Jalan Pulang

Jalan Pulang
110.kisah untuk keluarga


__ADS_3

Hazri menghela napas panjang, mengucap syukur kepada-Nya, lalu bergegas balik ke ramah. Dari kejauhan tampak Haji Sulton, Umi, dan Emak di teras depan. Faruq dan Romi sudah tidak ada, sudah pulang mungkin. Setibanya di sana, Hazri langsung bergabung.


“Jangan marah ke aku, Zri, aku dipaksa...,” kata Huda yang merasa Hazri memandanginya terus.


“Hehehe.... Siapa marah? Aku malah mau terima kasih.”


Tertawa semua di situ.


Huda lalu bercerita dirinya dicecar Haji Sulton, dipaksa memberitahu keberadaan Hazri. “Aku tahu kau tahu, Huda. Katakan kedaku...! Gitu, Zri. Kau tahu kan kalau Haji marah? Busyet..”kata Huda.


Tertawa lagi semua.


“Aku memang paksa Huda bicara...,” kata Sulton kemudian.


“Tahu dari mana, Pak Haji?” tanya Hazri.


“Mimpi. Orang di mimpi itu memberitahuku kalau Huda tahu tentang dirimu.” Haji Sulton pun menceritakan mimpinya. “Belum tua, seumur akulah....”


“Hemh, belum tua...,” Zaenab mencibir mesra.


Semua kembali tertawa, kecuali Hazri. Dia tertegun menyimak ciri-ciri orang yang menjumpa Haji Sulton dalam mimpi itu. Gurukah? Ciri-cirinya kena..


“Orang belum tua itu yang datang menemui Pak Haji?” tanya Hazri.


“Bukan. Aku yang seperti sedang pergi ke mana begitu, terus ketemu dia. Di dekat-dekat sungai, rumahnya hijau ada kolamnya. Dia menyapaku dan langsung bilang kalau Huda tahu tentang dirimu.”


Hazri tersenyum. Subhanallah.... Siapa lagi?


“Kupaksa Huda begitu dia muncul di rumah beberapa hari lalu. Alot awalnya, tapi akhirnya bisa.”


“Pakai diancam nggak?” Hazri meringis.


“Jelas. Kupecat jadi menantu kalau nggak mau ngomong, hahaha...”


Hazri dan Huda langsung ngakak. Dulu mereka sering membahas itu.


“Cerita kita tidak menarik. Kenapa kau tidak pulang?” tembak Sulton. Penalti dua belas pas.


Hazri menghela napas. “Dari mana mesti mulai? Panjang ceritanya ”


“Ceritakanlah, Nak, yang kau bisa...,” Maemunah menimpali. Hazri mengangguk lalu berkisah. Mulai dari pengkhianatan Day.


Semua diam menyimak...


Maemunah mulai menangis saat kisah ini sampai pada cerita pembunuhan Day. Zaenab menenangkannya. Hazri menahan hati dan meneruskan kisahnya.


“Begitulah.... Puluhan anak buahku mati, lebih seratusan kurang kalau dihitung benar. Empat dari enam ketua wilayahku juga mati. Dua duluan saat polisi menggerebek semua markas kami, dua yang lain tewas di pertempuran Klaten. Dari Klaten aku kabur ke Madiun...,” mata Hazri berkaca-kaca. “Jujur, maksudku ke sana mau minta bantuan Pak Haji. Ternyata sudah berganti jadi Haji Huda, suaminya Bu Ria, putri sulung Haji Sulton, kata Pak Sabri....”


Agak nyengir semua mendengar penuturan terakhir ini, terutama Huda.


“Sabri restoran padang itu?” tanya Sulton.


Hazri mengangguk. “Saya dapat info tentang Haji Huda suaminya Bu Ria dari dia.”


Tidak tahan, Huda pun terkekeh pelan.


“Kenapa kau tertawa Huda?” tanya Sulton.


“Sebab, Hazri cemburu waktu itu, hehehe....”


Hazri mendelik. Haji Sulton dan Umi senyum-senyum.


“Teruskan, Zri...,” pinta Haji Sulton sesaat kemudian.


Hazri pun menceritakan pengalamannya di kapal bersama Huda...


“Dua tahun lebih aku di kapal tidak turun-turun.”


“Apa?” Sulton terpana. “Benar itu, Hud?”


Huda mengangguk.


Haji Sulton, Zaenab, dan Maemunah geleng-geleng kepala. Air mata Maemunah mengalir lagi. Pelaut kawakan pun belum tentu kuat tapa brata seperti itu.


“Kenapa tidak turun, Nak? Padahal sudah di Surabaya?” tanya Maemunah.


