Jalan Pulang

Jalan Pulang
63. rasa yang pernah ada


__ADS_3

Hazri menggeliat, pelan-pelan matanya membuka. Baju kausnya basah oleh peluh, panas juga ternyata dalam kabin ini walau kipas angin terpasang full. Sekarang memang musim kemarau, dan Hazri baru tahu kalau kemarau di laut panasnya lebih menyengat daripada di darat. Dia bangkit dari tempat tidur, membuka baju dan mengipas-ngipaskannya ke tubuh. Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh lewat empat puluh lima menit.


Hazri tertawa membaca pesan Huda di secarik kertas yang ditaruh di atas meja. dekat sepiring nasi goreng berikut procotannya. ‘Silakan makan. Kalau sudah, kami tunggu kehadirannya di atas’, begitu tertulis. Hazri makan nasi goreng itu, sudah dingin namun tetap enak rasanya. Kopinya pun diseruput seusai makan. Nikmat betul procotan itu walau sama dingin seperti nasi gorengnya. Duduk sebentar menghabiskan kopi, lalu beranjak mandi.


Saat sedang berpakaian. Hazri melihat Huda akan masuk kabin. Tapi entah mengapa tidak jadi. Malah buru-buru balik lagi ke dek atas sebelum Hazri sempat menyapanya. Usai berpakaian, Hazri membuka laci meja, mau lihat buku agama yang dibilang Huda semalam. Campur aduk ternyata di situ. Ada buku, majalah, dan koran. Bukunya bukan cuma tentang agama, komik silat dan novel juga ada. Majalahnya pun macam-macam. Otomotif sampai ‘cihui’ . Hazri memilih salah satu buku agama yang ada, lalu beranjak ke dek atas. Rencananya mau dibaca di mushala atau anjungan.


Begitu nongol, yang pertama dilihat adalah Huda cengengesan memeluk salah satu tiang kapal. Tidak ngomong apa-apa, cuma cengar-cengir saja menepuk-nepuk tiang itu. Matanya mengedip-ngedip memandang Hazri. Para ABK pun berkumpul di situ. Hazri meringis, pura-pura tidak mengerti, kalau Huda ingin mengadakan lomba panjat pohon kelapa seperti dulu. Berhubung di tengah samudera tidak ada pohon kelapa, maka tiang pun jadi.


“Selamat siang...,” sapanya sambil berjalan santai menuju mushala.


“Suuiiet, hoei...,” panggil Huda. “Tiang nih, tiang...,” sambungnya sambil terus menepuk-nepuk tiang kapal itu.


Hazri menoleh. “Kenapa tiangnya?”


“Halah, pura-pura nih yee...,” kata Huda nyaring.


Para ABK tertawa. “Ayo, Pak Arif...,” teriak mereka. Rupanya Huda sudah cerita kepada mereka tentang adu panjat pohon kelapanya dulu. Sekarang dia ingin bernostalgia, sekalian nebus rasa penasaran.


“Sudahlah, kalah aku...,” kata Hazri.


“Nggak bisa diterima, aduannya saja belum dimulai...,” sanggah Huda. “Betul nggak?” Dia minta dukungan para ABK-nya.


“Betul, betul...,” riuh mereka mendukung. Karena tahu Huda dulunya ABK maka mereka ingin Lihat kemampuan juragannya ini manjat tiang kapal.


“Nanti kalau Pak Haji kalah gimana?” goda Hazri.


“Hahaha... Asal fair aja. Fair. ..,” balas Huda. Yakin bakal menang karena Hazri sudah terus terang soal kecurangannya dulu. “Pokoknya, fair...,” sengaja kata fair diulang supaya mantap.


“Tapi kan nggak boleh judi?” goda Hazri lagi.


“Siapa yang judi?” Huda berkata sambil membuka tangannya.


“Itu?” Hazri menunjuk dua wadah berisi setumpuk uang kecil.


“Itu sih nostalgia....” kata Huda tertawa. “Betul nggak, betul nggak?”


“Betul, betul....” sambut para ABK.


“Ayolah ..,” jawab Hardt akhirnya. “Kita nostalgia. Berapa pendukungku?”


“Dua, sama kayak dulu. Tuh, si Muklis sama Komeng.”


Hazri meringis garuk-garuk kepala. Tidak nambah pendukungnya.


Kedua kontestan ini pun bersiap. Huda melepas bajunya, Hazri juga. Masing-masing punya tato. Huda gambar jangkar angkatan laut di lengan kanan atas, Hazri gambar kepala Tiger di dada kanannya. Tiger Kopen.


