
Mereka yang di teras pun ngobrol akrab. Menantang tanding dalam dunia persilatan memang bukan berarti mencari musuh. Sukoco pun bercerita tentang pengalamannya berguru hikmah ke mana-mana.
“Jadi, guru saya ada sembilan. Yang terakhir Kiai Darmo. Beliau yang tertinggi ilmunya. Beliau juga yang mewariskan Padepokan Manggala Yuda itu kepada saya,” katanya.
Karno terkesima mendengar cerita Sukoco. Tidak sadar mulutnya membuka. Sebenarnya Faruq juga, tapi pengendalian dirinya lebih bagus sehingga tidak terlalu lebar melongonya.
“Bisa kesaktian apa saja, Pak Sukoco?” tanya Karno antusias.
Faruq langsung melotot lagi. . .
“Hohoho...,” Sukoco tertawa saja, tidak menjawab.
“Kalau Adimas siapa gurunya?” tanya Sukoco kemudian.
Tanya-tanyaan soal guru adalah hal biasa dalam dunia persilatan. Apalagi bagi mereka yang hendak melakukan perang tanding. Biasa, penjajakan kemampuan lawan masing-masing. Aturannya mesti jujur kasih informasi, apa adanya.
“Guru saya tidak sebanyak Ki Sukoco. Cuma dua, yang pertama, ayah kandung saya sendiri. Dari garis ayah, kakek guru saya bernama Ki Ageng..”
“Ki Ageg?” Sukoco terperanjat kaget.
“Ki Ageng...,” Hazri membenarkan.
“Yang dari tanah santri? Yang punya ajian Buana?” tanya Sukoco lagi.
‘Cakra Buana’ maksudnya. Tanah santri, sebutan Jombang zaman dulu.
Giliran Hazri yang kaget. “Ki Sukoco kenal?”
Sukoco menggeleng. “Kiai Darmo yang kenal. Bersahabat. Dulu beliau sering bercerita tentang Ki Ageg, eh... maaf, siapa tadi nama beliau?”
“Ki Ageng...,” Hazri membenarkan lagi.
“Iya, Ki Ageng. Kata Kiai Darmo, mereka pernah sama-sama menyerang Belanda di Situbondo, yang markasnya sekarang jadi markas PM di sana. Dulu, itu markas PM-nya tentara Belanda. Banyak pejuang yang mati disiksa di situ...,” Sukoco menyeruput kopi dan menyulut sebatang rokok.
Semua menunggu kelanjutan kisahnya.
“Lama Ki Ageng tinggal di Banyuwangi. Di Padepokan Manggala Yuda itu. Menikah dengan salah seorang keponakan Kiai Darmo...,” lanjut Sukoco.
Hazri tersenyum. Dari cerita ayahnya dia tahu bahwa salah seorang dari tiga istri Ki Ageng adalah orang ujung Jawa Timur. Walau tidak disebut Banyuwangi. Waktu Hazri masih bayi, istri Ki Ageng itu masih ada. Sudah tua. Tinggal dia, dua yang lain sudah meninggal. Hazri sering digendong olehnya. Bahkan, pernah mengencingi wajah keponakan Kiai Darmo itu karena dia menyentil-nyentil ‘titit’ kecilnya saat ditelentangkan hendak dipakaikan baju. Caurr..., basah mukanya. Tapi, istri kakek gurunya itu tertawa saja. Bahagia malah katanya.
“Jadi, apa kabar pukulan petir itu, Adimas?” tanya Sukoco.
Hazri tertawa kecil. “Baik-baik saja.”
Hazri dan Sukoco pun saling menatap, lalu sama mengangguk-angguk pelan. Hazri teringat engkongnya Ridwann, kalau Sukoco kepikiran ajian ‘Buana’ yang bakal dihadapinya sebentar lagi. Gurunya pernah berkata, ajian ‘Buana’ adalah salah satu ajian yang mampu mengimbangi ajian ‘Pamungkas’ miliknya.