Hazri menghela napas. “Resikonya terlalu berat kutanggung, Mak. Kalau tertangkap.... Ah, nggaklah. Lebih baik aku tetap di laut saja.”


Hazri kilas balik dulu tentang kejadian ‘urusan keluarga’ dengan Fahmi. “Aku ancam Cak Fahmi lewat istrinya setelah teror rumah kurang berhasil. Kukatakan, aku tidak akan ada di Jombang. Itu sebabnya polisi disana tidak mengganggu Emak lagi. Udin yang memberi tahu, kalau katanya dilarang oleh Emak.”


Air mata Maemunah berlinang. Haji Sulton mengangguk-angguk paham.


“Aku lihat Pak Haji, Ria, dan Reni di Surabaya waktu itu...,” lanjut Hazri.


“Kapan?”


“Kapan ya, Hud?” tanya Hazri.


“Yang waktu Haji ikut ke pelabuhan gara-gara si Ayu ngambek....”


Sulton mengingat-ingat. “Hem, iya iya. Yang sama Reni, kan?”


Huda mengangguk. “Kan tadi sudah disebut?”


“Ooh sudah ya, hehehe.... Kukira belum,” Haji Sulton nyengir. Ada udang di balik batu tampaknya karena Umi juga senyum-senyum. “Lanjutkan, Zri....”


“Itu putaran terakhir perjalanan lautku. Dari Surabaya ke Semarang, terus Batam, Pontianak, akhirnya Cirebon. Aku turun di Cirebon.”


“Perompak jangan dilewatin dong,” kata Huda.


Hazri tertawa kecil. “Kau sajalah yang cerita, agak lupa aku.”

__ADS_1


Dengan semangat Huda pun bercerita....


“Wah, ngeri betul.... Aku sudah pegang pistolku, para ABK sudah siap dengan senjata masing-masing. Perompak Laut Jawa kan terkenal bengis. Untung ada Hazri, hahaha.... Dua kali gebrak, bubar berantakan kawanan begal itu.”


“Kau punya pistol, Huda?” tanya Sulton.


Huda menepuk jidat, keceplosan tadi. “Dikasih Hazri...” kilahnya.


“Hahaha.... Bukannya kau yang maksa?” canda Hazri.


“Mana, lihat?” kata Sulton.


Huda garuk-garuk kepala. “Kutaruh di kapal...,” kilahnya lagi, tapi kelihatan jelas ngibulnya.


“Huda! Aku mau lihat!” Haji Sulton melotot. Pura-pura marah.


Sambil cengengesan Huda masuk ke rumah, sebentar kemudian muncul lagi. Pistolnya terselip di pinggang.


“Sebentar...,” Hazri mengambil pistol yang terulur itu. Lincah dia memeriksa keamanan senjata api ini. Aman ternyata. Baru diserahkan lanjut ke Haji Sulton.


“Kenapa, Zri? Kau kira aku lupa pengamannya?” Huda nyengir.


Hazri senyum saja.


Haji Sulton mengamati pistol itu, suka tampaknya. Senjata api laras pendek itu dibolak-balik, dikeker-keker. “Ada lagi nggak, Zri?” tercetus juga minat.


Umi langsung melotot. “Buat apa sih? Sudah tua ini...”


Haji Sulton terkekeh. Huda dan Hazri juga. Emak geleng-geleng kepala.


“Habis, Pak Haji, yang terakhir sudah kukembalikan.”


“Yang bagus itu, Zri?” tanya Huda.


Hazri mengangguk.


“Waduh, padahal bagus sekali yang itu, Haji...,” kata Huda.


“Ooh ya? Dikembalikan ke mana?” tanya Haji Sulton.


“Kuserahkan ke yang jadi ketua Kopen sekarang. Itu pistol simbol khusus ketua Kopen. Waktu itu kutawarkan ke Huda, asal mau jadi penggantiku. Sayangnya nggak mau, hahaha....”


Mereka pun ikut tertawa..


Adzan maghrib berkumandang. Hazri mengajak ke masjid, tapi Haji Sulton minta di rumah saja. Maka shalatlah mereka di ruang majelis. Usai shalat, pada mandi terus makan bersama.


Ami, Siti, Ria, dan Reni sudah menyiapkan masakan burung dara panggang. Pantas dari tadi empat sekawan ini tidak kelihatan. Rupanya sedang sibuk juga mereka. Masakan lain juga tersedia, tapi menu dara panggang ini yang jadi favorit. Resep khusus dari Siti yang memang jago memasak. Si Fia dan si Khansa, putri bungsu Huda, kompak lahap makannya. Sekompak bermainnya tadi. Cantik dua gadis mungil itu. Tantenya juga.


