Jalan Pulang

Jalan Pulang
67. kuda sumbawa ngamuk


__ADS_3

Sore, lepas ashar, kapal tiba di Pontianak. Seperti biasa, Huda turun menemui koleganya di bawah sana, sementara muatan baru dinaikkan ke kapal. Proses normal seperti yang sudah-sudah. Sebentar saja, muatan baru ini tidak terlalu banyak. Cuma beberapa kotak palet, tapi berat. Entah apa isinya.


Huda naik ke kapal setelah proses muat selesai.


“Dasim, berangkat besok. Istirahat malam ini...,” seru Huda.


“Siap, Bos,” jawab Dasim senang. Para ABK juga kelihatan senang.


Huda menghampiri Hazri. “Ayo, siap-siap...,” ajaknya.


“Ke mana?” Hazri pura-pura lupa.


“Sudah jangan tanya-tanya.... Susah payah aku ngibulin mereka lho, kubilang ada sedikit masalah mesinlah, mesti diperiksa dululah... Pokoknya jangan bilang nggak mau...,” Huda bercanda, pura-pura marah.


“Siap, Bos...,” Hazri membalas canda Huda, ikutan gaya Dasim.


Mereka pun bersiap. Mandi, berpakaian, dan sebagainya. Sebelum pergi, Hazri mengaktifkan ‘Cakra Buana’ bertenaga dalam sekedarnya. Tidak lupa, segepok uang dibawanya serta.


Sekarang mereka sudah di dalam taksi. Tanpa banyak minta pertimbangan, Huda meminta sopir untuk menuju sebuah tempat hiburan, Hazri nggak bisa menolak.


Taksi masuk ke parkiran sebuah tempat hiburan. Lengkap di sini. Ada diskotik, karaoke, panti pijat, sauna, dan sejenisnya.


“Pak, mau nunggu nggak?” tanya Huda ke sopir.


Dia mengangguk. Hazri turun duluan dari taksi.


“Eh, Pak, Hotel Melati masih oke?” Huda bertanya pelan.


“Bagus, Pak,” dia menjawab.


“Aman?” tanya Huda lagi.


“Maksudnya, Pak?” sopir itu balik bertanya.


“Nggak pakai gerebek-gerebekan gitu?”


“Oohh.. aman. Paling aman di situ. Yang punya kan jenderal....”


Huda senang mendengarnya. Soal jenderal dia sudah tahu, ngecek saja.


“Nih, Pak, beli-beli rokok. Biar nggak bengong nunggu. Nanti antar ke Melati, kalau mau sekalian jemputnya lagi boleh...,” Huda memberi tip.


Sopir itu mengangguk. “Beres, Pak. Makasih.”


“Ayo, Rif. Mau pijat? Disko? Karaoke?”


“Karaokelah, santai...,” jawab Hazri.


“Nah, gitu dung kawan. Semangat, hahaha....”


Mereka pun masuk ke karaoke room. Hazri tetap waspada walau dari tadi aman-aman saja, ‘Cakra Buana’ stand by. Pelayan tempat ini menyambut mereka, sudah kenal baik sepertinya Huda dengan dia. Gadis itu membawa mereka ke salah satu ruang karaoke yang terhitung mewah. Bahkan, untuk standar Jogja. Hazri manggut-manggut.


“Silakan, Pak,” gadis itu menyerahkan microphone ke Hazri, yang satunya lagi ditaruh di meja karena Huda memanggilnya dari dekat pintu.


“Makasih,” ucap Hazri membalas senyumannya.

__ADS_1


“Sama-sama, Pak,” lalu dia menghampiri Huda, berbincang dengannya di situ.


“Aku mau lihat dulu ah...,” sayup-sayup ucapan Huda terdengar oleh Hazri. “Bos, sebentar ya, mulai saja kalau mau...,” kata Huda.


“Oke,” jawab Hazri.


Pintu ruangan pun ditutup. Hazri memesan lagu lokalan saja, kurang bisa kalau harus nyanyi menggunakan bahasa luar negeri walaupun ada teksnya. Lalu, menyanyilah dia.


Tak lama kemudian Huda masuk. Wajahnya agak cemberut. Hazri tersenyum melihatnya.


“Kenapa? Kehabisan ya? Udah nyanyi saja....”


Huda diam, wajahnya masih merengut.


