Jalan Pulang

Jalan Pulang
94. kesadaran hohoho


__ADS_3

Beberapa saat kemudian..


Suasana telah kembali normal. Hazri, Sukoco, Faruq, dan Karno sudah kembali duduk di kursi teras. Demikian pula dengan para prajurit di atas batu dan jin ustadz di depan pagar.


“Masih ngantuk, Pak Karno?” tanya Faruq. Dilihatnya Karno menguap terus, payah betul kelihatan dia menahan kantuknya.


Karno menggeleng, tapi menguap lagi.


“Tidurkan saja, Pak Karno...,” kata Hazri.


“Iya, iya, Pak Haji...,” jawab Karno. “Haduh ini mata...,” lanjutnya. Menguap lagi, menguap lagi. Lalu, pelan-pelan kepalanya terkulai. Selanjutnya, bablas beneran, tapi tidak pakai ngorok.


Hazri mesem. “Biarkan saja, Ustadz,” katanya.


Faruq pun membatalkan niatnya membangunkan Karno.


“Kopi lagi, Pak Sukoco?” tanya Faruq.


Sukoco mengangguk, senyum sedikit, tapi tidak ber-hohoho. Dia sedang sibuk menata hati agar mampu menerima kenyataan atas kekalahannya dari Ki Mahmud Tidar barusan. Perasaannya kurang lebih sama seperti apa yang dulu pernah dirasakan Hazri kala ‘Cakra Buana’ digulung telak oleh “Tauhid al-Mutlakah’.


Suasana hening. Hazri menunggu Sukoco. Yang ditunggu menimbang rasa.


“Ki Mahmud Tidar, saya mengaku kalah. Mohon bisa berguru kepada Adimas sebagaimana wangsit Kiai Darmo,” kata Sukoco dengan suara bergetar.


Hazri tersenyum. “Apa nama ajian Ki Sukoco?”


“Pamungkas.”


Hazri mengangguk-angguk. “Ki Sukoco, ketahuilah bahwa bukan saya yang mengalahkan ajian ‘Pamungkas’ itu.”


Sukoco terkejut. “Kalau bukan Adimas lantas siapa?”


“Ki Sukoco, lihatlah ini..”


Hazri memanggil ‘Rogo Kumitir’. Dalam hitungan dua tiga detik, kedua tangan Hazri langsung memerah bara sebatas siku. Langsung merah, tidak pakai bertahap. Tukar ke ‘Rogo Sukma’, set set... kedua tangan itu kini berubah putih perak. Sesaat kemudian ditutup kembali. Sukoco terkesima. Ki Mahmud Tidar mampu memanggil ajiannya tanpa melakukan gerakan-gerakan khusus. Duduk santai saja sambil mengebulkan asap rokoknya.


“Nah, Ki Sukoco, apakah tadi terlihat ajian ‘Cakra Buana’ terpasang?”


Sukoco menggeleng sambil menghela napas.


“Seandainya tadi ‘Cakra Buana’ dan ‘Pamungkas’ yang berbenturan maka Ki Sukoco belum tentu kalah. Belum tentu juga menang, hahaha....”


Sukoco mengangguk-angguk sambil tersenyum kecut.


“Tapi, nyatanya saya kalah...,” katanya kemudian.


“Demikianlah. Tapi saya tegaskan, bukan saya yang mengalahkan Ki Sukoco.”


“Lantas siapa, Adimas?”


“Ki Sukoco, ilmu tertinggi di jagadita ini adalah ilmu kosong. Ilmu ‘tidak punya ilmu apa-apa’. Pahamilah ini.”


Kening Sukoco berkerut.


Tersela sejenak. Faruq datang membawa kopi dan penganan. Agak lama dia di dalam tadi karena ketahan Ami yang minta info situasi terkini. Akhirnya, istri Hazri itu pun bernapas lega setelah mendengar penjelasan Faruq bahwa suaminya baik-baik saja. Paling baik malah, tidak kurang satu apa pun.


Sukoco masih berkerut. Hazri menunggu tanggapan.


“Ilmu manunggal, maksud Adimas?” berkata juga akhirnya Sukoco.


Hazri mengangguk tersenyum. Sudah mulai muncul tandanya.

__ADS_1


“Adimas menguasai ilmu luhur itu?” Sukoco kelihatan antusias.


