Jalan Pulang

Jalan Pulang
51. kerikil kenangan


__ADS_3

Sejak kedatangan Romi dua hari lalu, Hazri tidak beranjak jauh dari kontrakannya. Kebanyakan di dalam rumah, tidur-tiduran sambil lihat berita. Keluar cuma kalau cari makan. Itu pun tidak jauh, ada warteg dekat situ. Untung Bu Endang tidak banyak tanya, para tetangga juga lumayan cuek. Sepertinya penduduk di situ memang kurang suka iku campur urusan orang. Bagus bagi Hazri. Ada sesuatu yang mengusik perasaan Hazri dari kemarin saat Romi datang. Bukan soal pengejarannya oleh polisi, namun soal lain. Seperti ada bagian hati yang hilang dan entah apa itu.


Sekarang sudah hari ke empat, menjelang sore. Seperti biasa, Hazri sedang nonton TV sambil baca-baca koran yang tadi dibelinya dekat warung makan. HP berdering, dari Udin. Hazri segera menerimanya.


“Assalamu’alaikum, Cak...,” sapa Udin.


“Ya, ada apa, Din?” tanya Hazri.


“Eemm, begini, Cak... Tadi siang polisi datang ke rumah, tanya-tanya Cak Hazri. Ada Emak sama Siti di rumah, saya sedang ngajar. Pulang-pulang, Siti cerita sambil menangis. Emak juga menangis. Katanya, sewaktu polisi tanya-tanya mereka diperlakukan kasar. Emak sama Siti dibentak-bentak...’


“Setan alas! Emak dibentak-bentak...?!” kata Hazri geram. Marahnya yang memang sudah menggumpal itu langsung melesat ke ubun-ubun. “Ada Emak atau Siti di situ?” tanya Hazri.


“Saya di luar rumah. Emak bilang jangan kasih tahu Cak Hazri, tapi Siti malah nyuruh ngabari Cak Hazri. Makanya saya telepon Cak sekarang.”


Hazri diam, menarik napasnya yang terasa berat.


“Barusan polisi datang lagi, Cak,...” sambung Udin.


“Hah? Datang lagi mereka...?!” Hazri makin gusar.


“Iya, Cak, baru saja mereka pergi. Habislah saya dibentak-bentak, sempat ditempeleng juga. Siti menjerit-jerit. Emak menangis terus di pojok ruang tamu, dirubung ibu-ibu tetangga. Hampir saja saya dibawa, alasannya nyembunyikan buronan. Untung ada Pak Agus, kepala sekolah saya datang. Dia yang menjamin kalau saya tidak tahu persoalannya...”


“Kampret kau, Fahmi!” Hazri geram sekali.


“Siapa, Cak?” tanya Udin.


“Bukan, bukan. Begini, Din, bantu aku. Kamu jangan pergi mengajar dulu, diam di rumah saja. Temanin Emak sama Siti. Kalau setan-setan itu datang lagi, kamu hadapi. Tapi, jangan melawan! Diam saja! Mau ditempeleng atau ditendang tetap diam jangan melawan. Pokoknya diam. Bisa kan?”


“Bisa, Cak. Tadinya Emak mau saya bawa ke kampung...”


“Nggak usah, Din, percuma. Mereka pasti ke sana juga. Nanti malah dituduh macam-macam. Aku mau beresin dari sini! Biar kuhajar biang setan di sini!”


Udin mengangguk-angguk. “Iya, Cak, saya paham.”


“Itu saja dulu, Din. Tetap telepon aku kalau ada apa-apa. Nggak usah ketahuan Emak kalau perlu. Bisa ya?”


“Iya, iya, Cak...”


Setelah itu, Hazri langsung menghubungi Romi, memberi tahu dirinya kalau akan kembali ke Jogja malam ini. Tadinya Romi keberatan, soalnya situasi Jogja sekarang masih sangat rawan. Malah terasa lebih rawan dibanding hari-hari kemarin. Terlebih Romi masih harus menyembunyikan kabar pernikahan Zilfa dari Hazri. Tapi, karena Hazri mengatakan bahwa dia ada urusan yang sangat mendesak maka Romi mencoba mengerti. Dia menyebutkan suatu tempat yang aman untuk titik pertemuan mereka. Hazri tahu gambaran tempat itu. Deal, malam ini buronan kakap itu akan meluncur kembali.


