkap kebenaran.”
Hazri mengangguk-angguk lagi. “Segini dulu ya. Besok kebetulan malam Jum’at, Mas Mahmud bisa ikut tawasulan. Kita berdzikir bersama. Mulainya jam dua belas malam. Seminggu dua kali, malam Senin dan malam Jum’at. Setelah itu, kita bisa bincang lagi lebih dalam, sesuai tahap perjalanan. Cukup dulu ya? Wassalamu’alaikum....”
__ADS_1
“Wa’alaikum salam...,” jawab mereka bertiga. Semua menyalami dan mencium tangan Pak Subakir, termasuk Hazri. Lalu, sang guru pun beranjak ke dalam rumah.
Sebenarnya Hazri masih segar, tapi karena Bilal dan Agil juga kelihatan sudah lelah maka dia tahu diri. Sekitar lima belas menit kemudian Hazri pun pamit pulang kepada dua ikhwannya ini. Besok-besok masih banyak waktu untuk ber-muthalaah, berbincang antar-sejati manusia tentang Kesejatian Mutlak....