Jalan Pulang

Jalan Pulang
46. raungan sang tiger


__ADS_3

Sekitar jam sembilan malam Hazri meluncur dari Hotel Yellow ke tempat Sapri. Pilih agak malaman supaya ketika sampai Jogja lalu lintas sudah mencair. Tidak ada halangan di sepanjang perjalanan. Hazri sengaja memarkir mobilnya jauh dari markas Sapri. Dari sana dia naik taksi ke markas anak buahnya ini.


Hazri membalas sapaan anak buah Sapri yang melihat kedatangannya. Tampak bahwa mereka bersiaga, tidak ada hawa alkohol yang biasanya semerbak di tempat ini. Beberapa orang terang-terangan menenteng golok atau menyelipkannya di pinggang. Sapri yang mendengar sapaan anak buahnya kepada Hazri langsung keluar dari dalam rumah sengketa itu untuk menyambut ketuanya.


“Sendirian aja, Bang?”


“Iya.”


Sapri menyuruh seorang anak buahnya untuk mencarikan minuman ringan dingin empat botol. Lalu, mereka masuk ke dalam rumah. Hazri duduk di kursi kayu bambu yang biasa didudukinya kalau sedang di situ. Dia mencabut pistol dari pinggang dan meletakkannya di atas meja. Pistol yang dibawa Hazri bukan Desert Eagle tapi yang FN 45, supaya tidak bolak-balik mengisi peluru jika sedang dipakai. Desert Eagle nya disimpan di mobil.


“Gimana anak buahmu? Siap?” tanya Hazri membuka obrolan.


“Siap semua, Bang.” jawab Sapri.


Minumannya tiba. Sapri membukakan satu untuk Hazri dan satu lagi untuk dirinya. Hazri meneguk minumannya sampai setengah botol, sebelum mulai bicara lagi. “Perasaanku nggak enak benar, Pri...”


Sapri mengangguk-angguk. “Pokoknya kita lawan, Bang.”


“Berapa anak buahmu yang sekarang ada di sini?”


“Sekitar empat puluh. Lima belas di markas, sisanya nyebar sekitar sini. Yang lain, seratusan lebih, kusuruh lenyap sementara. Tinggal yang gila-gilanya saja di sini.”


“Memang berapa semua anak buahmu?”


“Seratus lima puluhan. Kalau dihitung dengan yang kunyuk-kunyuk, dua ratusan ada.”


Hazri mengangguk-angguk. “Kulihat tadi ada si Gundul di depan?”


“Si Gundul yang mana, Bang?”


“Itu, anak baru yang dulu kamu hajar sama Sodik.”


“Oo...si Najib. Iya, dia maksa tetap di sini.”


“Apa sudah termasuk golongan endan itu anak?”


Sapri tertawa. “Nggak mau pergi. Mau ikut perang katanya.”


“Wah, rusak sarafnya dekat-dekat kamu, Pri...,” Hazri juga tertawa. “Coba panggil dia ke sini, aku mau tahu apa benar sudah sinting dia.”

__ADS_1


Sapri pun memanggil Najib sambil terus tertawa. Najib masuk.


“Iya, Bang, ada apa?” sapa Najib ke Hazri.


“Jib, kamu ikut waktu di Kampus Orange?” tanya Hazri.


“Ikut, Bang.”


Hazri manggut-manggut. “Nah, sekarang kamu tahu nggak ada apa ini?”


“Tahu, Bang. Kata Bang Sapri kita mau perang sama polisi.”


Hazri geleng-geleng sambil meringis, Sapri tertawa kencang.


“Nggak takut mati kamu?” tanya Hazri lagi.


Najib menggeleng. “Dari dulu aku udah pengen mati, Bang.”


“Wah, benar, Pri. Tercemar...,” Hazri meringis.


Sapri cengengesan. Najib nyengir kuda.


“Bapak mati, ibu gila.”


Hazri manggut-manggut. “Okelah, Jib, hati-hati...”


Najib pun beranjak keluar, setelah mengangguk ke Hazri dan Sapri.


“Bapaknya mati di tahanan, kabarnya digebukin polisi. Ibunya sampai sekarang masih ngeluyur di daerah pasar Beringharjo. Udah tua...,” Sapri menjelaskan.


