
“Apa sih bagian kita di dunia, Ustadz?” Hazri bertanya kepada Faruq tentang materi khotbah Jum’atnya barusan. Hadits Nabi, “Raihlah akhiratmu, tetapi jangan lupakan bagianmu di dunia...”
“Semua yang sah menjadi hak kita di dunia,” jawab Faruq.
“Contohnya?”
“Rumah, tanah, sawah.... Semuanya, yang benar hak kita. Bukan yang datang dari hasil perbuatan haram. Hasil mencuri atau merampok misalnya.”
“Harta maksudnya, Ustadz?”
“Iya, yang halal.”
“Kalau tahta?”
“Sama.”
“Wanita?”
“Sama juga.”
Hazri manggut-manggut. “Jadi, bagian kita di dunia ini adalah harta, tahta, dan wanita yang halal. Begitu, Ustadz?”
“Iya.”
Hazri manggut-manggut lagi. “Lalu, bagaimana harta, tahta, dan wanita itu bisa menyelamatkan kita di akhirat kelak?”
“Dengan menggunakannya sesuai perintah Allah. Keluarkan zakat hartanya, jangan salah gunakan jabatan. Pakai semuanya untuk kemaslahatan umat.”
“Kalau wanitanya? Untuk kemaslahatan umat juga?” Hazri cengengesan.
“Hush.. .” Faruq nyengir. “Kita didik istri supaya taat beragama, ikhlas berbakti kepada suaminya. Wajib diberi nafkah lahir dan batin dan jangan disakiti. Begitulah antara lain. Pokoknya sesuai ajaran Nabi saja. Susah ini dijelaskan, Pak Haji belum punya istri sih....”
Mereka pun tertawa berdua.
“Kalau waktu gimana, Ustadz? Wal Ashr, demi masa.”
Faruq terdiam. “Iya. Saya kira waktu juga bagian kita di dunia ini.”
“Penting mana sama harta, tahta, dan wanita?”
Faruq terdiam lagi.
“Allah berfirman Wal Ashr..., demi waktu. Tidak ada firman Ilahi yang bilang demi harta, demi tahta, atau demi wanita.”
“Iya, iya benar. Saya kira waktu lebih penting dari yang tiga itu,” jawab Faruq akhirnya. Kepalanya mengangguk-angguk pelan.
“Kenapa bisa lebih penting ya, Ustadz? Apa karena waktu berlaku sekali jalan? Nggak bisa balik lagi?” pancing Hazri.
Faruq menghela napas. “Bisa juga karena itu saya kira.”
Hazri manggut-manggut. “Kalau waktu itu sendiri sebenarnya apa sih, Ustadz? Detak detik jam atau hari-hari tanggalan masehi hijriah?”
Faruq terdiam lama. Sedikit menunduk dengan kening berkerut.
“Umur mungkin...,” Hazri menjawab sendiri pertanyaannya. Kasihan melihat Faruq berkerut kening begitu.
Faruq langsung mengangkat wajahnya. “Iya, umur. Benar itu, umur....”
“Waduh. Kalau gitu nggak tahu kita jatah waktu kita masing-masing di dunia ini ya? Mesti cepat-cepat dong. Telat runyam...,” ujar Hazri.
Faruq memandang Hazri, seperti menyelidik.
__ADS_1
“Betul kan, Ustadz? Boros lho waktu kalau dipakai ngurusin harta, tahta, dan wanita. Nggak kerasa habisnya. Mana kita nggak tahu pula kapan ujungnya waktu kita masing-masing. Bagusan langsung ke bagian akhirat saja ya? Yang abadi. Yang sekarang kan cuma sementara? Enak pasti di sana, nggak ada waktunya...” kata Hazri sambil tersenyum.
Faruq melongo yang dikatakan Hazri ini benar. Kenapa dia yang ustadz tidak sampai mikir ke situ? Padahal, ‘sederhana’ kasusnya.
“Wah, makin hari makin matang saja ilmunya Pak Haji ini.”
“Pelatihnya kan Ustadz Faruq....”
Mereka tertawa-tawa lagi. Lalu, pindah duduknya ke bangku di bawah pohon beringin besar samping masjid. Sedang ada renovasi di masjid ini. Itu para tukangnya sudah mau mulai kerja lagi selepas Jum’atan. Biasa, dana non budgeter “Haji Mahmud’. Memang harus dihabiskan itu. Namanya juga non budgeter....
Obrolan pun dilanjutkan di situ.
“Soal ibadah, Ustadz. Sebenarnya semua ibadah yang kita lakukan ini untuk apa sih?” Hazri membuka forum.
“Ya, untuk mendekatkan diri kepada Allah.”
“Bukan untuk berburu pahala?” pancing Hazri.
“Harusnya bukan. Tapi, Allah memang menjanjikan pahala untuk setiap ibadah yang dilakukan oleh hamba-Nya, yang ikhlas.”