“Kalau guru Adimas yang lain?” Sukoco bertanya lagi.
“Oo iya. Dia berjuluk Kekasih...,” jawab Hazri.
Kening Sukoco berketut. “Perempuan?”
Hazri menggeleng.
“Laki-laki?”
Hazri menggeleng lagi.
__ADS_1
Kening Sukoco makin berkerut. Lalu apa?
“Bukan banci juga lho, hehehe...,” Hazri tertawa.
“Guru gaib maksud Adimas?” Sukoco penasaran.
Hazri mengangguk, lalu menggeleng. “Gaib iya, zhahir juga iya..,” katanya sambil masih mengulum senyum.
Sukoco tambah bingung. “Manusia?”
Hazri mengangguk. “Tapi, sejatinya bukan.”
Sukoco menghela napas. Diam-diam pasang ilmu terawangan.
“Hahaha... . Tidak bisa diteropong, Ki Sukoco, teramat dekat.”.
Sukoco kaget. Memang tidak kelihatan apa-apa. Kosong. Dia menghela napas panjang. Antara sedikit malu karena ketahuan pasang ilmu, dan bingung.
Suasana hening sejenak. Karno meringis garuk-garuk kepala melihat Faruq yang terus mengawasinya.
“Wah tidak terasa, sudah lewat tengah malam ini, Ki Sukoco. Bagaimana?” kata Hazri memecah keheningan itu sambil melihat arlojinya.
Sukoco pun melihat arlojinya lalu menghela napas. “Baiklah, Adimas. Sekali lagi bukan maksud saya menantang Adimas. Ini amanat guru,” katanya.
Hazri tersenyum. “Saya sangat paham, Ki Sukoco. Mari....”
Mereka pun menuju halaman samping. Disitu ada lapang rumput yang biasa dipakai tempat bermain si Fia. Kedua murid Sukoco memindahkan beberapa pot bunga di situ agar tempat lebih lapang. Bulan bersinar purnama, langit cerah berkerlip bintang. Derik jangkrik di sela tanah saling menyahut dengan gereman tokek tua di pohon mangga besar itu. Sukoco berdiri di sana, kelihatannya sedang memasang jimat-jimat yang dimiliki. Kedua muridnya membantu. Hazri menghampiri Faruq dan Karno yang berdiri tegang di sisi yang lain.
“Pak Haji nggak pasang jimat juga?” celetuk Karno.
Faruq mendelik. “Pak Karno ini gimana sih? Apa kurang jelas perkataan saya? Sudah, diam. Kalau tidak bisa diam, pulang...,” tegurnya geregetan.
“Ada apa ini?” Hazri mesem.
“Pak Ustadz, ini Pak Haji, saya nggak boleh ini nggak boleh itu...,” kata Karno.
“Bukan nggak boleh. Kita ini nggak tahu. Jadi, diam,” bantah Faruq.
“Kalau nggak tahu, nanya dong!” balas Karno.
“Nanti nanya kalau sudah punya tahu sedikit. Kalau masih gelap, total, diam!” bentak Faruq. Kesal dia kepada Karno yang memang rada sok tingkahnya akhir-akhir ini. Sudah merasa kaya mungkin.
“Sudah, sudah. Kok jadi ribut? Tegang ya, hahaha...,” Hazri tertawa kecil.
Kedua tokoh desa itu terdiam, tapi masih saling menatap kesal.
“Apa yang dibilang Ustadz Faruq benar. Susah dijelaskan kalau Pak Karno sama sekali belum tahu. Mau mulai dari mana? Kalau langsung saya comot di tengah nanti malah jadi salah pengertian karena nggak paham ceritanya dari awal.”
Karno menghela napas, lalu mengangguk-angguk. Mengerti kayaknya.
“Sebelum lanjut, saya mau nitip amanat dulu nih Bisa nggak?”
Karno dan Faruq mengangguk.
