Jalan Pulang

Jalan Pulang
77. belajar ajian tauhid mutlakah 1


__ADS_3

Shalat isya’ berjamaah baru saja usai. Hazri duduk terpekur di pojok belakang ruangan dalam Masjid Al-Khoir. Agak di tengah sana, Faruq tengah bersiap mengajar mengaji para remaja kampung ini. Tasbih dipilin-pilin seperti biasa. Hatinya sedang gundah.


Bagaimana tidak? Hampir dua minggu bolak-balik ke Progo minta belajar ajian “Tauhid al-Mutlakah’, ditolak terus. Menunggu tanda, belum saatnya, menunggu tanda, belum saatnya..., begitu selalu alasannya. Tanda apa dan kapan datangnya pun Hazri tidak tahu karena Pak Subakir tidak mau membuka. Bingung, rasanya sudah dekat, namun tak kunjung terpegang. Dihitung-hitung berarti sudah sembilan kali dia ke sana, termasuk yang pertama.


Di sana, Hazri berkenalan dengan beberapa murid perguruan silat ‘Safinatun Najat’. Dua di antaranya bernama Bilal dan Agil. Keduanya ini selalu ada setiap kali Hazri datang, kecuali yang pertama. Tampaknya murid senior karena aura energinya juga lebih kuat dibanding yang lain. Disatu kesempatan, Hazri sempat curhat kepada mereka, bertanya kira-kira mengapa Pak Subakir belum juga mau menerimanya menjadi murid. Siapa tahu mereka tahu alasannya.


“Semua tergantung niatnya, Mas Mahmud,” jawab Agil.


Bilal senyum-senyum saja sambil terus memutar tasbihnya.


“Lho, niat saya kan sudah jelas, Kang Agil? Saya mau belajar ajian ‘Tauhid al-Mutlakah’...,” kata Hazri. Mendengar itu, Bilal dan Agil tampak kaget sebentar, lalu terkekeh.


“Kenapa?” Hazri heran, sedikit kesal juga. Sudah bolak-balik ditolak oleh Pak Subakir, eh...sekarang malah ditertawai muridnya.


‘“Nggak, nggak, Mas Mahmud. Maaf. Pokoknya tadi, semua tindakan tergantung pada niatnya,” kata Agil sambil masih mengulum senyum.


Hazri merenung sebentar. “Menurut Akang, apa yang salah pada niat saya?”


“Yang tahu niat Mas Mahmud ya Mas Mahmud sendiri, dan Allah. Saya tidak tahu apa-apa soal ini,” jawab Agil. Kata ‘Allah’ sengaja ditekan pengucapannya.


Hazri merenung lagi. “Kayaknya sudah benar. Apa yang kurang, ya? Mungkin Kang Agil atau Kang Bilal bisa kasih saya masukan?” pancingnya.


Agil dan Bilal sama-sama menggeleng. “Silakan Mas Mahmud merenungkannya sendiri,” kata Agil menutup pembicaraan...


Hazri memandang Faruq yang sedang membetulkan bacaan muridnya. ‘Niat, oh niat. Ada apa dengan niatku?’ dia bertanya dalam hati.


Rasanya sudah benar. Niatku belajar ajian ‘Tauhid al-Mutlakah’. Apa yang salah? Kenapa Pak Subakir masih belum mau menerimaku? Coba kutelusuri lagi. Aku datang ke Progo, mau lihat merpati Ostrali. Tanpa diduga ‘Cakra Buana’ kalah oleh ‘sesuatu’ di sana. Selidik-selidik ternyata ‘sesuatu’ itu ajian ‘Tauhid al-Mutlakah’-nya Pak Subakir. Sesuai pesan Ki Ageng, aku harus mempelajari ajian ilmu putih yang lebih tinggi dari ‘Cakra Buana’. Maka, aku berniat belajar ajian itu.