Setelah shalat isya’, kisah tadi disambung lagi. Karena tugasnya sudah beres, keempat sekawan ikut nimbrung sekarang. Sekalian para buntut. Si Fia teler di pangkuan neneknya. Mata si Khansa juga sudah lima watt di pangkuan Umi, neneknya. Komeng yang tidak tampak. Tadi pergi dengan Juki selepas makan. Entah ke mana. Hazri tersenyum melihat Ami dan Reni yang duduk berdampingan. Sepantaran usia mereka, selisih bulanan saja. Wajah dan lesung pipitnya itu lho, apalagi kalau ada Zilfa sekalian.Emmh..bak pinang dibelah tiga.


“Sampai mana tadi?” Sulton membuka acara.


“He-eh. Teruskan, Zri...,” pinta Sulton.


Hazri menghela napas. “Sebentar, Pak Haji. Dek...,” dia mengajak istrinya masuk ke rumah. Di dalam kamar.... “Dek, belum semua tentang Mas sudah Adek tahu. Apa yang nanti Adek dengar, terima saja dulu ya. Habis itu nanti Mas akan jelaskan semuanya.”


Ami tersenyum, “Tadi Adek sudah dengar sedikit dari Mbak Siti sama Mbak Ria, katanya Mas buronan polisi. Dulunya ketua preman di Jogja. Yang dulu-dulu nggak masalah buat Adek. Yang penting Adek tahunya Mas sekarang....”


Hazri tersenyum mengangguk-angguk. Dia mengecup mesra kening istrinya lalu sama-sama balik ke teras depan. Terasa agak tegang suasana di situ sekembalinya mereka.


Saat Hazri dan Ami masuk tadi, terjadi perdebatan di sini. Zaenab dan Maemunah tidak setuju mereka memaksa Hazri melanjutkan kisahnya. Mungkin ada rahasia yang memang ditutup rapat oleh Hazri. Siti, Ria, dan Reni mendukung. Haji Sulton tidak sependapat. Huda abstain. Kalah suaralah Haji Sulton.


“Ehem...,” Sulton mendehem. “Zri, kalau memang susah, nggak usah dilanjutkan. Yang penting kami sudah tahu kau baik-baik saja. Itu lebih dari cukup,” katanya berdiplomasi


“Hahaha.... Kenapa, Pak Haji?” tanya Hazri.


Terdiam semua.


“Kok malah hening? Sudah aku ceritakan saja, nggak apa-apa. Daripada jadi ganjalan di hati. Gimana? Terusin nggak?”


“Apa kubilang? Anakku ini tangguh,” tukas Sulton dapat angin.


Hazri meringis. Kisah pun berlanjut... , hingga pada babak memasuki Tidar..


“Ternyata, Iis sudah tidak ada.”


“Mbak Iis yang ngontrak rumah Bapak itu, Mas?” tanya Ami.


Hazri mengangguk. “Adek kenal?”


Ami mengangguk. “Dulu Adek pernah pinjam uang ke Mbak Iis, tapi malah dikasih. Ada suaminya waktu itu. Mas Bagas, kan?”


“Iya. Bagas itu nama aslinya.”


Setelah berkata itu Hazri tertegun sejenak. Ternyata, Ami kenal dengan Bagas walau sepintas. Luar biasa, kejadian-kejadian dalam hidupnya ini terlihat jelas saling mengait. Bukanlah kebetulan itu. Sepenuhnya kuasa Allah.


“Rumah siapa, Mi?” Maemunah bertanya.


“Rumah orang tua Ami. Dulu Mbak Iis sama Mas Bagas ngontrak rumah itu. Sekarang Bapak sama Ibu tinggal di situ,” jawab Ami. Hazri membantu menjelaskan soal rumah ini.


Semua pun manggut-manggut paham.


“Akhirnya, aku membeli rumah bilik bambu itu. ..,” lanjut Hazri.


“Yang cerita Day tadi?” tanya Sulton.


Hazri mengangguk.


Huda geleng-geleng kepala. “Gila, tinggal di situ, Haji...,” gumamnya.


“Betul, Zri?”

__ADS_1


“Iya. Habis di mana lagi? Hahaha...”


Haji Sulton, Zaenab, dan Maemunah pun ikut geleng-geleng kepala.


“Rumah yang mana, Cak?” Siti penasaran.


“Yang tadi kita singgahi duluan pas datang...,” jawab Huda.


“Ooh, emang kenapa rumah itu?” lanjut Siti. Ami, Ria, dan Ria juga ingin tahu. Mereka tidak ikut session pertama tadi.


“Tidak apa-apa...,” Maemunah memutus tali.


“Terus gimana kelanjutan hidupmu, Nak?” menyambungkan lagi ke topik utama.


“Alhamdulillah, baik semua, Mak. Cuma, aku tidak bisa keluar....”