“Begini, apa pun yang nanti Pak Karno dan Pak Ustadz lihat, biarlah jadi milik Anda saja. Jangan diomongin ke orang-orang. Simpan rapat dalam hati. Kalau ada yang ingin ditanyakan, tanyakan langsung ke saya. Jangan dibahas dengan orang lain yang belum tentu tahu yang terjadi. Bisa nggak? Kalau nggak bisa nggak apa-apa, tapi terpaksa saya harus minta yang nggak bisa untuk pergi dulu dari sini. Lebih baik tidak lihat daripada jadi fitnah nantinya.”
Faruq langsung mengangguk. Karno terdiam sejenak, tapi kemudian dia juga mengangguk.
__ADS_1
“Benar nih, Pak Karno?” pancing Hazri.
Karno mengangguk-angguk lagi. “Saya janji.”
“Baiklah. Kita masing-masing jadi saksi. Kalau luber berarti di antara kira ada yang membocorkannya. Sepakat?”
Faruq dan Karno mengangguk bersama.
Hazri pun kembali ke arena. Tampak di sana Sukoco sudah siap.
“Siap, Ki Sukoco?” tanya Hazri.
Sukoco mengangguk. “Silakan, Adimas.”
“Assalamu’alaikum. Kepada semua makhluk Allah yang ada di sini, ketahuilah bahwa kami tidak bermusuhan. Jangan ada yang mengganggu...,” kata Hazri. Lalu, dia duduk bersila di ramput. Satu detik, dua detik, empat detik, enam detik... lebur. Sejati diri Hazri pun bergeser ke martabat alam malakut. Martabat alam ketetapan dzikit sebagaimana halnya malaikatullah. Sebuah dimensi keberserahdirian total kepada Sang Maha. Tiada daya, tiada akal, tiada upaya, dan tiada keinginan apa pun kecuali berserah kepada-Nya. Dia dan hanya Dia.
Tidak tampak apa pun. Hazri bahkan melihat dirinya sendiri tiada. Cahaya dan hanya cahaya. Hamparan tiada bertepi. Cahaya bertingkat-tingkat. Tunggal dalam segala, segalanya kembali manunggal. Qulhu Allahu Ahad, katakan Allah itu Esa. Namun, tidaklah sepi keheningan anggun ini. Ramai bergema seruan tauhid, “La ilaha illallah, La ilaha illallah, La ilaha illallah...,” berpadu syahdu dengan desah asma-Nya, “Allah, Allah, Allah, Allah...” dan shalawat, “Allahumma shali ala Muhammad...,” Hazri pun semakin larut, tenggelam tanpa ronta.
Sementara di dimensi luar sana, Sukoco pun sudah siap. Ajian ‘Pamungkas’ terpasang dengan tenaga dalam penuh. Sukoco langsung bermain pada tingkatan maksimal ilmu kanuragannya. Wajah warok Banyuwangi itu semakin hitam berkilat keringat. Asap tipis mengebul dari sekujur tubuh, tembus keluar dari baju pangsi hitamnya. Terutama dari kedua telapak kakinya yang menapak tanah. “Heerrrmm...,” dia menggeram seram. Kedua muridnya bergerak menjauh. Reflek, Faruq dan Karno juga mundur. Bolak-balik mereka melihat Haji Mahmud yang tampak cuek itu. Santai bersila di atas ramput sambil mesam-mesem kecil. Busyet, apa tidak tahu lawannya sudah menggeram macam beruang lapar?
Ami tidak bisa menahan diri lagi setelah mendengar geraman tadi. Dia bergegas menuju dinding rumah yang berbatasan dengan lapang rumput, mengintip dari celah kayu di situ. Terhenyaklah melihat posisi Hazri yang kurang menguntungkan itu. “Mas Mahmud...,” air matanya langsung merembes. Ingin hati melesat keluar melerai pertarungan, tapi seolah ada yang menahan. Kakinya serasa dibandul beban, terpantek tak bisa bergerak. Ditarik-tarik, gagal terus. “Yaa Allah...,” desahnya pasrah. Lalu, dia pun berdzikir kepada-Nya sambil memejamkan mata.