Dua orang yang pegang stop watch. Salah satunya Komeng. “Siap? Masih ingat caranya?” tanya Huda.


Hazri mengangguk. “Silakan Pak Haji duluan.”


“Fair ya...?” Huda minta ketegasan.


Hazri mengangguk. Dia memang tidak berniat curang. Menang kalah bukan masalah sekarang. Dulu, soal uang limaribu itu yang berat kalau lepas.


“Stop watch siap?” tanya Huda.


Keduanya mengangguk. “Satu, dua, yak!” seru mereka serempak.


“Hup!” Huda melompat ke tiang. Masih cekatan dia memanjat tiang kapal yang tingginya sama seperti pohon kelapa itu. Sorak sorai para ABK membahana, bagi mereka terbuktilah kabar bahwa Huda dulu adalah ABK jagoannya Haji Sulton. Hazri mengamati, terus terang kagum melihat sahabatnya masih sanggup memanjat secepat itu pada usianya sekarang. Huda langsung melompat ke dek dari anak tangga kedua saat kembali turun.


“Yak!” Kedua pemegang stop watch berseru sambil mematikan gerak angka stop watch-nya. Mereka mengakurkan hasil, sama. “Satu menit tiga belas detik!” seru Komeng sambil meringis melihat Hazri. Para ABK pun ramai bertepuk tangan, bukan angka sembarangan itu. Bahkan, untuk yang masih muda.

__ADS_1


Hazri bersiap-siap, melompat-lompat sedikit. Huda menghampirinya, “Rif, fair...,” katanya pelan. Hazri mengangguk. “Demi Allah,” bisiknya, Dia mengerti rasa penasaran Huda selama ini.


“Pak Arif...siap?” seru pemegang stop watch. Hazri mengangguk. berdiri dekat tiang satunya.


 “Satu, dua, yak!” Aba-aba pun diteriakkan.


Hazri melompat mencengkeram tiang dan langsung memanjat. Cepat juga, sebanding dengan Huda tadi. Wajah Mukhlis das Komeng harap-harap cemas. Mencontoh Huda, Hazri pun melompat dari anak tangga kedua saat kembali turun.


Tik! Stop watch berhenti. Hasil dicocokkan lalu Komeng berseru, “Satu menit sebelas detik!” Nyaring, sambil melonjak-lonjak gembira.


Komeng dan Muklis berlari riang ke arah wadah uang. Teman-temannya nyengir garuk-garuk kepala melihat itu. Namun, tak ada dengki, sekedar adu panjat tiang saja. Senang-senangan, bukan apa-apa.


Huda geleng-geleng kepala. Kecewa pasti ada, tapi setidaknya dia tidak penasaran lagi. Jelas sudah, sahabat lamanya itu lebih unggul di urusan ini. Huda tersenyum kecut menyambut Hazri yang menghampirinya.


“Sori, Pak Haji, itu adanya...,” katanya tanpa maksud basa-basi.


 Huda mengangguk. “Setidaknya aku nggak penasaran lagi, Rif”


Mereka pun tertawa sambil pukul-pukulan lengan seperti anak kecil.


“Cuma. kalau nggak keberatan nih, pengen aku lihat kalau pakai ilmu meringankan tubuh itu. ..,” pinta Huda.


“Benar nih? Bukan gimana-gimana?” tanya Hazri.


Huda menggeleng “Ayo, Rif, sekali aja”


“Oke. apa pun untuk Pak Haji”


Huda sumringah. “Meng, kau lepas lagi layar yang ini!” seru Huda. Komeng lagi, Komeng lagi.


“Dilepas Pak Haji?” Komeng bingung.


“He-eh, sudah cepat kerjakan! Stop watch-nya jangan disimpan dulu.”


“Yang tadi itu. Pak Arif belum maksimal. Kalian tidak tahu sih.... Sekarang Pak Arif mau ngelihatin yang sebenarnya. Aku kalah bukan oleh orang sembarangan...,” kata Huda. Para ABK bengong.


Hazri tersenyum, paham ke mana arahnya Huda itu.


“Gimana, Pak Arif, siap?” tanya Huda.


“Untuk Pak Haji, selalu siap...,” Hazri pun memanggil ajian ‘Bedhes Ngawang’ -nya. Tidak kentara, dia cuma agak diam sejenak berkonsentrasi, lalu tangan dan kakinya digerak-gerakkan sedikit. Tenaga dalam, sekedarnya, seperti dulu. Teng... ‘Bedhes Ngawang’ pun telah siap beraksi.


Hazri mengangguk ke arah Huda, Huda balas mengangguk.


“Oke, stop watch siap. Hitung!”