Sekitar jam tujuh malam Hazri sudah sampai di Maguwo, Pajero Sport merayap pelan melintas kawasan ini. Walau kepadatan lalu lintas kawasan ini sudah mulai mencair, namun tetap masih ramai pada jam segitu. Dua polisi tampak mengatur lalu lintas di pertigaan Janti, bawah jembatan layang. ‘Rogo Swara’ pun berdenyut. Hazri tenang saja karena tahu polisi itu tidak mengincar dirinya saat ini. Pelanggar lampu merah yang sedang mereka incar.


Lepas pertigaan Janti. Hazri lurus ke arah kota lalu belok kiri menuju Banguntapan. Ancar-ancar dari Romi jelas, tidak susah dicari. Hazri membawa masuk mobilnya ke sebuah kompleks perumahan. Ketemu warung Burjo belok kiri lagi. Dari situ sudah kelihatan Romi sedang berdiri di depan sebuah rumah tipe 36 standar. Hazri memarkir mobilnya di depan rumah itu, turun dan segera masuk ke dalam.


“Rumah siapa ini, Rom?” dia bertanya sambil melepas wig dan kumis palsunya.


“Punya si Jenggot,” Romi menyebut nama panggilan seorang anak buahnya.

__ADS_1


“Mana dia?”


“Lenyap. Pulang kampung ke Pati sana, Bang.”


“Kuncinya?”


“Ada. Dipengang Kucir.”


“Kucir stand by?”


“Iya, Bang.”


Hazri manggut-manggut.


“Mau minum apa, Bang?” tanya Romi kemudian.


“Yang ada sajalah...”


Romi keluar sebentar ke warung Burjo. Biasa, Coca Cola dingin.


Sambil minum, Hazri menceritakan kejadian di rumah adik iparnya di Jombang.


“Seperti itu, Rom. Aku nggak bisa biarkan ini...”


Romi mengangguk-angguk. “Terus apa rencana Abang?”


Romi mengangguk kembali. “Caranya, Bang?”


“Gampang. Kuganggu juga keluarganya di sini, pasti dia bereaksi. Terus kita bisa nego...”


“Hehehe...cocok itu, Bang. Kenapa bukan Fahminya saja sekalian?”


“Jangan dia pribadi, malah tambah masalah nanti. Urusannya di sini, dia ganggu keluargaku, jadi aku ganggu keluarganya. Adil, kan?”


Romi paham. “Kapan mau dikerjakan, Bang?”


“Mulai malam ini, sampai dia buka nego.”


“Ada yang harus disiapkan dulu?”


Hazri menggeleng. “Aku cuma perlu kerikil, banyak kulihat di depan.”


“Kalau begitu ayolah, Bang...,” Romi sudah tidak sabar.


“Sebentar, habisin minum dulu.”


Kemudian, Hazri pun segera memakai kembali samarannya. Beberapa butir batu kerikil sebesar telur puyuh diambilnya dari jalanan depan rumah itu. Lalu, mereka pun berangkat menuju rumah dinas Fahmi di daerah Kota Baru.

__ADS_1


Rumah Fahmi berada di tepi jalan raya, besar bertingkat dua. Hazri dan Romi berputa dua kali untuk melihat-lihat situasi. Lalu, mereka memilih posisi terbaik dan teraman di seberang jalan. Posisi dipilih tidak di depan rumah Fahmi, agak ke kiri dekat belokan. Tapi, sasaran jelas terlihat dari sana.


Dari dalam mobil, Hazri mengamati rumah Fahmi. Sepi, namun lampunya menyala. Berarti ada orang di dalam. Sebuah mobil Xpender hitam terparkir di garasi, mobil dinas Fahmi tidak kelihatan. Mungkin belum pulang dari kantor. Dihitung ada delapan jendela besar di rumah itu, empat di lantai atas dan empat lagi di bawah. Kaca-kaca jendela itulah yang hendak disasar Hazri. Dia memperkirakan seberapa besar tenaga dalam yang mesti dipakai untuk memecahkan kaca jendela dengan kerikil. Sekedar membentur dan pecah, Hazri tidak ingin kerikilnya tembus masuk sehingga bisa melukai penghuni rumah. Paling tidak jangan menerobos terlalu jauh.