“Heerrrmm...,” Sukoco menggeram lagi. “Ki Mahmud Tidar, bersiaplah...,” katanya dengan suara berat Werkudara. Sukoco pun melakukan gerakan-gerakan silat lambat bertenaga dalam. “Hiaaa...,” kedua tangannya diangkat tinggi di atas kepala sambil mengepal. Sreset..., semacam kilatan listrik muncul dari dua kutub tangan itu. Sreset sreset sreset.... Muncul lagi beberapa kali. Faruq dan Karno sama melongo. “Ki Mahmud Tidar...,” seru Sukoco lagi. Heran juga dia melihat Hazri belum melakukan gerakan persiapan apa-apa. Dari tadi cuma bersila sambil mesam-mesem. “Hiaaa...,” Sukoco memukulkan kepalan tangan kanannya ke tanah. Degh. ..! Tanah pun terasa bergetar. Tangan itu amblas sesiku lewat. “Hah?!” Faruq dan Karno tersentak sampai jatuh terduduk. Degh..! Tangan kirinya sekarang. Sama, amblas. Tanah pun kembali bergetar. Faruq dan Karno bergidik ngeri. “Ki Mahmud Tidar...! Saya menyerang!” seru Sukoco keras menggema. Aneh, seiring dengan seruan Sukoco itu tiba-tiba seolah ratusan tonggeret bersama-sama berteriak nyaring menyamarkan. Faruq dan Karno langsung menutup telinga masing-masing. Mata terpaku menatap arena...
Sukoco berlari menuju posisi Hazri. Blegh blegh blegh blegh..., suara tapak kakinya. Tanah kembali bergetar. Percikan kilat listrik tampak berpendaran dari kedua kutub tangannya.
“Pak Haji...!” seru Faruq dan Karno bersamaan. Sangat khawatir mereka melihat gaya Haji Mahmud itu, terlebih Karno. Bagaimana Haji Mahmud masih bisa kalem begitu sementara beruang ganas siap menerkam? Memangnya sedang di masjid?
“Pak Haji...!” seru Karno lagi, keras sekali. Siapa tahu Haji Mahmud ketiduran Beda Faruq, dia sudah pasrah. Dzikir Cahaya pun melantun dalam kalbunya.
Bet bet bet..., hanya tiga kelebatan hijau itu yang kelihatan. Entah apa. Tahu-tahu, Sukoco sudah tergeletak di tengah arena. Telentang melotot menatap langit yang cerah berkerlip bintang. Jeritan tonggeret lenyap seketika. Begitu pun para jangkrik dan tokek mangga. Semua terkesima, termasuk para jin di sana. Sementara itu, Haji Mahmud tidak berubah. Masih kalem duduk bersila seperti semula. Mata mengatup lembut, bibir tersenyum manis. Busyet....
Seketika, setelah sadar dari terpananya, kedua murid Sukoco berlarian ke arah gurunya. Faruq dan Karno pun reflek ikut melompat ke sana. Namun, sesaat kemudian keempatnya terlempar ke belakang sebelum sempat mencapai posisi Sukoco. Seperti menabrak agar-agar gaib yang memantulkannya kembali. Faruq dan Karno bergulingan ditanah. “Astaghfirullah...,” kata Faruq terengah-engah setelah kembali duduk di tanah. “Apa tadi, Ustadz?” tanya Karno ketakutan. Faruq menggeleng cepat.
Seorang murid Sukoco bangkit berdiri. Lalu, melakukan gerakan-gerakan silat seperti gurunya tadi. “Hiaaa...,” dia menerjang ke depan, maksudnya mau menembus pagar gaib itu. Namun, tuiingg... tubuhnya kembali terpental. Lebih jauh dari yang tadi. Berguling-guling di tanah hingga menabrak pagar, hampir terperosok selokan. Murid Sukoco yang satunya pun bangkit melakukan gerakan silat serupa, maksudnya mau menerobos juga. “Jangan, Dik...!” seru yang barusan terpental sambil meringis memegang dadanya. Darah berlumuran di mulut dan hidungnya. Mendengar itu, si adik ini mengurungkan niatnya. Lalu, bergegas menghampiri kakaknya.