Hazri manggut-mangput. “Bukan pahala ya? Berarti bukan surga juga dong?”
Faruq terperanjat. Benar. Kalau bukan pahala yang diburu, harusnya bukan ke surga juga sasarannya. Kenapa jadi pada ribut ingin merasakan minum anggur sambil dipeluk bidadari? Tapi, kalau bukan ke surga lalu ke mana? Masak ke neraka? Maka ngeblank-lah Faruq. Bingung dia.
“Hoi Ustadz. Kok malah bengong? Gimana nih?”
Faruq memandang Hazri. Lalu geleng-geleng kepala.
“Yah, malah jadi geleng-geleng. Kenapa? Sakit?”
“Benar, Pak Haji, bingung saya. Kalau bukan mau ke surga, terus mau ke mana ya?” berkata juga akhirnya Faruq.
Faruq garuk-garuk kepala. Hazri pegang-pegang kening. Pura-pura.
Bukan kenapa-kenapa. Sesuai amanat Pak Subakir, pemahaman hakikat memang hanya untuk yang membutuhkan. Jangan dipaksa orang menerima ini kalau tidak butuh, zhalim hukumnya. Tapi, jangan pula ditolak orang yang benar-benar butuh. Sama, zhalim juga. Cuma, ada cirinya orang yang butuh hakikat tapi baru sampai taraf ingin tahu dengan yang sudah siap menerima. Harus hati-hati di sini. Tentu Hazri tahu Faruq butuh pemahaman hakikat. Tapi, ciri sudah siap menerimanya itu belum ada. Kalau istilah Pak Subakir dulu, menunggu tanda.
“Wah, pusing-pusing kita balik ke awal lagi-lah, Ustadz. Soal tujuan ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah. Mendekat kepada Allah....”
Hazri sengaja menekan pengucapan kalimat terakhir ini. Itulah jawaban atas kebingungan Faruq soal surga tadi. Siapa tahu sahabatnya ini bisa menangkap isyarat. Tunggu reaksi sebentar, ternyata Faruq masih ‘telmi’ alias telat mikir. Memang belum muncul tandanya sih. Ya sudah, dilanjutkan saja.
“Ustadz, kalau dipikir-pikir, setiap ibadah itu pasti ada intinya ya?”
Faruq mengangguk, walau kelihatan ragu-ragu.
“Sama nggak itu intinya, Ustadz? Soalnya tujuan ibadah yang untuk mendekatkan diri kepada Allah itu kan sama ya? Berlaku untuk semua ibadah?”
“Iya, semua ibadah tujuannya itu. Tapi, intinya....”
“Kenapa? Beda-beda?”
“Bukan...,” Faruq menggeleng. “Haduh. Jujur, Pak Haji, saya nggak tahu apa inti semua ibadah itu. Harusnya sama karena tujuannya juga sama. Tapi, apa?”
Hazri tidak merendahkan Faruq. Memang bukan perkara gampang ini. Dia pun bisa paham setelah dibimbing Pak Subakir. Sebelumnya, sama juga bingung. Lebih parah dibanding Faruq. Ibadah, ibadah, ibadah, tapi tidak tahu intinya. Pokoknya tunggang tungging, terus buka lebar telapak tangan. Enak saja memaksa minta ini minta itu tak tahu malu. Kalau tidak dikabulkan, marah. Ngamuk menuduh Allah tidak adil, tidak sayang. Wah, hebat betul. Ngakunya sih hamba alias budak atau jongos, tapi dengan gagah berani mengomeli Sang Maha Tuan. Geblek.
“lya, apa ya? Dekat, dekat, dekat.... Ibadah untuk mendekat kepada Allah. Beragam ibadah tujuannya sama. Harusnya ada intinya dong...,” Hazri bergumam. Pura-pura sama tidak paham supaya Faruq tidak merasa dipecundangi. Sebab, memang bukan niat Hazri hendak mempecundangi sahabatnya.
Faruq masih terdiam. Tampak jelas dia sedang berpikir keras.
“Misalnya, supaya saya bisa merasa dekat dengan pacar saya, apa yang harus saya lakukan?” Hazri bergumam lagi. “Supaya merasa dekat dengan istri, para suami mesti gimana tuh?” dia bersiloka lagi. Biar lebih gampang.
Faruq meringis. “Kalau si Eneng sih asal cukup duitnya, nanti juga dia mendekat sendiri, hehehe....”
__ADS_1
Hazri pun tertawa. “Itu Eneng-nya yang mendekat, kalau Ustadznya jadi merasa dekat nggak setelah kasih duit?”
“Nggak. Rugi iya..., hahaha...,” Faruq tertawa.
Mereka pun tértawa-tawa lagi.