“Satu, dua, yak!” Komeng berseru.


Hazri melompat mencengkeram tiang dan langsung memanjat.. Cepat sekali! Seketika itu suasana jadi hening, semua terkesima melihat kelincahan dan kecepatan gerak tubuh Hazri. Termasuk Huda.


“Hup:” Hazri melompat ke dek.


Tik! Stop watch berhenti. Komeng pun melongo takjub. “Tiga puluh sembilan detik!” katanya kemudian, sambil geleng-geleng kepala.


Masih hening sesaat, lalu tepuk tangan riuh membahana. Huda mengangguk-angguk. Tiga puluh sembilan detik.... Sama dengan rekor Hazri yang dulu. Huda memang ingat karena peristiwa itu sangat berkesan di hatinya. Dia pun menepuk-nepuk pundak sahabatnya. Hazri mesem saja, sambil diam-diam melepas ajian ‘Bedhes Ngawang’. Berangsur energi tubuhnya kembali normal.


“Sudah jelas, kan? Nah, sekarang kembali kerja!” perintah Huda kepada para ABK-nya. “Makasih, Rif. Sorry ngerepotin,” katanya lagi.


Hazri masih tersenyum. “Bukannya aku yang ngerepotin kau?”


Mereka pun kembali tertawa-tawa ringan. Lalu, Huda beranjak ke anjungan, sedang Hazri menuju mushala. Mau baca buku sambil lesehan ditemani segelas procotan yang sudah dipesankan ke Cak Nardi lewat Komeng. Atas perintah Haji Huda barusan.

__ADS_1


Dua hari kemudian, sudah agak sore, kapal pun merapat ke sebuah pelabuhan di Kalimantan, Jawa Barat. Banyak juga kapal jenis Phinisi yang berlabuh di sini. Hazri membantu mengawasi para ABK dan kuli-kuli pelabuhan membongkar muatan. Di bawah sana, Huda berbincang serius dengan tiga orang dekat deretan truk yang menunggu giliran diisi. Pastinya urusan bisnis. Tadi Hazri menolak ajakan Huda untuk turun ke darat. Repot, mesti pasang ‘Cakra Buana’ segala. Belum lagi resikonya bagi Huda kalau dia ketahuan.


Menjelang maghrib, kegiatan bongkar muatan baru selesai. Para ABK masih bekerja membersihkan dek kapal dari kotoran-kotoran bekas muatan tadi. Hazri bolak-balik melihat arlojinya, menunggu masuk waktu shalat maghrib. Tiba juga akhirnya. Dia pun beranjak mendekati Komeng yang masih memegang sapu.


“Meng, sudah maghrib nih...,” kata Hazri.


“Iya, Pak, sedikit lagi,” jawab Komeng sambil terus menyapu.


Ditunggu-tunggu, Komeng belum juga selesai. Masih sibuk menyapu kesana-kemari. Hazri menggelarkan tikar mushala, lalu mengambil wudhu. Sampai balik lagi ke mushala, belum ada ABK yang bersiap shalat. Hazri melihat arlojinya, sudah lewat hampir sepuluh menit waktu maghrib. Hazri mencoba mengucapkannya dalam hati, masih hafal ternyata. Dia pun bersiap. “Allahu Akbar... Allaaahu Akbar....” Adzan pun berkumandang.


Komeng tertegun, memandang Hazri yang sedang melantunkan adzan. Sapu dilempar, lalu dia pun segera beranjak mengambil wudhu. Di bawah, Huda agak heran mendengar lantunan adzan dari kapalnya. Itu bukan suara Komeng, bukan pula anak buahnya yang lain. Jangan-jangan.... Huda minta izin sebentar kepada tiga partnernya, hendak shalat maghrib dulu. Dia bergegas naik ke kapal. “Laa ilaha illallah....” Sempat dia melihat Hazri mengakhiri lantunan adzannya. Huda tersenyum sumringah. Bergegas dia mengambil wudhu bersama para ABK-nya di ‘pancuran tiga’ sana.


Selepas adzan, Hazri duduk menunggu. Satu per satu para jamaah berdatangan ke mushala ini. Lengkap sudah akhimya. “Ayo Kiai, qamat...,” pinta Huda. Hazri tersenyum, tahu kalau dirinya yang dicandai Huda. Dia berdiri melantunkan qamat. Begitu selesai, Huda langsung mendorongnya ke depan untuk jadi imam. Hazri menolak, tapi Huda terus mendorong. Didukung para ABK-nya pula. Apa boleh buat, Hazri mesti bersedia akhirnya....


