Jalan Pulang

Jalan Pulang
101. cuma wayang


__ADS_3

Fahmi menunduk terpekur. Sudah sering dia mendengar pengibaratan dalang-wayang seperti ini. Tapi, baru sekarang rasanya menikam hati; yang kemarin-kemarin ngempos, tidak berkesan apa-apa.


“Tapi, Zri, wayang kan ada? Ada bendanya, bukan nggak ada.”


Hazri tersenyum. “Wujud bendanya sih ada. Tapi, mau diapakan saja oleh sang dalang, mereka tidak bisa melawan. Dibanting diam; disabetkan diam, dimasukkan kotak diam, dipatah-patahkan pun diam. Wayang itu hakikatnya tidak ada, yang ada hanya sang dalang. Coba kenakan ini ke segala yang di langit dan di bumi, pasti sama. Sabda Pangeran Wali, jagadita tak pernah dicipta sebab yang nyata hanyalah Dia. Sepakat aku....”


Fahmi nyengir. “Siapa Pangeran Wali?”


“Janganlah, nanti dituduh kafir, hehehe.... Bahaya.”


“Aahh, siapa sih?” Fahmi penasaran.


“Benar nih? Nggak ditangkap aku nanti?”


Fahmi tertawa. “Siapa?” Maksa dia.


“Syekh Lemah Abang.”


“Siapa itu? Aku belum pernah dengar?”


“Syekh Siti Jenar.”


“Ooh..., yang murtad itu?”


“Tuh, kan? Apa kubilang? Pangeran Wali pun enteng dibilang murtad, padahal yang bilang masih bingung baru soal dalang dan wayang, hahaha..”


Fahmi nyengir lagi. “Bukan aku yang bilang, kata orang-orang itu. Kan pernah ada filmnya?”


“Hehehe...,” Hazri terkekeh. “Wayang nonton film...”


Fahmi pun jadi ikut tertawa. Tapi, tiba-tiba dia celingak-celinguk sambil mengendus. “Zri, wangi lagi nih...,” katanya.


Tampaknya bocor lagi reaktor. Hazri diam menunggu sejenak. Ternyata tetap merebak wangi itu karena Fahmi terus mengendus-endus. Subhanallah, desah Hazri dalam hati. Semua.terserah padaMu.


“Kecium nggak, Zri?” tanya Fahmi.


Hazri mengangguk.


“Wangi apa ini?”


“Syekh Siti Jenar marah...,” Hazri cengar-cengir.


Fahmi mendelik. “Yang benar?”


Hazri cengengesan. “Aku nggak tahu. Biarin saja, nyaman ini...”


Fahmi mengangguk-angguk sambil menghirup dalam-dalam aroma harum itu. “Zri, kau pernah ngerasain gelisah nggak?” dia bertanya lagi.


“Lengkap koleksiku. Cak mau model gimana?”


“Maksudku, gelisah yang... gimana ya? Yang sangat menyengat gitu.”


“Takut mati?” pancing Hazri.


“Lewat, Zri. Mati juga nakutin, tapi aku lebih takut yang setelah itu.”


“Kenapa?”


“Kok kenapa? Kita kan bakal diadzab, disiksa. Abadi lagi.”

__ADS_1


“Hah? Masak? Kata siapa?” Hazri kembali cengar-cengir.


“Kau ini, Zri, kuajak bicara serius malah main-main,” gerutu Fahmi.


“Loh, aku sangat serius, Cak. Kata siapa itu?”


“Ya kata orang-orang. Kata kiai, kata ustadz, kata mubaligh. Pokoknya kata banyak oranglah.”


Hazri manggut-manggut. “Kalau kata Cak?”


Fahmi tersedak. Sama sekali tidak disangka pertanyaan Hazri ini.


“Kalau kata Cak gimana?” Hazri mengulang pertanyaannya.


Fahmi memandang Hazri, lalu menggeleng-geleng. “Nggak tahu aku.”


“Tuh, Cak sendiri ternyata belum tahu. Jadi, segala siksa itu sebenarnya Cak belum yakin karena belum.tahu. Iya, kan?”


Fahmi mengangguk. Memang begitu yang dia rasakan.


“Harus bisa haqqul yaqin dulu, Cak. Harus bisa bilang, kata saya begini. Kalau cuma dengar kata orang atau baca kitab, itu sih yakin-yakinan. Yakin akal-akalan. Masih bisa digoyang. Harus sampai yakin sejati dalam soal-soal Ilahiah semacam ini. Jangan sembarangan...,” kata Hazri, mengutip kalimat kesukaan Faruq.


Fahmi terpekur. Bingung benar kelihatannya.


“Begini saja, Cak, kita putar pendekatannya. Jangan dari arah gelisah, nanti malah jadi nakutin dengar siksaan-siksaan. Dari arah ketenangan saja, lebih nyaman mungkin walau sebenarnya sih sama. saja. Gimana? Lanjut?”


Fahmi mengangguk pasrah.


“Tapi, aku perlu nanya dulu nih. Soal masa depan yang abadi itu, banyak mana antara gelisah dan tenang dalam hati, Cak?”


“Banyak gelisahnya, Zri. Kayaknya pasti aku ini masuk neraka....”


Fahmi merenung. “Ya, paling aku masih beriman kepada Allah. Nggak sampailah nyembah-nyembah babi ngepet dan macam-macam lainnya. Mudah-mudahan ada pertimbangan di situ.”