Hazri menghela napas mendengar keterangan ini. Dia meneguk habis minumannya yang sudah mulai luntur dinginnya itu.


Perbincangan pun berlanjut, ringan-ringan saja. Sapri lebih banyak humor dari biasanya malam ini. Ceria sekali.


“Ada anak artis disuruh guru sekolahnya ngarang cerita tentang orang miskin di depan kelas..,” Sapri berhumor lagi. “Majulah dia bercerita. Zaman dahulu ada keluarga miskin. Ayahnya miskin, ibunya miskin, pembantunya miskin, sopirnya miskin, tukang kebunnya miskin, baby sisternya juga miskin...,”


“Hahaha...,” Hazri ngakak. “Sialan itu keluarga miskin.”


Sapri pun ikut tertawa.

__ADS_1


Sampai tiga puluh menit kedepan semuanya baik-baik saja, namun tiba-tiba Hazri terkesiap. ‘Rogo Swara’  berdetak mengisyaratkan ancaman. Hazri bangkit dari kursi langsung meraih pistolnya. Sapri kaget.


“Pri, bersiap...,” katanya serius.


Sapri mengangguk. Dia segera memberi tahu anak buahnya yang berada di situ dan mengontak yang menyebar pakai HT. Lalu, balik ke dalam rumah.


“Mereka datang, Bang?”


Hazri dia sejenak karena sedang konsentrasi. “Iya, makin dekat. Pri, hati-hati...”


Sapri mengangguk mantap. Mereka pun bersiap. Satu menit, dua menit, empat menit, delapan menit...,teng.


“Hazri Tiger! Kami polisi! Keluar dan  menyerah! Tempat ini sudah kami kepung!” terdengar seruan lewat megaphone memecah kesunyian. “Dalam hitugan ke tiga, kalau tidak keluar kami akan masuk dengan paksa!” megaphone itu bergema lagi.


“Kampret!” kata Sapri membalas. “Cuah...,” dia meludah. “Serangggg!”


Dor! Sapri membuka tembakan. Polisi kaget mendapat tembakan secara tiba-tiba dan langsung membalas tanpa tembakan peringatan. Maka, tembak-menembak pun tidak terhindarkan. Desingan peluru saling menyambar, seolah berebut nyawa yang tersedia di medan laga.


Hampir setengah anak buah Sapri yang sedang bertarung itu punya senjata api. Macam-macam, ada pistol organik, pistol rakitan, senapan berburu, bahkan ada yang pegang M16. Dan, yang cuma bermodal golok atau benda tajam lainnya tidak kalah gilanya, mereka nekat maju menerjang. Walau kebanyakan tertembak, namun ada juga yang berhasil menyergap polisi dan memaksanya bergumul. Pertarungan jantan, satu lawan satu bersenjata tajam.


Hazri, Sapri, dan para Kopen terus melawan. Korban dari kedua belah pihak pun makin banyak berjatuhan. Melihat kegigihan lawannya, para polisi kewalahan. Mereka tidak menyangka bakal dapat perlawanan sengit itu. Akhirnya, komandan mereka meminta bala bantuan di tengah pertempuran.


Tidak lama berselang tibalah di sana dua truk polisi, sebagiannya adalah anggota unit khusus Brimob. Hazri kesal melihat ‘kecurangan’ dari pihak polisi. Tiga anggota Brimob merangsek maju setahap demi setahap ke arah mereka. Dia memanggil ‘Rogo Kumitir’. karena sejak tadi ‘Cakra Buana’ sudah terpasang dengan tenaga penuh, maka ‘Rogo Kumitir’ segera aktif hanya dalam hitungan detik. Tangan Hazri pun memerah bara. Pada saat yang tepat dia bangkit dari persembunyiannya dan langsung menghantam pukulan petir itu ke arah para penyusup. “Hiaa...!” Selarik merah menyambar...Bledar...! Ketiga anggota satuan khusus kepolisian di sana terpental ke belakang. Sekalian dengan benda-benda yang dijadikan tempat berlindungnya. Semua terkesima, tidak terkecuali anak buah Hazri sendiri.