Itulah lantunan adzan dan qamat, sekalian jadi imam shalat berjamaah yang pertama kali bagi Hazri setelah sekian lama. Baginya luar biasa pengalaman spiritual yang dialami di kapal Haji Huda ini dalam beberapa hari. Tadinya dia sempat merasa tak mungkin ‘putih' lagi setelah ‘hitam’ demikian kelam. Hazri pun diminta menjadi imam lagi pada jamaah shalat isya’, walau hanya diikuti sedikit makmum.


Malam semakin larut. Selesai juga akhirnya mereka mengatur muatan yang dinaikkan dari pelabuhan ini. Huda belum kembali ke kapal, mungkin masih sibuk dengan para partner dagangnya di bawah sana.


Hazri duduk beristirahat, lumayan lelah ternyata mengatur muatan naik ke kapal tadi. Cak Nardi menghampirinya, menanyakan apa mau dibuatkan kopi. Pasti maulah, tapi Hazri bisa menempatkan diri. Kasihan para ABK kalau cuma dia sendiri yang minum kopi luwak. “Nanti saja, Daeng, makasih,” kata Hazri. Dasim senyum-senyum. Dia pergi sebentar lalu balik lagi membawa dua gelas kopi. Untuknya dan untuk Hazri. Kopi biasa, jatah ABK. Lumayanlah....


“Mau dibawa ke mana ini, Sim?” tanya Hazri.


“Belum tahu, Pak Haji belum bilang.”


“Sudah lama kamu ikut Haji Huda?”


“Sudah, sejak awal Haji Huda punya kapal ini. Tadinya diajak Kang Imam, tapi sekarang dia sudah nggak kerja lagi di sini.”


“Kamu apanya Pak Imam?”


“Dia kakak ipar saya, Pak.”


Hazri manggut-manggut. Baru tahu, Huda tidak cerita.


Mereka ngobrol santai menunggu Huda. Satu per satu ABK pun bertumbangan, masuk kabin terus tidur. Kecuali yang kebagian piket.


Hampir tengah malam Huda baru datang, diantar para koleganya tadi.


“Wah, belum tidur, Kiai?” dia menyapa.


Hazri senyum. “Kan, nunggu Ustadz....”


Dasim tertawa mendengar canda dua sahabat ini. “Sim, kita ke Bayuwangi besok. Berangkat pagi,” kata Huda. Dasim mengangguk santai.


“Ke Bayuwangi? Balik ke Jawa?” tanya Hazri.


“lya, kenapa?” tanya Huda.


Hazri menggeleng. “Nggak sih, rada aneh saja rasanya Dari Jawa ke Kalimantan, baru sampai..., balik lagi ke Jawa.”


Huda dan Dasim ketawa-ketawa. “Belum biasa kiai kita ini, Sim.”


Ngobrol sebentar, lalu Dasim mohon diri mau istirahat. Hazri dan Huda pun melanjutkan ngobrol. Sebentar saja, karena Huda sudah mengantuk, mau tidur. Walau lelah, tapi Hazri belum ingin tidur. Masih mau duduk-duduk di situ, merenungi diri dan segala perbuatannya selama ini.


“Aku duluan, Rif.” Huda berdiri. “Ah, hampir lupa. Ini kubelikan buku-buku ‘Wali Songo’, sempat singgah di toko buku tadi.” Huda mengeluarkan kantong plastik berisi buku dari dalam tasnya.


Hazri menerima. “Wah, ada majalah cihuinya juga nih?”


Huda meringis. “Kali pengen....”


Hazri melihat-lihat sejenak majalah khusus pria bercover aduhai itu. “Nggak ah, lagi nggak minat. Entah nanti...,” dia mengembalikan majalah itu ke Huda.

__ADS_1


Huda menerima sambil tertawa, terus ngeloyor pergi.


Tinggal Hazri sendirian di mushala itu kini. Tiga ABK yang piket berjaga di anjungan. Cak Nardi membawakan setermos kecil kopi luwak. Huda tadi sengaja membangunkannya, dan menyuruh membuatkan itu untuk Hazri. Ditemani kopi nikmat ini, Hazri pun tekun menelaah buku-bukunya. Mencoba mencari jawaban atas pertanyaan hati, “di manakah Engkau...?”, hingga subuh menjelang. Tiba-tiba Hazri tersenyum, saat pikirannya dipenuhi rasa tanya tentang keberadaan Sang Pencipta bayangan seseorang muncul. “Sedang apa kau disana...Zilfa?”. Adzan subuh berkumandang dari ABK piket, Hazri pun beranjak wudhu, mengimami shalat subuh dan pergi tidur.


__ADS_2