Pintu diketuk, pelayan tadi masuk membawa dua botol minuman di atas nampan. Hazri meringis melihat salah satunya Mansion. Dia berdecak sambil melirik Huda, yang dilirik pura-pura tidak tahu, wajahnya masih juga merengut.


“Sebentar ya, Pak,” kata pelayan seksi itu ke Huda.


Busyet, jaim banget. Huda tidak menjawab. Hazri jadi tidak enak sama pelayan itu. “Iya, Mbak. Makasih,” jawabnya basa-basi, walau tidak tahu apa maksud kata sebentar itu. Dipikirnya paling makanan atau minuman lain.


Pelayan tersenyum. Lalu, berjalan keluar dan menutup pintu.


Sesaat Hazri akan menegur Huda yang menurutnya kekanakan itu, eh... dia malah ngeloyor masuk kamar mandi. Terpaksa teguran ditunda. Hazri geleng-geleng kepala. Masih rada kampungan juga Huda ini, batinnya.


Pintu diketuk.Pelayan itu lagi, tapi... bareng dua gadis sekarang. Tiba-tiba Huda keluar dari kamar mandi sambil tertawa-tawa. Pelayan dan kedua gadis itu ikut tertawa renyah. Sialan, batin Hazri. Aku dikerjain rupanya....


“Hahaha..., kena kau.”


Terpaksa Hazri ikut tertawa. Habis mau gimana lagi?


Pelayan yang ternyata bernama Luna itu tersenyum menutup pintu. Kedua gadis itu pun beranjak mendekati pelaut asli dan ‘gadungan’ ini. Diam-diam Hazri mengamati, sialan... cantik keduanya. Kecina-cinaan, amoy-lah.


“Sini-sini...,” Huda menarik salah satu duduk di dekatnya. “Cika, kau janji tadi bisa taklukkan kawanku. Ayo buktikan...,” dia berkata kepada gadis yang satunya lagi. Gadis yang dipanggil Cika itu pun tersenyum ke arah Hazri. Lalu, duduk manis di sebelah biang preman, buronan polisi seantero negeri ini.


“Cika...,” dia memperkenalkan diri.


“Huda, eh... Heru,” Hazri balas memperkenalkan diri. Rada gugup.


Huda tertawa mendengar ‘nama’ Hazri. Masak nama sendiri lupa? “Maju terus, Her, pantang mundur...,” serunya. Lalu, dia tenggelam dalam urusannya sendiri. Benar-benar sibuk, seagresif musang lapar.


Cika diam menunggu aba-aba dari Hazri. Sementara Hazri sedang bergelut dengan suara hatinya. Seperti biasa, sebagian menolak, sebagian mendorong. Kuat-kuatan. “Mau nyanyi apa?” bertanya juga akhirnya. Rada-rada kampungan memang pembukaannya ini. Tapi, lumayanlah daripada tidak.


Cika tersenyum. “Om mau lagu apa?” dia balik bertanya.


“Waduh, jangan om dong...,” protes ringan Hazri. “Heru Saja.”


Cika makin tersenyum. “Kalau Mas, boleh?”


Hazri mengangguk.


“Lagu apa, Mas?” dia pun bertanya lagi.


“Cika duluan, aku sudah tadi.”


Gadis itu pun memilih lagu mandarin. Lalu menyanyilah dia setelah lagu yang dipilihnya itu tampil. Hazri tidak paham bahasa mandarin, pokoknya ada wo ai wo ai ni-nya. Yang pasti, merdu ternyata suara gadis ini. Tak kuasa hatinya mencegah, Hazri pun mencuri-curi pandang dari samping.

__ADS_1


Ya Allah, cantik nian amoy ini. Kalah Dewi..., desahnya dalam hati. Syekh, gimana nih? Bukan maksud hati mengadu kepada Syekh Atha‘illah, soalnya... Hazri merasa pertahanannya semakin goyah. Dia mengigit-gigit bibir, mencoba bertahan. Sementara desah wo ai ni terus mendayu, membelai-belai nafsu....


Sambil menyanyi, Cika menyandar di bahu Hazri. Tidak mungkinlah bagi Hazri menepisnya. Lagi pula, pertahanannya memang sudah kedodoran. Susah betul ternyata mengendalikan hati.


Habis lagu itu, Cika memilihkan lagu lokal dari Ada Band. Cerdas juga, dia langsung bisa menduga jenis lagu kesukaan pasangannya. Hazri mengangguk, kenal dengan lagu itu.