Dia ingat gurunya pernah berkata bahwa ilmu tertinggi di semesta raya adalah ilmu manunggal atau ilmu sejati. Sejatining elmu. Tapi, sampai meninggalnya, Kiai Darmo belum sempat bertemu dengan orang yang menguasai ilmu itu. Seperti kata kabar, sejatining elmu adalah ilmu rahasia. Mereka yang menguasainya tidak tampil terbuka. Tersembunyi dan disembunyikan. Tapi ada. Kiai Darmo yakin ada karena semua pasti punya puncak. Punya yang berderajat tertinggi. Begitu pun ilmu.


Hazri tersenyum saja. Tidak mengangguk, tidak menggeleng.


Mata Sukoco berbinar. Dia tahu Ki Mahmud Tidar memegang ilmu itu. “Adimas, mohon saya bisa belajar...,” pintanya sungguh-sungguh.


Hazri masih tersenyum, lalu menggeleng.


Sukoco kaget. “Kenapa, Adimas? Apakah saya tidak pantas mempelajarinya?”


Hazri menggeleng lagi. Wajahnya masih tersenyum.


“Lalu, kenapa, Adimas? Saya mohon..”


“Ki Sukoco, tidak akan berguna apa pun jika hanya berhenti sampai di siru...” Hazri bersiloka.


Sukoco menunduk. Keningnya berkerut lagi. “Kenapa tidak berguna, Adimas? Bukankah itu ilmu sejati?”


“Untuk apa sejatinya ilmu sejati itu?” pancing Hazri.


Sukoco kembali merenung. “Apakah dengan itu lalu kita berhak merasa mulia?” pancing lagi.


Sukoco menggeleng-gelengkan kepalanya, tapi belum menjawab.


“Jadi, untuk apa, Ki Sukoco? Apa niat Ki Sukoco atas ilmu sejati itu?”


Sukoco memandang Hazri, matanya berkejap-kejap. Belum menjawab juga.


“Ki Sukoco, ketahuilah bahwa semua kesejatian yang terpampang di semesta raya ini bergerak ke satu titik....”


Hazri pun mengangguk-angguk. “Apakah sudah dipahami, Ki Sukoco?”


Sukoco mengangguk dengan sesenggukan.


“Siap?” tanya Hazri lagi.


Sukoco mengangguk mantap. “Mohon bimbingan Adimas...,” katanya.


Hazri menghela napas. “Baiklah, Ki Sukoco. Ustadz, tolong kasih tahu muridnya Ki Sukoco supaya menunggu. Nanti Ustadz ikut ke dalam ya. Jadi saksi,” pintanya.


Faruq mengangguk. “Pak Karno gimana?”


Hazri melihat Karno. “Biarkan saja. Masih pulas.”


Faruq mengangguk lagi.


“Mari...,” Hazri mengajak tamu jauhnya masuk ke ruang dzikir.


Sebentar kemudian Faruq pun masuk ke dalam ruangan itu.


Pintu ditutup. Prosesi pembaiatan pun dimulai....


Sebagai ahli hikmah, Sukoco telah mencapai tingkatan tinggi dalam khazanah keilmuan itu. Setiap ayat, bahkan setiap huruf Kalamullah memang mengandung hikmah-hikmah tertentu. Itulah yang diulik Sukoco selama ini. Sayang dia terhijab di situ, tidak lanjut mencari sampai kepada Sang Pemilik. Istilahnya Pak Subakir, nonton ronggeng monyet, lalu keterusan jadi pemain. Bukankah Allah telah berpesan lewat hadits qudsi, “Segalanya bisa menjadi hijab bagimu dari memandang-Ku.”


Kalau diibaratkan buah, Sukoco sudah matang pohon tapi belum sempurna. Hazri tinggal menyempurnakannya saja dengan memberi pengertian yang benar tentang titik akhir segala sesuatu. Dengan itu maka Sukoco bisa melanjutkan perjalanan ruhaninya yang sempat tertahan lama di kesemuan ronggeng monyet tadi menuju Sejatinya Sejati. Hulu sekaligus muara atas segalanya.


Sama seperti Hazri dulu saat menerima tiga rahasia dasar al-Irfan. Awalnya, Sukoco sesenggukan, lalu tersedu-sedu, dan akhirnya meraung kencang. Hazri mengajak Faruq keluar dari ruang dzikir untuk memberi keleluasaan Sukoco melepaskan beban rasanya. Mereka kembali ke teras depan.


Melihat kemunculan Hazri, kedua murid Sukoco bergegas menghampiri.

