
“Langsung ke Banguntapan nih, Bang?” tanya Romi di dalam mobil, beberapa saat setelah mereka melaju. Tetap Isuzu Panther dan tetap biru tua. Cuma ganti model terbaru. Touring sekarang.
“Tengok rumah Zilfa dulu,” jawab Hazri sambil memutar tasbih.
Selain bercerita tentang Dewi, Romi juga menceritakan tentang kehidupan Zilfa. Hazri sendiri yang memintanya untuk bercerita. Romi sedikit terkejut namun dia paham akan kondisi perasaan sahabat sekaligus bos besarnya ini.
Romi mengangguk. Tadinya kalau langsung Banguntapan dia mau nembak soal Najib. Ada waktu karena jaraknya lumayan jauh. Tapi, karena rumah Zilfa tidak terlalu jauh dari situ maka dia menahan dulu hasrat bertanyanya.
Panther terus melaju, sampai akhirnya berhenti di tepi jalan dua ruas itu.
“Itu rumahnya, Bang.” Romi menunjuk rumah mewah berlantai dua yang ada di seberang jalan.
Hazri mengamati sejenak lalu menghela napas. Tak lama kemudian, tampak sebuah sedan mungil hendak masuk ke rumah itu klaksonnya menyalak ringan dua kali. Terlihat Zilfa menyetir mobil itu. Ya, Hazri melihat Zilfa bahagia. Terlihat sekali dari rona wajahnya. Walau selintas, Hazri tahu itu. Seorang satpam membuka pintu pagar, mobil bergerak masuk. Lalu, pintu pun ditarik menutup kembali.
“Hehehe...,” Romi terkekeh sendiri di dalam mobil.
Hazri melirik. “Kenapa?”
“Cantik sekali, Bang....”
Hazri nyengir.
“Kalau Abang mau, biar kubungkus. Terima di tempat.”
Hazri tertawa. “Rom, kelihatannya dia bahagia. Nggak baik mengusiknya. Dan, setelah kuhayati dalam-dalam, ternyata hidup ini bukan cuma soal begituan. Bukan tentang segalanya malah, kecuali satu hal.”
“Apa yang satu itu, Bang?”
“Ketemu jalan pulang....” Hazri menghela napas dalam-dalam, hati kecilnya sedikit memberontak. Ingin rasanya dia turun dan menyapa Zilfa. Namun, seketika dia sadar semuanya dia kembalikan ke Sang Pemilik Jagat, Sang Pemegang Hati.
Romi langsung bingung. “Jalan pulang ke mana?”
“Jalan pulang ke rumahmu yang dulu.”
“Rumahku yang di Ambon? Pulang kampung maksudnya?”
Hazri tertawa lagi. “Ya, kampung akhirat.”
Romi makin bingung. “Di mana daerah akhirat?”
Hazri tersenyum. “Sudahlah. Nanti saja kalau kau sudah siap.”
“Emangnya sekarang nggak bisa?”
Hazri menggeleng sambil masih tersenyum. “Mesti punya ilmunya dulu.”
Romi manggut-manggut. “Harus tinggi ya ilmunya?”
Hazri mengangguk.
“Kayak si Najib tadi...?” pancing Romi.
Hazri pun terbahak.
Karena Romi memaksa minta penjelasan soal ‘keajaiban’ Najib tadi maka Hazri pun membeberkan apa adanya
“Ooh gitu. Jadi, Najib nggak bisa bikin itu sekali lagi?” tanya Romi.
Hazri menggeleng.
“Balik lagi cuma Abang yang bisa?”
Harusnya mengangguk, tapi Hazri menggeleng.
“Lho? Berarti ada yang lain bisa?”
Sekarang baru mengangguk.
“Siapa, Bang?”
“Kabarnya panglima Baret. Hahaha....”
“Ah, Abang... kukira benar. Itu sih gertak sambal asli. Aku minta maaf ngaku-ngaku. Habis, tuntutan situasi dan kondisi....”
“Nggak apa-apa. Santai saja. Untung nggak ada yang minta bukti ya?”
Romi menggeleng sambil tertawa. “Percaya mereka.”
“Seperti dulu pernah kubilang, Rom, seandainya bisa, sudah kuturunkan ilmu itu kepadamu. Tidak akan ragu-ragu aku. Tapi, memang tidak bisa dari sononya. Mesti yang sedarah denganku, anak keturunanku. Itu pun cuma yang laki-laki, perempuan juga nggak bisa.”
Romi manggut-manggut.
“Mungkin berhenti di aku kayaknya ilmu ini. Anakku perempuan.”
“Hah? Abang punya anak?” kaget Romi.
__ADS_1
“Aku belum cerita apa?” Hazri juga baru sadar.
Romi menggeleng.