Maka, berduet kembalilah mereka. Lagi-lagi Huda bertepuk tangan sambil terus melumat bibir Maya. Benar-benar musang dia malam ini.... Seperti tadi, Cika menyandar di bahu Hazri. Pelan-pelan, tangan kanan pemuda ini bergerak memeluknya. Cika makin merapatkan kepalanya.


Jebol pertahanan.... Hazri mengecup lembut keningnya.


Masih sempat nyanyi tiga lagu lagi, lalu Huda berkata, “Yuk...,” dia berdiri dan langsung ngeloyor keluar ruangan tanpa menunggu persetujuan Hazri. Maya, amoynya, mengerling manis ke Cika lalu beranjak mengikuti Huda. Tinggal Hazri dan Cika sekarang yang jadi agak salah tingkah.


Hazri masih diam duduk, Cika menunggu. Agak lama juga.


“Kalau Mas Heru nggak mau, nggak apa-apa kok...,” katanya pelan.


“Yuk...,” Hazri meraih tangan Cika. Gadis ini pun langsung tersenyum riang. Lalu, mereka melangkah bersama keluar ruangan.


Bukan sekedar jebol, luluh lantak sudah benteng pertahanan Hazri sekarang. Sungguh, bukan pekerjaan mudah menahan hati, jauh lebih gampang merontokkan kapal perompak tempo hari. Sekalipun misalnya empat, atau enam kapal sekalian. Nasihat-nasihat Syekh Atha’illah seolah terbang dari batok kepalanya. Lupa dia, hampir semuanya.


“Cikaaa..., tampan amat nih. Kenalin dong ‘Aril’nya...,” seorang gadis mencandai Cika saat mereka berdua keluar ruangan, menyusul Huda dan Maya-nya. “Jangan dihabisin, bagi-bagi kita...,” yang lain menimpali. Lalu, cekikikan. Cika tersenyum, tidak menjawab, makin erat memeluk Hazri. “Ceritanya ditunggu ya...,” teman-temannya itu terus cekikikan.


Hazri juga mesem saja.


Mereka terus berjalan menuju taksi. Huda dan Maya sudah di sana.


Tidak larna perjalanan itu, mereka kini sudah sampai di Hotel Melati. Setelah meminta kepada sopir taksi bahwa besok pagi-pagi harus menjemput lagi dan setelah menyelesaikan urusan administrasi hotel, mereka bersiap masuk kamar.


“Ini, Bos,” Huda menyerahkan kunci kamar 210 kepada Hazri, saat mereka telah berada di depan kamar 209-nya. “Selamat melepas beban dua setengah tahunan,” katanya sambil terkekeh. “Cika, siapkan kuda Sumbawa ngamuknya...,” Huda dan Maya pun masuk ke kamarnya sambil masih tertawa-tawa kecil. Huda tahu katanya Cika mempunyai jurus kuda Sumbawa ngamuk dalam menaklukkan pasangannya. Ah, ada-ada saja.


Hazri memandang Cika disampingnya. Gadis ini agak menunduk. . “Yuk. ..,” ajaknya sambil menggandeng lembut tangan gadis itu. Mereka pun masuk kamar 210 yang letaknya hampir berhadapan dengan kamar Huda.


Begitu masuk, Cika meminta izin mau mandi dulu. Hazri mempersilakan. Klek! Pintu kamar pun dikunci. Tiba-tiba... tubuh Hazri bergetar keras, rasa dingin langsung menyergap tengkuk dan mual menghunjam keras perutnya. Dia terhenyak kaget, berbalik menyandar di daun pintu mencoba mengendalikan diri.


Ada apa ini?


Bukan ‘Cakra Buana’ ternyata. Ajiannya normal saja... Apa ini? Bingung dia di tengah getar yang semakin kuat, dingin dan mual yang bertambah berat..., terus menghebat..., hingga akhirnya Hazri tak sanggup bertahan. Tubuhnya melorot dari sandarannya, jatuh terkulai ke lantai dalam posisi mirip bersujud. “Ya Allah...,” dia mendesah panjang tanpa sadar. Pandangannya gelap bekunang-unang, serasa akan segera pingsan.