Di mana salahnya? Hazri pun geleng-geleng kepala sambil menghela napas. Tasbih terus berputar. Tiba-tiba dia terkesiap. Tampak olehnya, sebentuk nuansa ungu berhembus masuk ke dalam masjid, bergumpal-gumpal serupa asap tebal. Seperti yang dulu pernah terjadi di dalam mobil saat memaksa diri ke Jogja. Tapi yang sekarang harum, tidak pengap. Harum sekali dan semakin harum, entah wangi apa. Hazri dalam keadaan sadar, Faruq yang sedang mengajar ngaji itu pun kelihatan. Semua di dalam masjid seperti dikurung oleh asap ungu harum ini. “Allah. ..,” dia pun mendesah dalam kesadaran dirinya. Pilinan tasbih pun semakin cepat berputar.


Seketika, Jlab.... Nuansa ungu itu berubah menjadi terang benderang. Tidak jelas warna apa, pokoknya sangat benderang, tapi tidak menyilaukan mata. Halus dan lembut. Seperti yang dulu pernah dialami saat bersama Cika di kamar hotel. Kesadarannya tetap ada, tetapi Faruq dan semua di dalam masjid ini sekarang tidak tampak lagi, termasuk masjidnya. Yang ada hanya hamparan cahaya seluas tiada bertepi. Cahaya dan hanya cahaya, tidak tampak satu pun apa. Nikmat rasanya, nikmat tiada tara. Bahasa manusia takkan sanggup mengungkapkan kenikmatan itu.


“Allah, Allah, Allah, Allah...,” Hazri terus melantunkan dzikir.


Lalu, terdengar suara berwibawa laksana gemuruh guntur. “Hai Muhammad! Bukankah kau mencari mursyid?”


Hazri pun terkesiap lagi, jiwanya bergetar keras. Serasa jebol dihantam palu godam raksasa. “Subhanallab...,” dia mendesah panjang. Jlab, seketika hamparan cahaya ini lenyap, Hazri merasakan pijakannya pecah, lalu dirinya meluncur jatuh dari suatu ketinggian... slep... masuk ke jasadnya lagi.


Hazri mengatur napasnya yang memburu, sisa air mata dihapus cepat dengan lengan bajunya. Suara ramai anak-anak yang sedang mengaji masih sama seperti tadi, Faruq pun tampak mengajar seperti biasa. Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang barusan dialami oleh Hazri,


“Allah, Maha Suci Engkau...,” dia berkata pelan. “Allah, ampunilah aku...,”Hazri mendesah lagi sambil menunduk dalam.


Jelaslah kini kesalahan dalam niatnya itu. Hazri menimbang, ingin rasanya memberi tahu Faruq perihal ini. Tapi, suara hatinya melarang. Maka, dia pun menahan diri. Setelah kembali tenang, Hazri beranjak menghampiri Faruq.


“Ustadz, saya duluan...,”


“Tumben cepat, Pak Haji?”


“Iya, tiba-tiba ingat ada keperluan mendadak.”


Faruq pun mengangguk. “Assalamu’alaikum,” Hazri mengucap salam.


“Wa’alaikum salam,” balas Faruq, bersama semua muridnya.


Hazri segera pulang ke rumahnya untuk bersiap ke Progo. Mantap sekali hatinya kini karena soal niat sudah jelas. Mencari mursyid. Inilah niat sejati yang ada dalam hatinya. Kekalahan ‘Cakra Buana’ hanyalah perantara kejadian. Demikian pula dengan keinginannya belajar ajian ‘Tauhid al-Mutlakah’. Bukan itu. Niat murninya adalah mencari pembimbing spiritual berderajat kekasih Allah, mencari mursyid. Bukankah ini yang selalu dipanjatkan lewat doa-doanya? Bukan ingin segala ajian.


Dekat terasa jarak Tidar ke Progo. Kini Hazri telah berada di depan rumah Pak Subakir. Setelah mobil terparkir baik, dia pun bergegas menuju ke sana. Pintu depan terbuka lebar, tampak Pak Subakir, Bilal, dan Agil di ruang tamu. Semua tersenyum melihat kedatangannya.

__ADS_1


“Assalamu’alaikum,” sapa Hazri.


“Wa’alaikum salam,” balas mereka.