Setelah menghela napas, Hazri pun menceritakan kisah kehidupannya di Tidar. Romi termangu-mangu. “Jadi, Abang tinggal di rumah yang kita pakai dulu itu?”
Hazri mengangguk. “Setelah menikah aku pindah. Rumahku sekarang persis di kaki gunung. Sepi senyap, belum ada tetangganya sampai kini. Rumah Day itu tetap kupertahankan.”
Romi menerawang. “Berarti waktu aku ke sana Abang belum datang ya?”
“Kau pernah ke sana?”
Romi mengangguk. “Bareng Tomi. Belum ada Abang, rumah itu juga masih nutup nggak keurus. Si Tomi sempat ngebakso di pasar sana waktu pulangnya.”
Hazri tertawa. Dulu dia pernah membayangkan Tomi makan bakso di warung baksonya Kang Pardi. Ternyata itu sudah kejadian sebelumnya. Tomi memang maniak bakso, selain jagoan ayam dan spesialis penjarahan.
“Kapan kau datang, Rom?”
“Ada tiga kali, tapi semua belum setahun sejak kejadian Klaten,”
Hazri manggut-manggut. “Aku baru sampai disana dua setengah tahun kemudian. Iyalah kalau nggak ketemu.”
“Tapi, Bang...,” Romi menghentikan ucapannya, menimbang-nimbang.
“Aku tahu. Aku ceritakan, asal kau percaya kepadaku. Sebab, ini kisahnya seperti dongeng...,” kata Hazri yang sudah bisa menebak apa yang hendak ditanyakan anak buahnya ini.
Romi mengangguk.
Hazri pun menceritakan kisah ‘penahanannya’ di Tidar.
Romi termangu lagi. “Jadi, sekian tahun ini Abang mentok terus di sana nggak bisa keluar-keluar?”
Hazri tersenyum. “Tapi, sekarang bisa, kan?”
Romi mengangguk-angguk. “Busyet, lama nian. Siapa sih yang menahan itu? Perasaan Abang sendiri atau apa?”
“Yang menahanku, yang membebaskanku....”
Romi bingung. “Wah pusing aku kata-kata mutiara kayak gitu. Gampangannya aja lah..., siapa, Bang?”
“Dia.”
“Siapa dia?”
Romi geleng-geleng kepala. Sama sekali tidak paham.
“Sudahlah, Rom. Terima saja dulu begitu. Harus dengan ilmunya sih.”
Romi pun menyerah. Panther telah menapak Jalan Solo-Jogja, Banguntapan di depan sana. Hazri mendesah dalam hati saat kendaraan memasuki jalan ke rumahnya yang dulu sempat menjadi tempat kosnya. Seperti apa rumah itu kini? Romi bilang diurus, tapi kayak apa?
Dan, terpanalah Sang Tiger. Sarangnya itu ternyata benar terurus baik. Jajaran tanaman hias di depan berbunga indah warna-warni. Tidak ada kesan kusam sama sekali. Seindah dulu. Hazri menoleh ke sahabatnya, Romi terkekeh saja.
Tin... Klakson berbunyi. Pintu pagar pun dibuka.
Terperanjat Hazri. Kang Tejo ternyata. Tanpa menunggu mobil masuk, dia turun duluan dan langsung memeluk tukang kebunnya. Tejo yang tampak semakin tua namun tetap segar itu pun terpana lalu menangis sesenggukan.
“Apa kabar, Kang? Baik-baik semuanya?” sapa Hazri.
Tejo belum bisa menjawab, terus terisak sambil mendekap tuannya. Tadi saat menunggu Hazri di tempat Zilfa, Romi menghubungi Tejo lewat telepon, memintanya agar menyiapkan rumah karena akan datang tamu penting. Tapi, tidak bilang kalau Hazri yang akan datang. Makanya Tejo surprise berat.
“Den..., ya Allah, Den...,” kata Tejo sesaat lalu sesenggukan lagi.
Hazri membawa tukang kebunnya duduk di kursi teras depan. Masih yang dulu, tidak ada yang berubah di situ. Romi memandang mereka, terharu juga dia. Tanpa mengganggu kesyahduan keduanya, dia masuk ke rumah mau minum.
Adzan maghrib sayup-sayup berkumandang.
“Mang, saya shalat dulu ya...,” kata Hazri.
“Aden mau shalat?” Tejo terkesima, lalu tersenyum. “Akang ikut ah...”
“Ayo...”
Setelah wudhu, mereka pun shalat berjamaah di dalam rumah. Hazri yang jadi imam karena Tejo menolak. Sambil duduk, Romi memandangi ‘kegiatan Islam’ itu. Tertarik juga sebenarnya, tapi tidak tahu apa itu dan bagaimana caranya.
“Makanannya mana, Kang?” tanya Romi seusai Tejo shalat.
“Sudah saya pesankan tadi, Den. Nanti diantar ke sini katanya,” jawab Tejo.