Perkiraan sudah di dapat. “Siap, Rom?” tanya Hazri.


Romi mengangguk. Mesin mobil menyala, siap kabur.


Hazri merapal ajian ‘Rogo Kumitir’ dengan tenaga dalam sedikit saja. Delapan kerikil ditaruh di telapak tangan kiri. Pelan-pelan kedua tangan Hazri memerah walau tidak terlalu kelihatan. Matanya tajam menatap sasaran. Lalu, satu per satu kerikil itu melesat disentil dengan jari kanan tangan Hazri, langsung menghantam sasaran masing-masing. Pyar! Pyar! Pyar! Delapan kaca jendela besar rumah Fahmi itu pun pecah berantakan.


Segera setelah itu Pajero Sport beranjak menjauh lokasi, normal-normal saja. Sekitar tiga puluh menit kemudian merek berputar, hendak melintas kembali di depan rumah Fahmi. Dari kejahuan sudah terlihat ramai di sana sekarang, orang-orang berkumpul ingin tahu apa yang terjadi. Romi tertawa senang. Hazri hanya diam saja. Karena ada mobil patroli polisi di dipan rumah Fahmi maka mereka belok menghindar. Langsung meluncur balik lewat Ring Road.


“Mati kenapa aku lewat sini.” kata Romi dalam hati.


Terlihat dua polisi sedang mengatur laju lalu lintas yang sempat tersendat akibat adanya sebuah acara di gedung serba guna itu.


“Nggak usah takut, Rom. Jalan seperti biasa saja.” kata Hazri yang melihat Romi agak panik.


Romi mengangguk ragu.


Bukan dua polisi yang membuat Romi panik. Urusan polisi itu gampang, jika mereka dihentikan tinggal kabur atau dilawan saja. Mudah itu bagi Romi terlebih bagi Hazri. Akan tetapi yang membuat panik Romi adalah acara di gedung serba guna itu. Sebuah acara pernikahan yang seharusnya dia sembunyikan dari Hazri.


Romi semakin panik saat mobil Pajero Sport mereka melintas di depan gedung serba guna itu. Dan benar apa yang di khawatirkan Romi, Hazri menengok ke gedung serba guna tersebut.


“Acara apa ya, Rom. Ramai sekali?” tanya Hazri melihat situasi


Romi diam panik. “Wisuda mungkin, Bang.”


“Wisuda kok malam-mala.”


Romi cengengesan menutupi. “Bodoh, kenapa aku malah yang keluar kata-kata wisuda.” katanya dalam hati.


Hazri memperhatikan seksama terdapat sebuah foto seorang laki-laki menggunakan jaz hitam sedang menggandeng seorang wanita, sayang foto sang wanita tertutup oleh karangan bunga. Yang jelas Hazri melihat sebuah tulisan ‘Z & A’, dia yakin itu bukan acara wisuda tapi acara pernikahan. Dan entah kenapa dia begitu peduli, seakan-akan ada daya magnet yang terus menarik pandangannya. Perasaan hangat namun sakit pun ikut hadir.


Sepersekian detik mata Hazri beradu dengan sebuah mata yang sangat dia kenali.


“Zilfa...” desah Hazri.


Pajero Sport melaju kencang melewati kemacetan.


Secuil Kopi



Bagi anak kos, terutama kalangan mahasiswa di Yogyakarta pasti mengenal dengan tempat makan sederhana bernama Warung Burjo (bubur kacang ijo).


Kedai bercorak merek mie instan atau minuman kopi instan terkenal ini menjual sajian bubur kacang ijo dan beragam makanan. Selain itu, yang menjadi ciri khas tempat makan ini adalah harganya relatif murah.

__ADS_1


Burjo sering dijadikan tempat berkumpul mahasiswa, entah untuk sekadar makan, atau nongkrong mengerjakan tugas. Di balik populernya tempat makan yang menjadi incaran para mahasiswa ini, ternyata warung burjo punya kisah sejarah yang unik


__ADS_2