Karno panik, lari ke arah Hazri. Maksudnya hendak memberi tahu. “Pak Haji, Pak Haji...,” serunya. Saat menyentuh pundak Hazri tiba-tiba dia kelojotan seperti kesetrum. Tangannya terus menempel di pundak itu. “Pak Karno...!” Faruq terpekik keras. Seketika Hazri membuka mata mendengar pekikan ini. Bersamaan dengan itu tubuh Karno lepas terpental, melayang... gubrak... membentur dinding kayu rumah lalu melorot ke bawah. “Pak Karno...!” Faruq berteriak lagi. Ami yang cemas menyimak dari balik dinding itu pun terkejut. Kemudian ikut teriak-teriak.
“Jangan ke sana, Ustadz, diam disitu...,” kata Hazri saat melihat Faruq hendak menghampiri Karno. Faruq mengangguk, kembali diam di tempatnya.
Kemudian Hazri bergegas menghampiri Sukoco yang telentang diam di tengah arena. Wajah jawara Banyuwangi itu pucat disiram sinar purnama, mata melotot kejap-kejap, mulut sedikit terbuka dan napas megap-megap seperti koi. Hazri mengamatinya sejenak, lalu jongkok di sebelahnya. “Allah,” ucapnya pelan sambil menepuk dada Sukoco. “Huaahhh...,” murid Kiai Darmo itu langsung bangun terduduk dari posisi telentang. Seperti per lepas ikatan. ‘Hah huh hah huh...,’ suara napas beratnya saling memburu. Hazri tersenyum. “Tenang dulu, Ki...,” katanya, kemudian beranjak melihat kondisi murid Sukoco yang menyandar di pagar sana.
Hazri melakukan hal yang sama kepada murid Sukoco itu, tapi tidak ditepuk, hanya diusap saja dadanya beberapa kali. “Atur napas. mu,” perintah Hazri. Muridnya murid Kiai Darmo itu mengangguk paham. “Terima kasih, Ki,” kata mereka berdua. Beres itu Hazri ke tempat Karno. Tersenyum dia melihat Karno masih lelap, ngorok pula. Memang tidur sebenarnya, tidak terjadi apa-apa dengan Karno. Sengatan tadi tidak membahayakan karena dia tidak berniat buruk kepada Hazri. Lain halnya kalau memang terselip niat serupa itu.
Karno hanya mengalami kejutan di luar batas manusiawi. Tidak sakit, hanya terkejut sangat luar biasa. Lalu, dipaksa tidur oleh kekuatan alam. Ngoroklah dia tanpa sempat sadar saat terpental maupun saat membentur dinding kayu tadi. Terus terlelap karena ini memang bukan tidur biasa. Karena tidak tahu, jelas Faruq sangat khawatir. Dia menyangka suara ngorok Karno itu sebagai ‘bunyi’ sakaratul mautnya.
Ctak! Hazri menjentikkan jari di depan wajah Karno sambil berkata, “Bangun...” Karno pun menggeliat, menggosok-gosok mata, lalu celingak-celinguk.
“Tidak apa-apa, Pak Karno?” sang Mursyid bertanya.
Karno menggeleng. “Apa saya ketiduran?” Bingung dia.
Hazri tertawa pelan.
“Pak Haji sama Pak Sukoco nggak apa-apa?” Karno bertanya lagi.
“Alhamdulillah. Tidak apa-apa,” jawab Hazri. Lalu, dia pun kembali ke tempat Sukoco yang sekarang sedang melakukan gerakan pengaturan napas.
__ADS_1
Faruq bengong melihat Karno yang disangkanya sekarat itu sekarang malah berdiri sambil menguap terus. Seperti orang mengantuk berat.