“Ooh.... Ya udah.”
“Mbok Ijah gimana, Kang? Baik-baik?” tanya Hazri saat mereka telah duduk kembali di teras depan.
“Sudah meninggal, Den. Nggak lama setelah Aden pergi.”
“Mbok Ijah...?”
__ADS_1
Tejo mengangguk.
“Sakit?”
Tejo menggeleng. “Sudah waktunya. Meninggalnya habis shalat subuh, di atas sajadah. Agak siangan baru ketahuan sama anaknya. Disangka sedang, tidur.”
Mata Hazri berkaca-kaca, “Allah...” desahnya pelan.
Hening sejenak.
“Kang Tejo baik-baik saja, kan?” tanya Hazri kemudian.
“Baik, Den. Baik semuanya. Modal dari Aden dulu saya belikan kios di pasar. Sampai sekarang istri Akang sama si bungsu dagang di sana.”
“Alhamdulillah...,” ucap Hazri.
“Den Romi juga ngasih gaji ke Akang setiap bulan...,” sambung Tejo.
“Oya?” Hazri melihat Romi yang berdiri di sebelah sana.
Romi cengengesan saja.
“Nggak takut, Kang? Penjahat asli Iho dia itu...,” canda Hazri.
Tejo terkekeh. Apalagi tuannya ini?
“Eh, apa itu?” Hazri baru sadar melihat gundukan benda tertutup yang disandari Romi. “Motor Tigerku ya?”
“Hahaha...,” Romi tertawa. Sengaja rupanya dia berdiri di situ.
Hazri pun mendekat. Tejo ikut. Mereka menarik tutup kainnya.
“Hahaha...,” giliran Hazri tertawa gembira. Benar ternyata, walau sekarang catnya sudah diganti Abu-abu. “Masih bisa hidup nggak nih?”
“Coba saja...,” tantang Romi. “Kang, ambilkan kuncinya.”
Tejo masuk sebentar ke dalam rumah. “Ini, Den.”
Hazri menaiki kuda besi kesayangannya itu dengan terus tersenyum. Kunci kontak ditancap, digenjot stater kakinya... gruumm..., motor ini langsung menderum gagah. Hazri menyeringai. Gruumm gruumm...,dimainkan. “Hahaha..., makasih, Rom. Hahaha...,” senang betul dia tahu kuda besinya masih hidup.
“Tapi, maaf ini, Bang, kujadikan abu-abu. Sebab, kupikir abu-abu yang paling nggak mungkin untuk warna mobilnya Hazri Tiger,” kata Romi.
“Hahaha...,” Hazri tertawa lagi.
“Nggak soal, Rom. Aku suka abu-abu sekarang.”
“Nomornya juga kuganti. Surat-suratnya baru semua ini.”
“Oya? Pakai nama siapa?”
“Pinjam nama Kang Tejo. Biar KTP-nya seumur hidup.”
“Hahaha...,” Hazri terbahak. “Bagus, bagus...,” katanya. Salut bahwa Romi masih bisa mengurus itu di tengah hiruk pikuk pencarian dirinya.
Hazri menengok mesin lalu Hazri dan Romi pun asyik berbincang Motor Tiger. Walau tidak paham, Tejo ikut nimbrung.
“Siapa yang merawat ini, Rom? Oke sekali mesinnya?”
“Orang bengkelnya, kusuruh ke sini sebulan sekali. Bingung juga dia, apanya yang mau diperiksa orang mobilnya juga nggak pernah keluar, hahaha.... Ya udah, paling dilap-lap aja.”
“Nggak pernah dibawa lari sama sekali ini?”
“Pernah sih berapa kali. Nggak jauh, cuma ke Gunung Kidul. Lebihnya ya diam di rumah nunggu Abang datang.”
Hazri melihat record kilometer. Masih sembilan puluh enam ribuan. Terakhir dia tinggal kira-kira di posisi itu.
“Kang Tejo nggak pakai motor ini jalan-jalan?” tanya Hazri ke Tejo.
“Nggak berani, Den.Sungkan mau pakainya. Iya sih, kalau Akang manasin saja getaran mesinnya serem banget, kayak ‘truk’,”
“Hahaha..., disamain truk tuh, Bang.”
Hazri tertawa juga. “Kang Tejo yang manasin mesinnya?”
Tejo mengangguk. “Iya setiap hari. Kata Den Romi harus gitu,”
“Kalau bensinnya habis gimana?” tanya Hazri lagi.
“Tukang bengkel itu yang ngisiin, dibawa motornya ke pom bensin. Jarang sih, Den, habisnya. Paling tiga bulan sekali.”
Hazri mengangguk-angguk puas. Mesin dimatikan, cukup.
“Terima kasih, Rom,” katanya sekali lagi.
Romi mengangguk.
__ADS_1