Sapri melonjak berdiri, maksud hati senang dia melihat itu. Tapi, Clep! Sebutir peluru menembus dada kirinya. Dia terjungkal ke belakang. Tewas seketika dengan mata terbelalak. Hazri menoleh, belum sempat sadar yang terjadi...Dep!... Satu peluru menghantam dada kirinya. Dia pun terbaring, namun segera bangkit lagi. Peluru tadi gagal menunaikan tugasnya. Para polisi di sana dan anak buahnya sendiri yang melihat itu terkesima. Hazri Tiger kebal peluru!


Hazri merangkak mendekati Sapri, lalu meraung keras setelah mendapati sahabat sekaligus salah seorang anak buah andalannya itu telah tewas. Dia berdiri, tangannya yang masih memerah itu memegang dua pistol. Milik Sapri salah satunya. Matanya manatap tajam setiap anggota polisi yang masih terkesima dengan kekebalan tubuh Hazri. Dep! Dep! Dep! Tiga peluru langsung menghantam tubuh Hazri, namun dia tetap berdiri, hanya tampak sedikit tergoyang. Dia sudah diap, tidak jatuh sekarang. Dep! Dep! Dua peluru kembali mengenai tubuh Hazri.


Hazri meraung keras, lalu menembak ke arah para polisi sambil berteriak memerintahkan kabur kepada anak buahnya. Tembakan beruntun itu memberi celah kepada para anak buahnya yang tersisa untuk melarikan diri. Entah berapa lagi peluru polisi yang menghantam tubuh Hazri, dia terus berdiri dan menembak. Sampai peluru di dua pistolnya itu habis.


“Hiaaa...!” Selarik merah silau menyereset ke arah pertahanan polisi...Bledaaar... Mereka yang di sana itu berhamburan terhantam ‘Rogo Kumitir’ bertenaga dalam penuh. Debu mengepul, benda-benda bertaburan, tubuh aparat negara itu bergelimpangan. Lalu, dengan menggunakan ajian ‘Bedhes Ngawang’, Hazri melesat pergi. Cepat sekali. Lenyap ditelan kegelapan malam, meninggalkan jeritan para polisi dan kebengongan akibat kejadian aneh yang baru mereka lihat....


Secuil Kopi



Korps Brigade Mobil Kepolisian Republik Indonesia atau sering disingkat Korps Brimob Polri adalah kesatuan operasi khusus yang bersifat paramiliter milik Polri. Korps Brimob juga dikenal sebagai salah satu unit tertua yang ada di dalam organisasi Polri. Beberapa tugas utamanya adalah penanganan terrorisme domestik, penanganan kerusuhan, penegakan hukum berisiko tinggi, pencarian dan penyelamatan (SAR), penyelamatan sandera, dan penjinakan bom (EOD). Korps Brigade Mobil juga bersifat sebagai komponen besar didalam Polri yang dilatih untuk melaksanakan tugas-tugas anti-separatis dan anti-pemberontakan, sering kali bersamaan dengan operasi militer. Korps Brimob tergolong sebagai "Unit Taktis Polisi" (Police Tactical Unit - PTU) dan secara operasional bersifat kesatuan Senjata dan Taktik Khusus (SWAT) polisi (termasuk Densus 88 dan Gegana Brimob).


Korps Brimob terdiri dari 2 (dua) cabang yaitu Gegana dan Pelopor. Gegana bertugas untuk melaksanakan tugas-tugas operasi kepolisian khusus yang lebih spesifik seperti: Penjinakan Bomb (Bomb Disposal), Penanganan KBR (Kimia, Biologi, dan Radioaktif), Anti-Terror (Counter Terrorism), dan Inteligensi. Sementara, Pelopor bertugas untuk melaksanakan tugas-tugas operasi kepolisian khusus yang lebih luas dan bersifat Paramiliter seperti: Penanganan Kerusuhan/Huru-Hara (Riot control), Pencarian dan Penyelamatan (SAR), Pengamanan instalasi vital, dan operasi Gerilya serta pertempuran hutan terbatas.

__ADS_1


Pada umumnya, kedua cabang ini sama-sama mempunyai kemampuan taktikal sebagai unit kepolisian khusus, diantaranya; kemampuan dalam tugas-tugas pembebasan sandera di area-area perkotaan (urban setting), Penggerebekan kepada kriminal bersenjata seperti terroris atau seperatis, dan operasi-operasi lainya yang mendukung kinerja kesatuan-kesatuan kepolisian umum. Setiap Polda di Indonesia mempunyai kesatuan Brimob masing-masing.


__ADS_2