Bingung semua. “Apa maksudnya tidak bisa keluar?” tanya Sulton.


Hazri terdiam lama. “Ceritanya seperti dongeng...”


Huda yang sudah dengar kisah itu tempo hari, mengangguk angguk.


“Apa harus kuceritakan?” tanya Hazri sesaat kemudian.


“Jangan, Nak, kalau kau keberatan...,” timpal Maemunah.


“Bukan, Mak, kisahnya yang aku khawatir susah dicerna.”


“Kalau begitu, ceritakanlah...,” kata Maemunah.


Maka, Hazri pun menceritakan halangan itu. Cahaya-cahaya dan sebagainya. Semua terpana, terutama Sulton dan Maemunah.


“Maka, aku baru bisa keluar Magelang sebulan lalu. Dua hari setelah Huda dan Komeng pulang dari sini.”


“Hah?” Kaget Sulton. “Betul ini, Mi?” dia bertanya ke Ami.


Ami mengangguk. “Mas Mahmud memang nggak pernah pergi-pergian. Turun ke Kota Magelang saja jarang. Paling jauh ke Progo. Di sini terus, Pak Haji. Ke masjid, dzikir, terima tamu, sama lihat-lihat peternakan.”


Maemunah berlinang air mata. Zaenab, Siti, Ria, dan Reni juga. Haji Sulton menghela napas panjang. Huda diam membisu.


“Berarti berapa lama itu, Zri?” tanya Sulton kemudian.


“Eemm, sepuluh tahunan....”


Hening. Sedang mencoba merasakan ‘sepuluh tahun’ itu kayaknya.


“Begitulah, Pak Haji. Akhirnya, aku bisa melanjutkan perjalananku ke Jogja. Pertama kutemui Cak Fahmi, musuh bebuyutan, hehehe.... Selesai itu, aku menengok anak buahku. Masih ada Kopen, anak-anak muda yang pegang sekarang. Seumuran aku dulu. Dari dua anak buah utamaku yang tersisa, Tomi sudah meninggal. Tinggal Romi, yang tadi siang di sini itu.”


“Umar?” Sulton bertanya menegaskan.


Hazri mengangguk. “Namanya ganti Umar Khathab setelah masuk Islam.”


Manggut-manggut semua.


“Pantas tatonya hebat banget,” celetuk Huda.


“Kalau bajunya dibuka, kayak batik, hahaha...,” Hazri tertawa.


Tertawalah mereka semua. Lumayan, mengurangi ketegangan.


“Sudah, habis ceritaku,” kata Hazri kemudian.


“Belum, Nak. Kau belum cerita pernikahanmu...,” Maemunah tersenyum.


Tertawa lagi semua.


“Iya, gimana kisahnya itu?” goda Sulton. “Ahmad, anakmu sudah nikah. Datanglah ke sini kau, kita dengar ceritanya sama-sama, hahaha...”


“Huss, Cak..” tegur Zaenab. Sulton cuek, terus saja tertawa.


Maemunah senyum-senyum simpul. Sudah maklum sifat sahabat suaminya itu.


Ami berbisik ke Reni, menanyakan siapa Ahmad. Dia mengangguk-angguk setelah dapat penjelasan dari tantenya Khansa yang mirip wajah dengannya itu.


“Ayo, gimana ceritanya?” kata Sulton lagi.


“Apa ya? Yang pasti, Ami ini kembang desa...,” Hazri tersenyum.


Maemunah juga tersenyum.


“Ah bukan, Mas Mahmud ngada-ada. Ami sudah janda waktu dinikahi Mas Mahmud...,” Ami berterus terang.


Diam semua, kaget kelihatannya. Hazri mesam-mesem saja.


“Janda, Mi?” tanya Maemunah.


“Iya, Mak. Ami sudah bilang itu ke Mas Mahmud waktu melamar.”


Hazri mengangguk membenarkan. “Bagiku tidak soal, hahaha....”


“Si Fia ini...,” Maemunah tidak melanjutkan ucapannya.


“Asli cucu Emak, hahaha.... Ami belum sempat punya anak saat suami pertamanya meninggal. Masak umurnya baru segitu kalau anak dari pernikahannya yang dulu. Lagian, matanya dong, hahaha....”


“Ooh iya ya...,” Maemunah tersenyum, ingat mata suaminya.


“Aku juga nikah dengan janda, Zri. Enak ah, kata siapa nggak? Hahaha...,” Sulton tergelak. “Ayahmu sama, hahaha....”


Zaenab melotot, Maemunah mesam-mesem. Sempat lupa tadi kalau mereka juga pernah janda.


Tertawalah semuanya....

__ADS_1


__ADS_2