Hazri mesem. “Itulah dia. Masih ada kok senjatanya.”


Fahmi mendongak. “Iman maksudmu?”


“Iya. Semua yang Cak bingungkan ini, hakikatnya soal keimanan.”


Lalu, terpekur lagi. “Tapi, selama ini kayaknya begitu-begitu saja.”


“Hahaha.... Itu karena Cak menempatkan senjata nuklir serupa katapel anak-anak zaman dulu yang dari karet ******.”


Fahmi kembali mengangkat wajahnya.


“Tenang atau gelisah tergantung keimanan. Makin tebal, makin tenang. Makin tipis, makin gelisah. Keimanan tak punya batas atas. Mau setebal apa pun, silakan berjuang meraihnya. Sebab, Allah bermartabat Nuurun ala Nuurin, Cahaya di atas Cahaya. Cahaya yang bertingkat-tingkat. Tapi, hati-hati, ada batas bawahnya. Habis keimaan seseorang manakala dia menyekutukan-Nya dengan apa pun. Dijamin gelisah total manusia semacam itu, walau bisa akting tenang. Hehehe..., nggak ketipeng aku. Cuma, ada cumanya, Cak, keimanan yang bagaimana dulu ini.”


“Yang gimana?” sambar Fahmi cepat.


“Yang pasti bukan iman imin,” Hazri cengengesan.


“Zri, aku ini jenderal. Kutangkap kau nanti. Hayo, yang gimana”


“Ya yang tadi, Jenderal, yang haqqul yaqin.”


“Caranya,Zri, caranya....”


“Caranya? Emm...,” Hazri terhenti karena melihat gumpalan kabut hijau yang muncul di atas kepala Fahmi. Kecil, sebesar bola bekel. Berputar seperti gasing.

__ADS_1


“Zri!” bentak Fahmi.


Jes, bersamaan dengan itu kabut hijau itu melesat ke atas membentuk larik tipis serupa benang. Tembus ke langit-langit ruangan. Hazri tersenyum.


“Hazri!” bentak Fahmi lagi, matanya melotot,


“Hehehe.... Iya, Cak, maaf. Caranya begini...,” Hazri mengeluarkan buku dan pulpen dari tasnya. Di atas kertas yang diambil dari buku itu dia menggambar denah. “Ini, Cak.”


Fahmi menerima kertas itu. “Apa ini?”


“Peta harta karun,” jawab Hazri bercanda.


“Beliau pembimbing saya. Kalau Cak mau tahu caranya, tanyalah langsung kepada beliau.”


“Pak Subakir ini ya?” tanya Fahmi membaca tulisan nama di situ.


Hazri mengangguk lalu menjelaskan rute tersebut. “Rumah hijau, ada kolam ikan di sampingnya. Di atas kolam itu ada saungnya.”


Fahmi mengangguk-angguk. “Pantas kau jadi hebat, Har. Slengean tapi benar kata-katamu. Diam-diam punya guru rupanya.”


“Yang hebat cuma Dia. Aku, kita semua ini sekedar boneka-Nya,” kata Hazri.


Fahmi mengangguk-angguk sambil tersenyum. Luar biasa Hazri Tiger.


Waktu zhuhur sudah masuk. Hazri minta izin ikut shalat di situ. Mereka pun shalat berjamaah di mushala kecil dalam rumah ini. Kelihatannya jarang dipakai tempat sujud itu. Fahmi tidak mau jadi imam, tiba-tiba merasa belum pantas. Jadilah Hazri yang maju memimpin, Usai shalat, Hazri tidak menolak tawaran Fahmi makan siang di situ. Makanlah mereka sambil melanjutkan perbincangan sedikit. Beres itu, sang Mursyid pun mohon pamit. Masih ada yang harus dia kerjakan. Fahmi meneleponkan taksi.


“Hampir lupa aku. Berapa nomormu?” tanya Fahmi.


“Aku nggak punya, Cak.”


“Handphone...”


“Iya. Yang dulu hancur ketembak anak buah Cak di Klaten.”


“Masya Allah. Hazri Tiger, HP saja nggak punya?”


“Fakir aku sekarang. Sudah jadi merpati sih, bukan Tiger, lagi hehehe....”


Fahmi geleng-geleng kepala. “Nih kartuku,” dia memberikan kartu namanya. “Punya duit sekarang buat ongkos taksi?”


“Ada.”


“Bener nih?”


Hazri mengangguk.


Tapi, Fahmi tetap memberinya uang. Maksa. Ya sudah, Hazri pun menerima sambil tertawa kecil. “Makasih, Cak,” katanya kalem.


Fahmi mengangguk. Tidak tahu kalau di dalam tas Hazri ada duit ratusan juta. Duit darah yang nggak habis-habis itu. Maunya, kalau bisa habis sekarang


“Kalau aku mau main ke rumahmu gimana, Zri?”


“Agak susah menjelaskannya. Kampung sih. Nanti saja kalau Cak sempat ke tempat Pak Subakir, minta orang di situ antarkan ke rumahku,” kilah Hazri. Maksudnya supaya Fahmi datang ke rumah Pak Subakir dulu.


“He-eh,” Fahmi mengangguk-angguk.


Tin, tin..., taksi yang dipanggil itu datang. Hazri menjabat erat Fahmi. Sang Jenderal pun balas memeluk. Lalu, mereka sama-sama keluar menuju taksi yang menunggu di tepi jalan sana.


Pelan-pelan, taksi pun beranjak....

__ADS_1


__ADS_2