“Susah kalau sudah jadi istri. Beda kasusnya. Ingat zaman pacaran sajalah. Coba, coba..., gimana ya? Gimana caranya waktu itu supaya kita bisa selalu merasa dekat sama doi?” pancing Hazri lagi. Pura-pura mikir juga dia.
“Eemm, supaya merasa dekat ya ingat aja terus...,” ceplos Faeuq.
Hazri tersenyum dalam hati. “Huah, betul sekali itu, Ustadz. Busyet, ingat saja sampai lupa...,” ujar Hazri agak bersorak. Pura-pura juga.
Malah Faruq yang kaget betulan. Soalnya jawaban itu iseng saja, daripada tidak ada sama sekali. Bukan hasil pemikiran, habis dipikirin tidak ketemu. Dia pun jadi agak terpana. “Iya, ya. Ingat...,” dia bergumam. Lalu, keluarlah banyak dalil al-Qur’an tentang mengingat Allah.
“Wah, banyak ayatnya ya?” tanya Hazri.
Faruq mengangguk mantap. Tahu persis dia. “Baru sebagian. Kalau setiap kata dzikir atau dzikrullah dalam terjemahan al-Qur’an diganti ingat, penuh...”
“Jadi, supaya merasa dekat dengan Allah kita harus banyak mengingat-Nya. Begitu?” pancing Hazri.
Faruq mengangguk. “Sekalian bisa tenang juga. Hanya dengan mengitgat-Ku, kau akan tenang, begitu kata Allah.”
Hazri manggut-manggut. Balik ke persoalan awal.
“Jadi, intinya semua ibadah adalah ingat kepada-Nya?”
Faruq pun mengangguk lagi.
Hazri pun diam menunggu tanda, siapa tahu terbit. Faruq juga diam, kelihatan merenung. Agak lama ditunggu, tidak muncul juga tanda itu.
Hazri pun tersenyum paham dalam hati. Benar kata Pak Subakir, tanda itu tidak bisa dipancing kemunculannya. Kalau belum waktunya tetap saja belum, walau sudah dekat. Harumnya saja yang sudah tercium, wujudnya entah masih di mana. Ya sudah, mau gimana? Segalanya Dia.
“Tapi, Pak Haji, eemm ini rahasia ya...,” bisik Faruq.
Hazri mengangguk cepat. Siapa tahu nih.
“Saya juga berdzikir seperti Pak Haji gitu, pakai tasbih. Baca Yaa Rahman Yaa Rahim minimal sepuluh ribu kali sehari. Tapi, kok saya belum merasa dekat dengan Allah ya?” lanjut Faruq. “Rasanya, Dia jauuhhh di sana....”
Walah, benar belum ada tandanya. Hazri pun pura-pura manggut-manggut.
“Maaf nih, niatnya mungkin, Pak Ustadz?”
“Nggak ah...,” Faruq menggeleng. “Niatnya mau taqarrub kepada Allah.”
“Caranya mungkin?”
“Gimana itu, Pak Haji?”
“Yee, saya juga nggak tahu. Tapi, coba kita renungkan. Dzikir itu kan intinya ibadah, boleh dikata ruhnya segala ibadah. Berarti dzikir itu bukan cuma bacaan yang diulang-ulang pakai tasbih. Pengertian berdzikir bukan cuma waktu sedang melintir tasbih, kan? Harusnya jauh lebih anggun daripada sekedar itu. Iya nggak?”
Faruq mengangguk-angguk.
“Masak rangkuman semua ibadah cuma senilai dengan melintir tasbih sambil mengulang-ulang bacaan Asmaul Husna? Dzikir itu kan ingatannya, bukan bacaannya apalagi sekedar jumlah ulangannya yang sekian puluh atau sekian ribu kali. Dzikir itu mestinya sebentuk ingatan suci kepada-Nya. Ingatan yang langgeng, menerus tanpa jeda. Begitu mungkin. Gimana menurut Ustadz?”
Faruq menghela napas. Mengangguk pelan lalu merenung lagi.
“Lucu. Kadang atau bahkan sering, sewaktu mutar tasbih yang katanya sedang berdzikir, ingatan kepada Allah justru nggak ingat. Melenceng ke mana-mana, ada yang lompat ke duit, ke beras, ke istri, ke jabatan, ke kasus, dan lain-lain. Waktu sedang shalat sama, puasa apalagi. Tajam betul ingat lapar, hahaha.... Padahal, inti semua ibadah adalah dzikrullah. Tanpa itu, ya serupa kentut. Baunya doang yang nyegak. Nggak usah orang lain, Ustadz, saya sendiri juga begitu, Dulu...,” ujar Hazri. Kata ‘dulu’ didesahkan pelan sekali. Tak terdengar.
Faruq mengangkat wajahnya. “Brruubhh. ..,” dia berucap sambil menggeleng-gelengkan cepat kepalanya. Pusing kayaknya.
Hazri pun tertawa....
__ADS_1