Hazri masuk, menyalami mereka lalu duduk di situ. Pak Subakir, Bilal, dan Agil semua mengenakan pakaian serba putih bersorban. Seolah mereka memang sudah menunggu kehadirannya.


“Selamat datang ‘Ki Mahmud Tidar’...,” celetuk Pak Subakir bercanda.


Hazri mesem. Bilal dan Agil juga tersenyum.


“Apa lagi sekarang, Mas Mahmud? Masih ingin ajian ‘Tauhid al-Mutlakah’?” kata Pak Subakir memancing.


Bilal dan Agil ikut memandang Hazri, wajah mereka sedikit menegang.


Hazri menghela napas. “Bismillah. Pak Subakir, saya mencari mursyid. Saya ingin mengenal Allah. Saya mau belajar ‘Tauhid al-Mutlakah’ tanpa ajian. Mohon bimbingan dari Bapak.”


“Alhamdulillah...,” Pak Subakir, Bilal, dan Agil berucap bersama-sama.


Pak Subakir langsung memanjatkan doa. Bacaan doanya itu asing di telinga Hazri. Rasanya dia belum pernah mendengar doa ini sebelumnya. Setelah berdoa, Pak Subakir berdiri memeluk erat Hazri. “Mari...,” ajaknya.


Mereka pun menuju ruangan di sebelah rumah ini. Sebuah aula kecil, mirip mushala sederhana. “Silakan duduk, Mas Mahmud,” kata Pak Subakir.


Hazri pun duduk bersila di tempat yang ditunjuk itu. Pak Subakir bersila di hadapannya. Agil ikut duduk agak di belakang Hazri. Bilal keluar lagi, entah ke mana.


“Bapak mau minta maaf dulu nih, sudah mencandai Mas Mahmud...,” kata Pak Subakir sambil tersenyum. Hazri pun ikut tersenyum. “Safinatun Najat bukan nama ilmu silat, itu adalah nama majelis dzikir di sini.”


Hazri mengangguk-angguk. “Majelis dzikir...,” gumamnya.


“Lalu, tentang ajian ‘Tauhid al-Mutlakah’, benar yang dikatakan Mas Mahmud tadi. Itu bukan ajian. Ketauhidan mutlak kepada Allah Yang Maha Tunggal bukanlah semacam ajian-ajian. Tauhid adalah kesejatian.”


Hazri mengangguk-angguk lagi. Pantas Bilal dan Agil tertawa waktu itu.


“Iya, Pak.” Hazri mengangguk mantap.


“Tidakkah terselip niat lain? Ingin kaya atau ingin sukses misalnya?”


Hazri diam sejenak, lalu menggeleng. “Tidak, Pak.”


Pak Subakir mengangguk-angguk. “Kenapa Mas Mahmud ingin mengenal Allah? Apa alasannya?”


Kenapa ya? Hazri pun menelisik masuk ke dalam hatinya. Ditelusuri, tidak ketemu. Dicoba lagi, tetap tidak ketemu. Kenapa ya? Apa ingin jadi kekasih Allah? Mungkin iya, awalnya karena terpengaruh cerita Faruq, tapi cuma sebentar. Sekarang, sudah tidak ada lagi keinginan itu. Jadi, kenapa? Kembali hati dijajaki.


“Terbuka saja, Mas Mahmud, jangan disembunyikan,” kata Pak Subakir. Mungkin karena dilihatnya Hazri agak lama merenung.


“Eemm..., nggak ketemu, Pak, tidak ada alasannya. Saya hanya ingin mengenal Allah, sudah begitu saja. Bukan karena apa-apa...,” jawab Hazri akhirnya. Khawatir juga kalau jawabannya ini salah.


“Itukah yang sebenarnya?” tanya Pak Subakir serius.


Waduh salah kayaknya, batin Hazri. Tapi, dia menjawab jujur. “Betul, Pak. Saya tidak punya alasan. Alasannya, tidak ada alasan.”


“Alhamdulillah...,” ajar Pak Subakir. “Seperti itulah niat hakiki.”


Lho, benar ternyata..