__ADS_1


“Maaf, Ki Mahmud, tidak ada apa-apakah dengan Kiai?” yang senior bertanya, yang tadi terpental ke pagar.


Hazri menggeleng sambil tersenyum. “Baik-baik semua.”


Kedua murid Sukoco itu pun mengangguk dan hendak balik ke tempatnya.


“Di sini saja...,” kata Hazri.


Mereka mengangguk lagi lalu duduk di situ.


Ternyata raungan Sukoco semakin kencang. Faruq garuk-garuk kepala. Hazri meringis. Busyet, tawanya saja seram begitu apalagi raungan tangisnya.


“Allah...,” sang Mursyid berucap pelan.


Tiba-tiba ratusan tonggeret serentak kembali menjerit riang. Raungan Sukoco pun tenggelam dalam gema paduan suara serangga malam yang entah seperti apa bentuknya itu. Hazri belum pernah lihat. Faruq menghela napas menyimak keanehan ini. Dia tahu Haji Mahmud yang bikin gara-gara.


Sepuluh menitan kemudian Sukoco pun muncul sambil tertawa-tawa.


“Ini yang namanya bar Setu Minggu bar nangis ngguyu, hahaha...,” Hazri ikut tertawa. Ingat pengalamannya dulu.


“Hohoho...,” makin bulatlah tawa Sukoco.


Maka, semuanya kini tertawa-tawa. Cuma Karno yang tidak terusik.


Seiring meredanya derai tawa mereka, reda juga koor para tonggeret itu. Faruq mengangguk-angguk, menafakuri keanehan alam ini.


“Joko, Slamet..., seandainya aku tidak sempat karena waktuku keburu habis, kalian datanglah kemari. Berguru kepada Ki Mahmud Tidar ini. Apa pun yang diwejangkan beliau, turuti! Mau merah atau hitam, jangan membantah! Paham?” Sukoco berpesan kepada kedua muridnya langsung di depan Hazri. Mumpung masih sempat.


Kedua muridnya itu pun mengangguk takzim.


Hazri senyum-senyum saja.


Obrolan santai itu terus berlanjut, hingga dicukupkan oleh Sukoco. Mereka pun mohon diri sekitar pukul tiga dini hari. Tanpa sungkan, Sukoco mencium tangan Hazri lalu memeluknya erat. “Terima kasih, Adimas...,” bisiknya pelan. Melihat itu, kedua muridnya ikut mencium tangan Ki Mahmud Tidar. Hazri cengar-cengir saja diperlakukan seperti ini. “Ki Sukoco, dzikir Cahaya. Jangan lepas...,” pesan sang Mursyid.


Sukoco mengangguk-angguk sambil menghela dalam napasnya.


Jeep pun bergerak meninggalkan Tidar. Hazri membalas penghormatan para jin Sukoco dengan anggukan kecil kepalanya. “Nanti pada waktunya, kisanak bisa belajar langsung kepada Ki Sukoco...,” katanya pelan. Para jin itu pun kembali menghormat lalu lenyap. Tadi, mereka minta diajari dzikir Cahaya juga.


Giliran para pengawal gaib sukarelanya yang mohon diri. “Pulanglah, Ustadz, terima kasih...,” kata Hazri pelan. Bet, para jin muslim itu pun lenyap setelah menghormat takzim kepada sang Mursyid.


Faruq mengulurkan tangan hendak menjabat tangan Hazri.


“Eee, mau ke mana, Ustadz?” tanya Hazri.


“Lho? Tadi katanya disuruh pulang?” Faruq balik bertanya bingung.


“Hahaha...,” Hazri merangkul Faruq dan mengajaknya kembali ke teras depan. “Bukan ke Ustadz yang ini, itu....”


“Siapa sih?” Faruq makin bingung.


“Hahaha..., sudahlah.”


Faruq pun garuk-garuk kepala.


“Ustadz, jangan ikut-ikutan cium tangan ya. Biasa-biasa saja seperti sekarang. Nanti orang pada bingung lihat Pak Ustadz cium-cium tangan saya.”


Faruq mengangguk paham.


Ctak! Hazri menjentikkan jarinya di depan wajah Karno, setibanya kembali di teras depan. Karno pun terbangun. “Huuaahh...,” menguap sambil menggeliat, lalu celingak-celinguk. “Kok sepi? Di mana Pak Sukoco?” dia bertanya.


Hazri dan Faruq pun terbahak-bahak....

__ADS_1


__ADS_2