Sesaat sebelum kesadarannya benar-benar lenyap, tiba-tiba pandangan gelap itu seketika berubah terang benderang. Terang sekali, tapi tidak silau..., halus dan lembut bagaikan sutra surgawi. Hazri merasa seolah berada di hamparan cahaya luas tak bertepi. Cahaya dan hanya ada cahaya, tidak tampak bentuk lainnya. Nikmat, sungguh nikmat rasanya di situ. Tak terperikan dengan kata-kata.


Hazri termangu-mangu. Dia sadar air matanya menetes tanpa bisa ditahan. Tetes demi tetes jatuh, lenyap dalam hamparan cahaya ini. Muncul bermacam ‘bola cahaya anggun warna warni’ menghunjam dadanya, langsung menembus kalbu. ‘Cakra Buana’ tidak berarti apa-apa di sini. Bola-bola cahaya itu terus menghujaninya. Tubuh Hazri pun bergoyang-goyang lembut karena terpaannya. Luar biasa nikmatnya.... Lalu, bola-bola itu seolah berpecahan dalam tubuhnya, menyemburkan cahaya warna-warni nan sangat indah.


Kemudian, muncul semacam suara nan sangat berwibawa. Bergema dalam kalbunya..., “Tak seekor semut hitam, yang berjalan di atas batu hitam, di tengah gelap malam, mampu lepas dari penglihatan-Nya. Kamu mengingkari-Nya?” Seketika, setelah suara ini, cahaya dan segala kenikmatan ini lenyap. Normal kembali terpampang. Hazri mendapati dirinya bersujud di lantai dengan mata sembab. “Allah...,” dia mendesah panjang lagi. Kali ini dengan sepenuh kesadarannya.


Pelan-pelan Hazri bangkit berdiri sambil mengusap wajahnya, sekalian menghapus cepat sisa air mata. Tulangnya serasa luluh lantak tak bertenaga, lelah sekali. Tertatih-tatih dia berjalan menuju tempat tidur.


Bersamaan itu, Cika keluar dari kamar mandi. Terkejutlah dia, “Mas Heru, kenapa? Ada apa?” Segera dia merengkuh tubuh Hazri yang sempoyongan tertatih-tatih dan menuntunnya ke tempat tidur.


“Nggak apa-apa, aku cuma lelah sekali...,” kata Hazri pelan. Dia merebahkan tubuhnya di tempat tidur itu. Napasnya terengah. “Aku istirahat sebentar ya. Jangan kasih tahu Om Huda, biarkan saja. Kamu cantik sekali...,” katanya lagi. Lalu, mata Hazri mengatup... Dan, sebentar kemudian dia pun tertidur.


Cika memandangi wajah Hazri yang pulas tertidur. Benar kata temannya, memang mirip wajah kasar tampan Aril. Vokalis dari band Noah itu. Dia mengusap lembut wajah Hazri, bulu-bulu cambang dan kumis yang menghitam baru tumbuh it itu..., sungguh mirip. Cika tersenyum.


Gadis ini beranjak ke kamar mandi, membasahkan handuk kecil yang tersedia di situ, lalu kembali ke tempat tidur. Wajah Hazri yang agak berkeringat itu diusapnya lembut dengan handuk basah tadi, sampai bagian leher. Ikatan rambut gondrong Hazri yang kelihatan mengganjal kepalanya dilepas. Rambutnya dibiarkan tergerai, dirapi-rapikan pakai jemari tangan. Cika memandanginya lagi, lalu geleng-geleng kepala seraya kembali tersenyum manis. “Aril...,” desahnya pelan.


Cika berjalan menuju cermin setinggi badan yang tertempel di dinding dekat pintu. Dia berdiri di situ, ikatan baju mandinya yang terbuat dari sejenis kain handuk dilepasnya. Nampak sekarang, bayangan tubuhnya di cermin. Setelah puas memandangi tubuh indahnya, dia kembali melihat Hazri. Siapa tahu ‘Aril’-nya sudah bangun.

__ADS_1


Belum ternyata, masih pulas. Gerak napasnya tampak teratur sekarang. Cika tersenyum kecut. Mau ngapain sekarang? Celingak-celinguk sebentar, akhirnya dia pun berbaring di samping pemuda ini. Ikatan jubahnya sengaja dilepas, lalu tubuh Hazri dipeluknya mesra. Kepala gadis itu tergolek di atas dada Hazri. Dag dug dag dug...,detak jantung pemuda ini terdengar nyaring berirama di telinganya. Pelan-pelan Cika jadi mengantuk. Lalu, dia pun tertidur.


__ADS_2