“Niatnya sudah betul. Tapi, Bapak masih perlu tanya-tanya lagi nih.”


Hazri meringis. Belum selesai ternyata wawancaranya.

__ADS_1


“Menurut Mas Mahmud, sejatinya manusia yang mana?”


Kening Hazri langsung berkerut. “Sejatinya manusia yang mana? Apa maksudnya, Pak?”


“Sejatinya manusia. Antara jasad dan ruh, mana yang sejati?”


Hazri masih belum paham. Dia tahu manusia punya jasad dan ruh, tapi maksud yang sejati yang mana itu apa?


“Kalau orang mati, yang pergi apanya?” tanya Pak Subakir lagi.


“Ruhnya...,” jawab Hazri.


“Nah, ada ruh dan ada jasad pada diri manusia. Yang sejati yang mana?”


Hazri merenung. “Saya rasa, ruhnya.”


Pak Subakir mesem. “Bukan jasadnya?”


Hazri menggeleng pelan. “Ruhnya.”


“Kenapa ruhnya?” kejar Pak Subakir.


“Karena ruh menuju alam keabadian, sedang jasad habis di tanah.”


Pak Subakir mengangguk. “Benar. Kenapa ragu? Sejati manusia adalah ruhnya. Jasad hanya sekedar wadah yang akan habis dimakan waktu. Sesuatu yang sejati tidak rusak. Kalau masih bisa rusak atau hancur berarti bukan sejati. Itu semu alias palsu. Tapi, tolong dipahami bahwa Bapak bicara pada taraf kesejatian murni. Bukan sejati menurut takaran duniawi atau sekedar standar manusiawi.”


Hazri meresapi ucapan Pak Subakir. Benar, mestinya begitu. “Jadi, Pak, berarti ruh manusia itu tidak bisa rusak atau hancur?”


“Iya. Buat apa lanjut ke alam abadi kalau bisa rusak? Ketahuilah, Mas Mahmud, ruh manusia itu selalu suci, murni. Ruh, bukan jiwa.”


“Emang, ada bedanya antara ruh dengan jiwa?”


Pak Subakir tertawa kecil. “Jelas, nyata bedanya.”


“Apa itu, Pak?”


“Nanti ya. Sementara terima saja dulu sampai pengertian bahwa ruh dan jiwa itu berbeda makna. Sebab, ini sudah masuk bagian ilmu hakikat.”


Hazri pun mengangguk paham.


“Bapak lanjutkan. Ruh itu bersifat tetap kesejatiannya. Utah, tidak muda tidak tua, tidak tampan tidak jelek, bukan laki-laki dan bukan pula perempuan.”


“Hah? Ruh bukan Jaki-laki bukan perempuan, Pak?” Hazri kaget.


Pak Subakir dan Agil tersenyum.


Hazri menggeleng-geleng, sulit percaya. Sepengetahuannya selama ini, ruh ada yang laki-laki dan ada yang perempuan. Kalau tidak begitu, buat apa sekarang ada laki-laki dan ada perempuan?


“Susah percaya, Mas Mahmud? Hahaha..., tidak apa-apa. Memang tidak bisa dipahami tanpa ilmunya karena sudah termasuk hakikat. Nanti akan paham jika Mas Mahmud sudah dapat rasanya. Kita tunda dulu bagian ini, percuma kalau dipaksakan. Man lam yadzud lam yadri..., yang tidak merasakan, tidak tahu.”


Hazri mengangguk-angguk.


“Tapi, boleh juga Bapak kasih PR gampang nih. Dijawabnya nanti saja kalau Mas Mahmud sudah merasakan. Misalnya, ada orang yang buntung tangan atau kakinya, apa ruhnya juga ikut buntung?”


Hazri terhenyak. Pak Subakir dan Agil tertawa-tawa ringan.


Bilal masuk membawa nampan. Di atasnya ada empat gelas kopi panas mengebul. Rupanya dia keluar tadi untuk membuatkan ini.

__ADS_1


“Ayo, minum kopi dulu biar segar...,” ajak Pak Subakir.


Mereka pun menyeruput kopinya masing-masing.


__ADS_2